Wednesday, October 6, 2010

Prajurit TNI Harus Tingkatkan Deteksi Dini

Seorang perwira TNI menyaksikan salah satu prajurit yang melakukan atraksi terjun payung, pada peringatan HUT ke-65 TNI, di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jateng, Selasa (5/10). Puncak peringatan HUT TNI tingkat Kodam IV/Diponegoro dipimpin langsung oleh Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Langgeng Sulistiyono. (Foto: ANTARA/R. Rekotomo/ss/ama/10)

06 Oktober 2010, Purwodadi -- Pangdam IV/Diponegoro Mayjend TNI Langgeng Sulistiyono menegaskan bahwa TNI merupakan alat pertahanan negara yang salah satu tugas pokoknya adalah melaksanakan operasi militer selain perang yaitu mengatasi ancaman terorisme.

Untuk itu, lanjutnya Pangdam, sebagai upaya untuk mencegah semakin meningkatnya ancaman terorisme, seluruh prajurit TNI harus terus meningkatkan deteksi dini terhadap segala permasalahan yang timbul di tengah-tengah masyarakat. Dan yang paling berperan dalam mendeteksi dini adanya tindak terorisme adalah Babinsababinsa di tingkat kelurahan maupun desa. “Babinsa-babinsa adalah mata dan telinga kita dalam menyerap segala hal yang terjadi di tengahtengah masyrakat,karena Babinsalah yang langsung bersentuhan dengan masyarakat,” kata Langgeng saat upacara peringatan HUT TNI ke-65 di Alun-alun Purwodadi Kabupaten Grobogan kemarin.

Sejumlah prajurit wanita TNI dari tiga angakatan, AD, AL, dan AU, berbaris saat defile pasukan pada peringatan HUT ke-65 TNI, di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jateng. (Foto: ANTARA/R. Rekotomo/ss/ama/10)

Sementara, Peringatan HUT TNI yang baru pertama kali dilaksanakan di Kabupaten Grobogan dan terbuka untuk umum kemarin dipadati ribuan warga Grobogan dan sekitarnya, untuk menyaksikan berbagai atraksi yang diperagakan sejumlah prajurit TNI. Masyrakat disuguhi Atraksi Terjun Payung (AD, AL,AU), Fly Puss, Yoong Moodo, Demontrasi Semapur dari TNI AL, Kesenian Daerah (Tari Kolosal) : Solo Batik Carnival Dance (Wali Kota Solo), Tari Keprajuritan Wanoro Cakti (Bupati Wonogiri), Singo Barong (Yonif 410/Alg), Reog Ponorogo (Yonzipur 4), Barongsai (Yonarhanudse- 15 & Yonif 408/Sbh), Drumband & Choir (UNS Solo),Tari Tanam Padi (Kodim 0722/Kds), Tari/ Kolone Senapan Paskibra (Gab. Paskibra),diakhiri dengan Syukuran, Hiburan dan penyerahan hasil Karya Bhakti dari Dandim 0717/ Purwodadi kepada Bupati Grobogan.

Sayangnya, dalam atraksi terjun payung yang dilakukan oleh 14 prajurit gabungan dari TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara,sempat diwarnai insiden tiga orang penerjun tidak mendarat di lokasi yang telah ditentukan. Akibatnya, dua penerjun mengalami luka patah tulang. Mereka adalah Kapten Herwanto anggota Paskhas Lanud Adi Sumarmo yang mengalami patah tulang lengan kiri,dan Sersan Satu Ronald anggota Paskhas Lanud Adi Sucipto menderita patah tulang kaki kiri.Keduannya langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat, untuk mendapatkan perawatan medis.

SINDO

Membuat Kapal Selam

SS 062 Yi Chon kapal selam kelas Chang Bogo. (Foto: ROKN)

06 Oktober 2010 -- Masih dalam suasana peringatan hari jadi ke-65 TNI, maka satu tema yang masih terus bergema adalah pengembangan kemampuan industri pertahanan nasional. Bukan saja sekarang sudah ada Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), melainkan juga karena sekarang penguatan industri pertahanan dalam negeri telah diangkat sebagai wacana pendamping penguatan postur angkatan bersenjata RI.

Dua hal setidaknya bisa menjelaskan hal di atas. Pertama, ketika menjalani uji kelayakan dan kepatutan untuk menjadi Panglima TNI di DPR, Laksamana Agus Suhartono mendapat pesan bahwa terkait dengan pembangunan postur TNI, hal itu dilaksanakan dengan mempertimbangkan sungguh-sungguh pelibatan industri pertahanan dalam negeri. Berikutnya, sehari menjelang HUT ke-65 TNI, Presiden ketika memimpin sidang kabinet yang khusus membahas alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI menegaskan bahwa upaya modernisasi alutsista disertai komitmen mengutamakan produk industri strategis dalam negeri, kecuali yang belum bisa kita buat, seperti pesawat tempur, kapal perang, atau kendaraan tempur canggih (Kompas, 5/10).

