Saturday, March 26, 2011

Thailand Beli Dua Kapal selam Tipe 206A Bekas AL Jerman


26 Maret 2011, Medan -- (Berita HanKam): Pemerintah Thailand telah menyetujui pembelian dua kapal selam diesel bekas pakai tipe 206A dari Angkatan Laut Jerman, menurut seorang pejabat Thailand dikutip Jane’s.

Anggaran pembelian diperkirakan mencapai 200 juta dolar, diharapkan berasal dari anggaran pertahanan tahun fiskal 2012.

AL Jerman pensiunkan empat kapal selam tipe 206A pada pertengahan 2010. Usia kapal selam telah 35 tahun, seharusnya dipensiunkan antara 2011 dan 2015. Karena Berlin meninjau ulang anggaran pertahanan, kapal selam dipensiunkan dini untuk menghemat biaya operasi.

Perwira AL Jerman telah berkunjung ke Thailand akhir 2010 dan menawarkan kapal selam tersebut menurut perwira senior AL Thailand pada Jane’s pada 21 Maret. Beliau menambahkan kapal selam asal Jerman dipilih, menyingkirkan Korea Selatan Tipe 209 dan Cina Tipe 039. AL Thailand juga melakukan pembicaraan dengan pabrik kapal selam asal Swedia Kockums mengenai ketersediaan kelas Gotland.

Kapal selam diesel tipe 206 dikembangkan oleh Howaldtswerke-Deutsche-Werft AG (HDW), dirancang berdasarkan kesuksesan tipe 205. Kapal selam dibangun saat Perang Dingin dan ditujukan beroperasi di perairan dangkal di Laut Baltik dan menyerang kapal Pakta Warsawa jika terjadi perang.

AL Jerman Barat membangun 18 kapal selam, 12 telah dimodernisasi awal 1990-an dan diberina nama tipe 206A, sisanya dipensiunkan. AL Jerman mulai pensiunkan tipe 206A dan digantikan tipe 212.

Panjang keseluruhan tipe 206A 48,6 meter dan lebar 4,6 meter, berbobot 450 ton dipermukaan dan 498 ton saat menyelam. Kecepatan menyelam 17 knot sedangkan dipermukaan 10 knot. Kapal mempunyai jarak jelajah 8300 km pada kecepatan 5 knot di permukaan dan 420 km dengan kecepatan 4 knot saat menyelam. Kapal selam dipersenjatai 8 tabung torpedo 533 mm.

AL Thailand juga segera diperkuat satu kapal perang jenis LPD yang dibeli dari ST Marine, Singapura. Kapal diberi nama HTMS Angthong dan bernomer lambung 791, diluncurkan di Singapura oleh KASAL Thailand Admiral Khamthorn Pumhiran pada 20 Maret.

Sumber: Jane’s
Berita HanKam

Jakarta International Defense Dialogue 2011 Ditutup Oleh Panglima TNI


25 Maret 2011, Jakarta -- (DMC): Jakarta International Defense Dialogue (JIDD) 2011 telah sukses diselenggarakan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia melalui Universitas Pertahanan Indonesia (UNHAN) dan secara resmi ditutup oleh Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Jum’at (25/3) di Jakarta Convention Center, Jakarta. JIDD 2011 telah menjadi sarana yang baik bagi promosi kerjasama antar pemerintah untuk menghadapi berbagai ancaman dan permasalahan keamanan baik regional maupun internasional.

Panglima TNI dalam sambutannya mengatakan, JIDD telah menjadi sebuah forum multilateral yang membahas isu - isu pertahanan dan keamanan dalam rangka keberlanjutan menciptakan suasana yang kondusif di masa - masa mendatang. "34 delegasi dari negara sahabat yang hadir telah mejawab perkembangan strategi pertahanan dan keamanan, ini menunjukan keberhasilan JIDD sebagai forum pertahanan dan keamanan", tambah Panglima TNI.

Lebih lanjut Panglima TNI mengatakan, hasil dari JIDD diharapkan dapat diimplementasikan lebih lanjut melalui kemitraan komprehensif untuk merespon ancaman dan tantangan yang muncul, yang terpenting untuk menciptakan persahabatan yang berkelanjutan.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat ditanya wartawan mengatakan, melalui forum petemuan JIDD ini telah tercapai beberapa sasaran diantaranya terbentuknya suatu forum dialog informal baik di dalam panel diskusi maupun forum diskusi yang terjadi di luar ruangan.

Selain itu, juga ada pertemuan bilateral bahkan pertemuan trilateral baik antara tiga menteri pertahanan maupun antara tiga Panglima Angkatan Bersenjata yang saling bertukar pandangan mengenai permasalahan - permasalahan dunia yang sedang berkembang.

Selain terbentuknya forum dialog, disisi lain melalui JIDD ini juga telah tercapai kepentingan - kepentingan bisnis dalam rangka mempromosikan industri pertahanan dalam negeri.

Menhan mengungkapkan, setelah melihat paparan dari industri pertahanan Indonesia, beberapa negara menyatakan tidak menyangka bahwa industri pertahanan Indonesia sudah sedemikian maju, beberapa negara seperti Inggris juga menyatakan tidak menyadari bahwa industri pertahanan Indonesia sudah mampu membangun kapal jenis LPD .

