Tuesday, December 20, 2011

Uji Coba Senapan Mesin Helikopter NBO-105 TNI AL

19 Desember 2011, Pasuruan (ANTARA News): Seorang teknisi dari PT Dirgantara Indonesia (PT DI) mempersiapkan senjata MAG-58M kaliber 7,62mm dalam pesawat heli jenis Bolkow-105 Escort milik Skuadron Udara 400 Wing Udara-1 Puspenerbal, saat uji coba penembakan di Puslatpur TNI AL Grati Pasuruan, Senin (19/12). Helikopter Bolkow-105 Escort merupakan helikopter kawal yang dirakit oleh PT DI, untuk keperluan pelaksanaan operasi pendaratan pasukan pendarat dalam operasi Amfibi dan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC). (Foto: ANTARA/Eric Ireng/ed/nz/11)

Seorang air crew mempersiapkan amunisi senjata MAG-58M kaliber 7,62mm dalam pesawat heli jenis Bolkow-105 Escort milik Skuadron Udara 400 Wing Udara-1 Puspenerbal. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/ed/nz/11)

Dua air crew mempersiapkan senjata MAG-58M kaliber 7,62mm dalam pesawat heli jenis Bolkow-105 Escort milik Skuadron Udara 400 Wing Udara-1 Puspenerbal. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/ed/nz/11)

Seorang air crew bersiap mengoperasikan senjata MAG-58M kaliber 7,62mm dalam pesawat heli jenis Bolkow-105 Escort milik Skuadron Udara 400 Wing Udara-1 Puspenerbal. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/ed/nz/11)

Monday, December 19, 2011

Heli NBO-105 TNI AL Dipersenjatai Senapan Mesin

18 Desembar 2011, Surabaya (ANTARA News): Seorang kru pesawat heli Bolcow-105 milik Skuadron Udara 400 Wing Udara-1 Puspenerbal, memeriksa senjata GPMP Machine Gun Type MAG Left and Hand Feeding kalibe 7,62mm, di shelter Skuadron Udara 400, Wing Udara-1, kompleks Lanudal Juanda Surabaya, Minggu (18/12). Persenjataan pada heli Bolcow-105 yang baru pertamakali di jajaran TNI AL tersebut, untuk mendukung alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam menjaga keutuhan NKRI. (Foto: FOTO ANTARA/Eric Ireng/NZ/11)

Lily Wahid: Patroli Laut Perlu Ditingkatkan

Petugas imigrasi melintas di dekat seorang imigran korban kapal tenggelam yang kritis di tempat penampungan sementara di Blitar, Jawa Timur, Senin (19/12). Dua imigran gelap korban kapal tenggelam di perairan Trenggalek yang kondisinya kritis di rawat di rumah sakit, sementara 31 orang lainnya di tampung pihak Imigrasi di sebuah hotel di Blitar, Jatim. Tim SAR masih melakukan pencarian 182 orang imigran yang hilang di perairan tersebut. (Foto: ANTARA/Arief Priyono/Koz/Spt/11)

19 Desember 2011, Senayan (Jurnal Parlemen): Anggota Komisi I DPR Lily Wahid menganggap sebagai suatu ironi jika Indonesia sebagai negara kelautan tapi patroli kelautannya tidak cukup untuk mendeteksi dan melindungi keselamatan imigran gelap yang tenggelam di perairan Trenggalek, Jawa Timur.

“Mereka mencari kehidupan lebih baik tapi berakhir tragis. Sedih. Mereka ada di laut dan tidak melewati imigrasi,“ ucap Lily kepada Jurnalparlemen.com, Minggu (18/12).

Menurut Lily, jumlah patroli kelautan Indonesia perlu ditingkatkan. “Sekian banyak orang yang masuk wilayah kita tapi kita tidak tahu. Bagaimana kalau itu serangan?” ujar politisi senior PKB ini.

Pernyataan Lily ini menanggapi insiden tenggelamnya sebuah kapal yang berisi imigran gelap dari beberapa negara seperti Iran, Afghanistan dan Pakistan di perairan Prigi, Watu Limo, Trenggalek, Jawa Timur, Sabtu (17/12). Sekitar 182 orang dinyatakan hilang dan 33 orang selamat.

Sumber: Jurnal Parlemen