Thursday, March 11, 2010

PT Dirgantara Indonesia Mampu Buat Pesawat Amphibi


11 Maret 2011, Jakarta -- Anggota Komisi I DPR Al Muzammil Yusuf menilai PT Dirgantara Indonesia (PT DI) mampu membuat pesawat amphibi. "Pesawat amphibi mampu dibuat PT DI," kata Al Muzzamil melalui pesan elektronik kepada ANTARA usai kunjungan kerja Komisi I DPR ke PT DI, di Bandung, Kamis.

Dia mengatakan pesawat amphibi bisa menjadi solusi bagi negara kepulauan Indonesia karena bisa mendarat di berbagai tempat tanpa hambatan infrastruktur darat.

"Pesawat amphibi harusnya menjadi solusi Indonesia, baik karena pertimbangan alam kita, maupun dalam konteks pariwisata, keamanan terbang dan hankam wilayah Indonesia yang terpencil," katanya.

Melihat keunggulan pesawat amphibi tersebut, anggota DPR dari Fraksi PKS tersebut menyarankan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengembangkan industri PT DI melalui pesawat amphibi tersebut.

"Harusnya Presiden melalui Menhan, Menristek, Menteri Negara BUMN dan Mendagri bisa menjembatani para kepala daerah untuk bisa memesan dan membuka jalur transportasi melalui sarana pesawat amphibi tersebut," katanya.

Akan tetapi kondisi neraca finansial perusahaan yang minus menjadi ganjalan serius bagi PT Dirgantara Indonesia untuk melakukan ekspansi yang lebih progresif memproduksi pesawat terbang dan pengerjakan proyek strategis lain di sektor kedirgantaraan.

"Dari sisi teknologi cukup membanggakan dan sangat bagus. Dengan potensi itu PTDI sebenarnya bisa melangkah lebih maju lagi. Namun sayang neraca finansial yang minus menjadi beban industri strategis itu untuk melakukan ekspansi yang lebih besar," kata anggota Komisi I DPR Enggartiasto Lukito disela-sela kunjungan Komisi I DPR di PTDI.

Enggartiasto mengatakan PTDI merupakan perusahaan yang progresif namun perlu keberpihakan pemerintah yang lebih besar lagi untuk membesarkan kembali PT Dirgantara Indonesia.

Salah satunya dengan mengupayakan penyehatan neraca keuangan BUMN strategis itu, karena menurut Enggartiasto selama neraca perusahaan itu belum bisa diatasi, selanjutnya sulit bagi PTDI untuk jauh melangkah menjadi industri yang dapat diandalkan.

ANTARA News

Wisnu dan Satuan Anti Teror 81 Gultor

Pasukan elit dari satuan TNI dan Kepolisian RI bersiap mengikuti upacara pembukaan latihan gabungan penanggulangan teror, di Silang Monas, Jakarta, Kamis (11/3). Sebanyak 3.559 personel TNI - Polri diturunkan untuk latihan bersama 11-13 Maret 2010 di sejumlah titik rawan teror di Jakarta, merupakan latihan yang kedua dengan nama sandi Waspada Nusa II. (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/mes/10)

11 Maret 2011, Jakarta -- "Saya pernah mendapat tugas pukul dua malam ke Papua tanpa pemberitahuan sebelumnya sesuai dengan motto pasukan Gultor Siap, Setia, Berani," kata Wisnu Djoko Hadianto (28) kepada ANTARA News, Kamis, usai Latihan Gabungan Antiteror TNI/Polri di Monas, Jakarta Pusat.

Wisnu (28) adalah anggota Satuan Anti Teror 81 Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Pangkatnya Sersan Satu. Bergabung dengan kesatuan ini pada 2004.

Wisnu adalah seorang dari sekelompok orang-orang sangat terlatih dari TNI dan Kepolisian, yang menjadi pemukul pertama manakala negeri dan rakyat harus menghadapi pengacau dan peneror kedaulatan, keutuhan dan keamanan negara ini.

Sebagaimana rekan-rekannya di satuan elite itu, dan juga satuan-satuan anti teror lainnya, pria berdarah jawa yang mulai berkarir di Satuan 1 Kopassus, Serang, tahun 2002 ini, harus selalu siap melawan dan menaklukan teror dalam bentuk apapun, serta tentunya menjaga stabilitas nasional.

"Menjadi prajurit Komando merupakan panggilan jiwa dan saya terinspirasi dari ayah saya yang juga ABRI," kata Wisnu.

Kepada ANTARA News, Wisnu berbagi satu cerita yang membekas pada dirinya, yaitu selama tujuh bulan mengikuti pendidikan di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus), Batujajar, Jawa Barat.

"Jika saja saya disuruh mengulangi lagi hari-hari pelatihan tersebut, saya tidak akan mau," katanya, menggambarkan sangat beratnya latihan yang harus dijalani seorang yang akan menjadi anggota unit elite Kopassus itu.

Bukan hanya keterampilan tempur serta siap fisik dan mental, para elite ini diajarkan kedisiplinan amat tinggi.

"Kira-kira beberapa hari sebelum pelantikan Baret Merah, dua teman saya yang melanggar perintah diberhentikan dari pendidikan dan kembali ke kesatuannya, hanya karena jalan-jalan keluar," katanya.

Wisnu melanjutkan, ada beberapa kata yang terus terngiang di telinganya ketika memulai pendidikan, "Kalau ragu, kembali sekarang juga."

Wisnu pernah ditugaskan di Aceh pada 2004 dan Papua pada 2007-2009 dalam operasi berbeda-beda.

