Showing posts with label TNI AL. Show all posts
Showing posts with label TNI AL. Show all posts

Friday, June 13, 2014

Test Psikologi Satgas RIMPAC 2014

13 Juni 2014, Samudera Pasifik: Komandan KRI Banda Aceh-593 yang juga Komandan satgas latihan bersama multilateral Rim of Pasific (RIMPAC) M-01 2014, Letkol Laut (P) Arief Budiman (kanan) didampingi Perwira Psikologi, Letkol Laut (KH), Bachrul Ulum (kiri) berada ditengah-tengah anggota satgas ketika berlangsungnya tes psikologi di ruang prajurit, KRI Banda Aceh-593 ketika melintas di Perairan Samudera Pasifik, Rabu (11/6). Kegiatan tersebut untuk mengukur ketangguhan satgas RIMPAC M-01 dalam pelayaran lintas laut Papua-Hawaii. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/Asf/nz/14)

Tuesday, June 10, 2014

Skuadron F-16 Tiba di Lanud Roesmin Noerjamin Tiba Bertahap

Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI IB Putu Dunia (kiri) meninjau kesiapan fasilitas Skuadron pesawat tempur F-16 di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Rabu (19/3). IB Putu Dunia menyatakan pesawat tempur F-16 hibah Amerika Serikat datang secara bertahap, dengan delapan pesawat akan tiba di Indonesia sebelum peringatan Hari TNI pada 5 Oktober 2014. (Foto: Antara/fb anggoro)

10 Juni 2014, Pekanbaru: Komandan Lapangan Udara (Danlanud) Angkatan Udara Republik Indonesia Roesmin Nurjamin Pekanbaru menyatakan, pesawat tempur Skuadron F16 sebanyak 16 unit akan datang bertahap ke daerah tersebut.

"Juni atau Juli empat unit F16 akan tiba di Madiun, setelah itu pada Oktober datang lagi empat unit dan diperkirakan November atau Desember, empat unit pertama akan berpangkalan di Pekanbaru," kata Danlanud Roesmin Nurjamin Kol Pnb Kahiril Lubis di Pekanbaru, Selasa.

Selanjutnya, kata dia, empat unit kedua akan datang juga pada awal tahun depan dan hingga akhir tahun 2015 sudah ada 16 unit akan berpangkalan di "Kota Bertuah", julukan Kota Pekanbaru.

Saat ini, tambahnya, Roesmin Noerjamin sedang proses untuk menjadikan landasan dari tipe B ke tipe A dan perkembangannya saat ini tengah dibangun hanggar dan shelter pesawat.

Lalu ketika empat pesawat pertama datang ke Pekanbaru tiba, lanjutnya, akan ada proses penyambutan sekaligus persmian pesawat.

"Biasanya proses peresmian dilakukan dengan penyambutan," ungkapnya.

TNI AU mendatangkan F-16 Fighting Falcon blok 25 bekas Perang Irak, yang direncanakan akan ditingkatkan kapasitasnya (upgrade) ke blok 52+.

Meskipun hibah dari Amerika Serikat, pemerintah tetap mengeluarkan biaya untuk upgrade dengan total sekitar 400 juta dolar AS memakai skema pembayaran foreign military sales.

Sumber: ANTARA News

Peran Muka Belakang KRI Banda Aceh-593

10 Juni 2014, Jayapura: Sejumlah prajurit TNI AL melakukan peran muka belakang pada haluan kiri KRI Banda Aceh-593 ketika akan bersandar di Pelabuhan Jayapura, Papua, Sabtu (7/6). KRI Banda Aceh-593 melakukan bekal ulang (bekul) logistik cair berupa bahan bakar, air, dan logistik selama tiga hari untuk meneruskan perjalanan menuju pusat pelatihan Pearl Harbour dan Perairan Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat mengikuti latihan bersama multilateral Rim of Pasific (RIMPAC) 2014 pada 25 Juni - 1 Agustus 2014.(Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Thursday, June 5, 2014

