Wednesday, December 29, 2010

Kopaska Latih 12 Anggota Den Bravo


28 Desember 2010, Surabaya -- Sekolah Komando Pasukan Katak (Sepaska) yang berada dibawah Pusat Pendidikan Khusus (Pusdiksus) Komando Pengembangan Pendidikan TNI Angkatan Laut (Kobangdikal) Surabaya mendidik 12 siswa yang berasal dari Detasemen Bravo (Den Bravo) TNI AU yang menjadi siswa sepaska Bravo 90 angkatan ke- II. Selasa (28/12).

Pasukan Khusus yang dimiliki TNI AU saat ini sedang berlatih Renang Kompas Bawah Air (RKBA) dan Snak Ettack yang digelar diperairan sekitar Dermaga Sea Rider Koarmatim Ujung Surabaya. Materi dalam latihan itu adalah menyelam menuju sasaran berupa dermaga atau kapal perang lawan yang akan dihancurkan dengan membawa bahan peledak.

Dalam gladi kali ini para siswa masih diberikan pengenalan dan praktek menggunakan alat selam open yaitu menggunakan tabung oksigen dengan berbagai kelengkapannya seperti fins, masker dan snorkel.

Setelah tahapan-tahapan tersebut dilalui mereka akan dibekali kemampuan menyelam dengan menggunakan alat selam closed dan semi closed. Kemampuan menyelam dengan menggunakan alat selam closed merupakan bekal bagi setiap pasukan khusus yang akan menguasai peperangan aspek laut dan Combat Swimmer atau selam tempur bawah air guna melakukan operasi sabotase dari bawah air terhadap obyek-obyek vital yang dimiliki lawan.

Bersamaan dengan siswa Bravo Sepaska TNI AL juga mendidik 19 siswa Dik Paska TNI AL angkatan 34 yang terdiri dari Perwira Bintara dan Tamtama yang berasal dari satker dan unsur TNI AL seluruh Indonesia. Bagi siswa dari TNI AL lama pendidikan 10 bulan sedangkan untuk siswa Bravo TNI AU selama Tiga setengah bulan.

Instruktur atau pelatih bagi siswa sepaska adalah anggota Pusdiksus sepaska dan anggota Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Koarmatim yang berada di Bawah Komando Operasi (BKO) sepaska Kobangdikal.

Sedangkan tempat latihan peraktek banyak dilakukan di daerah basis Koarmatim dan sekitarnya serta Mako Satkopaska itu sendiri. Pendidikan kedua pasukan khusus TNI tersebut dimaksudkan bertukar ilmu dibidangnya masing-masing. Kerjasama strategis yang dilakukan, dalam hal ini Satkopaska berlatih penerjunan Free Fall dan terjun tempur (Junpur) dari Bravo TNI AU, sedangkan Bravo sendiri berlatih Combat Swimmer dari Satkopaska.

Dispenarmatim

Tim Sniper Kopaska TNI AL


27 Desember 2010, Surabaya -- Satu tim Sniper Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL dilengkapi senjata api laras panjang SG 550 Kaliber 5,56mm, melakukan orientasi lapangan dari ketinggian, saat melakukan pengamanan jelang Tahun Baru 2011 di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Senin (27/12). Bandara Internasional Juanda menyiagakan Satuan Tugas Pengamanan (Satgaspam) Bandara yang terdiri dari Unit K-9 Pomal, Kopaska dan satuan pengamanan bandara, untuk memberi rasa aman dan nyaman pada penumpang, jelang Tahun Baru 2011. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/ed/ama/10)

CN235 Menuju Pesawat Patroli Dunia

CN235 MPA TNI AU. (Foto: Dispenau)

28 Desember 2010, Jakarta (ANTARA News) - Pesawat CN235 produksi kerjasama antara PT. Dirgantara Indonesia dengan CASA Spanyol diharapkan menjadi pesawat patroli maritim yang digunakan oleh semua negara.

"Itu cita-cita kami," kata Dirut PT Dirgantara Indonesia (DI) Budi Santoso pada serah terima hasil pengujian model aerodinamika pesawat udara N219 dari BPPT kepada PT DI di Jakarta, Selasa.

Ia membantah produksi pesawat CN235 tidak berlanjut, karena saat ini PT DI sedang mengerjakan empat unit CN235 pesanan Korea Selatan untuk patroli pantai (coast guard), untuk beberapa negara lain yang tertarik dan untuk kepentingan dalam negeri TNI AL.

Pada Desember 2009 TNI AL diberitakan membeli tiga unit CN-235 MPA sebagai bagian dari rencana memiliki enam pesawat MPA sampai tahun 2014.

"CN235 sampai kini banyak dibutuhkan untuk kepentingan negara yang mengkhawatirkan permasalahan bajak laut, penyelundupan, atau imigran gelap, khususnya karena pesawat setipenya seperti Buffalo tidak diproduksi lagi," katanya.

Bahkan, untuk mengawasi Kepulauan Spratly di Laut China Selatan yang dipersengketakan sejumlah negara, baik Tentera Diraja Malaysia maupun Brunei sama-sama mengerahkan pesawat CN235 buatan PT DI, ujarnya dengan bangga.

Saat ini masih beroperasi sekitar 50 pesawat CN235 di berbagai negara buatan PT DI dan sekitar 150 unit CN235 buatan Casa Spanyol.

CN235 versi Patroli Maritim dilengkapi dengan sistem navigasi, komunikasi dan misi serta mengakomodasi rudal.

Saat ini PT DI baru saja menyelesaikan uji model aerodinamika pesawat perintis N219 berkapasitas 19 penumpang di BPPT yang sangat sesuai dengan kondisi kepulauan dan pegunungan Indonesia.

Direktur Aerostructure PT DI Andi Alisjahbana mengatakan, pengerjaan pesawat N219 dengan mesin Pratt & Whitney ini sudah selesai 35 persen, tinggal tahap tersulit persoalan pendanaan yang diharapkan menemukan solusinya pada 2011 untuk menyelesaikan 65 persen sisanya.

Di Indonesia, disebutkannya, ada 715 airport dan airfield, namun 72 persen runawaynya hanya memiliki panjang di bawah 800 meter. Sedangkan untuk penerbangan perintis terdapat 118 rute di 14 provinsi dengan 89 bandara.

ANTARA News