Showing posts with label Terorisme. Show all posts
Showing posts with label Terorisme. Show all posts

Wednesday, October 6, 2010

Presiden Minta Sinergi TNI-Polri Ditingkatkan

Sejumlah personel Brimob melakukan penyisiran pencarian kawanan perampok bersenjata yang dikabarkan bersembunyi di kawasan perkebunan sawit, di Desa Bantan, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumut, Selasa (5/10). Dari 14 orang kawanan perampok bersenjata, sembilan orang berhasil ditangkap pihak kepolisian dan enam orang diantaranya tewas tertembak saat dilakukan penyergapan. (Foto: ANTARA/Irsan Mulyadi/ss/ama/10)

06 Oktober 2010, Jakarta -- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara RI pada masa mendatang semakin meningkatkan sinergi dalam menanggulangi aksi-aksi terorisme di Tanah Air. Tugas dan kewenangan yang diberikan oleh undang-undang bagi tentara nasional harus bisa dilakukan dengan cepat dan tepat.

”Saya instruksikan kepada segenap aparatur pemerintahan di daerah, termasuk para tokoh masyarakat, bersama Polri dan Komando Teritorial TNI, untuk berperan aktif menjaga kondisi keamanan di daerah. Kesiagaan dan tindakan cepat jajaran Polri dan TNI di seluruh penjuru Tanah Air juga sangat diperlukan,” ujar Presiden Yudhoyono pada peringatan Hari Ulang Tahun Ke-65 TNI di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (5/10).

Acara itu dihadiri Wakil Presiden Boediono, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono beserta tiga kepala staf TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan TNI Angkatan Udara, Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri, serta tamu undangan lainnya.

”Akhir-akhir ini kita kembali menghadapi sejumlah gangguan keamanan, yaitu aksi-aksi kelompok teroris dan benturan fisik antarmasyarakat di berbagai daerah. Benturan fisik antarkomponen masyarakat sesungguhnya dapat dicegah. Perselisihan antarkelompok masyarakat mestilah dicarikan solusinya secara damai,” ujar Presiden.

Oleh karena itu, lanjut Presiden, pihaknya meminta jajaran pemerintah daerah, bersama Polri, untuk bersikap dan bertindak proaktif, menggunakan pendekatan dan cara yang efektif mencegah dan mengatasi gangguan- gangguan sosial dan keamanan.

”Kita harus memastikan hukum di negeri ini tetap berdiri tegak untuk mengayomi dan melindungi masyarakat. Tidak boleh ada sekelompok orang atau sekelompok massa yang dengan mudahnya membuat kerusuhan, keonaran, dan memaksakan kehendaknya dengan kekerasan kepada pihak lain, bahkan menyerang aparat negara,” ujar Presiden.

Ketua Umum Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan Polri Agum Gumelar menekankan pentingnya intelijen dalam penanggulangan teror. ”Intelijen harus kuat untuk penanggulangan teror karena mereka di tempat gelap, kita di tempat terang,” katanya.

Menurut dia, saat ini yang diperlukan dalam bidang intelijen adalah koordinasi antara Badan Intelijen Negara, Badan Intelijen Strategis TNI, dan intelijen yang dimiliki Polri.

Sementara itu, mantan Panglima TNI Djoko Santoso mengatakan, dalam sistem demokrasi ini pengelolaan keamanan ada di tangan polisi. Dalam sistem demokrasi juga, intelijen militer tidak boleh memata-matai publik. Masalahnya, pengaturan itu melalui Undang-Undang Intelijen belum selesai.

Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq di Jakarta, Selasa, mengatakan akan diadakan rapat gabungan antara Komisi I, Komisi III, Menteri Pertahanan, Panglima TNI, Kepala Badan Intelijen Negara, Kepala Kepolisian Negara RI, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme untuk membahas pemberantasan terorisme secara terpadu.

KOMPAS

Tuesday, October 5, 2010

Presiden: TNI Membantu Polri


05 Oktober 2010, Jakarta -- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan apresiasi kepada kepolisian yang dinilai dapat mengatasi gangguan kejahatan terorisme. Dengan bantuan TNI dan intelijen, kepolisian diharapkan dapat melanjutkan upaya penanganan terorisme secara tepat.

Dalam penanganan terorisme, Presiden mengingatkan, semua pihak juga harus bekerja sama dan bersinergi. ”Saya juga lihat Menko Polhukam terus bekerja dengan gigih untuk itu. Teruskan keterpaduan upayanya, sinkronisasi, koordinasi, sinergi, pusat dan daerah, termasuk koordinasi yang sifatnya horizontal,” ujar Presiden dalam sambutan pengantarnya pada sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (4/10).

Polri segera menggandeng pasukan elite tiga angkatan untuk memberantas aksi terorisme di Indonesia. Kekuatan pemukul itu akan diterjunkan seketika sesaat terjadi aksi terorisme.

Ketiga pasukan elite itu adalah Detasemen Jalamangkara (Denjaka) TNI AL, Detasemen Bravo-90 (Den Bravo-90) TNI AU, dan Detasemen Penanggulangan Teror (Den Gultor) TNI AD atau Grup 5 Anti Teror, Detasemen 81 Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD.

”Ke depan, kita akan ada kekuatan bersama di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Namanya striking force, yang melibatkan Denjaka TNI AL, Den Bravo-90 TNI AU, dan Detasemen 81 TNI AD,” ujar Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri di halaman Istana Negara, Jakarta, Senin.

Menurut Bambang, mereka akan turun sesuai dengan crisis, response and force (CRF) yang akan ditentukan bersama. ”Mereka bukan kekuatan khusus, melainkan kekuatan yang sudah berada pada posisi masing-masing. Mereka akan segera dioperasionalkan,” kata Bambang.

Di tempat yang sama, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono membenarkan akan ada kekuatan bersama apabila diperlukan. ”Tahap pertama yang dikerahkan adalah detasemen intelijen TNI, baru pasukan penindak, apakah Denjaka, Den 81, atau Bravo,” ujarnya.

KOMPAS

Tuesday, March 30, 2010

Militer, Polisi Mustahil Bersama Tangani Operasi Antiteror

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) Jajaran Panglima Kodam Iskandar Muda, 111, 113 dan 114 dibawah komando Korem 011 Lila Wangsa menggelar simulasi penangkapan separatis bersenjata dan teroris di Lapangan Jenderal Sudirman Lhokseumawe Propinsi Aceh, Senin. (29/3). Penguatan basic dan kemampuan TNI AD sebagai kesiapan TNI mematahkan ancaman aksi separatis bersenjata dan menumpas teroris di Aceh. (Foto: ANTARA/Rahmad/NZ/10)

29 Maret 2010, Jakarta -- Militer dan polisi mustahil bergabung untuk menangani operasi antiteror secara bersamaan. Pasalnya, operasi terorisme di Indonesia dilakukan bersifat sel dan bisa terjadi bersamaan di beberapa tempat di Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Dosen FISIP UI Andi Widjajanto dalam diskusi bertajuk Kerjasama Polisi dan Militer dalam Operasi Antiterorisme di Jakarta, Senin (29/3).

"Saya pernah bertanya apakah bisa terjadi kerjasama operasi antara militer dan polisi? Mereka menyatakan pada saya agar jangan naif," kata Andi.

Ia beralasan bahwa paradigma antara polisi dan militer sekaligus kapasitas kedua institusi yang berbeda. Dalam perspektif militer, terorisme merupakan ancaman yang harus dihabisi tanpa melihat akar permasalahan. Sebaliknya, perspektif polisi sebagai penegak hukum akan melihat bahwa terorisme merupakan tindakan melawan hukum yang harus ditelisik jejaknya serta dilucuti kemampuannya. Pemerintah bisa menggunakan kedua kapasitas ini untuk menangani hal yang berbeda, tidak bisa digabungkan dalam satu operasi.

"Jadi, pemerintah itu memecah kekuatan jika situasinya semakin memburuk. Misalnya, polisi menangani dua hal di sini, gultor (penanggulangan teror) menangani 3 kelompok di sana. Tidak bisa digabungkan dalam satu operasi," jelasnya.

Sejumlah personil TNI-AD Jajaran Panglima Kodam Iskandar Muda, 113 dibawah komando Korem 011 Lila Wangsa mengikuti latihan Pertempuran Jarak Dekat (PJD) di Lapangan Jenderal Sudirman Lhokseumawe Propinsi Aceh. Senin. (29/3). (Foto: ANTARA/Rahmad/NZ/10)

Pengamat militer UI Edy Prasetyono mengungkapkan bahwa untuk mendukung operasi kedua institusi diperlukan aturan baku perbantuan. Kedua institusi selama ini hanya mengandalkan hasil praktek lapangan yang tidak mengontrol peminjaman sumber daya antar institusi.

Padahal, aset yang dipinjamkan bisa saja sensitif sehingga perlu pihak yang bisa bertanggung jawab atas itu. "Regulasi bisa hanya di tingkat kepmen, tak perlu sampai UU. Yang sekarang berjalan diantara kedua institusi adalah karena ada praktek, tapi tidak ada sistem yang mapan. Bahayanya kalau tidak ada itu, kalau ada material sensitif siapa yang mau bertanggungjawab," ujarnya.