Satkopaska Asah Kemampuan VBSS di KRI Banda Aceh-593

05 Juni 2014, Samudera Paific: Sejumlah anggota Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) TNI AL Koarmabar melakukan parameter tempur akan melumpuhkan perompak yang berhasil menyusup di atas anjungan KRI Banda Aceh-593 ketika melintas di Perairan Samudera Pasifik, Kamis (5/6). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari mengasah kemampuan VBSS (Visit Boarding Search and Seizure) sebelum menuju latihan bersama multilateral Rim of Pasific (RIMPAC) 2014 di pusat pelatihan Pearl Harbour dan Perairan Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat, 25 Juni - 1 Agustus 2014. (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/Asf/pd/14)

Monday, June 2, 2014

Awak Kapal KRI Banda Aceh-593 Bersihkan Geladak

2 Mei 2014, Laut Flores: Sejumlah anak buah kapal ABK KRI Banda Aceh-593 melakukan kerja bakti membersihkan geladak helly ketika melintas di Perairan Laut Flores, Minggu (1/6). Kegiatan pembersihan seluruh geladak yang dilakukan rutin itu agar tetap bersih dalam pelayaran menuju Latihan Bersama Multilateral Rim Of Pasific (Latma RIMPAC) 2014 di Pearl Harbour Training Area dan perairan Kepulauan Hawaii, Amerika Serikat. (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/Asf/Spt/14)

Armada Kapal Perang TNI AL Lewati Medan Ranjau

KRI Pulau Rengat-711. (Foto: Dispenarmatim)

02 Juni 2014, Surabaya: Sekitar 23 Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) yang terlibat dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI tahun 2014, melewati medan ranjau di sekitar perairan Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS), Selasa (03/06). Ke-duapuluh tiga kapal perang tersebut tergabung dalam Komando Tugas Laut Gabungan (Kogaslagab) Latgab TNI 2014, yang dipimpin Komandan Gugus Tempur Laut (Danguspurla) Koarmatim Laksamana Pertama TNI Aan Kurnia, S.Sos, selaku Panglima Komando Tugas Laut Gabungan (Pangkogaslagab).

Saat melewati medan ranjau Mine Feild Transit (MFT), unsur laut dipandu kapal Buru Ranjau (BR) KRI Pulau Rengat-711 yang berada di garis depan formasi tempur. Dalam skenario latihan, puluhan ranjau laut telah disebar oleh pihak musuh untuk menghambat gerak laju kapal perang menuju daerah sasaran.

Dengan kemampuan khusus peperangan ranjau yang dimilki, KRI Pulau Rupat berhasil memandu unsur Kogaslagab keluar dari medan ranjau. Namun bahaya belum berakhir, karena beberapa saat kemudian radar KRI Sultan Hasanudin-366 dan KRI Sultan Iskandar Muda-365 mendeteksi adaya ancaman bahaya udara.

Suara sirine meraung-raung dari seluruh kapal perang. Seluruh personel dan persenjataan Penangkis Serangan Udara (PSU) siap menyambut serangan udara dari pesawat musuh. Dua kapal perang korvet kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) tersebut berhasil mengunci sasaran udara melalui radar senjata LIROD Mk2.

Radar tersebut memandu senjata meriam anti serangan udara kaliber 2 x 20 mm mengikuti setiap pergerakan target yang telah terkunci. Meriam PSU dari seluruh kapal-kapal Kogaslagab memuntahkan ribuan butir peluru sehingga pesawat musuh tidak dapat menghindar dan berhasil dihancurkan.

KRI Sultan Hasanudin-366. (Foto: Dispenarmatim)

Aksi pertempuran melewati medan ranjau dan pertahanan udara tersebut merupakan salah satu rangkaian Latgab TNI tahun 2014. Keberhasilan dalam misi tersebut merupakan wujud sinkronisasi, koordinasi dan kerjasama yang baik dalam operasi laut gabungan sesuai dengan teknik, taktik dan prosedur masing-masing kapal perang yang tergabung dalam Kogaslagab.

Tugas Pokok Kogaslagab 2014 yakni menyelenggarakan serangkaian kegiatan Manuver Tempur Laut di Perairan Laut Jawa dalam rangka melaksanakan Manuver Penembakan Senjata Strategis oleh unsur-unsur “Kogaslagab 2014” pada Latihan Gabungan TNI 2014.

