Saturday, April 25, 2009

Indonesia Latih Pasukan Pengamanan VVIP Kamboja


25 April 2009, London -- Dubes RI untuk Kamboja, Ngurah Swajaya dan Sekjen Dephan Kamboja Jenderal Moeung Samphan memimpin upacara pelantikan pasukan pengamanan (paspam) VVIP dan perdana menteri di Pusat Pendidikan (Pusdik) Persahabatan Indonesia-Kamboja di Krang Cheik, 20 km dari Phnom Penh.

Sejumlah 156 prajurit anggota paspam perdana menteri Kamboja dilantik setelah melakukan pelatihan intensif selama empat bulan di bawah pengawasan tim supervisi pelatih dari Pasukan Pengamanan Presiden(Pampampres TNI, demikian keterangan yang diterima koresponden Antara London dari KBRI Phnom Penh, Jumat.

Pasukan Pengamanan Presiden atau Paspampres yang berada di bawah Komando Mabes TNI itu berkantor di Jalan Tanah Abang , Jakarta Pusat.

Paspampres terbagi atas tiga grup atau satuan yang masing-masing bertanggung jawab atas pengamanan presiden dan keluarganya, wakil presiden dan keluarganya serta tamu-tamu negara. Komandan Papampres saat ini adalah Mayjen TNI Marciano Sasono.

Dubes RI Ngurah Swajaya dan Jenderal Moeung Samphan juga menyaksikan unjuk kebolehan keterampilan prajurit yang telah menyelesaikan program pelatihannya menghadapi berbagai bentuk ancaman dan tantangan dalam pengamanan VVIP dan perdana menteri.

Kegiatan ini juga dihadiri petinggi RCAF dan perwakilan militer dari beberapa negara seperti Korea Selatan , dan Vietnam .

Program pelatihan Paspam perdana menteri oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) berlangsung sebanyak 14 angkatan dan menghasilkan lulusan sejumlah 3.604 personil termasuk 326 wanita prajurit .

Dalam program pelatihan tersebut, Tim Supervisi Pelatih Paspampres bertindak sebagai instruktur pengawas dengan memberikan berbagai materi teknis dan taktis serta keterampilan untuk menghasilkan personil paspam VVIP dan perdana menteri yang profesional dan handal dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Pusdik Persahabatan Indonesia-Kamboja didirikan di distrik Krang Cheik tahun 2005, Pusdik yang berfungsi sebagai salah satu sarana pendidikan dan pelatihan Royal Cambodian Armed Force (RCAF) bergengsi dan menghasilkan prajurit, perwira dan pelatih yang handal.

Program pelatihan ini merupakan salah satu bentuk kerja sama bilateral disamping program pelatihan bagi pasukan khusus RCAF yang juga memperoleh pelatihan dari Kopassus TNI.AD serta program pendidikan Sesko TNI yang diikuti beberapa perwira RCAF.

Selain kerja sama bidang pelatihan , maka Indonesia juga memberikan bantuan berupa beasiswa berbagai bidang ilmu di beberapa perguruan tinggi di Indonesia, program dharmasiswa dibidang budaya serta pelatihan bidang pertanian, pariwisata, teknologi dan lain-lain.

Berbagai kerja sama ini dilaksanakan baik dalam kerangka bilateral, kerja sama antarnegara berkembang dan kerja sama segitiga dengan dukungan negara donor.
(ANTARA)

Friday, April 24, 2009

TNI Terima Medali Perdamaian

Vice President of American University-DR. Rima Naboulsi dan Dubes RI di Beirut-Bapak Bagas Hapsara menyerahkan medali perdamaian kepada Dansatgas TNI Konga XXIII-C/UNIFIL Letnan Kolonel Inf Raden Haryono. (Foto:Letkol Arh Hari Mulyanto/detikFoto).

24 April 2009, Libanon -- Komandan Kontingen Garuda XXIII-C, misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Libanon, Letnan Kolonel Raden Haryono menerima medali perdamaian dari American University of Culture and Education.

"Beliau dianggap turut berpartisipasi menjaga perdamaian dunia, khususnya di Lebanon," kata perwira penerangan TNI di Libenon Letkol Hari Mulyanto dalam siaran pers yang diterima redaksi, Kamis (23/4). Penyematan medali dilakukan Wakil Presiden American University Rima Naboulsi dan Dubes RI di Beirut Bagas Hapsara.

Haryono yang bertugas sebagai Komandan Kontingen Garuda sejak 3 Desember 2008. Di bawah kepemimpinannya, pasukan Indonesia mampu menjaga wilayah operasi yang dipertanggungjawabkannya dengan maksimal.
(Jurnal Nasional)

Tangkap 5 Kapal, KRI Fatahillah-361 Amankan 88 Ton Ikan


24 April 2009, Surabaya -- Dalam waktu bersamaan, KRI Fatahilah (FTH)-361 jenis korvet Belanda dari jajaran Satuan Kapal Eskorta Komando Armada RI Kawasan Timur (Satkorarmatim) berhasil menangkap lima Kapal Ikan Indonesia (KII) yang melakukan penangkapan ikan secara illegal dan sekaligus mengamankan 88 ton ikan campuran di sekitar perairan laut Jawa, belum lama ini, Selasa (21/4).

KRI Fatahilah-361 yang dikomandani Letkol Laut (P) Kisdianto pada saat melaksanakan operasi keamanan laut (opskamla) di perairan Timur Indonesia memergoki ke lima kapal ikan yang mencurigakan tersebut sedang melakukan penangkapan ikan yang diduga illegal. Ke empat kapal ikan tersebut yaitu, KM. Mustika Bahari, berat 100 GT, Nahkoda kapal Widodo WNI, ABK 17 orang WNI, muat 40 Ton ikan campuran. KM. Alam Mina Pratama, berat 29 GT, Nahkoda kapal Hartono WNI, ABK 14 orang WNI, muat 20 Ton ikan campuran. KM. Sinar Andalan, berat 86 GT, Nahkoda kapal Kadromi WNI, ABK 18 orang WNI, muat 20 Ton ikan campuran. KM. Sinar Samudera-1, berat 82 GT, Nahkoda kapal Taryono WNI, ABK 10 orang WNI, muat 5 Ton ikan campuran. Kapal ikan yang ke 5 yaitu KM.Sari Bukti-A, berat 30 GT, Nahkoda kapal Karyani WNI, ABK 15 orang WNI, muat 3 Ton ikan campuran.

Dalam pemeriksaan, ke lima kapal ikan tersebut pada saat melakukan penangkapan ikan sebagian besar tidak dilengkapi dengan surat-surat kapal maupun dokumen pelayaran semestinya. Diantaranya Surat Layak Operasi (SLO) tidak ada, Buku pelaut tidak sesuai, Alat ukur tidak sesuai, tidak memiliki Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIPI), tidak memiliki sertifikat radio, Buku ABK tidak ada, dan alat tangkap tidak sesuai.

”Nahkoda ke lima kapal ikan tersebut tida ada yang bisa menunjukkan surat-surat maupun dokumen kapal secara lengkap. Untuk itu, kapal-kapal tersebut dikawal ke Pangkalan TNI Angkatan Laut Kotabaru guna proses penyidikan dan hukum lebih lanjut,”kata Komandan KRI Fatahilah. Kepala Dispen Koarmatim Letkol Laut Drs. Toni Syaiful.
(Penarmatim)