Mantan menhan Juwono Sudarsono memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, semakin sedikit perundang-undangan, semakin baik. Apalagi, ada kesepakatan antara TNI-Polri terkait pelibatan TNI dalam penanganan terorisme di tingkat lapangan.

"Yang penting kemampuan efektifnya. Kalau di lapangan kan sudah ada kesepakatan. Terlalu banyak UU yang terjadi malah hukum rimba karena ada yang harus disinergikan satu sama lain. Sementara itu di lapangan, mereka tidak begitu peduli tentang payung hukum," tandasnya.

MEDIA INDONESIA

Saturday, March 13, 2010

Kaderisasi Terus Berlangsung

Personel Detasemen Khusus 88 Antiteror bersiaga di Jalan Raya Banda Aceh-Meulaboh Kilometer 24 di Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Jumat (12/3). (Foto: KOMPAS/Laksana Agung Saputra)

13 Maret 2010, Aceh Besar -- - Delapan tersangka teroris ditangkap dan dua lainnya ditembak mati di Jalan Raya Banda Aceh-Meulaboh Kilometer 24, Nanggroe Aceh Darussalam, Jumat (12/3).

Dengan penangkapan tersangka teroris di Desa Meunasah Mesjid, Kecamatan Leupung, itu, polisi sudah menangkap 31 tersangka teroris di Aceh, empat di antaranya tewas. Menurut Kepala Kepolisian Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Inspektur Jenderal Adityawarman, Jumat, dengan penangkapan tersebut, masyarakat diharapkan dapat lebih tenang.

Dari kartu tanda penduduk yang diperoleh polisi, dua korban tewas adalah Enceng Kurnia (31) alias Arham dan Pura Sudarma (40) alias Jaja; keduanya berasal dari Bandung, Jawa Barat. Adapun delapan orang yang berhasil ditangkap hidup adalah Adi Munadi (25) dari Bandung, M Yunus alias Anton (29) dari Jakarta Barat, Ahmad Gema (27) dari Tapanuli Selatan (Sumatera Utara), Taufik (28) dari Medan, Ibnu Sina (18) dari Pandeglang (Banten), Abu Batok atau Ali (35) dari Lampung Utara, Hendra Ali (27) dari Belawan (Medan), Zainudin alias Joko Sulistyo (32) dari Boyolali (Jawa Tengah).

Ke-10 tersangka yang ditangkap itu berusia antara 20 dan 30 tahun. Hal itu mengindikasikan kaderisasi gerakan radikal terus berlangsung pasca-tewasnya tokoh-tokoh penting dalam jaringan terorisme. ”Artinya, kaderisasi gerakan radikal ini memang masih terus berlangsung. Sebab, ruang di masyarakat untuk menyebarluaskan ajaran radikal cukup leluasa. Penyebar ajaran radikal itu tak dapat disentuh oleh perangkat hukum di sini,” kata Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Ansyaad Mbai, Jumat.

Bersamaan dengan penangkapan itu ditemukan lima senjata laras panjang berupa dua jenis AK-47 dan tiga jenis M-16 serta satu pistol merek Glock. Pistol itu diduga milik Boas Woasiri, anggota Detasemen Khusus 88, yang tewas dalam kontak senjata, Kamis (4/3). Polisi juga menemukan ratusan peluru, magasin, dan uang puluhan juta rupiah.

Adityawarman mengatakan, kelompok ini dipergoki oleh aparat kepolisian Leupung yang tengah melakukan razia terhadap kendaraan yang melintas di jalan. Sebelumnya, Polsek Leupung mendapat informasi dari pihak Kodim Aceh Besar, yang memberitahukan ada sekelompok orang mencurigakan naik mobil angkutan umum Mitsubishi jenis L300 warna hitam bernomor polisi BK 116 GU. ”Terima kasih karena ada anggota koramil yang memberi informasi,” kata Adityawarman.

Kelompok ini dilaporkan naik dari Terminal Lambaro, Aceh Besar, sekitar 10 kilometer arah selatan pusat Kota Banda Aceh. ”Diduga mereka turun dari pegunungan Lampage, Kuta Cotglee, Aceh Besar,” kata Adityawarman.

Sekitar pukul 10.15, delapan polisi menghentikan kendaraan yang dicurigai itu persis di depan markas polsek. Polisi menemukan karung goni berisi benda keras saat memeriksa bagian belakang mobil. Orang di dalam mobil mengaku berisi gergaji.

Sebelum sempat menggeledah isi karung goni tersebut, dua orang yang duduk di bangku depan bergegas keluar dan lari. Dia sempat melepaskan tembakan menggunakan pistol merek Glock. Polisi dengan cepat menembaki keduanya sehingga akhirnya tewas, sekitar 50 meter dari mobil L300 tersebut.

”Patut diduga senjata ini (pistol Glock) adalah milik Boas. Patut diduga mereka yang pernah terlibat kontak senjata dengan kita karena tangan salah satu korban tewas mengalami luka yang sudah membusuk,” kata Adityawarman.

Dalam pengembangan kasus, Polsek Suka Makmur di Kabupaten Aceh Besar memeriksa Rahmat (35), penjual tiket di Terminal Lambaro. Menurut Rahmat, rombongan itu tiba di Lambaro menggunakan angkutan umum dari arah Banda Aceh.

Dua orang di antaranya membeli 10 tiket angkutan umum L300 tujuan Medan seharga Rp 150.000 per lembar. Mereka sempat menunggu setengah jam di Lambaro. Mereka mengaku sebagai pekerja kayu dan membawa bungkusan gergaji mesin.

Menguasai medan

Penangkapan tersangka teroris di ruas jalan menuju Aceh Barat itu cukup mengejutkan mengingat wilayah pergerakan mereka selama dua pekan terakhir lebih banyak di kawasan lintas timur, mulai dari Gunung Jalin di Janto (Aceh Besar) hingga Padang Tiji (Pidie). Personel Brigade Mobil dan Densus 88 juga kebanyakan berjaga-jaga dan menyisir di wilayah tersebut dan cenderung melonggarkan penyisiran di kawasan pantai barat.

Kelompok ini diduga sangat mengenal wilayah pegunungan yang semasa konflik menjadi medan gerilya Gerakan Aceh Merdeka sehingga bisa melewati pengepungan aparat. Namun, ketika turun gunung, ternyata mereka melalui rute jalan raya. ”Yang melumpuhkan 10 anggota teroris ini adalah delapan anggota Polsek Leupung,” kata Irjen Adityawarman.

Menurut Adityawarman, kedua orang yang tewas itu diduga pelatih gerakan tersebut di Aceh. Mereka juga diduga tokoh penting dalam jaringan teroris yang telah lama menjadi buron polisi.

Dari data di kepolisian, Enceng Kurnia merupakan anggota Ring Banten yang ditangkap polisi antiteror pada Juli 2005 atas perannya membantu Dulmatin dan Umar Patek ke Filipina tahun 2003. Enceng juga membantu mengirim orang yang direkrut Abdullah Sunata ke Mindanao. Enceng besar dan sekolah (SD, SMP, STM) di Bandung.

Enceng juga pernah ke Mindanao untuk berlatih militer pada 1999 kemudian ikut terlibat dalam konflik di Ambon tahun 2001. Enceng juga berperan besar dalam mengatur jalur utama pengiriman orang-orang yang berlatih militer ke Mindanao melalui Kalimantan Timur dan Sabah, Malaysia. Sejak Juli 2004, Enceng juga merupakan instruktur pelatihan militer di Maluku. Dia juga sempat menjadi instruktur pelatihan di kamp pelatihan militer yang didirikan kelompok Kompak dan DI (Darul Islam).

Sementara Pura Sudarma alias Jaja merupakan buron lama sejak tahun 2001. Jaja juga sempat menampung orang-orang yang terlibat dalam pengeboman Plaza Atrium di kawasan Senen, Jakarta Pusat, pada 2001.

Jaja juga terlibat dalam konflik di Poso. Salah satu anak buah Jaja, yakni Heri Gulun, menjadi pelaku bom bunuh diri di Kedutaan Australia tahun 2004. Jaja juga instruktur pelatihan militer yang telah berkiprah sejak tahun 2004, salah satunya di kamp pelatihan tersembunyi di kawasan Sukabumi. Jaja diindikasi merupakan anggota NII.

Sementara itu, jenazah Dulmatin atau Joko Pitono dimakamkan oleh keluarganya di Pemalang, Jawa Tengah, Jumat pukul 08.20. Pemakaman dilaksanakan di tanah keluarga di Desa Loning, Kecamatan Petarukan.