Sumber: Dispenarmatim/Kadispenarmatim Letkol Laut (KH) Abdul Kadir)

Wednesday, May 28, 2014

KRI Karang Banteng-983 Dipensiunkan dan Dijadikan Sasaran Tembak Rudal



28 Mei 2014, Surabaya: KRI Karang Banteng dengan nomor lambung 983, yang masuk jajaran Satuan Kapal Bantu Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) telah mengakhiri pengabdiannya. Menandai berakhirnya masa bhakti KRI Karang Banteng-983 sebagai kapal perang, dilaksanakan upacara penurunan ular-ular perang yang berlangsung diatas Geladak KRI Karang Banteng-983 yang bersandar di Dermaga Koarmatim Ujung Surabaya, Rabu (28/5), bertindak selaku Irup Kepala Staf Koarmatim Laksamana Pertama TNI Siwi Sukma Aji.

KRI Karang Banteng adalah ex Kapal Fery Cepat KM. Serayu dibuat di galangan kapal Laurzen jerman pada tahun 1998, digunakan sebagai kapal fery penumpang dan dioperasikan oleh PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP). Pada Tanggal 15 September 2005, Departemen Perhubungan RI menghibahkan KM Serayu kepada TNI AL melalui Departemen Pertahanan RI, untuk selanjutnya tanggal 7 April 2006 diresmikan menjadi KRI Karang Banteng-983 dengan tugas mendukung pergerakan pasukan, Raid terbatas dan operasi bhakti.

Sebagai purna bhakti yang terakhir, KRI Karang Banteng-983 selanjutnya dijadikan kapal uji coba penembakan senjata strategis milik TNI AL dalam Latihan Gabungan (Latgab) TNI tahun 2014 yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

Dalam amanatnya Pangarmatim Laksamana Muda TNI Sri Mohamad Darojatim yang dibacakan Kasarmatim mengatakan, keberadaan KRI Karang Banteng-983 telah banyak memberikan andil terhadap keberhasilan pelaksanaan tugas TNI AL. Namun berdasarkan pertimbangan strategis, teknis dan ekonomis, KRI ini dirasakan sudah tidak layak lagi untuk mengemban tugas yang dibebankan terhadapnya.

Semua prestasi yang telah dicapai KRI Karang Banteng-983 hanya dapat dicapai melalui kerja keras, dedikasi, loyalitas, tanggung jawab serta profesionalisme seluruh ABK. Penampilan ABK KRI Karang Banteng-983 tersebut, merupakan Hasil pembinaan yang panjang sejak kapal ini pertama kali masuk jajaran TNI AL hingga saat ini.

“Untuk itu, kepada seluruh mantan komandan, mantan ABK maupun para prajurit yang saat ini masih bertugas di KRI tersebut, atas nama pemimpin TNI AL saya ucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya,”kata Pangarmatim.

Kadispenarmatim Letkol Laut (KH) Abdul Kadir

PT PAL Serahkan Kapal Cepat Rudal KRI Sampari-628 ke TNI AL

(Foto: Dispenarmatim)

28 Mei 2014, Surabaya: PT. PAL Indonesia (Persero) menyerahkan Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 Meter pertama KRI Sampari-628 kepada TNI Angkatan Laut, Rabu (28/5) di Dermaga Divisi Kapal Perang.

Penyerahan dipimpin langsung oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan dihadiri Deputi Bidang Agro dan Industri BUMN, KASAL Laksamana TNI Dr. Marsetio, Asrena Kasal Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H, M.Hum, Aslog Kasal Laksamana Muda TNI Suyitno, S.Pi., M.M, Pangarmatim Laksamana Muda TNI Sri Mohamad Darojatim, Komisaris dan jajaran Direksi PT PAL.

PT PAL memperoleh kontrak senilai Rp 375 milar untuk pembuatan 3 unit KCR 60 M berdasarkan Surat Perjanjian Jual Beli Nomor: KTR/1056/02-48/XII/2011/Disadal dan nomor pembangunan W000273, W000274 dan W000275. Dua unit lainnya KRI Tombak-629 dan KRI Halasan-630 akan diserahterimakan pada Juli dan September 2014.

