Friday, July 22, 2011

60 Prajurit Marinir Jadi Awak Tank Amfibi BMP-3F


22 Juli 2011, Surabaya (ANTARA News): Delegasi Angkatan Bersenjata Rusia Letnan Jenderal Alexander Ilin melantik 60 prajurit Korps Marinir menjadi pengawak pertama Tank Amfibi BMP-3F Korps Marinir setelah mereka mengikuti pelatihan selama empat bulan.

Pelantikan itu dilakukan di sela-sela penutupan Kepelatihan Dalam Negeri Tank Amfibi BMP-3F Korps Marinir yang dilakukan Komandan Pasmar-1 Brigadir Jenderal TNI (Mar) A. Faridz Washington di lapangan apel Karangpilang Surabaya, Jumat.

Kegiatan Kepelatihan Dalam Negeri Tank Amfibi BMP-3F Korps Marinir itu diikuti 60 personel yang terdiri dari 24 personel Resimen Kavaleri-1 Mar, 30 personel Resimen Kavaleri-2 Mar, dua personel Denhar Lanmar Surabaya, dan empat personel dari Pusdikkav Kodikmar.

Dalam sambutannya, Komandan Pasmar-1 mengatakan kesiapan alutsista Korps Marinir harus didukung dengan kesiapan prajurit dalam mengawaki alutsista tersebut.

"Kesiapan itu telah ditunjukkan jajaran Korps Marinir yakni dengan mengadakan program Kepelatihan Dalam Negeri Tank BMP-3F Korps Marinir," katanya.

Menurut dia, pelatihan itu bertujuan untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, pendalaman serta penguasaan tentang teknis pengoperasian dan karakteristik seluruh komponen material Tank Amphibi BMP-3F.

"Melalui kepelatihan itu, awak kendaraan tempur BMP-3F diharapkan dapat lebih menguasai tentang kemampuan dan keunggulan kendaraan tersebut yaitu kemampuan daya tembak, keunggulan sistem kendali senjata (SKS), kemampuan daya amphibi, serta kemampuan daya kejut yang tinggi," katanya.

Dengan demikian, keluaran/output dari pelatihan awak Ranpur itu akan menjadi kebanggaan kesatuan Korps Marinir serta menjadi kader bagi penerus selanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Delegasi Angkatan Bersenjata Rusia Letnan Jenderal Alexander Ilin juga menyerahkan sertifikat sebagai pengawak pertama Tank BMP-3F Korps Marinir.

Acara penutupan itu dihadiri Kepala Staf Pasmar-1 Kolonel Marinir F. Saud Tambatua, Danlanmar Surabaya Kolonel Marinir Yuliandar TD, Dankolatmar Kolonel Marinir Widodo DP, dan Danpusdikkav Kolonel Marinir Lasmono.

Sumber: ANTARA News

Dua Kapal Perang RI Tolak Menuju Thailand


22 Juli 2011, Surabaya (Dispenarmatim): Dua Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) yaitu KRI Diponegoro-365 dan KRI Tongkol-813 bertolak menuju Thailand dari dermaga Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) Mentigi Pulau Bintan Kepri Jum’at (21/07). KRI Diponegoro yang dikomandani Letkol Laut (P) Antonius Widyoutomo dan KRI Tongkol di Komandani Mayor Laut (P) Bimo Adji akan melaksanakan Latihan Bersama(Latma) dengan Angkatan Laut (AL) Negeri Gajah Putih Royal Thailand Navy (RTN).

Kedua kapal perang yang berada di jajaran Koarmatim itu melaksanakan perjalanan Lintas Laut (Linla) dari Tanjung Uban menuju Pangkalan Angkatan Laut RTN yang berada di Sattahip Naval Base Thailand dengan memakan waktu selama kurang lebih dua hari. Seluruh prajurit KRI telah menyiapkan fisik dan mental, kemampuan dan profesionalisme sesuai tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing dengan berlatih secara rutin sebelum berangkat menuju daerah latihan yang sesungguhnya.


