Thursday, August 13, 2009

Lanud Tanjungpandan laksanakan Patroli Kamhanlan


13 Agustus 2009, Tanjungpandan -- Lanud Tanjungpandan laksanakan pembinaan kepada seluruh personel Militer maupun Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan melakukan kegiatan patroli Aset TNI AU di daerah Buluhtumbang, Rabu (12/8).

Kegiatan ini bertutjuan agar setiap anggota memiliki Sense Of Inteligence dan mampu berperan sebagai Pulbaket (Pengumpul Bahan Keterangan) disatuan masing-masing khususnya mengenai Pengamanan Aset/Lahan dengan memberdayakan Satuan Intel secara optimal dalam penugasan diwilayah masing-masing agar mampu melaksanakan pembinaan terhadap masyarakat, sehingga dapat memberikan info, berita perkembangan situasi aset/lahan didaerahnya serta melakukan upaya persuasif dan preventif koordinatif maupun sosialisasi aset/lahan TNI AU terhadap Instansi/aparat terkait maupun masyarakat disekitar Lanud.

Komandan Pangkalan TNI AU Tanjungpandan menjelaskan bahwa kegiatan latihan ini agar dilaksanakan dan dijalankan penuh semangat dengan harapan setiap anggota punya rasa memiliki terhadap aset yang dimiliki TNI AU agar pengamanan dapat berjalan dengan baik.

PENTAK LANUD TANJUNGPANDAN

Burung-burung Enggang yang Terpanggang

Sandung, patung tua sepasang enggang, dan patung orang-orangan di bawahnya di permukiman penduduk di Melenggang, Kecamatan Sekayam, Sanggau, Kalbar. Patung ini penanda lokasi tersebut sebagai pusat aktivitas sosial warga Dayak Iban serta tempat ritual atau gawai yang masih tersisa. (Foto: KOMPAS/C Wahyu Haryo)

13 Agustus 2009, Sanggau -- Perikehidupan dan kondisi kampung halaman Panglima Abio (68) dan Panglima Nayau (82) boleh jadi mirip situasi dua patung ”Sandung” yang kami temukan di pedalaman Kecamatan Melengang. Patung di Dusun Melenggang dan Miru tersebut kepanasan di bawah sengatan matahari.

Jalanan desa hancur total dan memicu pusaran debu saat kendaraan lewat.

”Kita berhenti dulu. Minum dululah, terik sekali,” ujar Nimus Mulyadi, Kepala Desa Balai Karangan, Kabupaten Sanggau, yang memandu kami ke perbatasan Kalimantan Barat (Kalbar)-Serawak di Desa Lubuk Sabuk, Kecamatan Melenggang, Sanggau, Kalbar.

Permintaan untuk berhenti jadi kebutuhan karena sudah tiga jam terguncang-guncang di jalan dengan semburan debu mengganggu pernapasan.

Mamak Nyiam (62), pemilik warung kelontong yang kami singgahi, ternyata adik kandung Panglima Nayau yang kami cari.

Panglima Nayau dan Panglima Abio adalah dua dari lima panglima perang Dayak yang pernah berjasa kepada Republik Indonesia (RI) pada kurun 1965-1972, saat berkonfrontasi dengan Malaysia dan saat Indonesia menghadapi Parako (Partai Komunis China di perbatasan Serawak). Nayau bertugas di front sekitar Balai Karangan, sedangkan Abio bertugas di sekitar Entikong sampai Suruh Tembawang.

Bersama tiga rekannya yang lain—dan semuanya orang Dayak—kelimanya memperoleh gelar kehormatan Panglima Perang Dayak dari pemerintah dan masyarakat Kalbar. Kelimanya dihormati dan disegani karena jasa-jasa mereka. Tiga panglima yang lain adalah Panglima Bugun yang bertanggung jawab di daerah Sekayam Hulu, Panglima Burung (Meliau, Sanggau), serta Panglima Langgan (Sekadau).

