Wednesday, November 11, 2009

Komandan Batalyon Infanteri-1 Marinir Diganti


10 November 2009, Surabaya -- Komandan Batalyon Infanteri-1 Marinir diganti dalam serah terima jabatan yang dipimpin Komandan Brigade Infanteri-1 Marinir Kolonel Marinir Kasirun Situmorang, di Surabaya, Selasa.

Letkol Marinir Suliono dilantik menggantikan Letkol Marinir Guslin. Letkol Marinir Suliono sebelumnya menjabat sebagai Komandan Puslatpur Marinir Grati, Pasuruan sedangkan Letkol Marinir Guslin akan menempati pos baru sebagai Pabanlat Staf Operasi Pasmar-1.

Dalam amanatnya, Danbrigif-1 Marinir mengatakan serah terima jabatan merupakan tuntutan alamiah dalam dinamika organisasi.

"Karena itu, makna penting yang terkandung dalam serah terima jabatan Komandan Batalyon Infanteri-1 Marinir adalah terealisasinya upaya kaderisasi, pembaharuan semangat dan penyegaran pikiran serta memberikan kesempatan bagi perwira pilihan untuk mengembangkan kreatifitas dan manajerial," katanya.

Sebagai inti dari kekuatan Tim Pendarat Amphibi, katanya, Yonif-1 Marinir mempunyai tugas pokok membina kemampuan dan kekuatan sebagai pasukan pendarat Amphibi dalam mengaplikasikan tugas selaku unsur utama kekuatan Pasrat, sehingga Yonif-1 Marinir siap diproyeksikan ke segala penjuru Tanah Air.

"Dengan tugas pokok tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa peranan dan keberadaan Batalyon Infanteri-1 Marinir sangat penting dan strategis," katanya.

Acara dihadiri antara lain Pasops Brigif-1 Marinir Letkol Marinir Firman Johan, Paspers Brigif-1 Mar Letkol Mar Tommy, Pasops Kolatmar Letkol Mar Sungatijantoro, Danyonif-3 Mar Letkol Mar Sugianto, S.Sos, Danyonif-5 Mar Letkol Mar Agus Dwi Laksana Putra, dan seluruh perwira di jajaran Brigif-1 Marinir.

ANTARA JATIM

Dansatgas Indobat Pimpin Mio Meeting

10 November 2009, Libanon -- Dalam rangka menyikapi perkembangan terkini di wilayah operasi Unifil, Dansatgas Konga XXIII-C/Unifil Letnan Kolonel Inf R Haryono memimpin rapat para Military Inteligence Officer. Rapat berlangsung di Ruang Rapat Markas Konga XXIII-C.


Rapat ini dengan agenda penyampaian informasi yang terkait dengan perkembangan situasi dan kondisi terkini di wilayah operasi masing-masing Satgas. (Foto: detikFoto/Letkol Arh Hari Mulyanto)


Komandan Satuan Tugas Kontingen Garuda XXIII-C/Unifil (Indobatt/Indonesian Battalion) Letnan Kolonel Inf R Haryono memimpin rapat para Military Inteligence Officer (MIO Meeting). (Foto: detikFoto/Letkol Arh Hari Mulyanto)

Rapat ini diikuti oleh para Kepala Seksi Intelijen Batalyon seluruh kontingen dan satuan-satuan yang ada di Sektor Timur Unifil. (Foto: detikFoto/Letkol Arh Hari Mulyanto)

Rapat ini bertempat di Ruang Rapat Markas Konga XXIII-C, Soekarno Base UN POSN 7-1, Adshit al Qusayr, Libanon. (Foto: detikFoto/Letkol Arh Hari Mulyanto)


ansatgas Konga XXIII-C/Unifil Letnan Kolonel Inf R Haryono menyambut para Kepala Seksi Intelijen Batalyon seluruh kontingen. (Foto: detikFoto/Letkol Arh Hari Mulyanto)

Tuesday, November 10, 2009

Mengukur Profesionalisme Prajurit Yonkv 7/Sersus Melalui Latihan Menembak Senjata Ranpur - Bag. 2