KOMPAS

Friday, March 12, 2010

TNI Ikut Bantu Sergap Teroris di Aceh Besar

Aparat polisi memeriksa korban tewas yang diduga teroris dalam kontak senjata di lintasan jalan negara, Leupung, Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar, Jumat (12/3).Dalam kontak tembak selama satu jam lebih itu, aparat menewaskan dua teroris dan enam lainnya berhasil ditangkap. (Foto: ANTARA/Ampelsa/ss/hp/10)

12 Maret 2010, Jakarta -- TNI ikut membantu Densus 88 dalam menyergap kelompok teroris di Leupung, Aceh Besar, hari ini. Informasi awal pergerakan kelompok teroris itu pun berasal dari intelijen TNI yang disampaikan ke Polri.

"Pada pukul 08.00 WIB, anggota unit intel Kodim menerima informasi ada kelompok yang mencurigakan yang naik mobil L300 dengan nopol BK 1116 GU. Lalu Dandim menginformasikan ke Danramil Lepung, Danramil kemudian memberi informasi ke Kapolsek," kata Kepala Dinas Penerangan Kodam Iskandar Muda Mayor CAJ Dudi Zulfadli dalam siaran pers, Jumat (12/3/2010).

Kelompok teroris itu sebelumnya naik L300 yang bergerak dari Lambaro
menuju Meulaboh. "Saat sweeping di dalam mobil L300 ditemukan 2 pucuk senjata AK 47," jelas Dudi.

Sweeping dilakukan sekitar pukul 10.00 WIB. Lalu kontak senjata pecah selama 1 jam, sejak pukul 10.40 WIB. Petugas terdiri dari Polsek Leupung, Polres Jantho Aceh Besar dan dibantu Koramil Leupung Kodim Aceh Besar.

"Saat itu 2 penumpang berupaya meloloskan diri sambil menembak
menggunakan pistol, sehingga terjadi kontak tembak. Sedangkan yang 8 orang terkurung di mobil L300," beber Dudi.

Kontak tembak itu terjadi di Desa Lamsenia, Leupung, Kabupaten Abes, atau 100 meter dari jembatan Polsek Leupung. "2 Orang tewas, salah satunya ditembak oleh anggota Koramil Leupung. Sedang 8 orang yang tertangkap dalam penanganan pihak Polda Aceh," tuturnya.

Adapun barang bukti yang disita yakni 2 pucuk AK 47, 3 pucuk M-16, 1 pucuk pistol Glock, dan ratusan butir peluru.

detikNews

Keamanan Perbatasan Diperketat Antisipasi Teroris

Aparat Kepolisian Resort (Polres) Aceh Jaya memperketat penjagaan di lintasan jalan Calang - Meulaboh untuk mengantisipasi munculnya kelompok teroris di Calang, kabupaten Aceh Jaya, Kamis (11/3). Pasca tewasnya tiga anggota Brimob, satu orang yang diduga anggota kelompok teroris dan dua warga sipil serta 11 anggota polisi mengalami luka tembak, aparat jajaran Polda Aceh memperketat penjagaan dan razia diseluruh wilayah Provinsi Aceh. (Foto: ANTARA/Irwansyah Putra/ed/nz/10)

12 Maret 2010, Jakarta -- Pemerintah RI memperketat pengamanan di seluruh wilayah perbatasannya, baik darat maupun laut, untuk mengantisipasi keluar masuknya teroris dari dan ke wilayah Indonesia.

"Sejak beberapa hari lalu, seluruh komando operasi, komando utama TNI di wilayah Indonesia telah memperketat penjagaan di seluruh wilayah perbatasan RI dengan negara lain, baik darat maupun laut," kata juru bicara TNI Marsekal Muda TNI Sagom Tamboen di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan, pengetatan pengamanan wilayah perbatasan darat dan laut itu akan terus dilakukan tanpa batas waktu mengingat kegiatan teroris juga tidak pernah mati.

"Pengetatan wilayah perbatasan darat dan laut itu selain dilakukan di perbatasan RI-Thailand, RI-Malaysia, dan RI-Filipina yang merupakan jalur tradisional keluar masuknya teroris dengan persenjataanya, juga dilakukan di beberapa jalur non tradisional yang dianggap rawan," kata Sagom.

Pencarian terhadap kelompok bersenjata masih terus dilakukan. Anggota Densus 88 Antiteror dan Brimob Polda NAD menyisir perbukitan di Desa Teladan, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar. Mereka juga berjaga-jaga di jalan keluar masuk Lembah Seulawah, di Aceh Besar hingga Kabupaten Pidie.

Pasca-penggerebekan Dulmatin dan kawan-kawan di Pamulang, Tangerang Selatan, jajaran Polda Banten memperketat pengawasan lokasi, seperti Pelabuhan Penyeberangan Merak di Kota Cilegon, ruas-ruas jalan, dan obyek vital lain. Pengawasan dilakukan dengan pola terbuka maupun tertutup.

Sementara jajaran Polda Metro Jaya menyilakan warga kota melakukan aktivitas seperti biasa, tetapi polisi melancarkan meningkatkan kewaspadaan. Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Boy Rafli Amar menyatakan pengamatan pintu-pintu masuk ke Jakarta juga ditingkatkan.

Secara terpisah, Kepala Detasemen Khusus 88 Polda Banten Ajun Komisaris Besar Ismail mengatakan, "Pengawasan dari dulu selalu ketat, jauh hari sebelum peristiwa Pamulang. Apalagi Banten merupakan penyangga Jakarta".

Peningkatan kewaspadaan pun dilakukan di Pelabuhan Penyeberangan Merak. "Di tempat penyeberangan pun kami meningkatkan kewaspadaan karena kami mendapat informasi kalau yang di Aceh ada yang belum tertangkap. Siapa tahu ada yang menyeberang," kata Ismail.

ANTARA News

Enam Kapal Jadi Target Teroris di Selat Malaka


11 Maret 2010, Jakarta -- Aksi terorisme tidak hanya menargetkan sasaran di darat dan di udara, di laut pun terutama di Selat Malaka, kelompok teroris ditengarai akan melakukan tindakannya. Paling tidak ada enam kapal yang akan menjadi sasaran terorisme akhir-akhir ini.

Menjawab pertanyaan pers, seusai dilantik sebagai Majelis Pembina Satuan Karya Pramuka di Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (11/3) siang; Kasal Laksamana TNI Agus Suhartono, SE mengakui hal itu.

Untuk menangkal tindak terorisme di perairan selat yang sangat ramai dilalui berbagai jenis kapal, TNI Angkatan Laut meningkatkan frekuensi patroli keamanan laut dengan mengerahkan tujuh kapal perang. Kehadiran TNI Angkatan Laut di laut dengan meningkatkan patroli punya daya tangkal terhadap rencana aksi terorisme itu, kata laksamana bintang empat kelahiran Blitar, Jawa Timur itu.

Sejak diperolehnya informasi adanya rencana aksi terorisme, keenam kapal itu terus dipantau oleh Angkatan Laut dari tiga negara pantai, yakni Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Dari keenam kapal itu, satu kapal, menurut Kasal telah masuk ke pelabuhan di Singapura.

Ditanya apakah TNI Angkatan Laut hanya khusus memantau keenam kapal tersebut, Laksamana TNI Agus Suhartono mengemukakan semua kapal yang melalui perairan Selat Malaka terus dipantau dan diamankan oleh TNI Angkatan Laut.

Menjawab pertanyaan apakah kapal-kapal yang harus diamankan itu dilakukan pengawalan oleh kapal perang, Kasal mengatakan tidak dilakukan pengawalan. Semua kapal diawasi agar aman, jelasnya.

Disinggung bahwa peningkatan patroli keamanan di perairan Selat Malaka terkait rencana kedatangan Presiden Barack Obama, Kasal mengemukakan patroli di Selat Malaka dilakukan secara rutin sepanjang tahun, termasuk patroli terkoordinasi dengan Singapura dan Malaysia.

PELITA

Thursday, March 11, 2010

TNI-Polri Antisipasi Serangan Teroris seperti di Mumbai

Kepala Kepolisian RI, Jenderal Bambang Hendarso Danuri (tengah) memeriksa pasukan elit dari TNI-Polri saat pembukaan latihan gabungan penanggulangan teror, di Silang Monas, Jakarta, Kamis (11/3). Sebanyak 3.559 personel TNI - Polri diturunkan untuk latihan bersama 11-13 Maret 2010 di sejumlah titik rawan teror di Jakarta, merupakan latihan yang kedua dengan nama sandi Waspada Nusa II. (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/mes/10)

11 Maret 2010, Jakarta -- Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia menggelar latihan gabungan penanggulangan teroris untuk mengantisipasi serangan teror seperti di Mumbai, India, pada 26-27 November 2008 lalu. Dalam serangan teror yang dilakukan di sebelas lokasi itu, sekitar 125 orang terbunuh dan lebih dari 300 orang terluka.

Alasan inilah yang mendorong TNI dan Kepolisian mengerahkan seluruh kekuatan dan latihan bersama penanggulangan teror setiap tahun. “Jadi, kalau ada serangan teroris dalam jumlah lokasi yang banyak, kami sudah siap menghadapinya,” kata Panglima TNI, seusai pembukaan latihan gabungan dengan kepolisian, di Lapangan Silang Monumen Nasional, Kamis (11/3).