Kementerian Pertahanan akan memesan 16 KCR 60 M dan 16 KCR 40 M dari galangan kapal dalam negeri sesuai Rencana strategis 2011-2024.

Pada kesempatan sama, Menhan Purnomo Yusgiantoro melantik komandan kapal KRI Sampari-628 pertama Letkol Laut (P) Hreesang Wisanggeni. Kapal perang akan memperkuat jajaran Satuan Kapal Cepat (Satkat) Koarmatim. Penempatan di Koarmatim berdasarkan pertimbangan taktis dan strategis yang cukup mendalam untuk menjaga dan melindungi wilayah kedaulatan NKRI serta melaksanakan tugas-tugas pertahanan maupun penegakan hukum khususnya di laut.

Nama Sampari diambil dari nama senjata tajam sejenis keris yang digunakan oleh laki-laki pada suku Mbojo, Dompu, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), guna menjaga dan membela diri.

Spesifikasi Kapal Cepat Rudal 60 Meter (KCR-60M)

(Foto: Becky Subeki/Jawa Pos)

Dimensi kapal
- Panjang keseluruhan (LOA) : 59.80 meter
- Panjang garis air (LWL) : 54.82 meter
- Lebar (B) : 8.10 meter
- Tinggi pada tengah kapal (T) : 4.85 meter
- Sarat muatan penuh (Dd) : 2.60 meter
- Berat muatan penuh (Displacement) : 460 Ton

Mobilitas
-Kecepatan kapal pada Skala Beaufort 2 dan Sea State 1
- Kecepatan maksimum (pada kondisi muatan 50%): 28 knot
- Kecepatan jelajah : 20 knot
- Kecepatan ekonomis : 15 knot

Sistem Persenjataan
1. 1 X Meriam Utama 57 mm
2. 2 X Senjata 20 mm
3. 2 X 2 Rudal anti kapal permukaan (SSM) C-802/C-705
4. 2 X Decoy Launcher

Olah Gerak
KCR 60M mempunyai kemampuan olah gerak yang tinggi, lincah dalam posisi tembak dan mampu melaksanakan penghindaran dari serangan balasan lawan.

Navigasi
Memiliki ketahanan bernavigasi dalam segala cuaca hingga Sea State 6 dan Jumlah ABK sebanyak 43 orang.

Ketahanan Berlayar
1. Ketahanan di laut: 9 hari
2. Jarak jelajah : 2.400 nm pada kecepatan 20 knot
3. Akomodasi : 43 orang

Kelaikan Kapal
KCR 60m dirancang dengan mempertimbangkan kriteria kelaikan laut sbb:
1. Stabilitas kapal memenuhi criteria standar IMO A (749)
2. Tugas patroli hingga sea state 3
3. Kemamapuan pengoperasian senjata hingga sea state 4

Sumber: PAL/Koarmatim/Kemhan

Sunday, January 19, 2014

Pemotongan Baja Pertama Kapal Perusak Kawal Rudal 105 Meter

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kanan) menerima gambar replika kapal dari CEO Damen Schelde Naval Ship Building (DSNS) Belanda, Hein Van Amaiden (kiri) dalam seremonial pemotongan baja pertama kapal perang jenis perusak kawal rudal (PKR) Fregat No.1 di pusat bengkel pabrikasi divisi kapal perang, PT PAL Indonesia (Persero), Surabaya, Jatim, Rabu (15/1). Kapal PKR-105 m merupakan kapal pertama dari empat kapal pesanan TNI AL melalui kerja sama produksi dengan DSNS Belanda guna memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) di jajaran TNI AL. (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/ed/Spt/14)

15 Januari 2014, Surabaya: Dalam rangka ikut berperan aktif dalam memodernisasi dan memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (Alutsista), PT PAL Indonesia (Persero) sebagai Lead Integrator Alutsista matra laut menggelar acara seremoni First Steel Cutting kapal jenis Perusak Kawal Rudal 105 Meter (PKR/Frigate ke-1), yang berlangsung pada hari Rabu, 15 Januari 2014, terpusat di Dermaga Kapal Perang.

