Thursday, August 19, 2010

Singapore Hosts Regional Submarine Rescue Exercise

Infographic on Submarine Escape and Rescue operation.

18 August 2010 -- The Republic of Singapore Navy (RSN) and navies from Australia, Japan, the Republic of Korea and the United States are conducting a Submarine Escape and Rescue (SMER) exercise, codenamed Pacific Reach, from 17 to 25 Aug 2010. This year's exercise, the fifth in the series, is hosted by the RSN for the second time and consists of a shore phase conducted at the Changi Command and Control Centre and a sea phase held in the South China Sea. The exercise also comprises a medical symposium as well as simulated evacuation and treatment of personnel from submarines in distress. Also present at this year's exercise are military observers from 13 countries, namely Canada, China, France, India, Indonesia, Italy, Malaysia, Pakistan, South Africa, Sweden, Thailand, the United Kingdom and Vietnam.

Exercise Pacific Reach aims to develop regional SMER capabilities and strengthen interoperability in submarine rescue operations among participating navies. Speaking at the opening of the exercise, RSN's Fleet Commander, Rear- Admiral Joseph Leong, said, "Exercise Pacific Reach serves as a platform to foster cooperation on submarine escape and rescue, as well as to enhance multilateral relations among the submarine operating countries. As more countries acquire or enhance their submarine capabilities in the region, it is also important that we build and maintain a strong network for multilateral submarine rescue collaboration."

Viewing the recovery of the submersible rescue vehicle DSAR 6.

Foreign military observers and participants on board MV Swift Rescue, watching the launch of the submersible rescue vehicle DSAR 6.

The RSN's medical personnel, specially trained in the field of hyperbaric medicine, rendering assistance to a ''rescued'' submariner in the recompression chamber located on board MV Swift Rescue.

This year, the RSN is participating in the exercise with a Landing Ship Tank, RSS Endeavour; a submarine, RSS Chieftain; a submarine rescue support vessel, MV Swift Rescue; and a submersible rescue vehicle, Deep Search and Rescue Six. With hyperbaric facilities such as recompression chambers and a high dependency unit, MV Swift Rescue is able to provide immediate and specialised medical treatment to injured personnel who are evacuated from distressed submarines.Other participating naval assets include an auxiliary support ship, USNS Safeguard, from the US Navy and a Japanese submarine JDS Arashio. In 2000, the RSN hosted the first Exercise Pacific Reach, involving navies from Japan, the Republic of Korea and the United States.

Fact Sheet: MV Swift Rescue and Deep Search and Rescue Six

The submarine support vessel, MV Swift Rescue, was launched by the Republic of Singapore Navy (RSN) in November 2008. The RSN is the first in the Southeast Asian region to acquire Submarine Escape and Rescue (SMER) capabilities with the equipping of the MV Swift Rescue and the submersible rescue vessel, Deep Search and Rescue Six (DSAR 6). The MV Swift Rescue and DSAR allow for the rapid and effective evacuation of personnel from distressed submarines.

MV Swift Rescue features a wide range of capabilities to carry out SMER operations. The vessel comprises a helipad for the emergency evacuation of casualties, a Launch and Recovery system used to lower and raise the DSAR 6 the water, a medical centre equipped with an 8-bed High Dependency Ward and 10-bed Sick Bay, as well as a recompression chamber. The chamber has a capacity of 40 personnel and utilises a Deck Transfer Lock to prevent changes in the atmospheric pressure of the rescued submariners when they are transferred from the DSAR 6 to the recompression chamber.

Mindef

KRI Dewa Ruci Berlabuh di Cherbourg

Kadet Dewa Ruci mengikuti Upacara Proklamasi Kemerdekaan ke-65 di halaman Wisma Duta, KBRI Paris. (Foto: Dispenarmatim)

19 Agustus 2010, London -- Kapal Latih TNI AL Dewa Ruci melabuhkan jangkarnya di Cherbourg, kota di sebelah utara Prancis, di tepian English Channel.

