Sunday, November 22, 2009

RI Minta Kebijakan PBB di Lebanon

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (tengah) berbincang dengan dua personil TNI AL yang baru tiba dari Libanon di anjungan kapal KRI Diponegoro di Tanjung Priok Jakarta. Minggu (22/11). TNI mengirimkan KRI Diponegoro-365 dengan nama Kontingen Garuda (Konga) XXVIII-A. KRI Diponegoro-365 bertugas selama enam bulan di perairan Lebanon sejak Maret 2009 lalu. (Foto: ANTARA/Salis Akbar/nz/09)

22 November 2009, Jakarta -- Pemerintah RI meminta kebijakan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk kelanjutan keikutsertaan TNI dalam Satgas Maritim Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon Selatan (Maritime Taks Force/MTF UNIFIL)

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro usai mengunjungi KRI Diponegoro yang baru tiba dari Lebanon, di Jakarta, Minggu, mengatakan, Indonesia masih mempertimbangkan kelanjutan keikutsertaannya untuk bergabung dalam Satgas Maritim PBB di Lebanon, mengingat biaya yang sangat besar untuk lintas laut dari RI-Lebanon.

"Kalau negara lain seperti Belgia, Italia dan Jerman yang tergabung dalam Satgas Maritim PBB di Lebanon Selatan, tidak perlu mengeluarkan biaya lintas laut karena jaraknya dekat, hanya tiga sampai empat hari sampai. Sedangkan kita kan perlu waktu dua bulan untuk sampai ke Lebanon, masa tidak ada biaya lintas lautnya?," tuturnya.

Terkait itu, Pemerintah RI tengah mengajukan permohonan kebijakan khusus kepada PBB agar keikutsertaan TNI dalam Satgas Maritim di Lebanon Selatan dapat dipertimbangkan biaya lintas lautnya, lanjut Purnomo.

Ia menegaskan, pada prinsipnya Indonesia sangat mendukung misi perdamaian PBB terlebih selama ini Indonesia telah banyak mendapat kepercayaan dari lembaga dunia itu untuk berbagai misi perdamaian di berbagai belahan dunia.

Namun, lanjut Menhan, perlu dipertimbangkan pula posisi Indonesia sebagai negara berkembang. "Perlu ada kebijakan dari PBB untuk biaya lintas laut..jadi ada `win win solution` ya lah..," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Asisten Operasi Panglima TNI Mayjen TNI Supiadin mengatakan, biaya lintas laut yang harus dikeluarkan untuk satu kali perjalanan adalah Rp9 miliar.

Dalam Satgas Maritim PBB di Lebanon Selatan, ada nota kesepahaman di antara negara yang tergabung dalam Satgas Maritim bahwa biaya lintas laut ditanggung masing-masing negara.

"Nah negara lain, jaraknya dekat dengan Lebanon hanya tiga sampai empat hari, jadi tidak perlu biaya lintas laut. Tetapi Indonesia butuh waktu dua bulan, jadi perlu ada kebijakan khusus terkait biaya lintas laut bagi TNI," katanya.

Supiadin menambahkan, pembahasan dengan PBB masih berlangsung dan diharapkan dalam dua pekan ke depan sudah ada kesepakatan terkait kebijakan khusus bagi TNI.

KRI Diponegoro-365 sebagai Kontingen Garuda XXVIII-A telah mengakhiri tugasnya sebagai bagian dari Satgas Maritim PBB di Lebanon Selatan bersama enam negara lainnya.

ANTARA News

Malaysia Beli LST Eks AL Korea Selatan

LST kelas Kojoon Bong. (Foto: ROKN)

22 November 2009 -- Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) akan membeli kapal jenis LST (Landing Ship Tank) dari Korea Selatan sebagai penganti kapal LST KD Sri Inderapura.

KD Sri Inderapura mengalami kerusakan cukup parah ketika terbakar saat lego jangkar di Pangkalan AL Lumut pada 8 Oktober 2009.