Seremoni First Steel Cutting ini menjadi begitu penting mengingat Kapal perang pesanan TNI Angkatan Laut jenis PKR / Frigate ke-1 ini merupakan pengembangan Proyek Nasional dan menjadi salah satu andalan dalam mengawal keamanan wilayah laut perairan Indonesia.

Sehingga para petinggi Negara berkenan hadir untuk menyaksikan acara ini, antara lain Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Kepala Staff TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Marsetio, Jajaran Kemenhn, Mabes AL, Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS), Project officer, Muspida Jatim, serta Para Undangan. Sementara Manajemen PT PAL Indonesia yang turut hadir yakni jajaran Komisaris & Direksi, Kepala Divisi beserta jajaran dibawahnya.

Kapal PKR – 105 m ini merupakan kapal pertama dari 4 kapal yang pesanan TNI AL. Selain itu PT PAL Indonesia (Persero) juga telah memproduksi kapal perang jenis Fast Patrol Boat (FPB) dengan berbagai ukuran, KCR 60 m, dan LPD 125 m. Pemenuhan kebutuhan ini diharapkan akan terus mendorong dan mempercepat terwujudnya cita-cita kemandirian alutsita negara sebagai hal yang sangat esensial bagi Bangsa Indonesia dalam mempertahankan NKRI. Sehingga menempatkan bangsa Indonesia sebagai negara strategis yang dihormati dan disegani dalam kancah percaturan dunia.

Berikut Spesifikasi Kapal Perang Perusak Kawal Rudal (Guided Missile Escort) “Frigate” No-1 :



GENERAL
Customer : Indonesian Navy (TNI-AL)
Primary functions: Anti Air Warfare, Anti Surface Warfare, Anti Submarine Warfarebr
Secondary : Maritime Security & Safety, Disaster Relief/Humanitarian Aid. Hull material : Steel grade A/AH36
Standards : Naval /Commercial, naval intact / damaged stability, noise reduced, moderate shockbr
Classification : Lloyd's Register of Shipping (supervision) 100 A1 SSC Mono Patrol, G6, LMC UMS

DIMENSIONS
Length o.a. : 105.11 m
Beam mld : 14.02 m
Depth no.1 deck : 8.75 m
Draught (dwl) : 3.70 m
Displacement (dwl) : 2365 tons

PERFORMANCE
Speed (Maximum power) : 28 knots
Speed on E-propulsion : 15 knots
Range at 14 knots : > 5000 NM
Endurance : > 20 days at sea

PROPULSION SYSTEM
Propulsion type : combined diesel or electric (CODOE)
Diesel engine : 2 x 10000 kW MCR diesel propulsion
Electric motors : 2 x 1300 kW MCR electric propulsion
Gearbox : 2 x double input input/single output
Propellers : 2 x CPP diameter 3.65 m
lntegrated platform management system

AUXILIARY SYSTEMS
Generator sets : 6 x 735 kWE (CAT C-32A)
Emergency gen. set : 1 x180kWE
Chilled water : 2 x units, redundant distrubution
Fire fighting : 4 x main pumps +Ix service pump
Freshwater making capacity : 2 x 14 m3/day (RO) + 2 x 7.5 m3/day (evaporators)

DECK EQUIPMENT
Helicopter deck : max. 10 tons helicopter
Heli operations : day/night with refuelling system
Helicopter hangar : suitable for approx 6 tons helicopter
RAS : on helicopter deck PS & SB, astern fuelling
Boats : 2 x RHlB

ACCOMMODATION
Fully air-conditioned accommodation for 122 persons
Commanding Officer: 1
VIP cabin (Flag officer standard): 1
Officers: 26
Chief Petty Officers: 10
Petty Officers: 28
Petty officer (female): 8
Junior Ratings: 29
Trainee Officers: 18
Canal Pilot cabin: 1
Provisions for NBC citadel/decontamination

WEAPON & SENSOR SUITE
3D-Surveillance & target indication radar & IFF
Radar / electro optical fire control
Hull Mounted Sonar
Combat management system
Medium calibre gun 76 mm
1 x Close In Weapon System
2 x 4 SSM launchers
12 cell SAM launcher
2 x triple Torpedo launching system
ESM & ECM
2 x Decoy launchers
lntegrated internal & external communication system

