Saturday, September 24, 2011

Ganti Alutsista, Kodam Tunggu Keputusan Pusat Satuan

Pangdam I Bukit Barisan yang baru, mantan Danjen Kopassus Mayjen TNI Lodewijk F Paulus menggantikan Mayjen TNI Leo JP Siegers yang pindah tugas sebagai Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat. (Foto: Mohammad Hilmi Faiq/KOMPAS)

22 September 2011, Medan (MedanPunya.Com): Komando Daerah Militer (Kodam) I Bukit Barisan menunggu keputusan pusat satuan tempur mengenai pergantian sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) yang sudah tidak layak pakai.

"Pada dasarnya, kami hanya menerima," kata Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Lodewijk Paulus.

Pangdam mengatakan, setiap pusat satuan di lingkungan TNI-AD memiliki kewenangan dalam menentukan pergantian alutsista, terutama yang sudah tidak layak pakai.

Ia mencontohkan, persenjataan di Batalyon Infanteri lebih ditentukan dari pertimbangan Pusat Infanteri di Mabes TNI.

Demikian juga dengan satuan lain seperti Batalyon Kavaleri, Batalyon Artileri Pertahanan Udara (Arhanud), dan Artileri Medan (Armed).

Dengan kewenangan itu, kepastian perlu tidaknya pergantian alutsista tersebut sangat tergantung pada pusat satuan yang ada di TNI-AD tersebut. Meski tidak membantah tentang kemungkinan untuk mengajukan usulan, tetapi hal itu hanya menjadi pertimbangan mengenai kondisi persenjataan di Kodam I Bukit Barisan.

Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu menegaskan pihaknya menerima segala keputusan yang dikeluarkan pusat satuan tempur tersebut.

"TNI-AD memiliki pertimbangan mana yang harus diprioritaskan," katanya.

Menurut catatan, pemerintah menganggarkan sekitar Rp99 triliun untuk biaya perawatan dan pembelian sejumlah alutsista hingga tahun 2014.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, alokasi anggaran itu merupakan salah satu hal yang dibahas dalam rapat terbatas yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Ini program nasional yang langsung di bawah koordinasi Presiden," katanya.

Pangdam BB Prioritaskan Penanganan Terorisme

Panglima Kodam I/Bukit Barisan Mayor Jenderal TNI Lodewijk F Paulus memprioritaskan empat hal dalam kepemimpinannya, yakni demokrasi, pemberantasan terorisme, HAM, dan lingkungan hidup. Dia meminta dukungan tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk mensukseskan programnya.

Demikian dikatakan Lodewijk seusai acara serah terima jabatan di Markas Kodam I/BB di Medan, Rabu (21/9/2011). Mantan Komandan Jenderal Kopassus ini menggantikan Mayor Jenderal TNI Leo JP Siegers yang pindah tugas sebagai Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat.

Lodewijk menjelaskan, domokrasi di wilayahnya yakni Sumut, Sumbar, Riau, dan Kepulauan Riau perlu dikawal. Ini terutama menjelang banyaknya pemilihan kepala daerah.

Mengenai terorisme, dia akan mengoptimakan peran Bintara Pembina Desa (Babinsa) dengan program deteksi dini. "Istilah kami, harus meningkatkan asas temu cepat lapor cepat," ujarnya.

Pria kelahiran Manado 1957 ini menjelaskan, pelanggaran HAM di wilayahnya tidak begitu menonjol. Namun, dia akan terus menanamkan nilai-nilai HAM kepada anak buahnya agar bisa diterapkan dalam setiap bertugas.

Yang juga menjadi perhatian mantan Asisten Operasi Kasdam I/BB ini adalah adanya lahan kritis di sumut seluas 430.000 hektar. Untuk itu, dia akan menghijaukannya. "Contoh paling nyata yang ada di sekitar Danau Toba," pungkasnya.

Sumber: MedanPunya.com/Kompas

Pemerintah Harus Serius Bangun Kekuatan Pertahanan


23 September 2011, Jakarta (ANTARA News): Anggota Komisi I DPR RI Syahfan Badri Sampurno mengatakan pemerintah harus lebih serius menjalankan komitmen untuk membangun postur kekuatan utama pertahanan negara.

"Meski kemampuan anggaran kita terbatas, namun komitmen tetap harus dilaksanakan," kata Syahfan di Jakarta, Jumat.

Untuk itu, Menhan juga harus meningkatkan efisiensi anggaran dengan memperbesar porsi pemenuhan kebutuhan anggaran minimal (minimum essential force/MEF) Alutsista, dibandingkan dengan belanja operasional dan barang-barang lainnya, kata Syahfandi.

Dikatakannya bahwa kenaikan pengajuan anggaran Kementerian Pertahanan/TNI hingga 29,5 persen dari tahun sebelumnya dianggap masih belum optimal.