Dalam penggerebakan teroris di Aceh dan Pamulang, tim Datasemen Khusus 88 Markas Besar Polri menemukan barang bukti sejumlah amunisi, bahan kimia, dan alat pengendali bom jarak jauh. Sedangkan barang bukti berupa bahan peledak belum ditemukan. Namun, kepolisian belum menyatakan adanya perubahan pola serangan teroris dari bom bunuh diri menjadi serangan langsung atau penyenderaan seperti di Mumbai, India.

Pada pembukaan latihan gabungan penanggulangan teror, Kepala Kepolisian Jenderal Bambang Hendarso Danuri menyatakan latihan itu untuk menyelaraskan serangkaian penanganan menghadapi teror. “Sehingga kapan saja, kami bisa menghadapi suatu situasi yang mendadak,” kata Bambang.

Kepala Kepolisian RI, Jenderal Bambang Hendarso Danuri (tengah) menyematkan tanda pengenal kepada pasukan elit dari TNI-Polri saat pembukaan latihan gabungan penanggulangan teror, di Silang Monas, Jakarta, Kamis (11/3). (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/mes/10)


Pasukan elit dari satuan TNI dan Kepolisian RI mengikuti upacara pembukaan latihan gabungan penanggulangan teror. (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/mes/10)

Seorang anggota pasukan elit dari satuan TNI memeriksa senjata. (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/mes/10)

Pasukan elit dari satuan TNI dan Kepolisian RI bersiap mengikuti upacara pembukaan latihan gabungan penanggulangan teror. (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/mes/10)

Dia membantah anggapan bahwa latihan ini dikhususkan sebagai persiapan menyambut kedatangan Presiden Barack Obama ke Indonesia. “Tidak hanya berkaitan dengan Obama saja,” ujarnya, "Ini pergelaran kegiatan TNI dan Polri."

Rencananya, latihan gabungan akan dilakukan pada Sabtu (13/3) mendatang di Hotel Borobudur, Bursa Efek Jakarta, Bandara Soekarno-Hatta, dan lokasi pengeboran minyak di Kepulauan Seribu.

TEMPO Interaktif

Target Baru di Selat Malaka


11 Maret 2010 -- Setelah agak lama mereda dan terlupakan pasca- tewasnya Noordin M Top, isu terorisme kembali menyeruak. Penggerebekan dan penangkapan teroris di Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam, dan Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, membuat banyak kalangan terkejut.

Jika teroris di Aceh disebut- sebut didukung dengan logistik dan persenjataan canggih yang signifikan, kelompok Pamulang-lah yang berperan memasok senjata dan juga dukungan dana itu. Dalam peristiwa di Pamulang, gembong teroris jebolan Afganistan, Dulmatin, dinyatakan tewas.

Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Ansya’ad Mbai menilai, keberadaan kelompok teroris, baik di Aceh maupun Pamulang, terkait target baru yang jauh lebih besar di Selat Malaka. Berikut petikan perbincangan Kompas dengan Ansya’ad, Selasa (9/3).

Kelompok teroris mana yang bermain sekarang ini?

Jangan kita terkecoh dengan pengelompokan seperti itu, apalagi setelah kelompok Jemaah Islamiyah (JI) sendiri kan sudah pecah sejak lama. Siapa saja dari JI bisa merekrut orang baru dan membentuk kelompok sendiri. Apalagi mereka sama-sama berbahaya dan memiliki kemampuan teror sama.

Kenapa memilih Aceh?

Kelompok teroris memang biasa memilih daerah konflik atau bekas konflik menjadi basis kegiatan. Dahulu di Poso, sekarang Aceh. Alasannya, mereka bisa dengan mudah mendapat pasokan senjata dan orang untuk direkrut. Apalagi ruang gerak mereka di Jawa sudah semakin terbatas.


Ada target lainnya?

Ya, saya juga memperkirakan ada kemungkinan target yang jauh lebih besar lagi. Misalnya, untuk masuk dan melakukan aksi teror di kawasan penting seperti Selat Malaka yang memang menjadi jalur perdagangan laut internasional yang sangat penting. Seperti kita tahu, sejak Amerika Serikat menyerang Irak, teroris banyak menyasar dan menyerang instalasi minyak. Dari situ, sejak lama dunia mengkhawatirkan kawasan Selat Malaka bakal menjadi target teror baru.

Tidak heran banyak negara maju, seperti AS dan Jepang, menyatakan diri ingin terlibat dalam pengamanan di Selat Malaka. Namun, hal itu ditolak tiga negara pantai, seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Sudah positifkah Selat Malaka bakal jadi target baru?

Saya tidak tahu, apakah para teroris yang ditangkap sekarang itu dengan sadar memilih Aceh. Yang saya lihat, boleh jadi mereka sampai sekarang masih belum mengerti arah skenario besar tadi (target Selat Malaka).

Tapi, harus diingat juga, kelompok (teroris) mana pun di sini kan memang punya hubungan dengan jaringan teroris internasional Al Qaeda. Mereka (yang di Aceh) mungkin hanya berperan menyiapkan infrastruktur dan sarana pendukung terhadap rencana besar tadi.

Selama ini kan dunia internasional khawatir Selat Malaka bakal dijadikan sasaran berikut karena setiap hari di sepanjang perairan ini banyak kapal lalu lalang, termasuk kapal bertonase besar (very large vessel) pengangkut minyak atau bahan kimia lain yang bisa dijadikan senjata pemusnah massal.

Skenario serangan yang mungkin, teroris bekerja sama dengan perompak, membajak kapal-kapal tanker tadi. Setelah itu, ada dua kemungkinan pola serangan. Pertama, membawa kapal tanker tadi untuk kemudian ditabrakkan (diledakkan) di pelabuhan internasional macam Singapura. Atau, skenario kedua, kapal tanker diledakkan dan ditenggelamkan di titik tersempit perairan Selat Malaka.

Kementerian Pertahanan sebelumnya menginstruksikan TNI agar meningkatkan pengamanan Selat Malaka menyusul laporan intelijen Angkatan Laut Singapura, tanggapan Anda?

Ya, warning itu memang ada. Namun, saya lihat, instruksi Menhan tidak mereaksi peringatan tadi. Kekhawatiran Singapura kan memang sejak lama karena di sana memang ada aktivitas perompakan. Khawatirnya, perompak bekerja sama dengan teroris.

KOMPAS

Wednesday, March 10, 2010

Polda Riau Kerahkan Densus 88 di Perbatasan

Aparat Kepolisian Polda Aceh menyisir kawasan pegunungan untuk memburu kelompok teroris di desa Teladan Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (9/3). Dalam penyisiran tersebut aparat kepolisian menemukan satu tas ransel yang berisi pakaian, jas hujan, air mineral, kain surban dan satu Al-Quran kecil di desa Teladan yang diduga milik kelompok radikal itu. (Foto: ANTARA/Irwansyah Putra/ss/ama/10)

10 Maret 2010, Pekanbaru -- Kepolisian Daerah (Polda) Riau menurunkan tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror ke wilayah perbatasan untuk mengantisipasi kemungkinan masuknya pelarian teroris dari Aceh ke provinsi itu.

"Kami telah menurunkan Densus 88 untuk mengawasi wilayah perbatasan Riau dan mengantisipasi berbagai kemungkinan terkait pengungkapan teroris di Aceh," ujar Kabid Humas Polda Riau AKBP Zulkifli di Pekanbaru, Rabu (10/3/2010).

Menurut dia, tim dari kepolisian yang dikhususkan memburu para teroris itu telah diterjunkan ke wilayah perbatasan Riau sejak sepekan yang lalu. Polda Riau juga meningkatkan patroli keamanan laut yang berkoordinasi dengan pihak terkait di wilayah perairan Selat Malaka sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan negeri jiran Malaysia.

Jajaran Polres yang berada di bawah Polda Riau juga dinstruksikan meningkatkan patroli rutin di wilayah darat dan tanggap dengan informasi dari warga setempat jika ada aktivitas mencurigakan. "Berbagai langkah antisipasi itu telah kita lakukan dan kami megimbau warga untuk berpartisipasi aktif jika ada aktivitas para pendatang yang mencurigakan di sekitar tempat tinggal mereka," ujarnya.

Hingga kini tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri terus melakukan pengejaran terhadap sedikitnya 30 orang yang diduga teribat dalam gerakan terorisme di Nangroe Aceh Darussalam. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa aktivitas terorisme yang terjadi di Bumi Serambi Mekah itu bukan berasal dari unsur Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

KOMPAS.com

Latihan Menangkap Teroris Kapal Tanker

Sejumlah personel TNI dan Polri melakukan latihan gabungan terpadu penanggulangan teror di Markas Komando Brimob Mabes Polri, Depok, Jawa Barat, Selasa (9/3). Latihan gabungan terpadu antara TNI dan Polri itu digelar untuk menanggulangi teror serta meningkatkan profesionalisme dalam menghadapi setiap bentuk serangan teroris yang berpotensi mengganggu stabilitas nasional. (Foto: KOMPAS/Alif Ichwan)

10 Maret 2010, Jakarta -- Latihan menghadapi teroris dilakukan di perairan Teluk Jakarta, Selasa (9/3) pagi. Empat dari 10 teroris yang membajak kapal tanker tewas ditembak petugas keamanan.

