Tuesday, May 19, 2009

Norwegia Berterimakasih kepada Kontingen TNI di Lebanon

Komandan Satgas POM TNI Konga XXV-A/UNIFIL Letnan Kolonel Cpm Ujang Martenis dan staf tiba di Marjayoun, Lebanon. (Foto: detikFoto/Lettu Sus M. Soleh, S.IK)

18 Mei 2009, Jakarta -- Pemerintah Norwegia menyampaikan terimakasih kepada kontingen TNI dan kontingen lainnya, yang telah bekerja sama dan berkoordinasi dengan baik selama menjalankan misi PBB di Lebanon Selatan (UNIFIL).

Pernyataan itu disampaikan Duta besar Norwegia untuk Lebanon, Aud Lise Norhim, pada peringatan Hari Kemerdekaan Norwegia di Kotapraja Ebel El-Saki, di Marjayoun, Lebanon, Minggu, demikian surat eletronik Perwira Penerangan Satgas POM TNI Konga XXV-A, Lettu Sus M. Soleh, kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

"Saya juga menyampaikan rasa bangga dan penghargaan atas semangat serta dedikasi para personel militer Norwegia yang saat ini bertugas sebagai pengamat di Lebanon," katanya, pada acara yang dihadiri pula oleh Komandan Satgas POM TNI Konga XXV-A/UNIFIL, Letnan Kolonel CPM Ujang Martenis itu.

Perayaan Hari Kemerdekaan Norwegia ini juga dihadir Komandan Sektor Timur Unifil, Brigadir Jenderal Casimiro Sanjuan Martinez, para Komandan Satuan di jajaran Sektor Timur Unifil dan para pejabat sipil Marjayoun, Lebanon. (Foto: detikFoto/Lettu Sus M. Soleh, S.IK)

Hari peringatan kemerdekaan Norwegia diawali dengan Misa di Gereja St. Georges Ebel Es-Saki dilanjutkan dengan peletakan karangan bunga di Tugu Peringatan Pasukan Norwegia yang gugur dalam penugasan sebagai pasukan perdamaian UNIFIL.

Norwegia telah memberikan sumbangsihnya sebagai pasukan penjaga perdamaian di Lebanon sejak UNIFIL dibentuk pada 1978 dipimpin Major General Trond Furuhovde dari Norwegia, dengan mengirimkan 806 personel militer, sebagai Pasukan Anti Ranjau untuk mencari dan menjinakkan ranjau-ranjau yang tidak meledak pasca-konflik di Lebanon.

Sejak 1979 pemerintah Norwegia mulai mengirimkan Batalyon Norwegia (NORBATT) untuk bergabung dalam UNIFIL.

Indonesia sendiri baru bergabung dalam UNIFIL pada 2006 dan kini jumlah pasukan TNI di Lebanon mencapai 1.245 personel, baik di darat maupun laut.
(ANTARA News)

Monday, May 18, 2009

Pesawat Tempur Asing Beroperasi di Selatan Pulau Rote

F5 TNI-AU sedang latihan terbang malam

18 Mei 2009, Kupang -- Radar TNI Angkatan Udara (AU) di Kupang, NTT, mendeteksi sejumlah pesawat tempur asing terbang di bagian selatan Pulau Rote. Namun, ketika didekati oleh pesawat tempur TNI AU, pesawat tersebut menghilang.

Komandan Pangkalan Udara El Tari Kupang Letnan Kolonel Pnb Joko Sugeng Srianto mengatakan itu kepada Media Indonesia di Kupang, Senin (18/5).

"Memang mereka (pesawat asing) itu terbang di luar wilayah udara RI, tetapi pesawat TNI sedang dalam misi pengamanan udara sehingga mendekat untuk diidentifikasi secara visual," katanya.

Pesawat asing itu terdeteksi sejak Senin (11/5) pekan lalu dan telah dilaporkan ke pimpinan TNI. Menurutnya, empat pesawat Tiger F5 TNI AU kemudian terbang menyusuri perbatasan RI-Australia, namun pesawat asing tersebut menghilang dari jangkauan radar.

Perbatasan udara RI dan Australia memang sangat rawan terhadap pelanggaran oleh pesawat dan kapal nelayan asing. Belum lama ini, TNI AU menggelar operasi udara untuk mengawasi pulau terluar dan alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). Gelar operasi dimulai 5 Mei dan berakhir pada Jumat (15/5) pekan lalu.

Menurut Joko, selama operasi berlangsung tidak terlihat kapal asing beroperasi di ALKI dalam wilayah RI. Hanya kapal berbendera Indonesia yang terlihat melintas. Operasi udara tersebut melibatkan empat pesawat tempur Tiger F5 dengan 150 personel Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU dipimpin Letkol Pnb Ronny Moningka.

Wilayah selatan Pulau Rote sangat rawan terhadap pelanggaran, antara lain beberapa kali menjadi jalur penyeberangan imigran gelap asal Vietnam dan Afghanistan. Pasalnya, jarak Pulau Rote ke perbatasan laut RI-Australia tidak kurang dari 90 mil.
(Media Indonesia)

Pengamanan Wilayah Udara Di Sekitar WOC Manado

Pangkosekhanudnas II Marsma TNI J.D. Sembiring Usai Melaksanakan Penerbangan Pemantauan Wilayah Udara Di Terima Oleh Danlanud Hasanuddin Marsma TNI I.B Putu Dunia di Shelter Skadron Udara 11.

18 Mei 2009, Makassar -- Pangkosekhanudnas II Marsma TNI J.D. Sembiring Usai Melaksanakan Penerbangan Pemantauan Wilayah Udara Di Terima Oleh Danlanud Hnd Marsma TNI I.B Putu Dunia di Shelter Skadron Udara 11

Pada hari keempat pelaksanaan World Ocean Conference (WOC) atau Konferensi Kelautan Dunia di Manado, Panglima Kosekhanudnas II, John Dalas Sembiring melakukan penerbangan ke Manado, kemarin. Bersama Mayor Pnb Dedy Ilham, Pangkosekhanudnas II Marsma TNI John Dalas Sembiring menggunakan pesawat Sukhoi Tempur Strategi (TS) 3005 untuk pengamanan udara.

Selain Pangkosekhanudnas dan Mayor Pnb Dedy Ilham, pemantauan keamanan lewat udara itu juga dilakukan oleh Mayor Pnb Yosta Riza bersama Kapten Pnb Widi dengan menggunakan pesawat Sukhoi TS 3003. Kedua Sukhoi ini take off pukul 10.00 Wita di Bandara Sultan Hasanuddin dan landing pukul 12.20 Wita.

Saat tiba kembali di Makassar, Marsekal Pertama TNI John Dalas Sembiring di sambut oleh Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsekal Pertama TNI Ida Bagus Putu Dunia. Pangkosekhanudnas mengatakan, untuk sementara ini pengamanan udara aman. Radar kita sudah bekerja dengan baik, dan tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan, menurut pendapat Pangkosekhanudnas II saat tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, Kamis 14 Mei.

Marsekal Pertama TNI John Dalas Sembiring menambahkan, saat berangkat, Sukhoi terbang pada ketinggian 31.000 kaki, dan turun pada ketinggian 27.000 kaki. Saat pulang ke Makassar, ketinggian mencapai 32.000 kaki.

Sembiring juga mengatakan, operasi satu jam di udara, Sukhoi tersebut menghabiskan biaya Rp 500 juta. Kegiatan ini jangan dianggap sebagai pemborosan, tapi kegiatan ini dapat menambah pengalaman pilot jelas Pangkosekhanudnas II.
(TNI AU)