Saturday, August 13, 2011

Pemerintah Dorong BUMN Alutsista untuk Perluas Pasar

Amunisi produk PT. PINDAD. (Foto: Berita HanKam)

11 Agustus 2011, Jakarta (Kontan): Pemerintah terus mendorong industri alat utama sistem persenjataan (Alutsista) di dalam negeri untuk memperluas pasarnya. Tak hanya untuk pasar di dalam negeri (TNI), ke depannya, industri alat pertahanan ini juga didorong untuk mengembangkan pasar di luar negeri.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar mengatakan pemerintah saat ini tengah memperkuat manajeman dan pengelolaan (governance) industri alutsista yang strategis seperti PT Pindad, PT PAL dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI). "Saya optimis bahwa di dalam hal alutsista, keberpihakan pada produksi dalam negeri luar biasa," ujarnya Kamis malam (11/8).

Seperti diketahui, selama ini sebagian alat persenjataan yang dimiliki TNI memang diproduksi oleh BUMN alutsista di dalam negeri. Tapi, yang lebih menggembirakan, hasil produksi industri alutsista di tanah air sudah banyak dipesan oleh negara lain.

Mustafa mencontohkan, Malaysia sudah membeli persenjataan dari Indonesia misalnya SS-2. Beberapa negara ASEAN kini juga tengah negosiasi untuk pemesanan panser bikinan PT Pindad. Misi perdamaian di Libanon juga telah membeli panser 6x6 jenis Anoa. "Yang seperti inilah yang akan kita perluas pasarnya," ujarnya.

Bahkan, Mustafa mengakui saat ini pesawat jenis CN 235 versi militer lebih laris ketimbang pesawat sejenis untuk sipil (penumpang). Ini menandakan pasar untuk alutsista masih cukup besar.

Hanya saja, Mustafa bilang Indonesia tidak akan membidik pasar negara yang sedang berkonflik. "Kita produksi ini untuk proses perdamaian, menjaga keseimbangan. Makanya black market diusahakan untuk di-zero kan," katanya.

Sumber: KONTAN

Kapal Induk Cina Uji Coba Pendaratan Jet Tempur

Kapal induk Shi Lang (eks-Varyag) sedang dibangun di galangan kapal di Dalian. (Photo: huanqiu.com)

13 Agustus 2011, Jakarta (Berita HanKam): Kapal induk China pertama Shi Lang yang sedang melakukan pelayaran perdana melakukan simulasi pendaratan jet tempur, Sabtu (13/8) diberitakan Harian Global Times.

Pendaratan jet tempur dilakukan bila kondisi cuaca memungkinkan, tetapi jet tempur segera lepas landas sesaat mendekati kapal induk menggantikan pendaratan nyata, menurut sumber terpecaya dikutip Harian Global Times, Jumat (12/8).

Sumber menambahkan jet tempur yang digunakan produksi lokal J-15 Flying Shark.


Kapal induk Shi Lang (eks-Varyag) sedang dibangun di galangan kapal di Dalian. (Photo: huanqiu.com)

Simulasi ini ditujukan menguji sistem radar dan optical landing kapal induk, setelah meninggalkan galangan kapal Dalian untuk memulai pelayaran uji coba.

Seorang staf Humas Kementrian Pertahanan Nasional menolak memberikan komentar pemberitaan Global Times, ia mengatakan tidak ada pemberitaan mengenai kapal induk.

Administrasi Keamanan Maritim Liaoning mengeluarkan pengumuman Rabu (10/8), melarang komunikasi navigasi dan radio pada radius 31,5 km pada Sabtu (13/8) disekitar Timurlaut Laut Bohai. Hal ini merebakan spekulasi jet tempur akan diuji coba di kapal induk.

Sumber: Global Times

Kemhan: Cadangan Devisa untuk Alutsista

(Foto: Dispenarmatim)

12 Agustus 2011, Jakarta (Jurnas.com): Kementrian Pertahanan mentargetkan penggantian dana pinjaman luar negeri agar bisa dipenuhi dari dalam negeri. Proses itu saat ini sedang dalam pembicaraan antara Presiden dengan Kementerian Pertahanan.

"Kami bicarakan dengan Presiden bagaimana supaya pinjaman ini mengurangi kredit ekspor. Presiden menekankan, pinjaman jangan memakai dana dari luar. Harus memakai uang dari dalam negeri," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Kementerian Pertahanan di Jakarta, Jumat (12/8).

Jika dilakukan pengurangan kredit ekspor, maka harus dibuka kelonggaran pinjaman dari dalam negeri. Menhan optimis hal itu bisa dilakukan mengingat besarnya cadangan devisa negara saat ini. "Devisa kita sangat besar, mencapai US$122 miliar. Itu cukup bisa untuk tidak usah meminjam dari luar negeri," kata Menhan.

Kemhan mengalokasi dana US$6,5 miliar untuk pemenuhan minimum essential forces (MEF) alutsista. "Dana itu untuk pembiayaan alutsista selama lima tahun," katanya.

Sumber: Jurnas