Saturday, March 21, 2009

Kolinlamil Siapkan 2 KRI untuk Pemilu

21 Maret 2009, Jakarta -- Meski Komisi Pemilihan Umum (KPU) sampai saat ini belum mengajukan permintaan, TNI AL telah menyiapkan sejumlah kapal untuk membantu mendistribusikan logistik pemilu ke daerah-daerah terpencil.

Panglima Komando Lintas Laut Militer (Pangkolinlamil) Laksamana Muda Bambang Supeno mengatakan, sejak beberapa waktu lalu pihaknya telah menyiapkan dua kapal angkut jenis landing ship tank (LST) dan beberapa kapal jenis patroli cepat (PC) yang sewaktu-waktu siap digunakan KPU untuk mengangkut logistik pemilu ke daerah-daerah. Kedua LST tersebut adalah KRI Teluk Hading-538 yang disiapkan di wilayah barat (Jakarta) dan KRI Teluk Manado-537 di wilayah timur (Surabaya).

Di samping kedua KRI tersebut, TNI AL juga menyiapkan sejumlah kapal PC buatan Fasharkan TNI AL sendiri yang disiapkan di beberapa Lanal seluruh Indonesia. Khusus untuk kapal Patroli Cepat ini dapat dioperasikan di daerah-daerah terpencil (antarpulau) yang tidak bisa dilayari kapal-kapal besar sejenis LST.

Menurut Pangkolinlamil, hingga saat ini belum ada permintaan bantuan dari KPU, baik melalui Mabes TNI maupun Mabes TNI AL. Meski demikian, sejak beberapa waktu lalu pimpinan TNI Al sudah memerintahkan kepada Kolinlamil untuk menyiapkan kapal bila sewaktu-waktu ada permintaan dari KPU. (Suara Karya)

KRI Diponegoro Awali Misi Perdana PBB

Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso memimpin upacara pelepasan Konga XXVIII ke Libanon. (Foto: M. Rizal Maslan/detikFoto)


21 Maret 2009, Jakarta -- Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso melepas keberangkatan KRI Diponegoro-365 sebagai Satuan Tugas (Satgas) Maritim TNI Kontigen Garuda (Konga) XXVIII-A untuk bergabung dalam Satgas Maritim Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB di Libanon, Jumat (20/3).

Pelepasan dilaksanakan dalam upacara militer di Markas Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) di Jakarta. Djoko mengatakan, TNI sudah puluhan tahun mengirim personel. Namun, baru kali ini ada permintaan menghadirkan armada laut RI dalam suatu misi perdamaian.

"Ini kebanggaan dan kehormatan tersendiri bagi TNI, khususnya TNI AL," kata dia dalam sambutan pelepasan. Djoko meminta, prajurit menjaga kepercayaan yang telah diberikan masyarakat internasional dengan menjalankan tugas penuh tanggung jawab dan profesional.

Tugas utama KRI Diponegoro ialah mencegah masuk dan keluarnya senjata dan material yang berhubungan dengan senjata. Kapal juga akan membantu Angkatan Laut Libanon menegakkan kedaulatan negaranya. Dengan kekuatan 99 personel, KRI Diponegoro juga dilengkapi helikopter BO-105 NV-414. Djoko meminta, keselamatan diri dan material yang telah dipercayakan menjadi perhatian.

Duta Besar Libanon untuk Indonesia Victor Zmeter berterimakasih atas partisipasi Indonesia. "Menunjukkan komitmen Indonesia untuk selalu mengawal perdamaian dunia termasuk di Libanon," katanya. Situasi Libanon terutama yang berbatasan dengan Israel aman dan terkendali karena adanya Pasukan PBB.

Selain Indonesia, beberapa negara telah mengirimkan kapal perangnya seperti Prancis, Turki, Yunani, Italia, Spanyol, dan Jerman. Artinya, Indonesia menjadi negara pertama yang dipercaya PBB, di luar negara Eropa.

Rencananya, KRI Diponegoro yang dikomandani Letkol Arsyad Abdullah itu akan melaksanakan tugas perdamaian selama enam bulan sejak akhir April sampai Oktober 2009. Jika dianggap berhasil, misi dilanjutkan dengan kapal kedua.

Selama satu bulan perjalanan, KRI Dipononegoro akan singgah di beberapa negara seperti Cochin (India), Salalah (Oman), Port Said (Mesir), Beirut (Libanon) dengan jarak tempuh keseluruhan 6.555 mil.

