Wednesday, May 19, 2010

Taiwan Operasikan Skuadron Kapal Cepat Rudal Siluman Pertama

Dua kapal cepat serang rudal kelas Kuang Hua VI buatan Taiwan sedang berlatih di perairan dekat pangkalan laut Tsuoying, bagian Selatan Taiwan Selasa (18/05). Taiwan mengoperasikan skuadron kapal cepat rudal pertama dengan teknologi siluman guna meningkatkan kemampuan pertahanan Taiwan dalam menghadapi seterunya Cina. (Foto: Getty Images)

19 Mei 2010, Tsuoying -- Taiwan mengoperasikan pertama kalinya kapal serang cepat rudal dengan teknologi siluman, Selasa (18/05) di pangkalan laut Tsuoying bagian Selatan Taiwan, dengan tujuan meningkatkan kemampuan pertahanan dari seterunya Cina.

Kapal kelas Kuang Hua VI mampu mengurangi deteksi radar diumumkan Angkatan Laut Taiwan. Sedangkan kemampuan tempurnya jauh melebihi kapal rudal kelas Seagull. Kapal kelas Seagull berbobot 50 ton telah dioperasikan lebih dari 20 tahun oleh AL Taiwan.

Pihak AL Taiwan tidak memberikan informasi lebih lanjut mengenai ukuran kapal dan material yang digunakan hingga berkemampuan siluman.

Kuang Hua VI dipersenjatai empat rudal anti kapal permukaan buatan dalam negeri

Hsiungfeng II, mampu melumat sasaran hingga 150 km serta satu senapan mesin yang diletakan di buritan kapal.

Hsiung-feng II versi pengembangan Hsiung-feng I yang dipasang di kapal cepat kelas Seagull.

Pengoperasian Kuang Hua VI menandai Taiwan tetap menjaga kemampuan pertahanan dari seterunya Cina. Meskipun dalam dua tahun ini hubungan kedua negara sedang hangat.

Sejak Presiden Ma Ying-jeou meraih kursi kepresidenan 2008, hubungan dagang Taiwan-Cina meningkat serta diperkenankannya lebih banyak turis asal Cina berkunjung.

Seorang perwira AL Taiwan berdiri di depan peluncur rudal Hsiung-feng II. (Foto: Getty Images)

Seorang awak kapal mengoperasikan senapan mesin yang diletakan dibagian buritan kapal serang rudal Kuang Hua VI saat upacara peresmian pengoperasian kapal di pangkalan laut Tsuoying, bagian Selatan Taiwan Selasa (18/05). (Foto: Getty Images)

Seorang awak kapal mengoperasikan senapan mesin yang dipasang di kapal serang cepat rudal kelas Kuang Hua VI yang sedang merapat di pangkalan laut di Zuoying. (Foto: Reuters)

AFP/Berita HanKam

Tuesday, May 18, 2010

Unmanned Aerial Vehicles a New Addition to CARAT Thailand 2010

Thailand (May 16, 2010) Paul Trist Jr., right, a civilian flight demonstration manager, shows Royal Thai Navy officers how to install the tail rudder on the Puma AE mini-unmanned aerial vehicle (UAV) during a demonstration of the vehicle's capabilities as part of Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) Thailand 2010. CARAT is a series of bilateral exercises held annually in Southeast Asia to strengthen relationship and enhance force readiness. (Photo: U.S. Navy/Mass Communication Specialist 1st Class Kim McLendon/Released)

17 May 2010 -- SATTAHIP, Thailand (NNS) -- Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) Thailand 2010 provides a unique experience for the U.S. Navy and Royal Thai Navy (RTN); but this year, a new technical aspect was added, as the Puma All Environment (Puma AE) evolutions were conducted for the first time.

Developed by Aerovironment, the Puma AE is a lightweight, man portable, mini-unmanned aerial vehicle (UAV) fitted with tiny high-resolution cameras, providing operators real-time video of people and places on the ground, and can be used for maritime patrols, special operations teams and in search and rescue or disaster response operations.