Selama merapat di Cherbourg, komandan, prajurit, dan kadet Dewa Ruci melakukan berbagai kegiatan, antara lain "open ship" setiap hari, cocktail party, parade kota dan kunjungan kepada Wali Kota Cherbourg, ujar Fungsi Pensosbud KBRI Paris Gita Loka Murti dalam keterangan persnya yang diterima ANTARA, Kamis.

Acara Cocktail Party dihadiri berbagai pejabat kota dan militer AL di Cherbourg, antara lain Wakil Bidang Teritorial Komando Rayon Laut Cherbourg Kapten Kapal Eric Lenormand, Wakil Wali Kota Cherbourg Jozeau-Marigne, Komandan Kedua Pangkalan Laut Cherbourg Kapten Kapal David Bleau serta pejabat dan masyarakat Prancis yang mengagumi KRI Dewa Ruci yang berusia 53 tahun itu.

Menurut Gita Loka, hadirin terlihat mengapresiasi pertunjukan budaya yang ditampilkan para kadet Dewaruci pada acara tersebut yang menampilkan Tari Perang (Papua), Tari Rantak (Sumbar), Reog Ponorogo (Jatim), Rampak Gendang (Jabar) dan Tari poco-poco.

Acara dilanjutkan dengan makan malam dan buka puasa bersama yang diikuti dengan persembahan tari poco-poco hingga tengah malam.

Para undangan mengagumi KRI Dewa Ruci beserta prajurit dan kadetnya karena para prajurit dan kadet Dewa Ruci dipandang bukan hanya sebagai militer AL yang profesional dan tangguh tetapi juga duta budaya bangsa.

Di AL Perancis tidak ada pengkaderan kadet AL seperti Indonesia dan oleh karena itu mereka anggap KRI Dewa Ruci unik dan istimewa.

Para kadet Dewa Ruci melakukan parade dari Pont Tournant hingga Place de Gaulle di pusat kota Cherbourg. Meski di tengah guyuran hujan, masyarakat kota Cherbourg tetap dengan setia menyaksikan pertunjukan tersebut hingga selesai.

ANTARA News

Light Fregat Siap Gentarkan Militer Dunia

Konsep fregat SIGMA pesanan AL Maroko. (Foto: Schelde Naval Shipbuilding)

19 Agustus 2010, Jakarta -- Pemerintah Indonesia bersama TNI siap meluncurkan kapal perang ukuran besar yang mampu merusak kapal rudal (light fregat).

"Kapal yang mampu melaksanakan multi perang ini akan memberikan efek gentar bagi militer di dunia khususnya juga bagi militer di Asia," ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro pada launching rencana pembangunan kapal perang Perusak Kepala Rudal (PKR) di Kantor Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Jakarta, baru-baru ini.

Launching PKR dihadiri Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Agus Suhartono, Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata, Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI Sjafrie Syamsoedin, Direktur Utama PT PAL Harsusanto dan Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Widiyanto.

Menhan mengatakan, PKR akan menjadi kapal perang tempur terbesar dan pertama dibuat di Indonesia. Kapal yang memiliki panjang 105 meter dan berat 2.400 tons ini akan dibuat oleh PT PAL dengan menelan biaya 170 juta Euro.

"Pihak TNI AL telah mengajukan pengadaan satu kapal perang jenis PKR untuk permulaan kepada Kemenhan dan selanjutnya telah diproses melalui mekanisme yang ada dalam pengadaan alutsista TNI," ujar Purnomo.

Pro kesejahteraan

Menurut Purnomo, pengerjaan PKR di dalam negeri merupakan wujud pembangunan industri pertahanan Indonesia pro kesejehateraan rakyat.

"Pengerjaan ini membutuhkan waktu empat tahun dengan perkiraan selesai 2014. Setidaknya, untuk pengerjaan satu PKR membutuhkan 1.500 tenaga kerja," ujarnya.

Memproduksi PKR akan bekerjasama dengan beberapa negara yang memenangkan tender. Meskipun demikian, Kemenhan dan PT PAL memiliki hak untuk menjual kapal PKR yang sama ke negara Asean, Asia, meskipun pemenang dari tender pembangunan kapal perang PKR menjual kapal yang sama ke negara lain.

"PT PAL punya hak untuk menyuplai engine room section dan accomodation section dalam rangka co-production," ujar Menhan.

Suara Karya