Tuesday, January 18, 2011

TNI Komitmen Tambah KRI Produksi Dalam Negeri

Kapal cepat rudal rancangan PT. PAL. (Foto: Berita HanKam)

17 Januari 2011, Jakarta -- (Koran Jakarta): TNI berkomitmen untuk memperbanyak Kapal Republik Indonesia (KRI) produksi dalam negeri. Hal itu dilakukan bertahap melalui transfer teknologi dari negaranegara produsen kapal perang. Melalui langkah diharapkan tidak ada lagi ketergantungan kepada negara asing dalam pembuatan alat utama sistem senjata (alutsista), khususnya di bidang maritim. “Kami sudah berkomitmen semua harus produksi dalam negeri,” kata Kepala Pusat Penerangan TNI Laksda Iskandar Sitompul di atas KRI Banjarmasin 592 dalam perjalanan menuju Kepulauan Seribu dari Markas Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Tanjung Priok, Minggu (16/1).

KRI Banjarmasin merupakan produksi dalam negeri pertama yang baru selesai dibuat pada 2009. Iskandar menambahkan, saat ini TNI tengah fokus terhadap proses transfer teknologi dari negara-negara produsen alutsista. “Transfer teknologi diharapkan berjalan,” ujarnya. Dia menambahkan konten lokal dalam setiap alutsista harus bisa lebih dari 60 persen. Dengan proses produksi bertahap itu, beberapa KRI yang berusia tua akan segera dihapuskan. Saat ini, makin banyak alutsista yang diproduksi oleh BUMN.

Dia mencontohkan, BUMN bidang perkapalan, PT PAL saat ini tengah mengerjakan pesanan pembuatan pembuatan KRI dari TNI. Iskandar mengatakan, beberapa waktu lalu telah ada pertemuan antara Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dengan pimpinan PT PAL agar proses pembuatan kapal dapat lebih tepat waktu. Makin Banyak Pada proses pembuatan KRI di dalam negeri, Iskandar mengakui PT PAL masih menggunakan beberapa komponen dari luar negeri.

Meski begitu, dia mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada satu negara pun yang mampu membangun kapal perang dengan komponen yang seluruhnya diproduksi negara yang bersangkutan. “Namun KRI yang dibuat PT PAL semakin banyak menggunakan konten lokal,” kata dia. Iskandar menjabarkan, selain memperkuat kemandirian, penggunaan konten lokal dalam pembuatan KRI juga dapat membuat proses produksi berjalan lebih cepat.

Dia juga mengatakan, KRI tidak hanya digunakan untuk peperangan, tetapi juga untuk operasi militer selain perang dalam masa damai seperti sekarang ini. Dicontohkan, KRI Banjarmasin merupakan kapal produksi dalam negeri yang dapat digunakan untuk kepentingan bencana alam, ataupun yang lainnya. Pembuatan KRI Banjarmasin ini memakan anggaran APBN sebesar 360 miliar rupiah.

Sumber: Koran Jakarta

Sertifikasi Roket D-230 Masih Diproses Kemhan

PT. LEN dan LAPAN bekerja sama mengembangkan sistem telemetri Roket Nasional D230. Sistem telemetri merupakan payload (muatan) berisi modul elektronik yang menggantikan warhead (hulu ledak) roket. Sistem akan mengirimkan sinyal data - posisi, ketinggian dan jarak terhadap stasiun peluncuran. (Foto: Berita HanKam)

18 Januari 2010, Jakarta -- (ANTARA News): Menteri Negara Riset dan Teknologi Suharna Surapranata mengemukakan, sertifikasi prototipe Roket D-230 masih dalam proses di Kementerian Pertahanan dan pihaknya akan terus melakukan pengembangan serta uji coba teknologi kedirgantaraan militer.

Menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Suharna Surapranata saat rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI di Gedung DPR/MPR Jakarta, Senin, Roket D-230 merupakan salah satu keberhasilan bekerjasama dengan Kemhan, BUMN, universitas dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK).

Kerja sama itu, antara lain, telah menghasilakan "Dirgantara 20-30 Km" atau yang disebut "Roket D-230". Kedepan, penguasaan teknologi dan industri peroketan khususnya untuk kaliber 122 mm akan dilakukan secara mandiri. "`Blueprint` desain `enginering` roket non kendali darat ke darat, pembuatan prototipe, uji statik dan uji terbang telah dilakukan," katanya.