Several senior Thai Navy officers, including Rear Admiral Chaiyot Sundaranaga, Commander, Frigate Squadron 2, attended a demonstration on the Puma's capabilities aboard the Royal Thai Navy ship, HTMS Naresuan, while it was moored at Sattahip Naval Base. Rear Admiral Nora Tyson, Commander, Task Force 73, also attended, and the group watched as video images transmitted from the Puma as it flew several kilometers away from the ship.

"I am impressed with the length of time it is capable of flying," said Capt. Bhanupan Sapprasert, Commander of the Royal Thai Navy ship HTMS Kraburi.

The Puma AE can be packaged for collecting data with GPS coordinates. Infrared (IR) cameras enable the Puma AE to be used at night for search and rescue missions.

The Puma has the capability to interface with smart phones, transmitting information back and forth. Naval Postgraduate student, Marine Capt. Carrick Longley, who works on the field information support team, gave a demonstration of how a smart phone works with the Puma AE.

"It's ideal for disaster response in Southeast Asia. Just change the SIM (cell phone data) card and anyone can use it," said Carrick.

While the Puma AE has been deployed in more than 20 countries and after natural disasters such as Hurricane Katrina, the research and development is ongoing.

Information exchanges like those involving high-tech gear like UAVs allow partnering CARAT nations to stay atop of the latest advances.

CARAT is a series of bilateral exercises held annually in Southeast Asia to strengthen relationship and enhance force readiness.

NAVY.mil

RI-Jerman Bahas Kerjasama Pertahanan

Pertemuan bilateral Indonesia-Jerman diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (17/5). (Foto; Kemenlu)

17 Mei 2010, Jakarta -- Pemerintah Indonesia dan Jerman sepakat untuk menyediakan payung hukum yang baku bagi kerjasama pertahanan kedua negara. Kesepakatan itu, menurut keterangan dari Kementerian Luar Negeri di Jakarta, tercapai dalam pertemuan pertama konsultasi dwipihak Indonesia-Jerman yang diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (17/5).

Kesepakatan itu menyebutkan bahwa seluruh kerjasama pertahanan kedua negara akan tercantum dalam sebuah Perjanjian Kerjasama Pertahanan (DCA), yang saat ini sedang dirundingkan. Selain membahas mengenai pentingnya payung hukum bagi kerjasama pertahanan, pertemuan itu juga membahas langkah-langkah pelaksanaan program kerjasama bilateral untuk penguatan lembaga-lembaga demokrasi di Indonesia.

Dalam kaitan ini kedua delegasi memandang perlu untuk meningkatkan koordinasi pelaksanaan program kerjasama untuk mendukung proses desentralisasi di Indonesia, terutama dalam peningkatan kapasitas pemerintahan daerah dalam pelayanan publik sesuai dengan Rencana Pembangunan Nasional Indonesia.

Kedua delegasi juga mengindentifikasikan langkah-langkah koordinasi untuk pelaksanaan program kerjasama untuk mendukung upaya Indonesia dalam pemberdayaan dan perlindungan hak-hak perempuan dan kerjasama untuk mendukung upaya pemberantasan korupsi.

Pada kesempatan itu isu lingkungan hidup juga menjadi perhatian kedua pemerintah. Kedua delegasi membahas langkah-langkah koordinasi pelaksanaan kesepakatan pelaksanaan kerjasama lingkungan yang akan diawali dengan kegiatan terkait dengan penggunaan berlanjut energi panas bumi di Indonesia sebagai bagian dari pelaksanaan MoU mengenai "Clean Development Mechanism" (CDM) yang ditandatangani oleh kedua Menteri Lingkungan Hidup di Berlin, Desember 2009.

Delegasi Indonesia dalam pertemuan itu dipimpin oleh Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu RI, Retno L. P. Marsudi, sedangkan delegasi Jerman dipimpin oleh Direktur Jenderal urusan Asia dan Pasifik Kemlu Jerman, Cyrill Jean Nunn.

Secara umum pertemuan itu membahas langkah-langkah strategis untuk memajukan hubungan bilateral kedua negara sebagai tindak lanjut dari hasil-hasil kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Berlin pada Desember 2009, selain isu-isu regional dan global yang menjadi kepentingan bersama. Konsultasi bilateral berikutnya akan diselenggarakan di Jerman pada 2012.

tvOne