Wednesday, January 13, 2010

12 Pulau Terluar Berpotensi Konflik

Pulau Marore salah satu pulau terluar.

13 Januari 2010, Jakarta -- Dari 92 pulau terluar, yang akhir-akhir ini sering disebut pulau terdepan, yang digunakan sebagai titik dasar dalam menetapkan garis batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, 12 pulau di antaranya memiliki potensi konflik dengan negara lain.

Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal TNI Djoko Santoso mengungkapkan hal itu dalam paparannya di depan peserta Seminar Nasional ”Mengawal NKRI di Perbatasan” di Universitas Indonesia, Depok, Selasa (12/1).

Dua belas pulau itu adalah Pulau Rondo, Sekatung, Berhala, Nipa, Marore, Miangas, Marampit, Fani, Fanildo, Brass, Batek, dan Pulau Dana.

Menurut Djoko, potensi konflik itu menjadi lebih terbuka bila mengingat adanya sejumlah masalah di wilayah perbatasan. Masalah yang dimaksud, antara lain, belum tuntasnya perundingan untuk menetapkan batas wilayah tiap negara di antara 10 negara yang berbatasan dengan Indonesia.

Selain itu, wilayah perbatasan, khususnya wilayah darat, tergolong daerah tertinggal dengan sumber daya manusia yang kapasitas dan kualitasnya rendah sebagai dampak dari terbatasnya infrastruktur sosial dan komunikasi. Panglima TNI juga menyebut unsur kesenjangan sosial dan ekonomi antara penduduk di perbatasan negara tetangga dan negara Indonesia.

Dalam forum yang sama, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro memaparkan, jenis ancaman nonmiliter, yang mewujud dalam ideologi, ekonomi, dan budaya, hingga jangka menengah lebih kuat dibandingkan dengan ancaman militer. Menyinggung sumbernya, ancaman bisa berasal dari internal, berupa terorisme dan separatisme, maupun eksternal, berupa pencurian ikan. Dari sisi aktornya, bisa negara atau bukan negara (nonstate).

Peserta seminar, termasuk mahasiswa UI yang Juli dan Agustus 2009 melakukan kuliah kerja nyata di wilayah perbatasan, mendapat tambahan wawasan dari Staf Ahli Kementerian Kelautan dan Perikanan Suseno Sukoyono dan Staf Ahli Kementerian Dalam Negeri Agung Mulyana.

Suseno antara lain menyoroti berbagai praktik pencurian ikan dan keterbatasan sarana di Kementeriannya. Misalnya, dari 45 kapal patroli yang seharusnya dimiliki, kini baru ada 23 kapal.

Agung mengakui tanda perbatasan yang jauh dari mencukupi. Bahkan, tanda (patok) yang dipasang tak sedikit yang hilang.

Sejarawan Leirissa dari UI mengusulkan adanya satuan pengawal laut yang kuat bila kita benar-benar ingin mengembangkan wawasan bahari.

Guru besar hukum internasional Hikmahanto Juwana juga mengingatkan perlunya bangsa Indonesia, termasuk mahasiswa, memberi perhatian lebih serius terhadap masalah perbatasan.

Sebaliknya, Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri menyebutkan, kuliah kerja nyata yang sebelum ini vakum akan digiatkan kembali. Tahun ini, UI akan kuliah kerja nyata di Miangas.

KOMPAS

Pesawat TNI AU Pantau Ambalat

Sukhoi Su-30 MK2. (Foto: TNI AU)

12 Januari 2010, Mataram -- TNI Angkatan Udara (AU) tetap mengerahkan beragam pesawat untuk memantau perkembangan di perairan blok Ambalat, Kalimantan Timur, meski tidak ada indikasi pelanggaran kewilayahan.

"Pemantauan Ambalat merupakan tugas rutin yang dibebankan Mabes TNI kepada Koopsau (Komando Operasional Angkatan Udara) sepanjang tahun, dan kami kerahkan beragam pesawat untuk tugas pengintaian itu," kata Panglima Koopsau (Pangkoopsau) II Marsekal Muda (Marsda) TNI Yushan Sayuti, di Mataram, Selasa.

Ia mengemukakan hal itu ketika dikonfirmasi tentang perkembangan pengawasan blok Ambalat, usai memimpin acara serah terima jabatan Danlanud Rembiga.

Sayuti mengatakan, secara rutin pihaknya terus melaksanakan patroli dan pengamanan di kawasan Ambalat sebagai operasi udara yang berkelanjutan sepanjang tahun.

