Thursday, April 29, 2010

Kosek Hanudnas II Laksanakan Latihan Hanudnas Cakra 2010


29 April 2010, Makassar -- Pangkosek Hanudnas II Marsekal Pertama TNI John Dalas Sembiring perintah “Siaga 1, Waspada Merah, Siap Tempur 1”, pada saat mengetahui adanya pelanggaran wilayah udara nasional oleh kekuatan udara asing melalui Pusat Operasi Sektor Makosek Hanudnas II sebagai Pos Komando Pengendalian kepada unsur SU 27/30 (Sukhoi) yang siaga di Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin.

Diketahui bahwa kekuatan udara negara asing telah melakukan unjuk kekuatan yang sangat mencolok dengan terus memperkuat kedudukannya di pangkalan aju dalam rangka mewujudkan kekuatan politiknya untuk menguasai pulau-pulau di jalur ALKI II dengan mengintai di wilayah Ambalat dan di Bontang dan seringkali melakukan penerbangan pengintaian yang melanggar jalur penerbangan wilayah udara nasional Indonesia.

Kosek Hanudnas II beserta jajaran Satuan Radar di bawahnya menangkap kegiatan pesawat tidak dikenal yang melakukan pengintaian di wilayah NKRI khususnya di wilayah Kosek Hanudnas II. Guna menindaklanjuti kondisi tersebut, Satuan Radar jajaran Kosek Hanudnas II melaporkan langsung dan meningkatkan intensitas operasi untuk memotong garis perhubungan udara lawan dengan cara menghancurkan kekuatan udara asing tersebut yang memasuki wilayah udara Indonesia dengan melibatkan unsur TS sebagai Interceptor.

Setelah mendapatkan perintah dari Pangkosek Hanudnas II Marsekal Pertama TNI John Dalas Sembiring, unsur TS dengan pesawat Sukhoi SU-27/30 dalam kondisi siap tempur diterbangkan untuk mengejar dan melakukan tindakan Force Down terhadap kekuatan udara negara asing yang tertangkap radar telah melanggar wilayah udara nasional Indonesia.

Hal tersebut merupakan rangkaian skenario kegiatan Latihan Hanudnas Cakra B/10 yang melibatkan unsur dari Kohanudnas, Satuan Radar di jajaran Kosek Hanudnas II dan mengerahkan kekuatan pesawat tempur Sukhoi Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin serta pesawat angkut berat C-130 Hercules, pesawat Intai Boeing 737 dan pesawat Helly Puma SA 330 dengan total personel yang terlibat sebanyak 405 orang.

Latihan ini bertujuan untuk menguji dokrin prosedur dan sistem kodal Hanud guna menjamin kesiapsiagaan unsur Hanud TNI AU dalam sistem pertahanan udara nasional.

Berkat kesiapsiagaan jajaran Kohanudnas dan seluruh satuan samping yang terlibat, segala kegiatan yang berdampak kepada terganggunya kedaulatan, keselamatan dan kesatuan negara dapat diatasi.

Dengan digelarnya Latihan Cakra B/10 diharapkan untuk memantapkan prosedur pelaksanaan Operasi Pertahanan Udara Nasional bersama seluruh jajaran dan sistem komunikasi dalam mendukung kelancaran Operasi Pertahanan Udara Nasional untuk menjaga kedaulatan wilayah udara.

Pentak Kosekhanudnas II

Lanud Halim Gelar Latihan Rajawali Perkasa


28 April 2010, Jakarta -- Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Marsekal Pertama TNI Bagus Puruhito, secara resmi membuka Latihan Satuan “Rajawali Perkasa 2010 “di Taxy Way Echo Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (28/4). Upacara pembukaan ditandai dengan dentuman TNT dan penyematan tanda peserta latihan dari Komandan Lanud Halim Perdanakusuma kepada perwakilan masing-masing Komando Latihan dan pelaku latihan.

Latihan “Rajawali Perkasa 2010“ ini dilaksanakan selama tiga hari dari tanggal 28 April 2010 sampai dengan tanggal 30 April 2010. Gladi posko dilaksanakan, setelah acara pembukaan di Mako Wing 1 di Lanud Halim Perdanakusuma dan manoper lapang pada 29 di Lanud Halim Perdanakusuma dan di Lanud Suryadarma, Kalijati, Subang, Jawa Barat.