Hal ini dikarenakan penganggaran yang direncanakan belum memenuhi target percepatan pemenuhan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) sesuai dengan MEF Komponen Utama yang direncanakan pada 2012.

Berdasarkan laporan Menhan dalam pengajuan anggaran dan Rencana Awal Kerja Pemerintah Tahun 2012, Kemhan dan TNI mendapat alokasi anggaran Rp61,5 triliun atau naik sekitar 29,5 persen dari sebelumnya Rp47,5 triliun.

Namun dari kenaikan tersebut, ujarnya, sebagian besar digunakan untuk belanja operasional seperti gaji pegawai dan belanja barang operasional. Sedangkan program Pemenuhan Alutsista MEF Tahun 2012 baru dianggarkan Rp6 trilyun

"Sesuai Rencana Strategis Pembangunan TNI, Pemenuhan Alat Utama MEF Tahun 2012 seharusnya bisa mencapai Rp12 triliun, namun dari laporan Menteri Pertahanan ternyata baru dianggarkan Rp6 triliun. Ini masih jauh dari optimal," ujarnya.

Karena itu, politisi PKS ini ini mendukung peningkatan anggaran pemenuhan Alutsista MEF untuk komponen utama dan memperkecil porsi belanja operasional dan barang.

Syahfan juga menyoroti permasalah yang sering muncul di Kemhan dalam hal pengadaan Alutsista.

Dalam pengamatan Syahfan, pengadaan Alustsista biasanya memakan waktu cukup lama, minimal 6 bulan, apalagi jika diimpor bisa 18-24 bulan.

Lamanya waktu pemesanan juga menjadikan proses ini rentan melanggaran peraturan perundang-undangan dan system manajemen penganggaran negara, karena akan melawati tahun anggaran yang berjalan.

Pemerintah harus memberikan kebijaksanaan untuk mengakomodir pengadaan Alutsista agar bisa dilaksanakan secara lintas tahun anggaran.

Payung hukumnya bisa dibuat dengan memasukkan klausul di Undang-Undang atau dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), ujarnya.

Sumber: ANTARA News

Friday, September 23, 2011

Komandan UNIFIL Kunjungi Indobatt

Komandan Kompi Alpha Kapten Inf Sigit Purwoko (kiri) memberikan penjelasan kepada Komandan UNIFIL Major General Alberto Asarta Cuevas (ketiga kiri) ketika meninjau ke area operasi INDOBATT (pos observasi B 78) yang merupakan sensitive area blue line (perbatasan Israel-Lebanon) yang dijaga oleh prajurit Kompi Alpha didaerah El Addaisse, Lebano Selatan, Kamis, (22/9). Kunjungan kerja ini dalam rangka melihat secara langsung kinerja pasukan INDOBATT yang sedang melaksanakan observasi dan penjagaan serta memastikan perkembangan situasi di sekitar area pos observasi B 78. (Foto: ANTARA/HO-Sertu Marinir Kuwadi/ed/Spt/11)

22 September 2011, El Addaisse, Lebanon Selatan (Jurnas.com): Komandan UNIFIL Major General Alberto Asarta Cuevas, meninjau area Pos Observasi B 78 yang dijaga prajurit Kompi Alpha Indobatt. Area operasi Indobatt ini merupakan sensitive area blue line, yaitu perbatasan Israel-Lebanon yang berada di daerah El Addaisse, Lebanon Selatan.

Komandan Indobatt Letkol inf Hendy Antariksa didampingi Kasiops Mayor Inf Hendriawan Senjaya dan Komandan Kompi Alpha Kapten Inf Sigit Purwoko menyambut kedatangan Komandan UNIFIL ini. Saat kunjungan tersebut, dia menerima paparan singkat Komandan Kompi Alpha Kapten Inf Sigit Purwoko tentang perkembangan situasi perbatasan Israel-Lebanon yang berada dalam pengawasan prajurit Kompi Alpha yang berjaga di Pos Observasi B 78.

Menurut Dansatgas Indobatt Konga XXIII-E/UNIFIL, Letkol Inf Hendy Antariksa dalam siaran pers yang diterima Jurnal Nasional pagi ini, kunjungan Komandan UNIFIL itu bertujuan untuk melihat secara langsung kinerja pasukan Indobatt yang sedang melaksanakan observasi dan penjagaan serta memastikan perkembangan situasi di sekitar area Pos Observasi B 78.

Jenderal berbintang dua asal Spanyol itu berpesan kepada seluruh prajurit Indobatt agar tetap meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi segala kemungkinan ketegangan diantara kedua belah pihak yang bisa saja terjadi setiap saat.

Sensitive area blue line yang berada dalam pengawasan Pos Observasi B 78 tersebut merupakan salah satu hotspot yang rawan akan peningkatan ketegangan diantara kedua belah pihak.

Sumber: Jurnas