Mereka tewas setelah baku tembak teroris dengan petugas pengaman pelabuhan yang terdiri dari Polres Pelabuhan, Kesatuan Pengaman Laut dan Pantai (KPLP) Administrasi Pelabuhan, serta Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut.

Selain menewaskan empat orang, petugas juga berhasil melukai dua lainnya dan empat orang lainnya dibekuk. Keberhasilan petugas segera disambut tepuk tangan para hadirin ruang VIP Terminal Pelabuhan Tanjung Priok. Hadirin menilai dari latihan itu terlihat petugas siap menghadapi teroris yang bisa setiap saat mengganggu keamanan Indonesia.

Peringatan

Latihan itu bukan sekadar unjuk kekuatan. Apalagi Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Pertahanan Brigjen I Wayan Midhio membenarkan adanya instruksi dari Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro beberapa waktu lalu ke Markas Besar TNI agar meningkatkan patroli pengamanan Selat Malaka, berkoordinasi dengan dua negara pesisir lain, Malaysia dan Singapura. Patroli pengamanan itu terkait peringatan dari pihak intelijen Angkatan Laut Singapura soal kemungkinan peningkatan aktivitas teroris, terutama di kawasan Aceh.

Soal kemungkinan adanya keterkaitan erat antara keberadaan para teroris di Aceh dan kemungkinan serangan teroris di kawasan Selat Malaka, Wayan mengaku belum berani memastikan walau membenarkan hal seperti itu bisa saja terjadi.

”Biasanya sebelum menjalankan aksi teror yang lebih besar, teroris itu akan terlebih dahulu mengumpulkan dana untuk membiayai aksi mereka. Boleh jadi caranya dengan membajak atau merompak dan lain sebagainya. Nanti mungkin saja ketika dana telah terkumpul, mereka lalu melakukan kegiatan teror yang jauh lebih menghebohkan,” ujar Wayan.

Lebih lanjut Wayan memaparkan, informasi intelijen dari pihak Singapura menyebutkan soal adanya aktivitas teroris yang berencana membajak kapal tanker pengangkut minyak di kawasan Selat Malaka. Modus serupa terjadi di perairan Somalia, Afrika. Namun, tambahnya, informasi intelijen dari Singapura itu tidak menyebutkan secara rinci soal kelompok teroris mana yang bermain di Aceh.

Terluka

Latihan penanggulangan teroris juga digelar di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Hanya saja dalam latihan ini, seorang anggota Brimob mengalami kecelakaan. Tubuhnya meluncur tak terkendali saat turun dengan tali dari helikopter dalam latihan bersama dengan TNI AD di gedung BEI, Jakarta Selatan.

Tubuh Brigadir Satu Dedi Suhendar, anggota khusus pasukan Brimob Kelapa Dua Depok, tersebut langsung menghujam ke tanah lapangan.

Para anggota Brimob lain dan petugas kesehatan yang bersiap di tepi lapangan langsung mengangkat tubuh Dedi ke dalam ambulans lalu membawanya pergi untuk mendapat pertolongan.

Sampai Selasa sore, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jendral Edward Aritonang menyatakan belum mendapat laporan soal kecelakaan itu. Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Sulistyo Ishak hanya berucap pendek. ”Yang latihan tadi hanya dari Polri, kondisi anggota yang kecelakaan belum diketahui,” ujarnya.

Kecelakaan itu berawal saat sejumlah anggota Brimob Kelapa Dua latihan bersama menangani teroris dengan anggota TNI AD. Pada bagian pertama latihan, yakni penyerangan teroris di Hotel Borobudur, berjalan lancar. Akan tetapi, pada bagian latihan kedua yang menggambarkan upaya menangkal serangan teroris ke gedung BEI, kecelakaan terjadi.

Dalam skenario disebutkan, untuk menangkap teroris yang berada di gedung BEI, diturunkan pasukan Polri dan TNI lewat jalur udara. Maka meluncurlah helikopter mendekati lapangan yang dijadikan sasaran teroris. Dari ketinggian sekitar 50 meter, dua anggota, salah satu di antaranya Briptu Dedi dan seorang anggota TNI, meluncur turun dari helikopter dengan seutas tali.

Kedua latihan itu merupakan persiapan menuju latihan bersama anggota TNI untuk mengamankan kedatangan Presiden Barack Obama ke Jakarta akhir bulan ini. Latihan bersama akan digelar pada 11-13 Maret di Polda Metro Jaya.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Boy Rafli Amri menyatakan, pengamanan juga dilakukan dengan menggelar Operasi Aman Nusa VII tahun 2010. ”Operasi akan terus digelar hingga tiga hari setelah Obama meninggalkan Jakarta,” kata Boy.

KOMPAS

Keberadaan Teroris di Aceh untuk Siapkan Skenario Teror Besar Baru

Aparat Kepolisisan mengamati barang bukti berupa senjata dan peluru yang diduga milik kelompok teroris di kawasan Padang Tiji Kabupaten Pidie, Minggu (7/3). Selain menewaskan tiga personil Brimob dan satu teroris, aparat kepolisian juga mengamankan satu pucuk senjata M16, lima megazen 23 butir peluru M16 dan 31 peluru senjata AK-47. (Foto: ANTARA/Irwansyah Putra/ss/ama/10)

09 Maret 2010, Jakarta -- Keberadaan dan aktivitas para teroris di Aceh Besar, Aceh, diyakini memang bisa menjadi bagian dari persiapan skenario serangan besar baru jaringan teroris internasional dengan sasaran kawasan perairan Selat Malaka. Jaringan itu bisa saja Jamaah Islamiyah dan Al Qaeda.

Walaupun demikian, Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Ansya’ad Mbai menambahkan, para teroris yang ada di sana boleh jadi saat ini masih belum mengerti arah skenario besar tersebut karena mereka hanya berperan mempersiapkan infrastruktur dan sarana pendukung rencana itu.

Hal itu disampaikan Ansya’ad, Selasa (9/3/2010), saat ditemui Kompas di ruangannya. Menurutnya, para teroris memang selalu punya pemikiran dan cara kerja yang jauh lebih maju dari orang kebanyakan dan aparat keamanan. Mereka selalu memiliki cara yang mengejutkan dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya untuk menyerang target-target potensial mereka. Target mereka selalu berkembang dan tidak pernah statis.

“Selama ini kan dunia internasional khawatir, kawasan Selat Malaka bakal dijadikan sasaran berikutnya. Di sepanjang perairan ini ada banyak kapal, termasuk kapal bertonase besar (very large vessel) pengangkut minyak yang lalu lalang di sana. Skenario serangan yang mungkin, mereka bekerja sama dengan para perompak untuk membajak kapal-kapal tanker itu,” ujar Ansya’ad.


Anggota Brimob menelusuri lembah saat penyisiran di tengah hutan Desa Cot Seratus, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (9/3). Aparat Brimob terus memperluas penyisiran untuk memburu kelompok teroris yang diperkirakan masih tersisa sekitar 30 orang pasca kontak tembak di desa Lamkabeu, kecamatan Seulimum, Aceh Besar. (Foto: ANTARA/Ampelsa/ed/ama/10)

Setelah dibajak, ada dua kemungkinan pola serangan yang bisa dilakukan. Pertama, dengan membajak dan membawa kapal tanker pengangkut minyak tadi untuk ditabrakkan dan diledakkan ke pelabuhan-pelabuhan internasional macam Singapura. Adapun skenario kedua, kapal tanker diledakkan dan ditenggelamkan di titik tersempit perairan Selat Malaka.

Seperti diketahui, Selat Malaka adalah kawasan perairan tersibuk dan terpenting di dunia, dengan sedikitnya 38 persen dari total perdagangan dunia diangkut dengan kapal laut melalui perairan itu. Sejumlah negara berpengaruh, seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, menggantungkan pasokan energi mereka dari kawasan Timur Tengah, yang dibawa melewati kawasan Selat Malaka.

“Selain minyak, kapal-kapal pengangkut bahan kimia yang bisa dijadikan senjata pemusnah massal pun rawan mereka bajak. Sekali saja serangan berhasil, hal itu akan menciptakan kondisi kekacauan luar biasa di kawasan perairan itu yang bakal berdampak panjang. Bahkan, jalur itu bisa ditutup. Makanya, negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat telah memberi bantuan kapal patroli dan kapal cepat,” ujar Ansya’ad.

SURYA Online

Selat Malaka Masih Aman dari Perompak


09 Maret 2010, Jakarta -- Markas Besar TNI menyatakan situasi di Selat Malaka saat ini masih aman dari aksi perombakan. Penegasan itu disampaikan menyusul peringatan dari Angkatan Laut Singapura mengenai ancaman perompak di Selat Malaka, pekan lalu.

