Friday, February 18, 2011

KRI Banjarmasin-592 Gelar Latihan Pendaratan Amphibi di Tanah Tumbuh


17 Februari 2011, Makassar -- (Dispen Lantamal VI): Makassar (13/2) Rangkaian kegiatan Long Sea Trial dalam uji fungsi docking dan undocking KRI Banjarmasin-592 selama di perairan wilayah timur Indonesia, untuk kedua kalinya tiba di Makassar Sulawesi Selatan dalam rangka kegiatan latihan pendaratan amfibi terbatas oleh satuan tugas Marinir mengambil lokasi di Tanah Tumbuh pantai Losari Kota Makassar. Latihan operasi pendaratan ini dipimpin oleh Mayor Marinir Sinaga dengan kekuatan terdiri dari : 70 orang pasukan, 3 kendaraan tempur jenis Tank PT 76 serta 3 kendaraan tempur Jenis Ranratfib, 2 Sea raider, 1 LCU.

Simulasi latihan pendaratan amfibi ini menggambarkan dalam skenario latihan bahwa pulau tanah tumbuh pantai Losari sudah di kuasai oleh separatis sehingga perlu adanya operasi amfibi untuk mengembalikan kedaulatan dan keutuhan NKRI. Kegiatan latihan pendaratan amfibi terbatas ini juga melibatkan 40 personel Yonmarhanlan VI, 3 Patkamla Satkamla Lantamal VI dan 2 perahu karet. Simulasi latihan sendiri disaksikan langsung oleh Wadan Lantamal VI, Asisten Danlantamal VI dan pejabat teras Lantamal VI lainnya. Hadir juga dalam kegiatan Sekda Kota Makassar beserta camat dan lurah, pejabat Kepolisian Kota Makassar.

Dalam keterangannya Wadan Lantamal VI Kolonel laut (P) Dwi Tjahjono menyampaikan bahwa kegiatan latihan pendaratan amfibi terbatas pasukan Marinir ini merupakan rangkaian dalam Long Sea Trial uji fungsi docking dan undocking KRI Banjarmasin-592. Dengan kegiatan di Kota Makassar ini diharapkan Masyarakat Kota Makassar dapat melihat langsung dan bangga hasil karya putra-putra bangsa KRI Banjarmasin-592 produksi PT.PAL Surabaya. Latihan pendaratan pasukan Marinir dapat disaksikan masyarakat dan generasi muda di kota Makassar untuk menumbuhkan rasa bangga, cinta tanah air dan rasa kebangsaan.

KRI Banjarmasin-592 dengan Komandan Letkol laut (P) Eko Jokowiyono memiliki fasilitas kemampuan angkut sejumlah 507 personel ,13 unit tank dan 2 unit Landing craft Vehicles. Kapal perang jenis LPD dengan panjang 125 meter an lebar 22 meter buatan PT PAL Surabaya tersebut diluncurkan pada tanggal 8 Agustus 2008 lalu dan diresmikan menjadi kapal Perang Republik Indonesia (KRI ) pada tanggal 28 Nopember 2009 oleh Menhan Purnomo Yusgiantoro di Surabaya. Kapal perang KRI Surabaya-592, dalam pembinaan berada di bawah Kolinlamil.

Sumber: Lantamal VI

Paspampres Masuk Kategori Pasukan VVIP Dunia

(Foto: Paspampres)

18 Februari 2011, Jakarta -- (Suara Karya): Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) Mayjen TNI Waris patut berbangga hati. Karena, Paspampres disejajarkan sebagai pasukan very very important person (VVIP) kelas dunia. Selain Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono, sejumlah tamu negara memberikan apresiasi positif terhadap kinerja Paspampres.

