Monday, December 12, 2011

Detasemen Bravo Bebaskan Sandera di Kereta Api


11 Desember 2011, Bandung (ANTARA Jabar): Detasemen Bravo Anti Teror (Den Bravo) Wing III Korps Paskhas TNI-AU melakukan simulasi pembebasan sandera di atas Kereta Api di Stasiun Bandung, Sabtu (11/12) tengah malam.

Dalam simulasi penanganan teror dan pembebasan sandera itu, pasukan Den Bravo Anti Teror yang dipimpin Komandan Wing III Korps Paskhas Kolonel Yudi Bustomi sukses melumpuhkan pelaku teror dalam operasi yang digelar mulai pukul 22.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB itu.

Kegiatan latihan penanganan teror itu dilakukan oleh siswa pendidikan kontra teror Den Bravo Wing III Korps Paskhas TNI-AU yang bermarkas di Lanud Sulaeman Margahayu Kabupaten Bandung.

Sebanyak 30 siswa latihan pasukan anti teror TNI-AU itu terlibat dalam aksi pembebasan sandera yang ditandai dengan aksi taktis dari pasukan elit itu. Selain itu tim Bravo juda didukung oleh sekitar 60 personil lainnya dari unsur Polri, POM AD serta Polisi Khusus KA (Polsuska).

Kegiatan latihan kontra teror yang dilakukan pasukan khusus TNI-AU itu sudah beberapa kali digelar, selain di KA dimulasi serupa juga digelar di pesawat terbang, gedung dan di angkutan bus.

"Latihan kontra teror di atas KA dan Stasiun KA jelas sangat bermanfaat bagi kami di jajaran PTKA, untuk itu petugas stasiun juga dilibatkan dalam kegiatan simulasi ini, sehingga mereka tahu betul apa yang harus dilakukan bila dihadapkan dengan kondisi seperti itu," kata Kepala Humas PTKA Daop II Bandung, Bambang Setya Prayitno.

Menurut Bambang, jajaran PTKA sudah melakukan antisipasi, salah satunya melakukan pemeriksaan dengan menggunakan metal detector di pintu masuk stasiun KA serta menyertakan petugas khusus Polsuska untuk pengawalan dan pengamanan perjalanan KA.

"Ada prosedur tetap yang diterapkan bila menghadapi aksi teror antara lain koordinasi antara masinis, awak KA, petugas stasiun terdekat serta petugas keamanan," kata Bambang.

Selain itu antisipasi teror, seperti kasus pembajakan KA, PTKA memberlakukan pengamanan khusus selain menyertakan Polsuska, juga memberlakukan larangan memasuki ruang masinis bagi yang tidak berkepentingan.

Sementara itu latihan penanganan anti teror di atas KA dan stasiun itu menurut Bambang bukan berarti perjalanan KA tidak aman melainkan sebagai langkah antisipasi dan kesiapan aparat keamanan dalam melakukan aksi pencegahan terhadap aksi terorisme.

"Kegiatan ini meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan aparat dalam menangani kasus tersebut, secara umum perjalanan KA sangat kondusif," kata Kepala Humas PTKA Daop II Bandung itu menambahkan.

Sumber: ANTARA Jabar

Friday, December 9, 2011

Koarmatim Menerima KRI Salawaku dan KRI Badau


9 Desember 2011, Surabaya (Koarmatim): Perairan Indonesia ditinjau dari kondisi geografis dan perkembangan lingkungan dewasa ini kawasan perairan Indonesia memiliki nilai strategik yang sangat penting, khususnya sebagai jalur perdagangan dan perekonomian dunia. Demikian antara lain dikatakan oleh Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksda TNI Ade Supandi, SE. dalam amanat tertulisnya, saat memimpin upacara penerimaan KRI Salawaku -842 dan KRI Badau-841, di Dermaga Madura Koarmatim, Ujung Surabaya, Jumat (9/12).

Menurut Pangarmatim, nilai strategis tersebut membawa konsekuensi timbulnya berbagai kerawanan yang sewaktu-waktu dapat terjadi, sehingga harus diantisipasi dengan baik dan disiapkan upaya penanggulangannya secara tepat dan cepat. “Dengan kehadiran ke dua KRI ini akan memperkuat Koarmatim dalam penegakan kedaulatan dan pengendalian perairan yuridiksi nasional, khususnya yang menjadi tanggung jawab Koarmatim,”tegas Pangarmatim.

Dua KRI tersebut merupakan kapal perang hibah dari Pemerintah Brunei Darussalam, yang sebelumnya masuk jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat. KRI Salawaku – 642 dibuat di galangan Vosper Pty. Ltd. ,Singapura pada tanggal 3 Oktober 1978 dan diliuncurkan pada tanggal 16 Maret 2979 dengan Nama Kapal KDB Waspada P 02. Oleh pemerintah Brunei dihibahkan kepada TNI AL pada tanggal 15 April 2011 serta diresmikan menjadi KRI Salawaku-642 di Jakarta. Kemudian resmi masuk jajaran TNI AL yang diterima oleh Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Marsekal Madya TNI Eris Herriyanto, MA. di Dermaga Muara Naval Base Brunei.