"Sampai sekarang belum ada penangkapan di Selat Malaka, kondisinya masih aman,” kata juru bicara TNI, Marsekal Muda Sagom Tamboen, saat dihubungi Tempo, Selasa (9/3). Menurut dia, petugas patroli belum menemukan kapal yang mencurigakan di jalur laut padat aktivitas itu.

Patroli di Selat Malaka, Sagom melanjutkan, merupakan kegiatan rutin TNI AL. Operasi bersama Malaca Straits Sea Patrols (MSSP) antara TNI AL, Malaysia, Singapura, dan Thailand, juga sudah dilakukan sejak lama. “Tapi, karena kami mendapat peringatan dari Angkatan Laut Singapura, maka patroli itu diintensifkan,” katanya.

TNI AL mendapat peringatan ihwal ancaman perompak di Selat Malaka dari AL Singapura pada 1 Maret lalu. Menurut Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat TNI AL, Laksamana Muda TNI Marsetio, peringatan itu mengindikasikan akan adanya perompakan yang mengancam kapal di Selat Malaka.

TEMPO Interaktif

Senjata Teroris Aceh Dipasok Lewat Laut

Gubernur Nanggroe Aceh Darusallam (NAD), Irwandi Yusuf (kiri) memaparkan keterangan seputar penangkapan teroris di Aceh, Jakarta, Selasa (9/3). Gubernur Nangroe Aceh Darusallam, Irwandi Yusuf (kedua kiri), didampingi (dari ki-ka) fasilitator, Elfian Effendi, Ketua Partai Aceh, Muzakir Manaf, serta Ketua Bid.Ekonomi Partai Aceh, Teuku Irsyadi memaparkan keterangan seputar penangkapan teroris di Aceh, Jakarta, Selasa (9/3). Irwandi menegaskan bahwa keberadaaan teroris di Aceh tidak ada kaitannya dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan bertekad mengusut tuntas kasus penangkapan tersebut bersama Kepolisian RI. (Foto: ANTARA/Yudhi Mahatma/hp/10)

09 Maret 2010, Jakarta -- Senjata yang digunakan teroris untuk berlatih di hutan Aceh Besar diperkirakan masuk dari jalur laut. Pasalnya, Aceh memiliki garis pantai yang panjang, sehingga tak bisa seluruh titik terawasi.

Hal itu disampaikan oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf kepada wartawan di Jakarta Selasa (9/3). "Aceh punya pantai sepanjang 1.800 km, dimana saja ada titik lemahnya yang tidak mungkin dikawal. Jadi, senjata bisa masuk tapi tidak bebas," ujarnya.

Ia memperkirakan senjata yang dimiliki teroris sekitar 27 unit. Pada saat penggerebekan, aparat mempertunjukan ada ratusan amunisi, senjata jenis AK 47 dan senapan jenis M16. Ia menyebut ada lima pucuk senjata yang sudah dirampas oleh aparat.

"Kira-kira mereka punya senjata di sana ada 27 unit. Yang jatuh ke tangan aparat lima pucuk," sambungnya.

Kejadian tersebut, menurutnya, dikhawatirkan mengganggu investasi Aceh. Meski saat ini tidak ada yang menarik investasinya, ia berpendapat investor yang baru akan masuk akan mempertimbangkan untuk menanamkan uangnya di Aceh. Hal itu tentu sangat berbahaya bagi Aceh.

"Sudah pasti terganggu karena siapapun investornya pasti merasa khawatir ngapain bawa modal ke Aceh dan bawa nyawa sekalian. Jadi, sangat berbahaya untuk Aceh," cetusnya.

Irwandi Tuding "Sampah Pulau Jawa" Dibuang ke Aceh

Aparat Kepolisian Polda Aceh menyisir kawasan pegunungan untuk memburu kelompok teroris di desa Teladan Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (9/3). Dalam penyisiran tersebut aparat kepolisian menemukan satu tas ransel yang berisi pakaian, jas hujan, air mineral, kain surban dan satu Al-Quran kecil di desa Teladan yang diduga milik kelompok radikal itu. (Foto: ANTARA/Irwansyah Putra/ss/ama/10)

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menegaskan bahwa gerakan terorisme yang berada di Kabupaten Lamkabeu, Aceh Besar bukan orisinil buatan rakyat Aceh. Ia menuding sampah dari Pulau Jawa yang menggerakkan aktivitas itu.

Pernyataannya disampaikan kepada wartawan dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (9/3). "Kalau gerakan itu bukan gerakan orisinil. Ini barang impor, sampah-sampah dari Pulau Jawa dibuang ke Aceh. Oleh karena itu, saya minta kepada kapolri untuk bersihkan sampah-sampah dari tempat lain yang ada di Aceh," kata Irwandi.

Ia enggan merinci pihak mana saja yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia menyerahkan penjelasan rinci kepada kapolri. Namun, ia menyebutkan ada anggota teroris yang merupakan alumnus Mindanao berdasarkan pengakuan dari teroris yang tertangkap.

"Yang saya tahu, anggota mereka ada yang alumnus Mindanao. Saya sudah mengantongi beberapa nama, tapi tidak bisa saya sebutkan. Ini porsi kapolri untuk menjelaskan," tukasnya.

Ia menyatakan ada sekitar lima puluh orang yang ikut dalam pelatihan tersebut. Delapan orang diantaranya berasal dari Aceh, tapi bukan berarti hal itu menjadi bukti bahwa masyarakat Aceh mudah menerima infiltrasi luar. "Seandainya masyarakat Aceh terima mereka, masalah ini tidak bocor," cetusnya.

Tentang atribut militer yang ditemukan aparat, ia menyatakan bahwa ada atribut militer Malaysia dan atribut militer Indonesia. Itu tidak berarti bahwa tentara Malaysia dan TNI terlibat karena atribut bisa dibeli dimanapun. Atribut yang ditemukan pun campuran, terdiri dari warna hijau loreng, hijau polos dan hitam dan ia menegaskan bahwa temuan itu tidak ada hubungannya dengan keterlibatan militer.

Ia juga menanggapi kemungkinan penggelaran operasi militer kembali di Aceh, terlebih setelah operasi itu memakan korban tiga polisi tewas. Ia menilai hal itu bukan sebagai alasan yang cukup karena kepolisian tidak mengerahkan kekuatan sepenuhnya, melainkan hanya Densus 88 dan brimob sebagai pendukung.

"Jadi, secara militer, ini kasus kecil. Tapi, karena bawa teroris jadi besar dan di pihak GAM, seperti saya katakan tadi, pihak GAM bahu membahu dengan aparat kepolisian menangani masalah ini. Dan dari awal informasi yang masuk ke saya dari mantan GAM," tukasnya.

MEDIA INDONESIA

Tuesday, March 9, 2010

Ransel Kelompok Bersenjata Ditemukan di Aceh

Anggota brimob memeriksa ransel berisi baju, kitab dan peralatan lainnya diduga milik kelompok teroris usai ditemukan aparat dalam operasi di desa Teladan, Kecamatan Seulimum, Kabuparen Aceh Besar, Selasa (9/3). Aparat polisi terus melakukan operasi di sejumlah titik pegunungan Aceh Besar pasca tertangkapnya 14 anggota teroris minggu lalu. (Foto: ANTARA/Ampelsa/ed/hp/10)

09 Maret 2010, Aceh Besar -- Aparat kepolisian kembali menemukan sebuah ransel yang diduga milik kelompok bersenjata di gampong (desa) Teuladan Kecamatan Seulimum Kabupaten Aceh Besar, Selasa.

Berdasarkan amatan wartawan ANTARA News di lokasi, ransel tersebut berisi berapa helai pakaian, satu botol mineral, satu Al-Quran kecil dan satu senter.

Ransel berwarna merah hitam itu ditemukan sekitar pukul 10.00 WIB saat pasukan Brimob yang sudah beberapa hari mengendap di desa itu menyisir ke hutan.

Sesaat setelah berhasil ditemukan ransel tersebut, pasukan Brimob dan Densus 88 Antiteror melakukan penyisiran di kawasan hutan tempat ditemukan ransel.

Terlihat sejumlah pekerja berasal dari Jawa ditanyai dan diminta memperlihatkan identitasnya.

Penyisiran tersebut masih terkait dengan upaya pengejaran kelompok bersenjata yang berada di Kemukiman Lamkabeu Kecamatan Seulimum Kabupaten Aceh Besar.

Anggota brimob membawa ransel berisi baju, kitab dan peralatan lainnya diduga milik kelompok teroris. (Foto: ANTARA/Ampelsa/ed/hp/10)Kelompok yang diduga terkait dengan kelompok Jalin di Kecamatan Jantho Kabupaten Aceh Besar itu diperkirakan telah melarikan diri ke kawasan hutan di Aceh Besar.

Pasukan Brimob dan Densus 88 anti teror mengepung kemukiman Lamkabeu sejak Selasa (2/3) dan sempat terjadi kontak senjata di kawasan itu yang melukai sebelas Brimob dan tiga meninggal dunia.