Dua KRI tersebut juga membawa misi diplomasi memeperkenalkan beberapa seni dan kebudayaan asli dari Tanah Air yang akan ditampilkan dihadapan para pejabat dari Kedutaan Besar (Dubes) RI di Thailand dan pejabat RTN. Sebagai wujud dari peningkatan kerja sama bilateral kedua negara yang merupakan bagian dari wilayah regional Asia Tenggara, maka TNI AL dan RTN merasa perlu untuk melaksanakan peningkatan kerja sama di bidang latihan guna meningkatkan profesionalisme kedua Angkatan Laut yang diwujudkan dalam bentuk latihan bersama Sea Garuda 16AB - 11.

Latihan bersama ini merupakan upaya untuk menyamakan persepsi dan tindakan dalam hal penanganan dan tindakan dalam menghadapi kemungkinan ancaman yang mungkin terjadi di wilayah perairan laut negara masing-masing pada umumnya dan di Laut China Selatan pada khususnya. Latihan itu juga untuk mempererat kerja sama antara TNI AL dan RTN serta meningkatkan ketrampilan profesionalisme maupun kerja sama pada tingkat unsur dalam operasi laut bersama. Selain itu kegiatan tersebut untuk memelihara dan meningkatkan hubungan baik antara kedua negara dalam rangka menjaga stabilitas keamanan regional.

Sumber: Dispenarmatim

TNI Dapat Dana Tambahan Pembelian Alutsista


22 Juli 2011, Magelang (ANTARA News): Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan mendapatkan tambahan dana melalui anggaran perubahan 2011 sebesar Rp2,4 triliun, sekitar Rp1,3 triliun di antaranya digunakan untuk pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono di Magelang, Jumat, mengatakan dana sekitar Rp1,3 triliun tersebut akan digunakan untuk pembelian alutsista buatan dalam negeri seperti dari PT Pindad, PT Koja Bahari, dan PT Pal.

Ia mengatakan hal tersebut usai upacara Prasetya Perwira Prajurit Karier TNI Tahun Anggaran 2011 di Lapangan Sapta Marga, Akademi Militer Magelang.

"Informasi terakhir yang kami dengar, akan dapat tambahan untuk tahun 2011 sebanyak Rp11 triliun, namun karena keuangan negara belum memungkinkan, kelihatannya hanya akan turun Rp2,4 triliun," ujarnya.

Jumlah perwira yang dilantik pada kesempatan tersebut sebanyak 210 orang, terdiri atas Angkatan Darat 110, Angkatan Laut 43, dan Angkatan Udara 55 orang. Dari jumlah tersebut, 39 di antaranya merupakan perwira perempuan.

Panglima mengatakan, perwira yang baru saja dilantik merupakan prajurit karier lulusan sarjana dan D3. Prajurit karier untuk mengisi jabatan khusus, seperti bidang hukum, dokter dan lainnya.

Ia mengatakan, mulai tahun 2011 lulusan Akmil, AAU dan AAL diberi gelar kesarjanaan yakni sarjana Sains Terapan Pertahanan. Para lulusan setara dengan D4 atau S1.

"Hal ini sudah dirancang sejak awal dan nantinya mereka bisa menempun S2 di universitas pertahanan, dengan demikian kesinambungan ilmu pertahanan akan terus berlangsung dan TNI memiliki ahli-ahli bidang pertahanan," katanya, menjelaskan.

Pemberian gelar sarjana memang baru diterapkan tahun 2011, katanya, setelah TNI bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan khususnya Dirjen Perguruan Tinggi. Setelah di teliti, ternyata lulusan Akmil, AAU, dan AAL, bisa menjadi sarjana sains terapan karena secara keilmuan, mereka memiliki syarat untuk meraih gelar. Gelar kepangkatan mereka tetap mendapatkan letnan dua.

Sumber: ANTARA News