Saturday, November 12, 2011

Konvoi Kapal Perang RI “Diserang Musuh”


10 November 2011, Surabaya (Dispenarmatim): Konvoi Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) yang tergabung dalam operasi amfibi mendapat “serangan” dari pesawat intai musuh ketika hendak memasuki perairan Kota Baru Kalimantan Timur, Selasa (08/11). Terjadi pertempuran yang sengit selama kurang lebih 30 menit antara kapal-kapal perang RI dengan pesawat musuh yang sedang berpatroli di sekitar perairan Selat Makasar.

Beberapa KRI yang menjadi unsur tabir yaitu KRI Diponegoro-365, KRI Frans Kaisiepo-368, KRI Yos Sudarso-353 serta kapal perang lainnya terus melakukan perlawanan guna melindungi keberadaan unsur-unsur Komando Tugas Gabungan Amfibi (Kogasgabfib) yang mengangkut pasukan pendarat Marinir dan peralatan tempurnya. Seketika itu juga sekitar pukul 09.00 Wita bunyi sirine meraung-raung mengagetkan personel yang sedang bertugas di KRI dr. Soeharso-990 menandakan adanya serangan bahaya udara.

Tidak lama kemudian juga terdengar sirine bahaya kebakaran di geladak heli akibat serangan udara oleh pesawat musuh. Personel KRI dr. Soeharso-990 yang tergabung dalam regu Pemadam Kebakaran (PEK) segera melaksanakan pemadaman dengan peralatan PEK lengkap. Dalam waktu singkat api dapat dikuasai dan dipadamkan selama kurang lebih 15 menit. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari latihan peran tempur yang dilaksanakan oleh personel KRI dr. Soeharso-990 yang tergabung dalam Latihan Armada Jaya XXX/11.

Geladi peran tempur bahaya udara melibatkan satu buah Pesawat Udara (Pesud) Cassa U-622 dari Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) Juanda Surabaya. Skenario yang dilaksanakan adalah Cassa U-622 sebagai pesawat musuh, tiba-tiba melakukan serangan udara secara mendadak. Seluruh unsur Kogasgabfib melaksanakan peran tempur bahaya udara sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing dan seluruh personel mempati pos tempur sesuai peralatan dan persenjataan yang mereka awaki. Demikian pula personel KRI dr. Soeharso-990, yang merupakan main body dalam konvoi Kogasgabfib, turut melaksanakan latihan peran tempur bahaya udara.

Guna menjaga kerahasiaan rencana serbuan amfibi maka unsur-unsur kapal perang itu melakukan diam pancaran radio dan melaksankan komunikasi antar kapal menggunakan isyarat dengan bendera (Flag Hoist), semaphore dan lampu (flash). Selain itu juga dilaksanakan Replenish At Sea (RAS) antara KRI dr. Soeharso-990 dengan KRI Frans Kaisepo-368. Pembekalan dilaut (RAS) dapat dilakukan untuk pengisian bahan bakar dan air tawar dari kapal ke kapal secara cepat dan terjamin kerahasiaannya.


Seluruh latihan peran tersebut disaksikan oleh Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur Laksamana Muda TNI Ade Supandi, S.E. sebagai Direktur Latihan (Dirlat) Armada Jaya XXX/11 yang onboard di KRI dr. Soeharso-990. Turut menyaksikan Ketua Pengawas dan Pengendali Latihan (Kawasdal) Laksamana Pertama TNI Ary Atmaja (Kepala Staf Kolinlamil) dan Ketua Tim Penilai Laksamana Pertama TNI Didik Wahyudi (Dankodikopsla Kobangdikal).

Selama perjalanan Lintas Laut (Linla) dari Pangkalan Surabaya menuju daerah sasaran, rombongan KRI yang membawa peralatan tempur dan pasukan Marinir itu melaksanakan berbagai macam gladi tempur laut seperti dalam kondisi saat peperangan yang sesungguhnya.

Pada kesempatan itu Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur Laksamana Muda TNI Ade Supandi, S.E. selaku Direktur Latihan Armada Jaya XXX/11 melakukan teleconference dari KRI dr. Soeharso-990 dengan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) dan Wakasal yang berada di Mabesal Jakarta. Dalam siaran langsung yang tampil dalam layar monitor berupa komunikasi visual dan audio itu diikuti juga oleh Mako Koarmatim serta KRI Surabaya-591 selaku kapal markas Komando Tugas Gabungan Amfibi (Kogasgabfib).

Pangarmatim selaku Direktur Latihan (Dirlat) didampingi Panglima Komando Tugas Gabungan Amfibi (Pangkogasgabfib) Laksamana Pertama TNI Taufiqurrachman serta pejabat staf lainnya melaporkan kesiapan personel dan materiil serta menyampaikan hasil kompetisi artileri yang dilaksanakan oleh unsur-unsur kapal perang yang tergabung dalam Latihan Armada Jaya XXX/11. Pada kesempatan yang sama Komandan Pasukan Pendarat (Danpasrat) Kolonel Marinir Amir Faisol juga melaporkan kepada Kasal tentang kesiapan personel dan persenjataan dalam melaksanakan serbuan amfibi yang akan dilaksanakan nanti.