Wanita tua itu menunjukkan rumah papan sederhana milik keluarga Nayau di seberang rumahnya. Rumah papan sederhana itu berukuran sekitar 5 meter x 10 meter, berderet dengan rumah tetangga lain, dan di depannya tumbuh pohon rambutan. Seperti warga lainnya, keluarga Nayau terpaksa mandi di sungai berlumpur dan bercampur zat merkuri di seberang jalan karena sejak sekitar lima tahun terakhir, daerah itu mengalami kelangkaan air bersih. Air minum harus digali dari tanah dengan kedalaman 15-20 meter dan kondisinya kotor. Sementara untuk mandi, mereka terpaksa ke sungai yang sudah tercemar merkuri karena penambangan emas di mana-mana.

Sebagai veteran, Nayau rupanya tak lagi mendapat pensiun—sebagaimana nasib Panglima Abio di Dusun Punti Tapou, Desa Nekan, Kecamatan Entikong.

Namun, sebagai ”pahlawan”, sebagai teladan yang sejak muda mengobarkan nasionalisme, keadaan mereka pahit dalam kenyataan hidup. Jalan di Desa Abio hanya bisa ditempuh dengan ojek setelah turun-naik gunung terjal, melewati jembatan yang hampir runtuh, dan di sanalah kampung tanpa listrik dengan babi, anjing, dan ayam yang berkeliaran di jalan-jalan. Ia masih hidup dengan prasarana desa yang jauh di bawah standar. Namun, bekas Kepala Desa Punti Tapou—saat ia muda—itu tak mengeluh untuk dirinya sendiri. ”Buat apa meminta. Rasanya Ema (Kakek) malu,” katanya.

Kalau untuk orang kampung, ia memang titip agar desa yang jaraknya 5 kilometer dari Kecamatan Entikong itu segera diberi aliran listrik. ”Sudah merdeka 64 tahun kita nii. Malaysia yang dulu hutan, di ujung situ pun sudah ada hospital bagus,” kata Panglima Abio. Ia mengenang perang konfrontasi dan perang Parako ”perang yang menyenangkan”. ”Tak ada perasaan takut mati karena kami gembira mencari musuh,” kata Abio yang hanya bisa bersekolah sampai kelas II sekolah dasar. Di rumahnya yang dindingnya terbuat dari campuran batang kayu, tempelan papan, serta anyaman bambu, lima dari enam anaknya tinggal di situ, bersama dua cucu. Dari enam anaknya, cuma si bungsu Erwin yang lulus SMA.

Abio dan Nayau, karena ketidakmampuan ekonomi mereka, hingga kini masih tinggal di tanah dusun kelahiran mereka. Uang pensiun dan jatah beras tak lagi mereka terima, kecuali pangkat Pembantu Letnan Dua (Pelda) tituler karena jasanya. Padahal, mereka pernah terbang kian kemari Jakarta-Pontianak, atau kota-kota lain di Indonesia dengan pesawat terbang di masa lalu.

Rumah Panglima Nayau di Lubuk Sabuk jaraknya sekitar 160 kilometer (km) dari ibu kota Kabupaten Sanggau. Sekadar informasi, jarak Sanggau-Pontianak lewat Ambawang jaraknya sekitar 267 km,

40 km di antaranya jalan rusak parah dan gelap gulita pada malam hari.

Saat ngobrol di toko kelontong Mak Nyiam, diam-diam kami mencatat rak toko itu penuh dengan barang produksi Malaysia. Elpiji dalam tabung warna hijau-coklat ukuran 15 kilogram, air mineral, gula pasir, sepatu bot karet, berjenis minuman kaleng, sampai bir. Bahkan, helm motor buatan Malaysia dijualnya.

Rombongan penambang emas dan intan muncul dari gang dan semak di menjelang senja, dari dusun-dusun di Melenggang. Pakaian dan tubuh mereka lusuh dan basah karena lumpur sungai, tetapi wajah berbedak debu jalanan.