Menurut menteri, sebanyak 20 Roket D-230 kaliber 122 mm telah berhasil diterbangkan dengan jarak terbang 11-14 km untuk "single stage" dan 18-20 km untuk "double stage".

"Saat ini, prototipe roket-roket tersebut dalam proses sertifikasi oleh Kementerian Pertahanan," katanya.

Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa PT LEN dan LAPAN bekerja sama mengembangkan sistem telemetri Roket Nasional D-230. Sistem telemetri merupakan payload (muatan) berisi modul elektronik yang menggantikan warhead (hulu ledak) roket.

Sistem akan mengirimkan sinyal data - posisi, ketinggian dan jarak terhadap stasiun peluncuran.

Sumber: Kemhan

TNI AL Kirim KRI Makassar ke Bawean


18 Januari 2011, Gresik -- (Surya): Ancaman krisis penyeberangan Gresik-Bawean ditanggulangi TNI AL dengan mengirim Kapal Perang berlayar ke Bawean. Sebab, sejak seminggu lalu semua pelayaran komersial dilarang melintas akibat ombak yang tinggi.

Cuaca buruk di perairan utara Gresik ditandai dengan ketinggian ombak mencapai 6 meter. Sementara kecepatan angin mencapai 40 knot (sekitar 74 km/jam). Akibatnya, ratusan masyarakat calon penumpang kapal menuju Bawean telantar di sekitar Pelabuhan Gresik.

Padahal, sebagian di antara mereka adalah warga Gresik yang datang dari luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. “Kita datang dari Malaysia, terpaksa harus nunggu sampai dapat kapal ke Bawean,” ujar Azura yang mengaku hendak ke Sangkapura, Senin (17/1).

Azura datang dari Malaysia bersama keluarganya seminggu lalu. Namun, karena tidak ada kapal yang berani berlayar, ia memutuskan untuk menginap di losmen Wisata di kawasan Pelabuhan Gresik.

Menanggapi keluhan calon penumpang, Bupati Sambari Halim Radianto meminta bantuan Armatim TNI Angkatan Laut Surabaya, untuk menyediakan kapal yang bisa berlayar dengan ketinggian ombak hingga 6 meter sekaligus membawa penumpang dalam jumlah banyak. “Armatim membolehkan KRI Makassar untuk kita pakai membawa masyarakat dan bahan pangan ke Pulau Bawean,” ujar Bupati Sambari, Senin (17/1).

Kapal perang yang mampu mengangkut 1.000 penumpang di dek dan menyediakan 600 tempat tidur tersebut berangkat dari Pelabuhan Gresik, Senin (17/1) malam. Kapal diperkirakan tiba di Bawean pada Selasa (18/1) pagi.

Selama perjalanan, Pemkab Gresik memberi bantuan 500 nasi bungkus secara gratis. “Kapal ini jelas aman dan nyaman, sebab panjangnya 110 meter lebar 24 meter dan berbobot 11.000 GT,” tambah Bupati Sambari.

Kadispen Armada Timur (Armatim) TNI AL Letkol Laut Yayan Sugiana mengungkapkan, KRI Makassar 590 dari Satuan Kapal Amfibi (Satfib) dikirim ke Pelabuhan Gresik guna membantu Pemkab Gresik mengatasi tertundanya perjalanan laut akibat cuaca buruk.

“Pengiriman KRI ini sebagai sarana transportasi dari pelabuhan Umum Gresik ke Pulau Bawean dan sebaliknya. Ini dilakukan agar roda perekonomian Gresik-Bawean kembali lancar,” kata Letkol Laut Yayan Sugiana, Senin (17/1).

Kadispen mengatakan, Panglima Armatim Laksda TNI AL Bambang Suwarto telah mengutus Letkol Laut (P) Phundi, R sebagai komandan kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) tersebut.

Sementara itu, Kantor Ketahanan Pangan menyiapkan beras untuk operasi pasar sebanyak 10 ton. Kepala Dinas Kesehatan, dr Sugeng menjamin persediaan obat-obatan di Bawean masih aman. Pihaknya sudah mengirim stok obat sejak Desember 2010.

Sumber: Surya