Thursday, December 2, 2010

KRI Frans Kaisiepo-368 sebagai Force Protection Commander


02 Desember 2010 -- KRI Frans Kaisiepo-368 Sebagai Forces Protection Commander dalam pengamanan tripartite meeting Naquora.Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Frans Kaisiepo-368 dalam mengemban misi perdamaian dunia di Lebanon mendapat kepercayaan untuk menjadi Forces Protection Commander (FPC) dari Force Commander UNIFIL Mayor Jenderal Alberto Asarta dalam rangka pengamanan Tripartite Meeting.

Minggu lalu waktu setempat. Tripartite Meeting di UNIFIL Naquora Headquater itu dihadiri oleh Force Commander UNIFIL Mayor Jenderal Alberto Asarta, pejabat senior Lebanon Armed Forces dan Israel Defences Forces. Tripartite Meeting pertemuan yang diselenggarakan untuk membahas UN Security Council Resolution 1701 terkait penempatan tanda batas yang jelas pada Blue Lines (perbatasan) dan daerah Al Ghajar (masih diduduki Israel).

Tripartite Meeting yang diselenggarakan di perbatasan Lebanon-Israel tersebut memiliki makna yang sangat penting bagi kelangsungan stabilitas perdamaian di Lebanon, terlebih di tengah meningkatnya suhu politik di Lebanon berkaitan dengan issue STL (Special Tribunal for Lebanon). Untuk itu dilaksanakan kegiatan pengamanan darat, laut mapun udara. Seperti diketahui STL tersebut merupakan suatu upaya penyelidikan internasional terhadap pembunuhan mantan PM Lebanon Rafiq Hariri pada tanggal 14 Februari 2005.

Dalam rangka kegiatan pengamanan tersebut KRI Frans Kaisiepo-368 dibawah komandan Letkol Laut (P) Wasis Priyono,ST ditunjuk sebagai Force Protection Coordinator (FPC) terhadap maritime threat sekaligus mengintegrasikan general air surveillance menghadapi ancaman udara yang mungkin timbul di sekitar tempat pertemuan.

Dalam pelaksanaan force protection tersebut selaku FPC KRI Frans Kaisiepo-368 membawahi unsur-unsur MTF yang sedang beroperasi di AMO yang terdiri atas FGS Auerbach (Patrol Boat/Germany), TCG Salihrreis-F 246 (Frigate/Turkey), BNS Osman F-18 (Frigate/Banglades). Dalam pelaksanaan tugas di lapangan KRI. Frans Kaisiepo-368 Selain dituntut untuk mampu membangun dan mengkoordinir gambaran permukaan (surface compilation), FPC juga dituntut untuk mampu membangun dan mengkoordinir gambaran situasi udara (Air Picture Compilation) seluruh aset kawan yang terlibat seperti Quick Reaction Force - Air Defense Asset (French) yang berkedudukan di Naquora maupun radar udara di bandara.

TCG Salihrreis-F 246. (Foto: Cem Devrim YAYLANI)

BNS Osman F-18. (Foto: Wikipedia)

Hal ini tentunya bukanlah tugas yang mudah, khususnya berkaitan dengan integrasi general air surveillance yang menuntut kemampuan dan kesiapan peralatan deteksi udara sekaligus pertahanan udara yang memadai. Menurut Komandan KRI Frans Kaisiepo-368 Letkol Laut (P) Wasis Priyono,ST.

Karena cukup padatnya marine traffic (kapal permukaan) ditambah Air Traffic (pesud) sipil maupun militer yang padat di sekitar wilayah perbatasan benar-benar merupakan sebuah ujian bagi profesionalisme prajurit dan kemampuan alutsista Satgas MTF Kontingen Garuda XXVIII B/UNIFIL. Namun demikian dengan kerja keras dan didukung oleh peralatan Sewaco (Sensor, Weapon And Command System) yang memadai, kerja sama yang baik dengan unsur force protection lainnya serta dukungan Call Sign Garuda sebagai mata di udara kegiatan force protection dapat berjalan aman dan lancar.

Seluruh pergerakan kontak permukaan maupun pergerakan pesawat di sekitar wilayah perbatasan dapat termonitor dengan baik, sitrep (situation reporting) yang dituangkan dalam RMP (Recognized Maritime Picture) dan RAP (Recognized Air Picture) kepada seluruh unit MTF dan Force Protection juga terlaksana dengan baik.

Penunjukkan KRI Frans Kaisiepo-368 sebagai Force Protection Commander (FPC) dalam kegiatan pengamanan ini kembali menegaskan kepercayaan dunia Internasional terhadap profesionalisme prajurit pengawak dan kemampuan alut sista TNI AL dalam melaksanakan tugas-tugas peace-keeping. Pencapaian ini diharapkan akan dapat mengangkat nama bangsa Indonesia.

Dispenarmatim

Belanja Pegawai Kementerian Pertahanan dan TNI Menurun

Pemerintah berencana menambah armada jet tempur F-16, belum ditentukan membeli baru 6 F-16C/D atau menguprade hibah 24 F-16A/B, biaya upgrade dibayar RI. (Foto: USAF)

02 Desember 2010, Jakarta -- Belanja pegawai Kementerian Pertahanan dan TNI tahun depan dipastikan menurun dibandingkan tahun ini. Jika tahun ini belanja pegawai mencapai 50,1 persen dari total anggaran, maka tahun depan akan menurun menjadi 47,55 persen.

"Jumlah pegawai relatif tetap. Dialihkan ke belanja modal dan barang," kata Direktur Jenderal Rencana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Marsekal Muda TNI BS Silaen, Rabu (1/12).

Rencana kebutuhan anggaran Kementerian Pertahanan untuk tahun 2010-2029 sebesar 1,8-2,1 persen dari produk domestik bruto (PDB) masyarakat Indonesia. Anggaran tersebut diperoleh dalam bentuk rupiah murni, pinjaman luar negeri, pinjaman dalam negeri, dan kredit ekspor.

Silaen mengatakan, ketersediaan anggaran kementerian tahun 2010-2014 sendiri mencapai Rp 279,8 triliun. Sebanyak Rp 62,5 triliun di antaranya berasal dari pinjaman luar negeri dan kredit ekspor. "Sebanyak Rp 99 triliun akan digunakan untuk pembelian alutsista," ujarnya.

Berdasarkan data yang dihimpun The Military Balance 2009 oleh IISS, jumlah penduduk dan pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia menduduki peringkat satu di kawasan Asia Tenggara. Sayang sekali, dalam anggaran pertahanan negara, Indonesia menempati nomor 6. "Singapura menduduki peringkat pertama di Asia Tenggara," kata Silaen.

TEMPO Interaktif

Korps Marinir Korsel Bersiaga di Perbatasan

02 Desember 2010 -- Kendaraan amfibi Korps Marinir Korsel terlihat digunakan di Pulau Baegnyeong dekat perbatasan maritim bagian Barat dua Korea, Rabu (1/12). Korsel merencanakan melakukan latihan militer lagi setelah kapal perang AS meninggalkan Korsel, Rabu (1/12) diberitkan kantor berita Yonhap. Pergerakan ini sepertinya menambah ketegangan di semenanjung yang terbelah dua setelah serangan artileri Korut. (Foto: Reuters)

Marinir Korsel menggunakan truk patroli melewati checkpoint di Pulau Yeonpyeong, Rabu (1/12). (Foto: Reuters)

Prajurit Korsel mengangkat bagian system rudal permukaan-ke-permukaan K-SAM, sesaat tiba di pelabuhan Pulau Yeonpyeong, Rabu (1/12). (Foto: Reuters)

Berita HanKam