Monday, December 21, 2009

Latihan Pembaretan dan Penyematan Brevet Kualifikasi

21 Desember 2009, Makassar -- Sejumlah pasukan Infanteri TNI AD melakukan penyergapan di pantai Tete, Desa Boneputeh, Kecamatan Tonra, Kabupaten Bone, Sulsel, Minggu (20/12). Latihan sergap pantai oleh Infanteri TNI AD merupakan latihan akhir untuk pembaretan dan penyematan brevet kualifikasi "Yudha Wastu Pramuka". (Foto: ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang/ss/ama/09)




Rusia Percepat Pengiriman Sukhoi TNI-AU

Dua pesawat jet Sukhoi jenis SU 30 MK2 yang dipesan oleh TNI AU tiba di Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, Jumat(26/12/08). Kedua Sukhoi tersebut diangkut oleh pesawat kargo Antonov langsung dari Rusia. (Foto: detikFoto/Muhammad Nur Abdurrahman)

21 Desember 2009, Jakarta -- Pemerintah Rusia berkomitmen untuk mempercepat pengiriman tiga pesawat jet tempur Sukhoi yang dipesan Pemerintah Indonesia untuk TNI Angkatan Udara.

"Kami akan membantu percepat pengiriman tiga pesawat Sukhoi bagi TNI Angkatan Udara," kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia Alexander. A. Ivanov seperti dikutip juru bicara TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI FH Bambang Soelistyo ketika dikonfirmasi ANTARA News di Jakarta, Senin.

Komitmen Pemerintah Rusia itu disampaikan Ivanov saat mengadakan kunjungan kepada Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Madya TNI Imam Sufa`at yang berlangsung tertutup.

Bambang mengatakan, keterlambatan pengiriman tiga Sukhoi seri SU-27SKM itu disebabkan masalah teknis administrasi yang akan segera diselesaikan pemerintah Rusia.

Semula tiga pesawat jet tempur Sukhoi dijadwalkan tiba Desember 2009 dan Januari 2010 namun karena permasalahan teknis administrasi maka diundur menjadi Oktober 2010.

"Ya kami berharap ketiganya bisa tiba lebih cepat dari Oktober 2010, karena tambahan tiga pesawat Sukhoi itu sangat memadai untuk memberikan efek tangkal. Dan Pemerintah Rusia sangat memahami," tutur Bambang.

Ia mengemukakan, kesiapan tiga pesawat Sukhoi jenis SU-27SKM itu tidak ada masalah dan siap diterbangkan ke Indonesia.

Sejak 2003, Indonesia telah memiliki tujuh pesawat tempur Sukhoi dari Rusia. Pada 2003, Indonesia membeli empat Sukhoi jenis SU-30MK dan SU-27SK, masing-masing dua unit.

Indonesia kemudian membeli enam pesawat Sukhoi lagi pada 2007 setelah perusahaan Rusia pada 21 Agustus 2007 mengumumkan penjualan enam pesawat tempur tersebut kepada Indonesia senilai sekitar 300 juta dollar AS atau senilai Rp 2,85 triliun.

Enam pesawat Sukhoi yang dibeli itu terdiri atas tiga Sukhoi SU-30MK2 dan tiga jenis SU-27SKM. Tiga jenis Sukhoi SU-30MK2 telah tiba pada Desember 2008 dan Januari 2009.

Dalam pertemuan itu, Pemerintah Rusia juga menjamin keberlangsungan pendidikan bagi para pilot dan teknisi TNI Angkatan Udara untuk memperdalam operasional Sukhoi.

"Ya mereka berkomitmen juga untuk tetap memberikan pendidikan bagi para pilot dan teknisi kita untuk operasional Sukhoi, meski kita juga mendidik mereka di China," demikian Bambang.

ANTARA News

Kapal Perang Indonesia akan Dipasangi Rudal Cina

Uji coba penembakan rudal C-802 oleh KRI Layang. (Foto: TNI AL)

21 Desember 2009, Jakarta -- Kapal-kapal perang Republik Indonesia (KRI) akan dipersenjatai dengan peluru-peluru kendali buatan Cina, kata Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya TNI Agus Suhartono di Jakarta, Senin.

"Sebelumnya, kami telah melakukan uji coba dan menggunakan peluru kendali C-802, hasilnya bagus. Dan pengadaannya kita lanjutkan dan kini tengah dalam proses di Departemen Pertahanan," katanya ketika dikonfirmasi ANTARA News usai menghadiri rapat paripurna ke-30 TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD).

Ia mengatakan, selain peluru kendali C-802 juga tengah dijajaki pengadaan peluru kendali C-705 yang lebih ramping bentuknya dari negara yang sama."Kedua rudal itu akan dipasangkan di kapal-kapal patroli cepat (fast patrol boat/FPB) dan kapal-kapal perang jenis van speijk," kata Agus.

Kasal menegaskan, sejumlah kapal perang jenis `van speijk` dan kapal patroli cepat 57mm, akan ditingkatkan daya tempur dengan mengintegrasikan kembali seluruh sistem tempur dengan persenjataan dan peluru kendali yang akan ditempelkan.

"Untuk membuat peluru kendali, kita belum mampu. Masih harus mengandalkan dari luar negeri. Tetapi kalau mengintegrasikan sistem tempur kapal-kapal perang kita, PT PAL sudah mampu," ujar Agus.

Pemasangan rudal C-802 di atas geladak KRI Layang. (Foto: TNI AL)

Kasal mengatakan, dengan keterbatasan anggaran pihaknya terus melakukan skala prioritas dalam pengadaan dan operasional alat utama sistem senjata. "Prioritas kami antara lain, pengamanan wilayah perbatasan maritim dan pulau-pulau terluar," kata Agus.

Ia mengemukakan, pihaknya masih melakukan pemetaan persenjataan dan perlengkapan apa saja yang dapat diserahkan pengadaan dan penanganannya kepada PT PAL.

Selain meningkatkan daya tempur sejumlah kapal perangnya, TNI Angkatan Laut juga secara bertahap akan mem-pensiunkan 27 armada perangnya terdiri atas enam kapal perang dan 21 pesawat Nomad untuk diganti dengan jenis baru dengan kemampuan dan efek tangkal yang lebih "mumpuni".

ANTARA News