Komandan Lanud Halim dalam sambutannya menjelaskan latihan Rajasa ini merupakan puncak dari kegiatan Lanud Halim Perdanakusuma, yang terdiri dari perencanaan, gladi posko dan gladi lapang melibatkan personel, alut sista, fasilitas dan sarana pendukung untuk menguji kesiapan pelaku dan satuan jajaran sehingga diharapkan mampu melaksanakan tugas sesuai dengan fungsinya dalam pelaksanaan tugas operasi, selain itu juga dapat digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan pembinaan yang dilakukan oleh satuan-satuan selama ini khususnya dalam upaya menggerakan kemampuan untuk menghadapi berbagai kontijensi yang mungkin timbul sewaktu-waktu.

Lebih lanjut dikatakannya, maksud dan tujuan latihan Rajasa ini untuk memelihara, meningkatkan kesiapan operasional Lanud Halim Perdanakusuma sebagai satuan pelaksana operasi dari Komando Operasi TNI Angkatan Udara I (Koopsau I) yang dititik beratkan pada pelaksanaan tugas-tugas, namun perlu diingat perlibatan kekuatan tidak akan menghasilkan out put yang diinginkan apabila tidak dibarengi dengan kesungguhan dari seluruh peserta latihan untuk mengerjakan tugas masing-masing sebagaimana digariskan didalam rencana latihan. “Dengan Latihan Rajawali Perkasa 2010 Lanud halim Perdanakusuma akan lebih siap melaksanakan dan mendukung operasi udara dalam rangka menghadapi tugas -tugas dimasa mendatang“.

Diharapkan dengan latihan Rajasa akan dicapai kemampuan operasi udara sesuai fungsi masing-masing dari Skadron Udara 2, Skadron Udara17 dan Skadron Udara 31, selain itu tercapainya kemampuan pembinaan pemeliharaan alut sista beserta komponen-komponen dari Skadron Teknik 021 serta tercapainya kesiapan satuan dalam melaksanakan pengamanan pertahanan pangkalan.

Sedangkan pelajaran yang dikembangkan adalah penerapan prosedur tetap yang ada di Lanud Halim Perdanakusuma dan pengembangan taktik dan teknik operasi udara oleh setiap unsur serta macam, metode dan sifat latihan antara lain dinamika lapangan dengan penggunaan pasukan, latihan geladi posko dan manuver lapangan dan sifat dua tingkat, satu pihak dikendalikan. Peserta latihan melibatkan Skadron Udara 2, 17, 31, Skatek 021, Wing 1 Paskhas, unsur Pangkalan dan Perbekud lainnya.

Pentak Lanud Halim Perdanakusumah/POS KOTA

Indonesia Diminta Tambah Polisi di Darfur


29 April 2010, Jakarta -- Pemerintah Indonesia diminta menambah jumlah personel Polri sebagai anggota Force Police Unit Perserikatan Bangsa-Bangsa di Darfur, Sudan, Afrika. Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Zulkarnain Adinegara dalam komunikasi telepon dari Khartum, Sudan, Rabu (28/4), mengatakan, saat ini ada 140 orang FPU di Darfur yang bergejolak.

”Mereka dibagi dalam dua kelompok, yaitu United Nations Mission in Sudan-Unmis dan United Nations Mission in Dharfur atau UNAMID. Anggota Polri di Unmis bertindak sebagai police adviser,” ujar Zulkarnain.

Menurut sejumlah police adviser dari mancanegara, kinerja Force Police Unit (FPU) dan adviser Polri dinilai menonjol dibanding 13 negara lain yang mengirimkan polisi mereka dalam penugasan PBB.

Atas kinerja para perwira Polri yang dinilai baik, lanjut Zulkarnain, PBB sebetulnya meminta tambahan personel FPU sekitar 100 orang lagi. ”Saat ini kekuatan Polri yang digelar sudah satu kompi lebih. PBB meminta tambahan sekurangnya satu kompi lagi,” kata Kabidpenum.

Tambahan personel dibutuhkan untuk memperkuat pengawasan di wilayah Sudan selatan yang sempat lama bergejolak akibat perang saudara dan perebutan sumber daya alam.

Kapolsek Menteng, Jakarta Pusat, Kompol Arsdo Simatupang yang ditemui di Jakarta membenarkan keterangan Kabidpenum Mabes Polri. ”Kita diminta menambah personel, tetapi butuh waktu untuk persiapan,” ujar Simatupang yang baru pulang dari Darfur.

Mabes Polri, ujar Zulkarnain, mengirim tim untuk menilai kinerja anggota Polri di Sudan. Zulkarnain yang bersama rombongan tiba di Sudan, Minggu (25/4) dini hari, saat ini bergabung bersama FPU dalam sejumlah kegiatan, termasuk patroli lapangan di Darfur.

KOMPAS