Aparat kepolisian sebelumnya pada Minggu (7/3) mengamankan satu tas ransel berisi senjata jenis M16 beserta lima magazin dan ratusan butir amunisi di Kecamatan Padang Tiji Kabupaten Pidie.

Penemuan ransel tersebut diduga dibuang kelompok bersenjata yang melarikan diri saat razia kendaraan umum di kawasan itu pada Rabu (3/3) lalu.

Ransel bersama senjata diamankan di Polsek Padang Tiji sedangkan ransel yang ditemukan di gampong Teuladan yang merupakan tetangga Kemukiman Lamkabeu diamankan di Polres Aceh Besar di Jantho Densus 88.

ANTARA News

Baku Tembak Teroris di Pamulang, Satu Tewas

Ruko yang digerebek Densus 88. (Foto: detikFoto/Didi Syafirdi)

09 Maret 2010, Pamulang -- Baku tembak antara aparat kepolisian dan kelompok yang diduga teroris kembali terjadi di sebuah ruko Siliwangi di Jalan Beringin, dekat kedai Multi Plus Puri Pamulang, Pamulang Square, Kelurahan Benda, Pamulang Barat, Jakarta.

“Mati satu,” kata sumber Persda Network di Jakarta, Selasa (9/3/2010) siang. Namun, belum jelas dari pihak mana satu korban tewas tersebut. Kelompok teroris tersebut diketahui bersenjata lengkap.

Saat berita ini diturunkan, korban tewas sudah dimasukkan ke dalam mobil ambulans. Namun, belum diperoleh keterangan lanjutan mengenai penyergapan ini. Disebutkan pula, dua orang ditangkap hidup-hidup dalam operasi ini. Sementara pengepungan di lokasi sampai saat ini masih terjadi.

Tiga Kali Tembakan, Teroris Itu Pun Tewas

Jenazah teroris tersebut dikeluarkan dari ruko dengan dibungkus kantong mayat warna oranye. (Foto: detikFoto/Dikhy Sasra)

Penggerebekan seorang teroris di warnet Multiplus sebuah ruko di Pamulang Barat berlangsung sangat singkat. Tak ada rentetan tembakan untuk melumpuhkan teroris yang disebut Mabes Polri merupakan orang yang memiliki nama besar itu.

"Hanya tiga kali tembakan," sebut penjaga warnet Multiplus, Sidik Ramadan, usai penggerebekan, Selasa (9/3/2010).

Sidik menuturkan tersangka teroris itu memakai jasa internetnya sejak pukul 10.00 WIB. Pada pukul 11.00 WIB, salah seorang pria berpakaian biasa masuk, namun kemudian keluar lagi.

Diduga, pria ini merupakan anggota Densus 88 yang mengecek keberadaan teroris yang diincarnya itu. Tak lama berselang, sekira 15 personel anggota Densus 88 langsung memasuki warnet berlantai dua tersebut.

"Baku tembak langsung terjadi di lantai dua. Bahkan, para pengunjung tidak disuruh keluar terlebih dahulu," tutur pemilik warnet, Linda.

Densus 88 pun mencurigai satu orang pelanggan internet lainnya. Setelah diinterogasi, kemudian dilepaskan oleh oleh polisi. "Dia hanya pengunjung biasa, istrinya lagi nyalon," tutur Sidik lagi.

SURYA/okezone

Monday, March 8, 2010

Polri, Mintalah Bantuan ke TNI

Brimob dari Mabes Polri melakukan pergantian dengan pasukan Brimob sebelumnya, sebelum melakukan operasi pengepungan lanjutan terhadap kelompok radikal di kawasan hutan Desa Lam Kabeue, Aceh Besar, Jumat (5/3/2010). (Foto: Serambi/M. Anshar)

08 Maret 2010, Jakarta -- Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Fayakhun Andriadi, mengingatkan pihak Mabes Polri, agar tak bertindak sendiri dalam pemberantasan terorisme.

Di banyak negara lain pun, pasukan anti teroris yang andal itu kan ada di kesatuan militernya.

"Minta bantuanlah ke TNI, karena mereka lebih berpengalaman melakukan aksi-aksi militer dalam medan apa pun, termasuk medan hutan sebagaimana di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD)," katanya, di Jakarta, Senin (8/3/2010).

Ia mengatakan itu menanggapi pernyataan pihak Polri yang mengungkapkan, gugurnya tiga polisi dalam operasi pemberantasan teroris di hutan NAD, karena pihaknya belum berpengalaman menghadapi medan tempur hutan.

"Di banyak negara lain pun, pasukan anti teroris yang andal itu kan ada di kesatuan militernya. Makanya, perlu ada kerjasama atau permintaan bantuan dari TNI," tandasnya.

Gugurnya lima anggota Polri (dua Densus dan tiga Brimob) di NAD, dengan alasan kurangnya pengalaman menghadapi medan tempur hutan, sangat amat disesalkan.

"Karenanya, sekali lagi kami dari Komisi I DPR RI mendesak Polri segeralah minta bantuan pihak TNI yang punya berjuta pengalaman menghadapi medan apa pun di Indonesia," katanya.

Fayakhun Andriadi juga mengharapkan, ke depan, tidak ada lagi alasan yang dicari-cari untuk menjelaskan ketidakmampuan aparat atau kegagalan tertentu dalam pemberantasan terorisme.

Polri Yakin Tangani Teroris Aceh Tanpa TNI

Polisi beristirahat selama operasi memburu teroris di Aceh, Minggu (7/3). (Foto: AFP/Suparta)

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menegaskan, Polri yakin dapat memberantas kelompok teroris di Aceh tanpa turut campur Tentara Nasional Indonesia (TNI), meskipun tiga orang polisi telah tewas saat penggerebekan.

"Tidak. Tidak ada. Karena ini sepenuhnya akan ditangani kepolisian. Karena ini penegakan hukum," ucap Kapolri di Jakarta, Senin ( 8/3/2010 ), ketika ditanya apakah akan melibatkan TNI dalam penanganan di Aceh.

Kapolri menjelaskan, pihaknya telah mengirimkan personil tambahan sebanyak satu satuan setingkat kompi ke Aceh untuk membantu personil di sana. Pihaknya masih memburu puluhan anggota teroris lain yang identitasnya telah diketahui. "Namanya sudah ada semua. Itu dalam pengejaran kita," ucapnya.

Kapolri membantah ketika ditanya apakah benar saat penggerebekan di pengunungan di Lamkabeu, Aceh Besar, petugas tidak mengenakan rompi dan helm anti peluru seperti yang diberitakan. "Tidak. Tidak," tegas Kapolri. Petugas kekurangan logistik peluru? "Semua sudah mencukupi. Tapi kembali ke masalah medan," tambahnya.

Seperti diberitakan, tiga anggota tewas saat penggerebekan di pengunungan di Lamkabeu. Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Edward Aritonang, petugas di lapangan kurang menguasai medan. Selain itu, kelompok teroris dilengkapi persenjataan yang cukup bagus serta berada di ketinggian.

KOMPAS.com

Soal Koordinasi TNI, Polri Tunggu Perkembangan Operasi di Aceh

Salah seorang anggota brimob melambaikan tangan saat meninggalkan Desa Lamkebeu, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar, Sabtu (6/3). Pasukan brimob dan densus 88 kini mulai meninggalkan lokasi pegunungan Seulimum yang dikepung selama tiga hari pindah ke wilayah yang dicurigai sarang teroris. Hingga kini dilaporkan dua pasukan brimob meninggal dan lima dari sepuluh yang terluka pasca kontak tembak dengan teroris sudah meninggalkan rumah sakit. (Foto: ANTARA/Ampelsa/pd/10)

08 Maret 2010, Jakarta -- Kepolisian RI belum merasa perlu untuk meminta bantuan dari Tentara Nasional Indonesia dalam memburu kelompok bersenjata di Aceh Besar. Menurut wakil juru bicara Mabes Polri Brigadir Jenderal Sulistyo Ishak, polisi masih menunggu perkembangan operasi yang dilakukan tim Datasemen Khusus Antiteror 88 di sana.

"Kami tunggu laporan dari daerah, dari evaluasi itu akan ditentukan apakah perlu menambah personil atau perlu berkoordinasi dengan TNI,” kata Sulistyo saat dihubungi Tempo, Senin (8/3). Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan TNI Marsekal Madya Sagom Tamboen menyatakan bahwa TNI siap membantu asal ada permintaan dari Markas Besar Kepolisian.

Dari hasil perburuan yang dilakukan sejak dua pekan lalu itu, kini polisi telah membekuk 19 anggota kelompok bersenjata tersebut. Dari jumlah itu, 16 orang ditangkap dan tiga orang tewas. Kelompok bersenjata ini diduga punya kaitan dengan jaringan Noor Din M Top, yang berafiliasi dengan Abu Sayab di Filipina.