Belum lama ini terbetik kabar bahwa bersama Korea Selatan, RI akan mengembangkan pesawat tempur KFX yang disebut lebih canggih dibandingkan F-16, tetapi masih di bawah kemampuan F-35 JSF Lightning II. Namun, seiring dengan itu, terbetik pula kabar bahwa Indonesia akan merancang kapal selam. Tidak kurang Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sendiri yang mengemukakan hal ini di sela-sela seminar di LIPI yang dikutip di awal kolom ini.

Merentang rancang bangun

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin yang mengunjungi PT DI, PT Pindad, dan PT PAL tentu diyakinkan bahwa dari segi kemampuan, tak ada yang diragukan dari putra-putra bangsa Indonesia untuk menguasai rancang bangun alutsista. Di matra udara, setelah membuktikan diri bisa membuat pesawat secanggih N-250 pada pertengahan dekade silam, masuk akal kalau program seperti KFX bisa merentang kemampuan lebih lanjut. Hal sama bisa dikatakan untuk PT Pindad, yang setelah menguasai rancang bangun kendaraan tempur dan membedah tank ringan Scorpion, lalu dalam posisi untuk merancang bangun pembuatan tank sekelas AMX.

Untuk matra laut, wacana bisa direntang lebih luas. Membaca buku Kapal Selam Indonesia (karya Indroyono Soesilo dan Budiman, 2008), pembaca tidak saja disuguhi sejarah kapal selam dan pengoperasiannya di Indonesia, lengkap dengan komandan dan awak yang pernah bertugas di kapal-kapal selam tersebut, tetapi juga segi lain yang berlingkup masa depan.

Di masa ketika isu perbatasan, khususnya perbatasan di laut, semakin sering mewarnai hubungan Indonesia dan negara tetangga, khususnya Malaysia, salah satu alutsista yang lalu sering dirasakan urgensinya adalah kapal selam. Bila kapal permukaan seperti korvet atau fregat melambangkan kehadiran, tetapi mudah disimpulkan kekuatannya, kapal selam lebih bermakna strategis karena memiliki daya penggentaran yang besar. Eksistensi yang nyata, tapi relatif sulit dilacak, membuatnya semakin dihargai oleh banyak negara. Setelah Singapura (4 Challenger dan 2 Archer yang merupakan kelas Vastergotland, Swedia), Malaysia pun kini sudah membeli dua kapal dari kelas Scorpene (buatan Perancis) (lihat The Military Balance 2010, IISS, 2010).

Kini Indonesia hanya mengoperasikan dua kapal selam–Cakra dan Nanggala–yang usianya hampir 30 tahun. Kapal selam tipe 209 buatan HDW Jerman ini sejak beberapa tahun terakhir disebut-sebut akan dicarikan penggantinya.

Ada wacana untuk melanjutkan apa yang sudah dimulai dengan kapal selam tipe 209, yang artinya tetap menggunakan buatan Jerman. Lalu yang terakhir muncul tawaran dari Pemerintah Korea, yang juga telah menguasai teknologi tipe 209 (dengan nama Changbogo).

Membuat kapal selam

Pembuatan kapal selam menjadi satu dari dua bahasan yang muncul ketika Sekretaris KKIP Sjafrie Sjamsoeddin berkunjung ke PT PAL. Selain kapal selam, topik lain adalah pembuatan kapal perusak kawal rudal.

Tentu dibutuhkan nasionalisme dan rasa percaya diri untuk bisa membuat kapal selam. Selama ini di PT PAL telah dibuat kapal berbagai jenis dan berbagai ukuran, dan membuat kapal selam dipastikan akan menuntut dimilikinya keterampilan teknis dan pemahaman akan rekayasa yang canggih.

Keinginan menguasai teknologi pembuatan kapal selam juga dibaca oleh pembuat kapal selam asing yang ingin menawarkan produknya ke Indonesia. Thyssen yang kini sudah menjadi perusahaan induk HDW pun dalam menawarkan tipe 209/1400 ini juga menawarkan alih teknologi kepada Indonesia, dalam hal ini PT PAL.

Sebagaimana juga ada di PT DI untuk pesawat terbang, di PT PAL pun kelak akan ada fasilitas pembuatan badan serta instalasi berbagai sistem yang ada pada kapal selam, seperti propulsi dan sebagainya. Keterampilan tersebut bisa diperoleh secara bertahap. Itu sebabnya, pada kapal selam pertama, sebagian besar pekerjaan (perakitan badan tekan dan instalasi outfitting tingkat tinggi) akan tetap dilakukan oleh mitra pembuat, dan PT PAL hanya akan mengerjakan integrasi dan penyelesaian keseluruhan kapal. Namun, untuk kapal kedua dan ketiga, bagian yang akan dikerjakan oleh teknisi Indonesia akan lebih banyak.