NAUTICAL EQUIPMENT
lnteqrated bridqe console, 2 x naviqation radar, ECDIS, GMDSS-A3 rencence gyro

Sumber: PT PAL

Thursday, September 5, 2013

Menhan Resmikan Dua Kapal Perang Produksi Dalam Negeri

KRI Pari-849. (Foto: Reita84)

5 September 2013, Batam: Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan dua kapal cepat KRI Pari-849 dan KRI Sembilang-850 yang akan bertugas menjaga keamanan dan kedaulatan di perairan NKRI.

"Tipe kapal patroli cepat, dalam upaya pemenuhan Kapal Cepat secara bertahap," kata Menteri usai meresmikan kapal di Batam, Kamis.

Ia mengatakan kapal yang dibangun perusahaan nasional PT Palindo itu merupakan rangkaian pemesanan dan pengadaan yang memiliki arti penting bagi industri pertahanan nasional," kata dia.

Penambahan alutsista amat penting, kata Menteri untuk menambah daya tempur dan dukungan pelatihan serta operasi di laut.

"Penambahan alutsista merupakan jawaban konsekuensi atas karakteristik geografis Indonesia yang memiliki keanekaragaman kekayaan alam di laut, potensi keragaman hayati, warisan dunia yang paut dijaga," kata dia.

Indonesia, kata Menteri, memiliki banyak selat dan perairan yang merupakan alur perairan utama dan penting bagi bangsa lain, karenanya, perlu penjagaan maksimal.

"Ini memiliki makna penting dan strategi pembangunan TNI AL menuju kekuatan pokok angkatan laut, meningkatkan kekuatan angkatan laut menjaga NKRI," kata Menteri.

KRI Pari-849 dan KRI Sembilang-850 berbahan aluminium marine grade, buatan anak-anak Indonesia dan dibuat dengan bahan-bahan produksi dalam negeri.

Kapal patroli cepat PC-43 ini memiliki spesifikasi panjang 43 meter, lebar 7,4 meter, bobot 250 ton, dengan kecepatan maksimal 24 knot, kecepatan jelajah 17 knot, dan kecepatan ekonomis 15 knot. Dilengkapi dengan satu sekoci Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB), dengan penggerak outboard engine 75 PK. Selain itu, kapal ini memiliki ketahanan (endurance) dalam kemampuan berlayar selama empat hari. Sebagai kapal patroli murni, PC-43 tidak dirancang untuk membawa peluru kendali.

Nantinya, kapal yang menelan biaya masing-masing sekitar Rp75 miliar itu akan memperkuat armada TNI AL. KRI Pari-849 di Satuan Kapal Patroli Komando Armada RI Kawasan Timur. Sedangkan KRI Sembilang-850 untuk Armada RI Kawasan Barat di wilayah Lantamal II Palembang.

Bank Mandiri Biaya Pembuatan Kapal Perang

Bank Mandiri membiayai pembangunan dua kapal TNI AL jenis patroli cepat buatan dalam negeri guna memperkuat Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) nasional.

Dalam kerjasama ini, Bank Mandiri menyalurkan pinjaman sebesar Rp77,87 miliar kepada PT Palindo Marine berupa kredit modal kerja (KMK) Rp33,52 miliar dan bank garansi Rp44,35 miliar untuk pembangunan dua kapal tersebut.

Direktur Institutional Banking Bank Mandiri Abdul Rachman di Dermaga Batu Ampar, Batam, Kamis (5/9/2013), mengatakan Bank Mandiri ingin terus mendukung industri strategis nasional dalam mengembangkan teknologi alutsista sehingga menciptakan kemandirian bangsa dalam memperkuat kedaulatan nasional.

“Kami bangga dengan kemampuan putra-putra bangsa di PT Palindo Marine yang telah menghasilkan kapal patroli cepat buatan dalam negeri ini. Untuk itu, kami juga telah memberikan komitmen untuk mendukung pembangunan kapal lainnya guna memperkuat Alutsista nasional,” ujarnya dalam siaran pers, Kamis (5/9/2013).