Suasana nyaris sama ditemukan di pegunungan Punti Tapou, desa Panglima Abio. Orang-orang desa mencari nafkah ke sungai atau membakar hutan dengan hati ringan untuk bercocok tanam. Perikehidupan subsistem yang tak beranjak, dan sebenarnya pilihan yang sangat pahit.

KOMPAS

Upacara Tradisi Terbang Solo Sekbang Angkatan 80

Komandan Lanud Adisutjipto Marsekal Pertama TNI R. Hari Muljono saat menyiram air bunga kepada salah seorang perwakilan siswa sekbang angkatan-80 yang telah berhasil melaksanakan terbang solo.,Rabu (12/8).

13 Agustus 2009, Yogyakarta -- Bertempat di Appron Delta Lanud Adi Soemarmo, Solo, Komandan Lanud Adisutjipto, Marsekal Pertama TNI R. Hari Muljono memimpin Upacara Tradisi Terbang Solo Pertama dan Terakhir bagi para siswa Sekbang angkatan- 80 . Upacara Tradisi Terbang Solo Pertama dan Terakhir ini menandai berakhirnya latihan terbang latih dasar dengan pesawat Latih AS 202- Bravo, yang selanjutnya akan melaksanakan latihan terbang latih lanjut.

Komandan Lanud Adisutjipto dalam sambutannya mengatakan bahwa penerbang militer adalah identik dengan penerbang tempur. Dan untuk membentuk calon penerbang militer yang memiliki kualifikasi handal, memerlukan pendidikan dengan waktu yang panjang dan beresiko tinggi. Agar program tersebut dapat berjalan lancar dan aman, diperlukan suatu proses yang konsisten dan berlanjut, dengan tahapan-tahapan yang sistematis, ketat dan tanpa kompromi. Hal ini ditempuh karena bakat dan kemampuan terbang bagi setiap siswa, tidaklah sama. Sementara kemampuan terbang tidak bisa ditawar-tawar.

Lebih lanjut Dan Lanud Adisutjipto menegaskan toleransi sekecil apapun terhadap kekurangmampuan dari setiap siswa, mengandung resiko potensi yang membahayakan, tidak saja bagi diri calon penerbang itu sendiri, namun juga bagi orang lain dan alutsista yang digunakannya. Dengan kriteria demikian, secara jelas tersurat bahwa TNI AU, tidak akan mengambil resiko yang mungkin dapat terjadi akibat dari kekurang mampuan para siswa.

Sementara itu Komandan Skadik 101 Letkol PNB M Dadan Gunawan mengatakan prestasi terbang solo ini patut disyukuri dan dibanggakan oleh para siswa. “Namun para siswa jangan sampai lengah dan berpuas diri, karena proses pendidikan bina terbang selanjutnya masih sangat panjang dan lebih tinggi tingkat kesulitannya,” tandasnya seusai upacara.

Upacara Tradisi terbang solo pertama dan terakhir kali ini diikuti oleh 29 siswa penerbang. Mereka adalah para alumi Akademi TNI AU. Berhasil melaksanakan terbang solo pertama adalah Letda Lek Yusuf Atmagara , dan memperoleh predikat terbang solo terakhir adalah Letda Tek Indra Purwanto Prawira S.

Acara Tradisi dipimpin lansung oleh Dan Lanud Adisutjipto ditandai dengan pemotongan rambut, penyiraman air bunga, pembalutan kapas dan pemecahan telur di atas kepala perwakilan siswa.

Hadir dalam Upcara tradisi Terbang solo pertama dan terakhir tersebut, Komondan Lanud Adisoemarmo dan para pejabat, Komandan Wing Dik Terbang Lanud Adisutjipto, para Kadi dan Para Komandan Skadron serta para Undangan.

PENTAK LANUD ADISUTJIPTO