"Keberhasilan kita melaksanakan tugas sangat diapresiasi Presiden SBY dan Wapres serta tamu negara. Paspampres melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya secara profesional sebagai satuan pengamanan VVIP sehingga bisa disejajarkan dengan pasukan pengamanan kelas dunia," ujar Waris pada Rapat Kerja dan Apel Komandan Satuan Paspampres 2011 di Mako Paspampres, Jakarta, Rabu-Kamis (17-18/2).

Selama 2010, Paspampres sukses melakukan tugas dan tanggungjawabnya untuk mengamankan Presiden dan Wakil Presiden, termasuk para tamu negara. Namun di balik keberhasilan itu, Waris mengingatkan prajurit Paspampres tidak langsung berbangga hati.

Sebab, kinerja Paspampres tak lepas dari kesalahan akibat dari kelalaian prajurit. "Kita terperangah karena sepanjjang 2010 masih ada prajurit Paspampres yang melakukan pelanggaran," ujarnya.

Menurut Waris, prajurit Paspampres butuh pendekatan personal. Adanya kasus pelanggaran pidana dan disiplin dilakukan personil Paspampres, membuktikan prajurit masih rentan terhadap pengendalian diri.

Pencegahan Dini

Pelanggaran yang dilakukan prajurit Paspampres menimbulkan keresahan pimpinan TNI. Pemicu pelanggaran diduga akibat persoalan pribadi.

Karena itu, ia mengatakan, perlu pemberdayaan unsur perwira pertama sebagai ujung tombak deteksi dini terhadap permasalahan prajurit. "Caranya adalah, melakukan pendekatan ke masing-masing individu prajurit," ujarnya.

Waris mengatakan, upaya penyelesaian masalah prajurit Paspampres berpedoman pada sendi-sendi dasar prajurit TNI. "Saya minta kepada seluruh unsur pimpinan untuk sungguh-sungguh dalam melaksanakan pembinaan satuan di tengah-tengah tuntutan tugas yang cukup padat ini," ujarnya.

Waris mengatakan, pemicu permasalahan yang dihadapi prajurit Paspampres harus diidentifikasi sedini mungkin sambil membuat solusi cermat dan menguntungkan bagi prajurit maupun Paspampres.

Prajurit Paspampres jangan dibiarkan sendiri untuk menyelesaikan persoalan. Pasalnya, prajurit butuh nasihat dan bimbingan dari pemimpin ataupun komandannya. "Cara terbaik adalah dengan mengadakan pendekatan personal ke masing-masing individu," kata Waris.

Penyelenggaraan Raker dan Apel Dansat Paspampres dalam rangka membahas dan mengevaluasi pelaksanaan program kerja dan anggaran Paspampres Tahun 2010, serta penyampaian program kerja dan anggaran Paspampres Tahun 2011.

"Wadah ini menjadi wahana untuk menyamakan persepsi dan meningkatkan kualitas kebersamaan di antara para komandan satuan dan staf terkait dalam upaya memecahkan berbagai permasalahan, baik internal maupun eksternal yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas Paspampres," ujar Waris.

Sumber: Suara Karya

Kodam I/BB Perketat Pengamanan Pulau Terluar

(Foto: Kodam I/BB)

18 Februari 2011, Medan -- (SINDO): Komando Daerah Militer (Kodam) I/Bukit Barisan (BB) memperketat penjagaan pulau-pulau terluar di wilayah Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar),Riau dan Kepulauan Riau (Kepri) dari ancaman negara tetangga dengan menambah pasukan. Menurut Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) I/BB Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Leo Siegers, di wilayah Kodam I/BB ada sebanyak 25 pulau yang letaknya berbatasan langsung dengan negara tetangga, yakni Singapura, Malaysia dan Thailand.

”Jumlah pulau terluar kita ada 25. Sebanyak 19 pulau tak berpenghuni. Pulau yang signifikan diduduki untuk sementara ada tiga pulau,” katanya kepada wartawan di Markas Kodam I/BB di Medan, kemarin. Ketiga pulau terluar tersebut adalah Pulau Berhala,di Kabuaten Serdangbedagai, Pulau Nipah di Batam dan Pulau Sekatung di Natuna, Kepulauan Riau (Kepri). Letak ketiga pulau itu sangat strategis dan keberadaannya sangat penting bagi Indonesia.