Dalam perjalanan, KRI Diponegoro akan membantu patroli keamanan di wilayah perairan Somalia. Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksmana Pertama Iskandar Sitompul menambahkan, kemungkinan kapal akan berada di wilayah perairan Somalia selama tiga hari sambil menuju Beirut.

"Sesuai hukum laut intenasional, kapal yang melintas perairan tertentu harus turut mengawasi situasi keamanan di wilayah tersebut," katanya. KRI Diponegoro merupakan korvet Sigma pertama yang dipesan TNI AL dari Belanda. Persenjataan kapal ini memang terbilang mutakhir, antara lain meriam super rapid 76 mm, rudal antikapal Exocet MM-40, rudal antipesawat udara Mistral Simbad-Tetral, dan torpedo antikapal selam A-244S. Sistem radar MW 08 yang dimiliki juga sudah terintegrasi dengan sistem senjata. (JurnalNasional)

Dua Kapal AL AS Bertabrakan di Selat Hormuz

USS New Orleans (LPD-18)

21 Maret 2009, Kairo -- Satu kapal selam Angkatan Laut AS dan satu kapal amfibi AS bertabrakan di Selat Hormuz, Jumat, sehingga 15 personil menderita luka ringan, kata Armada Kelima Angkatan Laut AS dalam satu pernyataan di laman Internetnya.

Tabrakan antara USS Hartford (SSNA 768) dan USS New Orleans (LPD-18) terjadi sekitar pukul 01:00 waktu setempat (Jumat, 04:00 WIB), demikian antara lain isi pernyataan yang dikeluarkan dari Manama, Bahrain dan dikutip kantor berita Xinhua.

USS Hartford (SSNA 768)

Sebanyak 15 personil Angkatan Laut di kapal Hartford menderita luka ringan dan kembali bertugas. Tak ada personil di kapal New Orleans yang cedera.

Kerusakan secara keseluruhan pada kedua kapal itu sedang diperiksa. Mesin pendorong di kapal selam tersebut tak terpengaruh oleh tabrakan itu.

Kapal New Orleans mengalami kerusakan pada tangki bahan bakar, yang mengakibatkan tumpahan minyak sebanyak 25.000 galon bahan bakar diesel. Kedua kapal tersebut saat ini beroperasi dengan menggunakan mesin mereka sendiri.

Penyebab kecelakaan itu sedang diselidiki.

Kapal selam dan kapal amfibi tersebut saat ini melakukan operasi rutin sebagaimana jadwal di daerah Komando Pusat Angkatan Laut AS, yang bertanggung jawab melakukan Operasi Keamanan Maritim (MSO).

Sebanyak 40 persen minyak yang diperdagangkan di dunia meninggalkan wilayah Teluk melalui Selat Hormuz, yang berada di ujung selatan Teluk dan diapit oleh garis pantai Iran dan Oman.

MSO menjaga keamanan dan kestabilan lingkungan kelatuan serta menjadi pelengkap dalam operasi kontra-terorisme dan upaya keamanan bagi negara regional.

MSO mencegah pelaku teror internasional menggunakan lingkungan maritim tersebut sebagai tempat melancarkan serangan atau mengangkut personil, senjata, atau barang lain.

Hartford, kapal selam klas Los Angeles yang bertenaga nuklir, adalah kapal kedua Angkatan Laut AS yang diberi nama Hartford, Connecticut. Kapal itu diluncurkan pada Desember 1993, dan dioperasikan satu tahun kemudian.

Pada 25 Oktober 2003, kapal selam Hartford kandas di dekat La Maddalena di Sardinia dengan sangat keras sehingga baling-baling, sonar dan peralatan lain elektronik rusak parah.

Kapal itu, dengan panjang 110 meter, lampu sorot 10 meter, dan rangka 9,8 meter, membawa satu reaktor nuklir sebagai sistem pendorongnya.

Sementara itu kapal New Orleans, kapal angkut amfibi kelas San Antonio, adalah kapal keempat yang bertugas di Angkatan Laut AS dan diberi nama kota New Orleans, Louisiana. Kapal tersebut dirancang untuk mempu mengirim batalion 700 marinir dengan peralatan lengkap.

Kapal perang itu diluncurkan Desember 2004, dan bertugas pada Maret 2007.

Antara