Dalam formasi konvoi Linla menuju daerah sarasan, juga disimulasikan terjadi kecelakaan yang dialami oleh salah seorang personel yang berada di KRI Surabaya 591. Kelasi Kepala Rum Herwanto jatuh dari tangga saat menuju dek heli kemudian korban ditolong oleh Bintara Kesehatan Kapal (Bakes) Kopda Farmasi (Far) Odi dengan melakukan tindakan pertolongan medis pertama. Melihat kondisi korban yang mengalami patah tulang (fraktur) betis dan paha pada kaki sebelah kiri dan peralatan medis yang ada di KRI Surabaya kurang memadai selanjutnya korban segera dievakuasi menuju KRI dr. Soeharso-990 dengan menggunakan heli Bolcow yang berada di KRI Teluk Mandar-514. Evakuasi Medis Udara (EMU) berlangsung dengan cepat, kemudian heli mendarat di geladak KRI dr. Soeharso dan pasien menjalani penanganan medis di Unit Gawat Darurat (UGD) kapal rumah sakit itu.

Kegiatan simulasi latihan EMU dari kapal ke kapal tersebut, adalah untuk mengukur sejauh mana kemampuan dan kesiapan personel medis dan para medis saat melaksanakan pertolongan terhadap pasukan yang mengalami kecelakaan atau terluka dalam pertempuran.

Sumber: Dispenarmatim

TNI AD Terima Rp14 Triliun untuk Alutsista

TNI AD berencana mengakuisisi helikopter termpur Apache. (Foto: PEO Aviation)

11 November 2011, Magelang (ANTARA): Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat menerima alokasi pengadaan untuk alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari pemerintah sebesar Rp14 triliun.

Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo di Magelang, Jumat mengatakan, hasil terakhir dalam sidang kabinet terbatas dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, TNI AD diberi porsi untuk pengadaan alutsista Rp14 triliun.

Ia mengatakan hal tersebut usai acara Wisuda Purnawira Perwira Tinggi TNI AD di Akademi Militer Magelang. Pada kesempatan tersebut diwisuda 166 perwira tinggi TNI AD yang telah memasuki masa pensiun, antara lain Jenderal TNI (Purn) Agustadi Sasongko Purnomo, Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso, dan Jenderal TNI (Purn) George Toissuta.

Menurut Pramono, anggaran tersebut antara lain akan digunakan untuk membeli tank, roket, meriam, dan helikopter.

Ia mengatakan, untuk pengadaan alutsista tersebut TNI AD telah menugaskan Wakasad TNI AD untuk melihat langsung pabrik senjata di Eropa bersama tim dari Kementerian Pertahanan.

Menurut dia, alutsista yang akan dibeli misalnya main battle tank atau tank berat yang selama ini Indonesia belum pernah memiliki. "Jika ini bisa diwujudkan maka Indonesia akan menjadi negara yang seimbang dengan negara tetangga," katanya.

Ia mengatakan, dengan kondisi perekonomian eropa yang sedang tidak baik maka mereka membutuhkan uang tunai sehingga mereka menjual senjata dengan harga murah.

Ia menuturkan, dari plafon untuk pembelian 44 tank berat, ternyata mereka menawarkan untuk pembelian 100 unit tank berat.

"Indonesia sebenarnya diuntungkan dengan situasi ekonomi Eropa kurang baik saat ini, mereka berani menjual dengan harga murah, sedangkan Indonesia butuh peralatan tersebut," katanya.

Pramono mengatakan, untuk pengadaan helikopter Apache, Indonesia dapat harga khusus, dari harga 30 juta dolar AS per unit mendapat keringanan 5 juta dolar AS per unit sehingga harganya menjadi 25 juta dolar AS per unit.

"Karena membeli delapan unit helikopter maka dapat menghemat dana hingga 40 juta dolar AS," katanya.

Ia mengatakan, pengadaan alutsista tersebut harus selesai tahun 2014 sesuai anggaran yang disiapkan pemerintahan saat ini.

Sumber: ANTARA News Jatim

Kasau Lantik Komandan Skadron Udara 45


11 November 2011, Jakarta (Pos Kota): Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP meresmikan Skadron Udara 45 dalam upacara militer di Lanud Halim Perdanakusuma, Jumat (11/11). Bersamaan dengan peresmian Skadron Udara 45 ini, secara struktur organisasi, dilantik pula Letkol Pnb Muzawar sebagai Skadron Udara 45, dihadiri oleh pejabat TNI Angkatan Udara dan tamu undangan.

Dalam sambutannya, dikatakan sebagai salah satu komponen pertahanan Negara, TNI Angkatan Udara dapat menjadi salah satu “bargaining power” dalam upaya menyelesaikan konflik antar Negara. Meski disadari, bahwa untuk membangun sebuah Angkatan Udara yang kuat adalah tidak mudah dan memerlukan dana yang tidak sedikit.

Namun demikian, kebijakan TNI Angkatan Udara kedepan tetap mengarah pada upaya peningkatan kesiapan operasional TNI Angkatan Udara. Oleh karena itu, prioritas utama yang harus dilakukan terfokus pada upaya tercapainya kemampuan operasional yang optimal dari segenap satuan-satuan udara TNI Angkatan Udara.

“Sebagai pangkalan operasional, Lanud Halim Perdanakusuma menjadi salah satu pengkalan dengan tingkat operasional yang sangat tinggi, oleh karena itu seluruh personel Satuan Lanud Halim Perdanakusuma harus benar-benar memperhatikan masalah Keselamatan Terbang dan Kerja yang menjadi dasar sebagai pegangan dalam setiap pelaksanaan tugas”, demikian arahan Kasau.

Lanud Halim P merupakan satuan pelaksana Koopsau I, dan sesuai kebijakan pimpinan, maka Skadron Udara 45 menambah optimal tugas Lanud Halim P. Skadron Udara 45 merupakan skadron angkut khusus VIP/VVIP yang dalam operasionalnya menggunakan pesawat jenis helikopter.

Sumber: Pos Kota