Secara keseluruhan, dia menjelaskan, sampai saat ini Bank Mandiri menyalurkan pembiayaan sebesar Rp243,28 miliar untuk membantu PT. Palindo Marine membangun dua kapal patroli cepat dan empat kapal cepat rudal.

Dari jumlah tersebut, Rp113,53 miliar merupakan kredit modal kerja (KMK), sedangkan Rp129,75 miliar adalah fasilitas bank garansi.

Dia menambahkan bahwa hingga saat ini, Bank Mandiri telah menyalurkan pembiayaan untuk alutsista yang disalurkan kepada beberapa industri strategis, seperti PT Pindad dan PT Dok Kodja Bahari.

Untuk pengadaan alutsista yang didatangkan dari luar negeri, Bank Mandiri telah menandatangani komitmen pembiayaan dengan nilai sekitar Rp6,5 triliun.

“Penyaluran pembiayaan untuk pembangunan kapal patroli cepat ini merupakan salah satu komitmen Bank Mandiri dalam mendukung pengadaan alutsista. Dengan keberhasilan ini, kita dapat menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia telah mampu membangun dan mengembangkan alutsista secara mandiri di dalam negeri,” ujar Abdul Rachman.

Sebelumnya, Bank Mandiri telah menyalurkan pembiayaan senilai Rp123,78 miliar untuk membangun tiga unit kapal cepat rudal pertama, kedua dan ketiga produksi dalam negeri, yaitu KRI Clurit – 641 , KRI Kujang – 642 dan KRI Beladau – 643.

Sumber: ANTARA Kepri/Bisnis

Monday, September 2, 2013

KRI dr Soeharso-990 Kunjungi Pulau Terpencil di Provinsi NTT

(Foto: Dispenarmatim)

2 September 2013, Jakarta: KRI dr Soeharso-990 kini tengah berjibaku menembus gelombang laut, menuju misi kemanusian di pulau-pulau terpencil nusantara sejak Jum’at lalu (30/8), bersama-sama tiga koleganya sekelas, KRI Banda Aceh-593, KRI Makassar-590, dan KRI Surabaya-591.

Khusus KRI dr Suharso/990 --kapal perang rumah sakit-- misi pelayaran kini bagian dari Sail Komodo 2013, dalam Operasi Surya Bhaskara Jaya LXII/2013, ke pulau-pulau di Provinsi NTT, meliputi Kabupaten Lembata, Kabupaten Maumere (Sikka), Labuan Bajo, dan Kabupaten Sumba.

NTT dipilih karena pulau-pulaunya sangat banyak namun akses bagi masyarakat masih sangat terbatas. terkhusus akses terhadap layanan kesehatan, sebagaimana dinyatakan Dinas Penerangan TNI AL.

Satuan Tugas SBJ LXII/2013 dikomandani Kolonel Pelaut Taat Sunarto yang sehari-hari menjabat sebagai Komandan Satuan Kapal Bantu Komando Armada Indonesia Kawasan Timur TNI AL, sementara KRI dr Soeharso-990 dikomandani Letnan Kolonel Pelaut I Putu Darjatna.

KRI dr Suharso-990 merupakan kapal kelas Landing Platform Dock sepanjang 122 meter berbobot mati 16.000 ton yang geladak apronnya mampu menampung tiga helikopter ringan ini buatan Korea Selatan seharga 37,5 juta dolar Amerika Serikat.

Dia semula bernama KRI Tanjung Dalpele-572, yang lalu diubah menjadi kapal rumah sakit.

Selain kesehatan, awak TNI AL yang ada di dalam lambungnya juga merenovasi sarana dan prasarana umum, penyuluhan ketahanan nasional dan penyerahan bahan keperluan sehari-hari di Lembata, Maumere, Waingapu, dan Labuhan Bajo, hingga pada acara puncak Sail Komodo pada Sabtu, 14 September mendatang.

