Wednesday, August 26, 2009

Menlu: Perundingan Ambalat Capai Kemajuan


25 Agustus 2009, Jakarta -- Menteri Luar Negeri Nur Hassan Wirajuda mengatakan perundingan antara Indonesia dan Malaysia mengenai batas wilayah di kawasan Ambalat mengalami kemajuan.

Usai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa, Menlu mengatakan, kemajuan itu salah satunya adalah adanya tim dari Malaysia yang keberadaannya lebih melancarkan proses perundingan dibanding sebelumnya.

"Tanggal 20 Juli yang lalu memang ada pertemuan di Kinabalu spesifik membicarakan masalah batas perairan kita baik laut wilayah dan landas kontinen serta ZEE. Saya tidak bisa mangatakan apa hasilnya karena memang masih dalam proses. Tapi kita menyambut baik tim negosiasi Malaysia yang diperbaharui satu tim yang pada pertemuan yang baru lalu itu juga telah membantu kelancaran proses," katanya pada wartawan.

Menurut Wirajuda, bila sebelumnya dalam tim perunding Malaysia untuk urusan hukum, materinya sangat bergantung pada Kejaksaan Agung, namun saat ini telah dibentuk direktorat jenderal untuk bidang perjanjian internasional sehingga memudahkan proses perundingan.

Kemajuan lain, menurut Menlu Wirajuda adalah pihak perunding Malaysia lebih terbuka terhadap ide, konsep dan metode dalam proses perundingan yang juga disambut baik oleh pihak Indonesia.

"Jadi tanda-tandanya positif saya tidak dapat mengatakan (kapan selesainya-red), masih dalam proses yang butuh waktu yang bisa jadi panjang," katanya.

Ketika ditanya mengapa Indonesia masih menempuh proses perundingan padahal posisi Indonesia di kawasan Ambalat cukup kuat, Menlu Wirajuda mengatakan dalam konvensi hukum laut internasional 1982 batas wilayah laut tidak bisa diklaim oleh satu pihak saja namun harus melalui kesepakatan dengan pihak lain melalui proses perundingan.

"Konvensi hukum laut 1982 sangat jelas mengatakan perbatasan laut itu seperti juga darat adalah satu produk dari perundingan, dengan kata lain kita tidak bisa menetapkan batas laut kita secara sepihak. Kita juga tidak bisa menduduki katakanlah secara militer dengan begitu bisa diakui oleh masyarakat international, karena garis batas perairan kita harus merupakan hasil dari perundingan," tegasnya.

Sementara itu mengenai hak eksplorasi atas wilayah itu, Menlu mengatakan,"karena dia (Malaysia-red) tahu kita kukuh pada prinsip bahwa itu milik kita tentunya tentang konsensi menjadi secondary. Dalam artian bukan menjadi isu besarnya. Isu besarnya adalah penentuan garis.

ANTARA News

Arab Saudi Beli 30 Helikopter Rusia Mi-171B

Mi-171. (Foto: uuaz.ru)

26 Agustus 2009 -- Rusia dan Arab Saudi sedang merundingkan pembelian 30 helikopter Mi-171B, diharapkan kesepakatan ditandatanggani pada September.

Mi-171 merupakan versi ekspor dari helikopter serba guna Mi-8 Hip. Saat ini diproduksi di dua pabrik di Kazan, Volga dan Ulan-Ude, Siberia Timur, menggunakan mesin turbo-shaft bertenaga besar dan mampu membawa penumpang hingga 37 orang.

Arab Saudi pembeli tradisional senjata buatan Barat, terutama Amerika Serikat, tetapi sekarang ini tertarik untuk membeli senjata buatan Rusia, sistem pertahanan udara S-400, MBT T-90, IFV BMP-3 serta berbagai tipe helikopter.

Menurut analis Rusia masalah Arab Saudi, perubahan pembelian senjata ini disebabkan perubahan prioritas politik kerajaan dan menghadapi kesulitan membeli senjata dari Barat sejak peristiwa 11 September, dimana aktor intelektual dan pelaku banyak berwarga negara Arab Saudi.

Anggaran pertahanan Arab Saudi saat ini lebih dari $33 milyar, diharapkan mencapai $44 milyar di 2010.

RIA Novosti/@beritahankam

Nelayan Vietnam Pencuri Akar Bahar Kembali Ditangkap

Kapal nelayan Vietnam ditangkap karena mencuri akan bahar. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/Koz/hp/09)

25 Agustus 2009, Tanjungpinang -- Tim gabungan Kecamatan Tambalen, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, kembali menangkap 12 nelayan Vietnam pencuri akar bahar (Antiphates sp), setelah dalam dua bulan terakhir menangkap empat kapal dan 61 anak buah kapal dalam kasus yang sama.

"Ke-12 orang anak buah kapal (ABK) kami tangkap di perairan Pulau Manggirai yang berhadapan dengan Pulau Tambelan, Senin (24/8) pukul 09.00 WIB," kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) cabang Tambelan, Syamsuddin, Selasa.

Syamsuddin mengatakan saat dilakukan penangkapan, tiga orang masih di dalam laut sedang menyelam mengambil akar bahar dan sembilan orang lagi berkumpul diatas kapal dengan bobot 30 GT.

"Kami berhasil mengamankan sekitar 50 kilogram akar bahar, beberapa jenis keong besar dan belasan kerang laut yang berukuran besar," ujarnya.

Dia mengatakan, selain mengamankan 12 orang ABK dan 50 kg akar bahar, juga diamankan perlengkapan menyelam, seperti kompresor, selang kompresor untuk pernafasan saat menyelam, serta alat-alat navigasi kapal.

"Kapal dan ABK kami bawa ke Pos Mapolsek Tambelan untuk didata," ujarnya.

Jarak pulau Manggirai dari Tambelan sekitar empat mil laut atau sekitar 15 menit perjalanan dengan kapal cepat.

Ia mengatakan, saat ini masih ada dua kapal berbendera Vietnam yang masih berkeliaran di perairan Tambelan yang dekat dengan laut China Selatan.

"Kami harapkan bantuan kepada pemerintah, agar masalah penjarahan hasil laut oleh nelayan asing menjadi perhatian. Kami masyarakat nelayan akan kehabisan mata pencaharian kalau tempat ikan bertelur tersebut dijarah oleh nelayan asing," ujarnya.

Dia mengatakan, saat ini 12 ABK kapal Vietnam dan barang bukti sudah dibawa ke Polres Bintan dengan menggunakan kapal nelayan.

"Kemungkinan baru besok Rabu akan sampai di Pulau Bintan," tambahnya.

ANTARA News