TEMPO Interaktif

3 Polisi Tewas di Aceh, Ini Jawaban Kapolri

Salah satu korban meninggal dari pihak kepolisian adalah Brigade Hendrik Kusumo. Tampak warga serta sahabat almarhum memberikan penghormatan ketika jenazah korban dibawa pada 6 Maret lalu. (Foto: AFP/Suparta)

08 Maret 2010, Jakarta -- Tiga anggota polisi tewas saat melakukan penggerebekan teroris di Nanggroe Aceh Darussalam. Kapolri membantah peralatan dan perlengkapan tim yang mengepung sarang teroris itu tidak memadai.

"Semua sudah mencukupi, tapi kembali ke masalah medan," kata Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri di Jakarta, Senin 8 Maret 2010.

Dalam penggerebekan ini, tiga anggota polisi tewas. Dari tiga anggota polisi yang tewas, dua diantaranya yaitu Bripda Darmansyah dan Bripda Henri Kusumo, merupakan anggota Brimob Polda Aceh.

Satu korban tewas lainnya yaitu Briptu Boas Waosir berasal dari Densus 88. Ketiga polisi itu tewas saat penggerebekan di Lamkabeu, Aceh Besar pada Kamis 4 Maret malam.

Bambang Hendarso mengatakan, Polri telah mengirimkan satu Satuan Setingkat Kompi (SSK) untuk membantu operasi penggerebekan ini. Polri juga tidak meminta bantuan TNI dalam operasi penggerebekan ini.

"Ini sepenuhnya akan ditangani kepolisian. Karena ini penegakkan hukum," kata dia.

Jawaban Kapolri itu membantah isu yang beredar bahwa tidak semua anggota polisi yang melakukan penggerebekan menggunakan perlatan yang standar. Selain itu, informasi juga menyebut persediaan amunisi di lapangan sangat terbatas.

Mengapa Boas Tewas?

Sementara 3 aparat kepolisian meninggal dunia dalam oprasi ini. Tampak 2 ambulans membawa jenazah polisi yang tewas di Aceh Besar, 6 Maret lalu. (Foto: Reuters/Stringer)

Operasi kelompok bersenjata di Aceh menewaskan tiga polisi, yakni Brigadir Satu Boas Maosiri alias Boy, Brigadir Dua Darmansyah, dan Brigadir Dua Hendrik Kusumo. Apakah mereka tidak mengikuti prosedur standar operasi (SOP)?

"Dia sangat heroik, mengejar satu persatu kelompok bersenjata itu sampai hadap-hadapan," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Edward Aritonang di tvOne, Senin 8 Maret 2010.

Begitu kelompok bersenjata itu lumpuh, Boas kemudian mendekati untuk mengambil senjata. "Namun, mungkin dia tidak memperkirakan ada anggota kelompok senjata masih ada di sekitarnya," kata dia.

Boas tertembak. Dua rekannya (Darmansyah dan Hendrik), sangat dipengaruhi kondisi psikologis saat melihat temannya tertembak dan ingin membantu. "Ini pun ada SOP bagaimana menolong rekan lainnya," kata Edward.

Mungkin karena penguasaan lapangan dicampur kondisi psikologis mereka tidak memperhatikan ada kelompok tertinggal satu. "Membuat ada underestimate (meremehkan)," kata dia.

Kontak senjata antara kepolisian dan kelompok yang diduga teroris terjadi di Desa Bayu Kemukiman Lamkabeu, Kecamatan Seulimuem Aceh Besar, Kamis 4 Maret 2010.

Polisi berhasil menangkap 15 tersangka. Sebanyak 14 tersangka ditangkap dalam keadaan hidup dan satu tersangka berinisial AB tewas tertembak karena melakukan perlawanan.

Keempat belas tersangka yang ditangkap dalam keadaan hidup itu berinisial YZ, SAS, ZN, NR, SA, HL, HB, NK, AK, DS, AF, AN, HB, dan DS.

VIVAnews

Polisi Sisir Kawasan Aceh Besar

Polisi menyelusuri hutan untuk memburu kelompok-kelomok yang terlibat jaringan teroris. (Foto: AFP/Suparta)

08 Maret 2010, Jakarta -- Aparat kepolisian masih terus menyisir kawasan Aceh Besar untuk mengejar kelompok bersenjata yang diduga jaringan teroris dan bersembunyi di kawasan tersebut.Aparat kepolisian tampak berjaga-jaga di setiap jalan masuk ke desa.

Mobil polisi juga terlihat hilir mudik di sepanjang jalan dari wilayah Seulimum,Aceh Besar hingga Kabupaten Pidie. Dari pantauan juga terlihat pasukan Brimob terus siaga di permukiman Lamkabeu Kecamatan Seulimum Kabupaten Aceh Besar yang merupakan lokasi pengepungan kelompok bersenjata yang diduga jaringan teroris sejak Selasa lalu (2/3). Di lokasi itu, wartawan dilarang melewati Masjid Al Hidayah Lamkabeu yang dijadikan markas polisi selama aksi pengepungan tersebut.Permukiman Lamkabue, terutama Desa Bayu,diyakini menjadi tempat persembunyian jaringan teroris yang diburu aparat kepolisian sejak 22 Februari lalu.

Kawasan pedalaman Aceh Besar itu selama lima hari terakhir dikepung pasukan Brimob dan tim antiteror Densus 88.Dalam pengepungan itu sempat terjadi kontak tembak antara kelompok bersenjata dan pasukan Brimob. Kontak tembak pada Kamis lalu (4/3) mengakibatkan 11 anggota Brimob terluka dan dua lainnya serta seorang anggota Densus 88 meninggal dunia. Mabes Polri mengaku masih menyelidiki keterkaitan antara jaringan teror Aceh dengan jaringan teroris yang tergabung dalam Tandzim Al Qoidah Indonesia seperti dilansir dalam blog mereka. Dalam blog itu, mereka menyebut gerakan radikal di kawasan Aceh Besar merupakan jaringannya.

Seorang anggota polisi menangis atas meninggalnya Hendrik Kusumo. (Foto: AFP/Suparta)

Dari 19 tersangka yang dibekuk, 3 orang dalam keadaan tewas. Tampak seorang yang diduga terlibat jaringan teroris tewas ditembak polisi pada Rabu (3/3) lalu. (Foto: AFP/Chaideer Mahyuddin)

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Edward Aritonang mengatakan,hingga kini pasukan Brimob dan Densus 88 masih melakukan pengejaran dan pengepungan terhadap sejumlah lokasi yang diduga sebagai tempat persembunyian para teroris.“Mereka diduga sudah menyebar,”terangnya. Kepala Korps Brigade Mobil (Kakor Brimob) Inspektur Jenderal Polisi Imam Sudjarwo mengatakan, pasukannya masih berada di Aceh untuk melakukan pengejaran terhadap para pelaku teroris. Pengamat intelijen dari Universitas Indonesia (UI) Andi Widjojanto menilai,kelompok bersenjata di Aceh tersebut cukup canggih karena mampu berada di daerah tersebut dengan kekuatan signifikan.

Dia menilai, intelijen Polri gagal mendeteksi ancaman tersebut.Info yang diberikan tidak valid sehingga menimbulkan korban tewas di pihak polisi.“Mereka yang diberangkatkan sepertinya tidak diberi tahu siapa yang dihadapi,”jelasnya. Dari pola gerakan,Andi menilai kelompok ini bisa dikategorikan sempalan baru dari kelompok terorisme. Dugaan lain,kelompok ini merupakan bagian dari jaringan terorisme pimpinan Noordin M Top dengan metamorfosisnya yang baru. Andi menambahkan,jika melihat persenjataan dan kemampuan mereka menghadapi aparat keamanan, jaringan teror di Aceh ini tidak bisa dianggap enteng. Sementara itu, suasana haru mewarnai pemakaman Briptu Boas Woasiri, anggota Densus 88 yang tewas dalam penyergapan jaringan teroris di Aceh Besar,kemarin.

Boas dimakamkan di Taman Makam Polisi Berjasa Cikeas,Kabupaten Bogor.Ayah Boas, Carlos Woisiri,menangis teredu-sedu melihat peti jenazah Boas sembari memeluk Rumanita, istri Boas. Bahkan salah seorang kerabat Boas sempat tak sadarkan diri saat melihat jasad Boas yang tiba di rumah duka di kompleks Brimob Kelapa Dua, Depok, sekitar pukul 22.30 WIB,Sabtu (6/3) malam. Upacara pelepasan Boas dipimpin oleh Wakil Kepala Korps Brimob, Brigjen Pol Syarif Gunawan. Sebelum upacara pelepasan secara militer dilaksanakan,pihak keluarga menggelar upacara adat untuk melepas kepergian Boas.

Rumanita,istri Boas,hingga kemarin terlihat shock. Bahkan, Rumanita sempat dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Brimob, Kelapa Dua, karena pingsan dan kesehatannya menurun setelah mendengar kabar kematian Boas. Ditambah lagi, saat ini Rumanita tengah hamil anak kedua hasil pernikahannya dengan Boas.

SEPUTAR INDONESIA