Asumsi kebanyakan orang bahwa menembak senjata Ranpur lebih mudah dari menembak senjata ringan selama ini ternyata keliru. Hal ini dibuktikan dengan adanya dinamika selama penembakan senjata Ranpur antara lain terjadinya kemacetan senjata, menembak saat Ranpur bergerak, penggunaan teleskop bidik dan mengganti laras senjata setiap interval penembakan serta hentakan senjata maupun suara tembakan yang sangat memekakkan telinga. Kemacetan senjata yang mungkin terjadi harus diatasi secepat mungkin oleh penembak sehingga menuntut adanya pemahaman yang komprehensif terhadap mekanisme tembakan senjata (firing mechanism) dan ketrampilan mahir mulai dari saat menekan picu, menembak sasaran sampai dengan mengatasi kemacetan yang dapat terjadi setiap saat. Selain itu, penembakan senjata yang dilakukan harus memenuhi kaidah burst on target dimana penembak senjata Ranpur harus mengetahui dengan pasti perkenaan tembakan dan mamapu mengalihkan perkenaan langsung ke sasaran seakurat dan secepat mungkin.

Berbeda dengan menembak senjata M60 Coaxial dan PSU, menembak Kanon V150 memiliki keunikan tersendiri yang harus dikuasai. Seorang penembak Kanon yang duduk berdampingan dengan Danran yang biasa dijabat Danton atau Baton pada Ranpur V150 Kanon, harus mampu bekerja sama secara efektif agar dapat menembak dengan baik. Pada saat akan menembak sasaran, Danran harus memberikan aba-aba penembakkan yang berisi informasi tentang jenis sasaran, kedudukan sasaran dan jenis munisi yang akan digunakan untuk kemudian diolah oleh penembak Kanon yang mengendalikan teleskop bidik Kanon. Pada teleskop bidik Kanon sendiri, terdapat beberapa instrumen yang harus dikuasai penembak Kanon sendiri yang berisi informasi tentang jenis munisi yang digunakan berikut skala jarak perkenaan bidikan Kanon yang berbeda untuk tiap jenis munisi yang akan ditembakkan. Setelah penembak melaporkan bahwa sasaran terbidik dengan tepat, Danran memerintahkan penembak Kanon untuk menembak sasaran sekaligus melihat perkenaannya dan selanjutnya melaporkan kepada Danran. Hal yang cukup unik pada Kanon V150 dimana penembak Kanon menembakkan senjata secara manual tidak dengan menekan picu atau tombol, melainkan dengan "menendang" pedal penembakan Kanon dengan kaki kirinya.

Mencapai kualifikasi mahir dalam kemampuan teknis menembak senjata Ranpur merupakan primary goal dalam setiap latihan yang dilaksanakan setiap tahun anggaran. Dihadapkan dengan keterbatasan dukungan munisi latihan yang ada, pihak penyelenggara latihan tidak kalah akal yaitu dengan memperbanyak drill kering pelayanan senjata dan melatih penggunaan teropong bidik pada kubah penembakan senjata Ranpur. Pada kenyataannya, meskipun latihan pendahuluan telah dilaksanakan dengan sangat intensif, namun faktor psikologis yang mempengaruhi pribadi pelaku latihan dihadapkan dengan realisme penggunaan munisi tajam dan dinamika yang terjadi selama penembakan merupakan faktor penentu tersendiri dalam menilai keberhasilan latihan. Penilaian keberhasilan latihan menembak senjata Ranpur tidak semata-mata berdasarkan hasil perkenaan sasaran melainkan juga berdasarkan kemampuan dalam membidik sasaran dan melayani senjata serta mengatasi gangguan selama penembakan. Selain itu, kondisi kelayakan materiil yang sudah sangat tua dan tidak adanya suku cadang maupun upaya peremajaan materiil menjadi kendala teknis tersendiri yang sangat menghambat kelancaran jalannya latihan.

Guna menjawab kemungkinan kendala yang akan terjadi, maka latihan yang intensif secara terbimbing dan drill kering yang terarah dapat mengeliminasi kendala yang nantinya akan ditemui selama pelaksanaan latihan. Improvisasi Perwira sebagai penyelenggara dan koordinator latihan juga sangat signifikan dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan latihan di lapangan dihadapkan dengan terjadinya kendala teknis pada senjata Ranpur yang ditemui saat latihan. Disamping itu, tentunya berkat partisipasi aktif dan keseriusan pelaku serta matangnya perencanaan yang telah disiapkan penyelenggara, latihan menembak senjata Ranpur Yonkav 7/Sersus dapat berjalan dengan tertib dan aman, sedangkan kendala teknis yang terjadi di lapangan masih dapat diatasi secara terkoordinasi dengan semua pihak yang terkait. (Kapten Kav Agung Wira)

KODAM JAYA