Pada 2004, dia pernah ngobrol dengan salah seorang anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di kedai kopi. Di jam lainnya, ketika mereka bertemu lagi, ceritanya pasti akan lain. "Dalam perang ada dua pilihan menembak atau ditembak," katanya.

Sewaktu bertugas di Papua dalam operasi tertutup, dia ditugasi mengubah opini masyarakat agar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Warga sudah terkontaminasi dengan Bintang Kejora (gerakan separatis) dan kami berupaya bagaimana mereka kembali ke Merah Putih," katanya.

Satuan Anti Teror Gultor adalah pasukan antiteror pertama Indonesia yang diilhami oleh keberhasilan operasi anti pembajakan Garuda Woyla di Dong Muang, Thailand.

Satu grup pasukan elite ini terdiri dari sepuluh prajurit berketerampilan berbeda-beda. Ada penembak jitu, pelempar granat, penjinak bom, pemukul, pendobrak pintu dan ahli teknik.

"Setelah pendidikan usai, ada ujian psikotes untuk mengetahui spesifikasi keterampilan kita," kata Wisnu yang ternyata ahli matra udara, sebagai penerjun payung.

Pasukan elite Jerman CSG 9 bisa disebut "benchmark' Kopassus. Setelah Gultor, menyusul lahir satuan antiteror lain, Detasemen Jala Mengkara (AL), kemudian Den Bravo (AU), terakhir Detasemen Khusus 88 (Polri).

"Kami mempunyai tanggungjawab yang besar akan nama yang disandang dan menginspirasi pasukan antiteror yang lain," kata Wisnu bangga.

Pada beberapa kesempatan, prajurit komando ini juga berlatih dengan pasukan khusus negara asing. Sebut saja Navy SEAL Amerika Serikat atau dengan SASR Australia.

Reputasi Kopassus telah mendunia dan mengundang decak kagum dunia.

"Ada dua hal yang saya takuti dari Kopassus, pertama sejarah, kedua 'crazy', berani mati semua!" kata Wisnu sambil menyilangkan jarinya di jidatnya, menirukan ucapan seorang anggota pasukan khusus Australia SASR, ketika Kopassus dan SASR, berlatih bersama.

ANTARA News

TNI-Polri Antisipasi Serangan Teroris seperti di Mumbai

Kepala Kepolisian RI, Jenderal Bambang Hendarso Danuri (tengah) memeriksa pasukan elit dari TNI-Polri saat pembukaan latihan gabungan penanggulangan teror, di Silang Monas, Jakarta, Kamis (11/3). Sebanyak 3.559 personel TNI - Polri diturunkan untuk latihan bersama 11-13 Maret 2010 di sejumlah titik rawan teror di Jakarta, merupakan latihan yang kedua dengan nama sandi Waspada Nusa II. (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/mes/10)

11 Maret 2010, Jakarta -- Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia menggelar latihan gabungan penanggulangan teroris untuk mengantisipasi serangan teror seperti di Mumbai, India, pada 26-27 November 2008 lalu. Dalam serangan teror yang dilakukan di sebelas lokasi itu, sekitar 125 orang terbunuh dan lebih dari 300 orang terluka.

Alasan inilah yang mendorong TNI dan Kepolisian mengerahkan seluruh kekuatan dan latihan bersama penanggulangan teror setiap tahun. “Jadi, kalau ada serangan teroris dalam jumlah lokasi yang banyak, kami sudah siap menghadapinya,” kata Panglima TNI, seusai pembukaan latihan gabungan dengan kepolisian, di Lapangan Silang Monumen Nasional, Kamis (11/3).

Dalam penggerebakan teroris di Aceh dan Pamulang, tim Datasemen Khusus 88 Markas Besar Polri menemukan barang bukti sejumlah amunisi, bahan kimia, dan alat pengendali bom jarak jauh. Sedangkan barang bukti berupa bahan peledak belum ditemukan. Namun, kepolisian belum menyatakan adanya perubahan pola serangan teroris dari bom bunuh diri menjadi serangan langsung atau penyenderaan seperti di Mumbai, India.

Pada pembukaan latihan gabungan penanggulangan teror, Kepala Kepolisian Jenderal Bambang Hendarso Danuri menyatakan latihan itu untuk menyelaraskan serangkaian penanganan menghadapi teror. “Sehingga kapan saja, kami bisa menghadapi suatu situasi yang mendadak,” kata Bambang.

Kepala Kepolisian RI, Jenderal Bambang Hendarso Danuri (tengah) menyematkan tanda pengenal kepada pasukan elit dari TNI-Polri saat pembukaan latihan gabungan penanggulangan teror, di Silang Monas, Jakarta, Kamis (11/3). (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/mes/10)


Pasukan elit dari satuan TNI dan Kepolisian RI mengikuti upacara pembukaan latihan gabungan penanggulangan teror. (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/mes/10)

Seorang anggota pasukan elit dari satuan TNI memeriksa senjata. (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/mes/10)

Pasukan elit dari satuan TNI dan Kepolisian RI bersiap mengikuti upacara pembukaan latihan gabungan penanggulangan teror. (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/mes/10)

Dia membantah anggapan bahwa latihan ini dikhususkan sebagai persiapan menyambut kedatangan Presiden Barack Obama ke Indonesia. “Tidak hanya berkaitan dengan Obama saja,” ujarnya, "Ini pergelaran kegiatan TNI dan Polri."

Rencananya, latihan gabungan akan dilakukan pada Sabtu (13/3) mendatang di Hotel Borobudur, Bursa Efek Jakarta, Bandara Soekarno-Hatta, dan lokasi pengeboran minyak di Kepulauan Seribu.

TEMPO Interaktif