Korea Selatan saat ini memiliki lima kapal LST kelas Kojoon Bong yang dibangun di galangan kapal Korea Tacoma dari tahun 1991 hingga 2002, diharapkan salah satunya dapat dibeli oleh TLDM.

Saat ini TLDM hanya memiliki dua LST KD Mahawangsa dan KD Inderasakti, setelah terbakarnya KD Sri Inderapura.

Menteri Pertahanan Malaysia Datuk Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi mengharapkan kapal perang tersebut dapat bergabung dengan TLDM tahun depan saat diwawancarai Malay Mail.

LST kelas Kojoon Bong mempunyai panjang 113 meter, lebar 15 meter dan berat 4300 ton dengan ditenagai 2 mesin diesel yang dapat dipacu hingga 16 knot. Kapal dipersenjatai kanon 40 mm dan kanon Vulcan 20 mm dan mampu didarati oleh helikopter. Kapal dapat membawa 700 prajurit dan 4 kapal pendarat.

LST kelas Kojoon Bong mulai dioperasikan oleh AL Korea Selatan tahun 1993.




LST kelas Kojoon Bong merapat di pantai Aceh untuk menurunkan bantuan saat terjadi Tsunami. (Foto: ROKN)


Naval-technology.com
/@beritahankam

Kasau Imam Sufaat Jajal Pesawat Latih

KT-1 Wong Bee TNI AU. (Foto: flickr/Kusri Hatmoyo)

22 November 2009, Yogyakarta -- Mengawali kunjungannya di Lanud Adisutjipto, Yogyakarta Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Madya TNI Imam Sufaat terbang menggunakan pesawat latih KT-1 Woong Bee dengan formasi empat pesawat menuju Gading Area (di atas landasan Gading Wonosari Gunung Kidul) selama saju jam.

Pesawat pertama Kasau Marsekal Madya TNI Imam Sufaat terbang bersama Komandan Skadron Pendidikan 101 Letkol Pnb Ramot Sinaga, kedua Komandan Kodikau Marsekal Muda TNI Sukirno dengan Danwing Kolonel Pnb Anang Nurhadi S, ketiga Kadispenau Marsekal Pertama TNI FHB Soelistyo dengan Mayor Pnb Tobi, dan pesawat keempat Danlanud Adisutjipto Marsekal Pertama TNI R Agus Munandar dengan Mayor Pnb Arif.

Meskipun yang akan melaksanakan terbang adalah Kasau, prosedur tetap dilaksanakan diantara cek kesehatan, penggunaan helm, pakaian overall, dan pengisian buku terbang yang telah dipersiapan oleh Staf Skadik 101.

Seusai terbang Kasau kembali menuju ke gedung Jupiter untuk melakukan tatap muka dengan para perwira Lanud Adisutjipto untuk memberikan pembekalan dan tanya jawab seputar penugasan serta saran masukan kepada Kasau.

Selama satu hari di Lanud Adisutjipto setelah mengadakan tatap muka dengan para perwira Kasau juga melakukan peninjauan Skadik 104 guna mengetahui kondisi dan kesiapan simulator pesawat latih yang mempersiapkan para penerbang di sela-sela latihan dengan pesawat terbang KT-1.

Kunjungan juga dilaksanakan di Skadron Teknik 043 dan Sekolah Bintara Wara yang berada di kaki Gunung Merapi, Kali Urang.

kasau-b2Malam harinya menutup kegiatan kunjungan di Yogyakarta Kasau Marsekal madya TNI Imam Sufaat beserta rombongan dan seluruh anggota Lanud Adisutjipto mengadakan shalat berjamaah, doa bersama, Zikir, dan Siraman Rohani oleh Ustadz KH Drs Syatori Abdul Rauf bertempat di hanggar Skadron Udara 102.

Disamping melibatkan seluruh anggota doa bersama malam itu menghadirkan beberapa anak yatim dan yatim piatu dari Panti Asuhan Umar bin Khatab, Piyungan Yogyakarta.

POS KOTA