Lebih lanjut Menhan mengatakan, beberapa negara seperti Papua New Guinea telah menyampaikan keinginannya untuk menjajaki pembelian Pesawat CN-235 produksi PT. DI. Delegasi Papua New Guinea yang hadir dalam forum JIDD tersebut selanjutnya berencana akan berkunjung ke PT.DI di Bandung, guna melihat produk – produk PT. DI misalnya Pesawat CN-235, Cassa dan lain sebagainya.

Sementara itu, Timor Leste juga sudah memastikan akan membeli Fast Patrol Boat produksi PT. PAL Indonesia. Selain Papua New Guinea dan Timor Leste, Philipina juga berencana ingin membeli kapal jenis LPD produksi PT. PAL, karena memiliki kelebihan diantaranya yaitu disamping dapat digunakan untuk operasi keamanan juga dapat digunakan untuk operasi penanggulangan bencana.

Dengan melihat hasil positif yang telah dicapai dalam penyelenggaraan JIDD 2011, maka menurut Menhan telah diputuskan oleh Bapak Presiden RI agar penyelenggaraan JIDD akan selenggarakan kembali pada tahun depan. “Forum ini menjadi forum dialog, forum pertemuan tukar menukar pendapat dan lain sebagainya, jadi saya lihat ini berhasil dan sudah ditetapkan tahun depan akan diadakan lagi”, jelas Menhan.

Sumber: DMC

JIDD 2011: Menhan Bentuk Simbiosis Pertahanan dengan 3 Negara

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) berbincang serius dengan PM Timor Leste Xanana Gusmao (kanan) seusai meresmikan pembukaan Jakarta International Defense Dialogue (JIDD) Tahun 2011 di Balai Sidang, Jakarta, Rabu (23/3). JIDD Tahun ini mengambil tema "Strengthening Security and Stability" yang diikuti oleh perwakilan dari 34 Negara dan akan berlangsung hingga 25 Maret. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/ss/Spt/11)

25 Maret 2011, Jakarta -- (DMC): Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro, Kamis (24/3) menerima Courtesy Call (CC) negara sahabat diantaranya Menhan Papua New Guinea (PNG) HE Bob Dadae MP, Panglima Angkatan Bersenjata Afrika Selatan yang diwakili Lt. Gen Temba Templeton Matanzima dan Wakil Menhan Polandia ZM. Mosowidz, di JCC, Jakarta. Pertemuan yang berlangsung diantara jadwal acara JIDD ini, dimanfaaatkan sebagai pertemuan bilateral guna meningkatkan kerjasama antara Indonesia juga negara-negara tersebut baik dalam pertahanan maupun ekonomi. Dari sinilah akan terbentuk suatu simbiosis pertahanan antar ketiga negara.

Dalam kunjungannya, Menhan PNG memberikan beberapa pandangan tentang alusista Indonesia dimana alusista Indonesia dianggap sudah baik dalam menjaga keamanan dan pertahanan negara. Sebelumnya PNG juga sudah membeli beberapa kapal patroli Indonesia.

Kerjasama militer Indonesia dan Papua New Guinea memang perlu dilakukan karena wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan Papua New Guinea dan Australia maka perlu diadakannya beberapa kebijakkan yang tepat. Kerjasama yang terjalin adalah membangun koorporasi dibidang security, stabilitas nasional, dan komunikasi. Apabila hal tersebut terpenuhi akan membuat jalinan persahabatan yang ada semakin erat.

Dalam kesempatan ini, Menhan PNG juga mengungkapkan berniat membeli kembali pesawat tempur Indonesia dan kapal patroli serta ingin bekerja sama dengan PT.PAL Indonesia dalam pengadaan alusista negaranya guna menunjang pertahanan dan ekonomi negara.

Lt. Gen Temba Templeton Matanzima selaku Panglima Angkatan Bersenjata Afrika Selatan dalam kesempatan tersebut pun menyatakan ingin adanya pertukaran mahasiswanya, agar dapat menimba ilmu di Universitas Pertahanan (UNHAN) dan juga menawarkan beberapa program pertahanan Afrika Selatan untuk bisa dipelajari oleh Indonesia agar dapat mendukung kerjasama yang sudah ada. Disinggung pula perihal alusista pasukan bersenjata, dimana alusista merupakan hal penting sebagai sarana pertahanan.

Kedekatan kedua negara antara Indonesia –Afrika Selatan, sudah berjalan baik selama ini, karena pernah diadakannya perjanjian alusita tahun 2008 tentang pengadaan radio komunikasi militer dan persenjataan.

Dan pertemuan terakhir Menhan dengan Wakil Menhan Polandia, masih menbicarakan perihal pertahanan yang telah di bangun karena ancaman yang ada saat ini sudah mulai beralih ke arah ancaman non militer, ini membangkitkan semangat untuk menciptakan teknologi dan solusi penyelesaian yang dianggap terbaik untuk menghadapinya.

Selain memberikan berberapa pandangan alusista Polandia, Menhan menekankan kembali agenda JIDD, yaitu: manajemen pertahanan, pertahanan ekonomi, dan strategi pertahanan. Ini menjadi pembahasan karena perang yang terjadi saat ini bukan antar negara tapi perang horizontal, seperti demontrasi dan terorisme yang dilakukan oleh individu ataupun organisasi. Ini yang menjadi dasar pembentukan program JIDD.

Sumber: DMC