KRI Badau dibuat di negara dan galangan kapal yang sama, hanya saja yang membedakan adalah tanggal peluncurannya. Kalu KRI Badau diluncurkan tanggal 25 Maret 1979. Pada tanggal 16 April 2011 sampai dengan 19 April 2011 dilaksanakan operasi penyeberangan dari Muara (Brunei Darussalam)-laut Cina Selatan, Pontianak, Selat Karimata, Laut Jawa, Jakarta.

KRI Salawaku yang semula masuk ke jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat di kelas kapal cepat setelah masuk ke Koarmatim, kapal tersebut masuk di jajaran kapal patroli. Perubahan kelas tersebut juga membawa perubahan pada nomor lambung kapal yang semula -642 menjadi -842. Di Koarmatim satuan Kapal patroli menggunakan nomor lambung dengan menggunakan angka kepala 8. Demikian juga dengan KRI Badau-841 yang semula di Koarmabar dijajaran kapal cepat menggunakan nomor lambung -641 setelah masuk Koarmatim bergabung dengan satuan kapal patroli nomor lambungnya menjadi -841.

Saat ini KRI Salawaku-842 dikomndani oleh Mayor Laut (P) Alfred Daniel Mathews dan KRI Badau-843 dikomandani oleh Mayor Laut (P) Komaruddin. Kedua komandan ini merupakan Komandan pertama kapal hibah tersebut setelah resmi masuk dalam jajaran kekuatan TNI Angkatan Laut.

Sumber: Dispenarmatim

Pembelian Enam Pesawat Sukhoi Masih Negosiasi

(Foto: Dispenau)

9 Desember 2011, Jakarta (ANTARA News): Kementerian Pertahanan (Kemhan) sedang mengupayakan pembelian enam unit pesawat tempur Sukhoi Su-30MK2 dari Rusia, namun masih dalam tahap negosiasi.

"Pembelian enam unit pesawat Sukhoi dari Rusia masih dalam tahap negosiasi," kata Sekretaris Jenderal Kemhan Marsekal Madya Eris Heriyanto usai peresmian Crisis Center Pramuka di Kwartir Nasional (Kwarnas) Pramuka, Jakarta, Jumat.

Pembelian enam pesawat Sukhoi itu sebagai rencana strategis (Renstra) Kemhan dalam memenuhi kekuatan udara jet tempur Shukoi hingga satu skuadron atau setara 16 jet tempur.

Saat ini, TNI AU baru memiliki 10 jet tempur terdiri dua versi, yakni Shukoi Su-30MK2 dan Su-27SKM.

Penambahan Sukhoi itu untuk menambah kekuatan tempur TNI AU dalam menjaga kawasan udara Indonesia. Belajar dari pengalaman selama ini, jumlah pesawat yang ada belum mencukupi untuk mengamankan wilayah udara dari penyusupan pesawat asing.

Eris pun mengaku belum bisa menyebut harga pembelian enam unit Shukoi itu.

"Sistem pembayaran pembelian Shukoi kepada pemerintah Rusia melalui pinjaman lunak luar negeri. Karena saat ini masih proses negoisasi, kami belum bisa memastikan kedatangan enam jet tempur tersebut," ucapnya.

Amerika Serikat Hibahkan Pesawat F-16


Pemerintah Amerika Serikat akan memberikan bantuan hibah kepada Indonesia berupa pesawat tempur jenis F-16 sebanyak 24 unit.

"Pemerintah Amerika Serikat akan memberikan bantuan pesawat tempur dalam upaya meningkatkan peralatan militer pemerintah Indonesia," kata Duta Besar AS untuk Indonesia, Scot Marciel di Nusa Dua, Bali, Kamis.

Di sela-sela pertemuan "Bali Democracy Forum (BDF)" IV, ia mengatakan, pihaknya telah menyediakan pesawat tempur F-16 tersebut untuk negara-negara yang memerlukan. Namun kali ini memang diperuntukkan untuk Indonesia.

"Kesepakatan pemerintah kami untuk memberikan F-16 dalam bentuk hibah sebanyak 24 unit. Sedangkan bantuan enam unit tambahan lagi bisa diambil suku cadangnya untuk pemeliharaan pesawat lain," katanya.

Ditanya kapan realisasi bantuan pesawat tempur itu, Scot Marciel mengatakan, pihaknya segera menyerahkan pesawat tersebut.

"Namun hingga saat ini masih harus ada pembicaraan lebih lanjut antara pemerintah Indonesia dengan kami. Kalau itu sudah selesai maka pesawat tersebut segera dikirim ke Indonesia," ucapnya.

Sumber: ANTARA News