Monday, December 14, 2009

Misil Dhanush Berkemampuan Nuklir Sukses Diuji Coba India

Misil Dhanush.

14 Desember 2009 -- India sukses melakukan uji penembakan rudal balistik yang mampu membawa hulu ledak nuklir dari sebuah kapal perang dari lepas pantai negara bagian Orissa, Minggu (13/12), dilaporkan media India.

Misil Dhanush dapat menjangkau sasaran hingga 350 km dengan kapasitas muat 500 kg hulu ledak konvensional atau nuklir.

Pengujian peluncuran pertama mengalami kegagalan pada April 2000 karena masalah teknis, tetapi pengujian selanjutnya dilaporkan sukses. Pengujian Dhanush terakhir dilakukan pada Maret 2007.

RIA Novosti/@beritahankam

PT. DI Segera Serahkan Helikopter Super Puma Ke TNI AU

Seorang teknisi PT Dirgantara Indonesia(PTDI) memasang salah satu komponen pada bagian hidung Helikopter Super Puma NAS 332 di hanggar PTDI,Bandung,Jawa Barat. (Foto: ANTARA/Rezza Estily/ss/hp/08)

11 Desember 2009, Jakarta -- PT Dirgantara Indonesia segera menyerahkan satu unit helikopter Super Puma pesanan TNI Angkatan Udara pada awal 2010, kata pimpinan perusahaan dirgantara itu di Jakarta, Jumat.

"Iya memang mundur dari jadwal, namun kini satu unit sudah selesai dari tiga helikopter yang harus diselesaikan dari 16 unit yang dipesan," kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso, ketika dikonfirmasi ANTARA.

Tersendatnya penyelesaian helikopter Super Puma PT DI itu karena adanya selisih kurs pada pengadaan 1998 dan 2006 serta adanya kebijakan konversi pengadaan alat utama sistem senjata dari kredit ekspor (KE) kepada rupiah murni (RPM).

Ia mengemukakan, satu unit helikopter Super Puma yang telah selesai pengerjaannya telah menjalani beberapa kali uji terbang dan hasilnya memuaskan. "Jadi, tinggal diserahkan saja kepada pemerintah dan penggunanya TNI Angkatan Udara," ujar Budi.

TNI AU dan PT DI pada 1998 menandatangani KJB 010 untuk pengadaan 16 unit Helikopter Super Pumma I NAS 332 beserta suku cadangnya. Dari jumlah itu tujuh unit helikopter telah selesai.

Sedangkan dari sembilan unit yang tersisa, tambah Budi, tiga unit telah memasuki tahap penyelesaian sedangkan sisanya akan "dikorbankan" dan dimodifikasi menjadi Super Puma II atau "Cougar", yang merupakan kerja sama antara PT DI dan Eurocopter Perancis.

Modifikasi itu, lanjut dia, karena perkembangan teknologi yang makin canggih untuk heli Super Puma. "Ini pengadaannya sudah terlalu lama, sedangkan teknologinya terus berkembang, maka kami putuskan untuk melanjutkan pengadaan Super Puma TNI AU dengan jenis yang lebih baru, dari Super Puma I menjadi Super Puma II," kata Budi.

PT DI berkerjasama dengan Eurocopter membuat komponen Helikopter Super Puma II (Cougar) seri terbaru untuk menguasai pasar helikopter khusus Angkatan Udara di kawasan Asia.

Antara

Penandatanganan MoU Tentang Revitalisasi Industri Pertahanan


11 Desember 2009, Jakarta -- Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama dengan Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar dan Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso serta Wakapolri Komjen Pol Makbul Padmanegara menandatangi Nota Kesepakatan Bersama (Memorandum of Understanding / MoU) tentang Revitalisasi Industri Pertahanan, Jum’at (11/12) di kantor Departemen Pertahanan, Jakarta. Inti dari isi kesepakatan yang ditandatangani adalah pemenuhan akan kebutuhan Alutsista TNI-Polri dengan menggunakan produk -produk yang dihasilkan oleh industri di dalam negeri.

Selain kesepakatan tersebut, juga ditandatangani Kontrak Pengadaan pesawat Udara Patroli Maritim TNI AL antara Dephan dengan PT. Dirgantara Indonesia dalam hal ini ditandatangani oleh Dirjen Sarana Pertahanan Dephan Marsdya TNI Eris Herryanto, MA dengan Dirut PT. DI Budi Susanto.

Selain itu, ditandatangi pula kesepakatan tentang perancangan pembangunan dan pemeliharaan kapal antara Pertamina dengan PT.PAL dalam hal ini ditandatangani oleh Dirut Pertamina Karen Agustiawan dengan Dirut PT. PAL Hars Susanto.

Penandatangan kesepakatan ini merupakan acara puncak dari rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh Dephan dalam rangka kegiatan Workshop Revitalisasi Industri Pertahanan yang masuk dalam program 100 hari Pemerintah Kabinet Bersatu ke II.

Dalam sambutannya Menhan Purnomo Yusgiatoro mengatakan, MoU tentang Revitalisasi Industri Pertahanan merupakan bentuk komitmen Dephan, TNI dan BUMN untuk menggunakan produk-produk yang dihasilkan oleh industri di dalam negeri guna memenuhi kebutuhan Alutsista TNI selama lima tahun Rencana Strategi 2009-2014 .

“Ini tidak biasa kita lakukan, karena biasanya kita melakukannya dalam satu tahun anggaran. Tetapi pada kali ini kita mempunyai komitmen, kita sampaikan kepada produsen Alutsista untuk komit selama lima tahun satu Renstra”, ungkap Menhan.

Lebih lanjut Menhan mengatakan, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh produsen dalam negeri (BUMNIS) baik dalam hal harga, pengiriman, spesifikasi, kualitas dan purna jual, tetapi Dephan dan TNI akan berkomitmen untuk menggunakan dan mengembangkan produksi dalam negeri.

Menurut menhan penggunaan pengembangan produksi dalam negeri tidak hanya akan memberikan dampak terhadap kegiatan ekonomi tetapi juga memberikan nilai tambah bagi Pembangunan nasional. “Kita menerima ini dengan segala kelebihan dan kekurangan dari industri nasional kita”, ungkap Menhan.

Selain komitmen Dephan, TNI dan BUMN dalam menggunakan produk-produk yang dihasilkan oleh industri di dalam negeri, Menhan lebih lanjut menjelaskan tentang hal penting dari hasil kegiatan lokakarya antara lain perlu dilakukan suatu penunjukan khusus dari Keppres 80 Tahun 2003 sebagai suatu kebijakan tersendiri. Kedua, terkait dengan masalah pendanaan. Dan ketiga, diusulkannya dibentuk sebuah Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP).

Menhan menambahkan, dari perjalanan selama ini paling tidak sudah ada komitmen politik dari semua pemangku kepentingan (stake holder) untuk dalam mewujudkan kepentingan industri pertahanan dan pembangunan nasional. Selanjutnya semua pemangku kepentingan diharapkan untuk tetap memegang prinsip 3K yaitu komitmen, kosistensi dan kontinuitas.

Hadir menyaksikan penandatangan MoU tersebut antara lain Kasal Laksamana Madya TNI Agus Suhartono. SE, Sekjen Dephan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Wakasad dan Wakasau serta sejumlah pejabat di lingkungan Dephan, Mabes TNI, Mabes TNI AD, Mabes TNI AL, Mabes TNI AU, Departemen Perindustrian, Kementerian Negara BUMN dan industri strategis dalam negeri.

DMC