Pesawat yang dilibatkan dalam operasi Ambalat meliputi pesawat Boeing 737 dan Sukhoi Su-27/30 MK yang selalu stanby on call (siaga terbang) di Lanud Sultan Hasanudin, Makassar.

"Boeing 737 dan Sukhoi dikerahkan dari Lanud Hasanudin, sementara pesawat tempur F16 atau F5 dikerahkan dari Balikpapan," ujarnya.

Menurut Sayuti, pesawat-pesawat tempur Sukhoi buatan Rusia itu disiagakan di Skadron Udara 11 Lanud Hasanuddin Makassar.

Empat dari 16 pesawat tempur Sukhoi itu terdiri atas dua jenis SU-27 (satu awak) dan dua SU-30 (dua awak) yang sudah dilengkapi persenjataan canggih seperti peralatan bombing (pembom), roket dan stroffing (peluru tajam). Konflik di Ambalat ini terjadi menyusul klaim Malaysia atas wilayah itu.

Malaysia melalui perusahaan migasnya, Petronas, pada 16 Februari lalu telah memberikan konsesi blok kaya migas itu kepada The Royal Dutch/Shell Group (perusahaan patungan Inggris-Belanda).

Berdasarkan data Ditjen Migas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, kawasan Ambalat mempunyai kandungan minyak yang sangat besar, diperkirakan mencapai 700 juta hingga satu miliar barel, sementara kandungan gasnya diperkirakan lebih dari 40 triliun kaki kubik (TCF).

Klaim pihak Malaysia itu ditolak mentah-mentah oleh Pemerintah Indonesia yang merasa lebih dulu menguasai wilayah itu, apalagi sebelumnya Indonesia juga telah memberikan konsesi pengelolaan migas blok Ambalat kepada perusahaan Italia, ENI, serta Blok East Ambalat bagi perusahaan Amerika Serikat (AS) Unocal.

Kasus tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak karena kedua belah pihak sempat mengerahkan kekuatan angkatan bersenjata di kawasan sengketa.

ANTARA News

Tuesday, January 12, 2010

TNI AU mantapkan perampingan pesawat

F-16A/B yang dimiliki TNI AU dalam suatu misi. Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates menawarkan RI enam F-16 C/D, satu unitnya US$30. Saat bertemu timbalannya Menhan Indonesia Juwono Sudarsono di Jakarta, 25 Februari 2008. (Foto: TNI AU)

12 Januari 2009, Jakarta -- Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Madya TNI Imam Sufaat mengatakan, pihaknya sedang memantapkan perampingan tipe pesawat terkait kekuatan pokok minimum (minimum essential force/MEF).

"Sudah kita jalankan secara bertahap, dan akan kita mantapkan," katanya. Perampingan tipe pesawat itu, tambahnya, dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi kesiapan dari masing-masing alutisista (alat utama sistem senjata).

"Perampingan tidak serta merta dilakukan begitu saja. Contohnya, kita punya rencana meniadakan OV-10 Bronco, helikopter Twinpack, dan Hawk MK53. Itu tidak bisa dihilangkan begitu saja, ada beberapa pertimbangan yang diperlukan," ujarnya.

Selain OV-10F Bronco yang telah beroperasi lebih dari 30 tahun, ada C-212 Aviocar, F-27 Troopship, S-58T Twinpack dan Hawk MK53 serta C-130B yang akan di-round down sejalan umur pesawat itu sendiri.

Di sektor pesawat angkut kelas berat, TNI AU akan mengurangi jenis varian Hercules yang digunakan selama ini menjadi varian tipe B, untuk heli Super Puma L1 dan Puma akan dihilangkan dan digantikan perannya oleh Super Puma L2.

Sedangkan untuk pesawat tempur, katanya, dengan perampingan dari 25 tipe menjadi 18 tipe pesawat serta penambahan F-16 dan Sukhoi Su-27/30 diharapkan biaya pemeliharaan dan perawatan bisa dihemat.

Ia menegaskan, selain merampingkan tipe pesawat untuk menghemat biaya pemeliharaan dan perawatan pihaknya juga akan memfokuskan pengadaan pesawat dan suku cadang yang sudah dapat diproduksi olehindustri pertahanan dalam negeri.

"Seperti pesawat intai CN-235 dan helikopter Super Puma...kan sudah dapat dibuat PT Dirgantara Indonesia," pungkasnya.

WASPADA