Friday, July 16, 2010

Sikorsky and Lockheed Martin Team to Jointly Pursue U.S. Air Force’s HH-60 Recap Helicopter Program

Sikorsky UH-60M BLACK HAWK. (Foto: Sikorsky)

15 July 2010, WASHINGTON -- Sikorsky Aircraft Corporation, a subsidiary of United Technologies Corp. (NYSE:UTX), and Lockheed Martin Corp. (NYSE:LMT) will compete jointly for the contract to replace the U.S. Air Force’s fleet of combat search and rescue helicopters.

The two companies signed a teaming agreement formalizing their intent to offer an advanced version of Sikorsky’s UH-60M BLACK HAWK helicopter for the Air Force’s HH-60 Personnel Recovery Recapitalization program (HH-60 Recap). The agreement positions Sikorsky as prime contractor, with Lockheed Martin as the major subsystems supplier.

The HH-60 Recap program seeks to replace the 112 existing HH-60G PAVE HAWK™ helicopter fleet with an equal number of new aircraft requiring minimum airframe modification or mission systems development. The initial operational capability of eight aircraft — four trainers and four mission-ready aircraft, plus test aircraft — is expected in fiscal year 2015.

“Our team has the resources and experience to rapidly deliver the proven UH-60M airframe design with mature situational awareness sensors and mission systems,” said Scott Starrett, president of Sikorsky Military Systems. “We believe a UH-60M aircraft missionized for the complexities of the combat search and rescue mission will fit seamlessly into established Air Force training and logistics operations, thus providing a fiscally responsible and reliable platform for rescue operations.”

Sikorsky submitted a response to the U.S. Air Force’s HH-60 Recap request for information on April 23. The document details how the UH-60M helicopter would be manufactured and integrated as a low-risk, off-the-shelf solution for the combat search and rescue mission.

Operational with the U.S. Army (including as a medevac helicopter in the HH-60M configuration), the UH-60M features a strengthened airframe, wider rotor blades and more powerful engines than earlier-design BLACK HAWK helicopters. Sikorsky has delivered 200 ‘M’ model helicopters to the U.S. Army since 2005.

Lockheed Martin has provided integrated avionics and mission systems for other H-60 aircraft, including U.S. Army and U.S. Air Force special operations helicopters, and Air Force combat rescue helicopters. Sikorsky and Lockheed Martin also have a well established working relationship over 38 years, delivering more than 400 SH-60B and MH-60R/S mission-ready aircraft to the U.S. Navy.

“Lockheed Martin has 25 years of experience integrating mission systems for special operations and combat rescue helicopters,” said Dan Spoor, vice president of Lockheed Martin Aviation Systems. “We also can bring to the HH-60 Recap program the mature systems and readiness from our work on the prior CSAR-X competition.”

In April, the companies announced a teaming agreement to compete jointly for the U.S. Navy’s revived VXX Presidential Helicopter program. The companies will share facilities, experience and engineering talent for both opportunities.

Headquartered in Bethesda, Md., Lockheed Martin is a global security company that employs about 136,000 people worldwide and is principally engaged in the research, design, development, manufacture, integration and sustainment of advanced technology systems, products and services. The Corporation reported 2009 sales of $45.2 billion.

Sikorsky Aircraft Corp., based in Stratford, Conn., is a world leader in helicopter design, manufacture, and service. United Technologies Corp., based in Hartford, Conn., provides a broad range of high-technology products and support services to the aerospace and building systems industries.


Lockheed Martin/Sikorsky Aircraft Corp.

Thursday, July 15, 2010

Korem 074/Warastratama Latihan Taktik Tempur Perkotaan


15 Juli 2010, Solo -- . Anggota Korem 074/Warastratama melakukan latihan taktik tempur perkotaan di Solo, Jateng, Kamis (15/7). Latihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesigapan dan kesiapan anggota dalam menanggulangi gangguan dan menjaga keamanan. (Foto: ANTARA/Hasan Sakri Ghozali/Koz/NZ/10)

Kapal Okeanos Explorer Batal ke Maluku

Okeanos Explorer. (Foto: NOAA)

14 Juli 2010, Ambon -- Kapal peneliti Amerika Serikat, Okeanos Explorer, batal ke Maluku untuk melakukan penelitian tentang kondisi laut dan aneka sumber daya hayati laut di sejumlah perairan di daerah itu karena jadwalnya yang padat.

“Lokasi penelitian kapal Okeanos Explorer telah terjadwal dengan padat sehingga tidak bisa difasilitasi ke Maluku,” kata Dirjen Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Aji Soelarso ketika dikonfirmasi ANTARA, di Ambon, Rabu.

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad telah berkoordinasi untuk mengarahkan kapal Okeanos Explorer yang bertolak dari Amerika Serikat pada Juni 2010, tapi jadwal penelitian di lokasi telah diputuskan tidak bisa dibatalkan.

“Jadinya akan dikerahkan kapal peneliti dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) yang nantinya melalukan penelitian di Maluku,” ujar Aji.

Dia memandang perlu dilakukan penelitian kondisi laut dan potensi aneka sumber daya hayati perairan Maluku agar memiliki data akurat yang bisa dimanfaatkan untuk penentuan program pengembangan strategis guna pengelolaan di masa mendatang.

“Datanya juga dibutuhkan investor untuk menanamkan modalnya di Maluku sekiranya potensi sumber daya hayati laut dari masing – masing perairan telah diketahui sehingga mendorong percepatan pengelolaan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” katanya.

Misi NOAA

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad pada kesempatan lain mengatakan, kapal Okeanos Explorer membawa misi National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), guna meneliti sejauh mana kondisi laut Indonesia dan permasalahannya.

“Jadi bertepatan dengan Sail Banda ini, misi NOAA akan didorong ke perairan Maluku guna mengungkapkan aneka kekayaan sumber daya hayati daerah ini,” tegasnya.

NOAA melalui kapal penelitian itu dioperasikan untuk memberikan informasi kepada masyarakat dengan menggunakan pemahaman yang komprehensif terhadap peranan laut, pantai, dan atmosfer ekosistem dunia.

Selain itu mendapatkan hasil observasi dari satelit ke radar guna memberikan data kualitas dan informasi perairan di Indonesia.

“Rencana kehadiran kapal penelitian itu, bisa dimanfaatkan dengan baik oleh bangsa Indonesia, karena sejauh ini jarang mendapatkan perhatian teknologi terhadap perairan di Indonesia,” kata Fadel.

Dia memastikan kehadiran kapal tersebut juga untuk mendukung program pemerintah yang akan mencanangkan Maluku sebagai lumbung ikan nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan di Ambon pada 3 Agustus 2010.

“Perairan Maluku berdasarkan hasil penelitian dan riset memiliki potensi ikan pelagis dan demersal yang sangat tinggi. Sumber daya ikan mencapai 1,64 juta ton per tahun dan baru dimanfaatkan 300.000-an ton per tahun,” ujar Fadel.

Dia optimistis bila potensi ikan itu dimanfaatkan 500.000 hingga 700.000 ton per tahun, dipastikan memberikan kontribusi sgtrategis bagi percepatan pembangunan di Maluku.

“Strategisnya lagi bila potensi ikan ini didukung pengembangan rumput laut yang telah ditetapkan Pemprov Maluku sebagai komoditas unggulan karena prospek pasar luar negeri terjamin maka kesejahteraan masyarkat provinsi ini di masa depan akan optimal,” kata Fadel Muhammad.

ANTARA News