Diharapkan dengan proses alih teknologi yang konsisten, yang mengucur dari adanya program yang terjadwal rapi, pengerjaan dua kapal selam dengan alih teknologi bisa dikerjakan dalam tempo enam tahun.

Melalui program seperti itu, RI tidak saja akan menguasai pembuatan kapal selam, tetapi juga alutsista lain yang semakin kompleks.

Bila komitmen mendukung pengembangan kemampuan dalam negeri ingin diwujudkan, kapal selam jelas akan menjadi proyek lompatan kuantum yang besar artinya. (Ninok Leksono)

Meriam Berusia 68 Tahun pada HUT Ke-65

(Foto: KOSTRAD)

06 Oktober 2010, Jakarta -- Berikutnya dari Armed Kostrad, meriam 105 milimeter buatan Amerika Serikat tahun 1942,” kata pembawa acara yang memandu defile kendaraan tempur seusai upacara peringatan HUT Ke-65 TNI di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (5/10). Di tenda bagi para kolonel, seketika gerundelan terdengar. Beberapa tersenyum pahit. Seorang kolonel dari TNI AD berkomentar, ”Mbok ya tahunnya enggak usah disebutin,” katanya.

”Itu dipakai nembak sepuluh kali juga sudah panas. Belum kalau bautnya copot. Belum lagi spare part-nya mau cari di mana?” kata seorang kolonel dari TNI Angkatan Laut. Sementara yang lain juga menepuk dahi saat ada yang mengingatkan bahwa acara HUT ini diliput media asing dan dihadiri duta besar sejumlah negara.

Masalah alat utama sistem persenjataan memang masih berderet. Pembelian senjata tidaklah ditujukan untuk perang, tetapi lebih pada efek gentar yang memiliki makna luas, termasuk untuk diplomasi.

Untuk pemenuhan kebutuhan pokok minimum, pemerintah mengaku masih kurang Rp 50 triliun dari kebutuhan Rp 150 triliun untuk lima tahun mendatang. Industri strategis menjadi solusi yang menguntungkan dilihat dari berbagai segi. Hal ini juga mungkin yang membuat defile kendaraan tempur dimulai dengan 26 unit kendaraan taktis Anoa buatan PT Pindad.

Selain itu, dalam defile yang diikuti 1.186 orang ini, masih ada juga Tank Scorpion Kostrad dan Tank Stomer APC. Tank Amfibi LVT 7 Marinir merupakan hibah dari Korea Selatan. Ada kendaraan tempur BPV 2 Marinir. Dari Kodam Jaya ada panser V 150. Ada juga meriam G-23 dari Artileri Pertahanan Udara Kostrad, jembatan tank, meriam 57 mm dari Artileri Pertahanan Udara Kodam Jaya, dan meriam rudal. TNI AL menampilkan Howitzer, Roket Multilaras 70 Grade, dan Sea Rider Taifib Marinir. Dari Detasemen Bravo Pasukan Khas TNI AU ada Comob, 10 unit triple gun, dan meriam 12,7 mm.

Ini belum termasuk pesawat-pesawat tempur yang terbang melintas di hadapan podium tempat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal George Toisutta, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Madya Soeparno, dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat duduk. Pesawat-pesawat itu terbang dalam berbagai formasi, seperti kepala panah dan wajik.

Atraksi dimulai dengan helikopter Colibri yang melintas. Ditampilkan juga enam pesawat latih KT1 Wong Bee dan helikopter Bell serta Mill7. Setelah itu, berturut-turut pesawat-pesawat tempur seperti empat pesawat F5 dan delapan pesawat Hawk melintas.

Tampil juga enam pesawat F16 yang mendahului enam pesawat Sukhoi dari semula rencana tujuh pesawat yang menggelegar itu. Walaupun tidak ada atraksi akrobatik, Lanud Halim Perdanakusuma tampak gagah saat pesawat-pesawat tempur itu memecahkan formasinya di depan panggung. Selain itu, defile pasukan juga dari berbagai kesatuan, termasuk kesatuan- kesatuan penanggulangan teror. Salah satu yang mencuri perhatian adalah penampilan Pasukan Kontingen Garuda yang mengenakan kamuflase gurun.

Dalam pidatonya, Presiden Yudhoyono menginstruksikan Kementerian Pertahanan dan TNI menyusun rencana strategis pembangunan kekuatan pertahanan. Semoga segera menjadi kenyataan.

KOMPAS