Pulau Berhala dan Pulau Nipah dijaga prajurit dari Korps Marinir, sedangkan Pulau Sekatung dijaga prajurit Batalyon Infantri (Yonif) 134/Tuah Sakti.”Di Pulau Sekatung juga dibangun patung setinggi 14 meter sebagai tanda. Untuk membangunnya dibutuhkan anggaran sebesar Rp1,3 miliar,”bebernya. Pangdam menambahkan, meningkatkan pengamanan pulau terluar di wilayah Kodam I/BB dari ancaman negara tetangga.

Kalau selama ini pasukan yang ditugaskan dari Marinir,maka pada tahun ini ditambah dari TNI Angkatan Darat (AD). Di Pulau Nipah misalnya, sebelumnya prajurit yang ditugaskan hanya satu kompi dari Marinir, sekarang ditambah menjadi dua pleton Marinir dan satu pleton Prajurit Kodam I/BB. Begitu juga di Pulau Berhala, sebelumnya satu pleton Marinir, menjadi dua pleton Marinir dan satu pleton prajurit Kodam I/BB.

Sementara Pulau Sekatung, sebelumnya satu pleton prajurit Yonif 134/Tua Sakti, nanti dirubah menjadi dua pleton prajurit 134/Tua Sakti dan satu pleton Marinir,” sebutnya. Penggabungan dua angkatan tersebut dimaksudkan untuk lebih mengakrabkan para prajurit. Ke depannya juga tidak tertutup kemungkinan prajurit dari Angkatan Udara (AU) dan Polri ikut menjaga pulau terluar. ”Pak Kapolda (Sumut) juga pernah minta.Tapi saya katakan, polisi bisa masuk kalau sudah ada warga yang ngurus SIM (surat izin mengemudi),” ucap Leo bercanda.

Semua angkatan dan Polri punya komitmen bersama menjaga pulau-pulau terluar di wilayah Sumatera. Keakraban antara prajurit dan anggota Polri harus terus dijaga dan ditingkatkan.Tidak heran,meski menjabat Pangdam, dia sering bertandang ke Kantor Polda Sumut, bahkan kantor polres. ”Saya bisa masuk ke polres,Pak Kapolda (Irjen Pol Oegroseno) juga bisa masuk ke batalyon.

Kita biasa akrab.Kenapa tidak ?,”beber Pangdam. Dalam Rapat Pimpinan (Rapim) TNI AD se-jajaran Kodam I/BB juga disinggung adanya penambahan kekuatan kewilayahan di Kodam I/BB, yakni pada validasi Yon Armed 2 menjadi Yon Armed Roket 2 di Delitua,Deliserdang dan validasi Yon Arhanudse 13 menjadi Yon Arhanud Rudal 13 di Pekanbaru, Riau.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapedda) Sumut Riadil Akhir Lubis sependapat dengan kebijakan Panglima TNI yang menambah pasukan menjaga pulau terluar, seperti Pulau Berhala, di Kecamatan Beringin, Serdangbedagai. Pulau Berhala tersebut kini ditetapkan pemerintah pusat sebagai kawasan strategis nasional.

Karenanya dalam rencana pembangunan Sumut ke depan, Pemprov Sumut tetap mengakomodasi Pulau Berhala. Selain Pulau Berhala, kawasan yang masuk dalam kawasan strategis nasional di Sumut, yakni Danau Toba, dan Medan-Binjai, Deliserdang- Karo (Mebidangro). ”Dalam merencanakan anggaran, kita juga masukan anggaran untuk pembangunan kawasan Pulau Berhala,” paparnya.

Sumber: SINDO