Sumber: ANTARA News

Wednesday, August 14, 2013

KRI Diponegoro Bekal Ulang di Cyprus



14 Agustus 2013, Surabaya: Setelah enam hari sebagai peacekeeper melaksanakan patroli dan pengamanan di Wilayah perairan Lebanon KRI Diponegoro melaksanakan bekal ulang (bekul) dan Port Visit untuk pertama kali di Limassol Cyprus , Minggu (11/8).

Di hari pertama sandar di Dermaga Limassol, KRI Diponegoro menerima kunjungan dari Atase Pertahanan Roma Kolonel ARM Teddy Surachmat beserta staf. Kunjungan diterima langsung oleh Komandan KRI Letkol Laut (P) Hersan, S.H., beserta perwira Staf. Dilanjutkan undangan dinner (makan malam bersama) oleh Athan Roma.

Sedangkan untuk para Prajurit KRI Diponegoro memanfaatkan waktu mereka untuk melaksanakan refreshing setelah melaksanakan patroli rutin selama sepekan di Laut Mediterania, dengan mengunjungi obyek-obyek pariwisata yang ada di sekitar kota Limassol.

Pada keesokan harinya Senin (12/8) Komandan KRI melaksanakan Courtesy Call (CC) ke Commander Task Group (CTG) 448.03 Captain Brach, kemudian untuk mempererat kerjasama sesama Maritime Task Force, Komandan KRI mengunjungi kapal jerman FGS Frettchen P-6126, yang di Komandani oleh Lieutenant Commander Dubnitzki, kunjungan diakhiri dengan tukar menukar plakat dan cendera mata.

Di tempat yang sama, dalam rangka kegiatan serial Winchex antara Heli NV 409 (Indonesia) dan FGS Frettchen pada on task 18, Kepala Departemen Operasi Kapten Laut (P) Nyoman Gede Pradnyana beserta pilot Lettu Laut (P) Joko Wahyu dan Copilot Lettu Laut (P) Slamet Hayat melaksanakan briefing Whincing Procedure dengan perwira pelaksana serta perwira operasi kapal Jerman tersebut di Lounge Room FGS Frettchen.

Pada hari berikutnya Selasa (13/8), KRI Diponegoro kembali bertolak dari Limassol untuk melaksanakan patroli di perairan Lebanon, Laut.

Sumber: Dispenarmatim

Tuesday, August 13, 2013

KRI Dewaruci Ikut International Tall Ship Race 2013 di Australia

Sebuah kapal pandu melakukan upacara pelepasan KRI Dewaruci di Dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Jatim, Selasa (13/8). Kapal latih TNI AL jenis kapal latih tiang tinggi (Barquentine) tersebut kembali melakukan pelayaran muhibah ke Australia dengan membawa 98 orang kadet AAL tingkat III angkatan ke-60 untuk melaksanakan latihan dan praktek (lattek) pelayaran astronomi Kartika Jala Krida (KJK). (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/Koz/nz/13)

13 Agustus 2013, Surabaya: KRI Dewaruci yang merupakan kapal latih TNI Angkatan Laut itu menuju Benua Kanguru untuk mengikuti International Tall Ship Race 2013, serta mempromosikan pariwisata Indonesia.

Keberangkatan kapal milik TNI AL yang rencananya akan pensiun pada tahun 2015 itu dilepas oleh Kepala Staf Angkatan Laut serta keluarga prajurit di Dermaga Koarmatim, Ujung Surabaya, Selasa (13/8).

Kapal yang berjenis barquentine atau jenis kapal layar tiang tinggi berlayar menuju Australia dengan membawa 98 orang awak yang terdiri dari 16 orang prajurit TNI AL, serta 82 orang kadet AAL.

Rencananya KRI Dewaruci akan berlayar dengan rute Surabaya, Kupang, Darwin, Perth, Melbourne, Hobart, Sydney, Auckland-Selandia Baru, Brisbane, Cairns, Darwin dan kembali lagi ke Surabaya.

Di Sydney, KRI Dewaruci akan dilibatkan dalam lomba International Tall Ship Race 2013 serta menghadiri undangan dari Australian Sail Training Association untuk mengikuti Australian Navy Fleet Review, salah satu even bergengsi yang diikuti oleh banyak negara yang akan membangun image dunia bahwa TNI AL layak menjadi world class navy.

Selain mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, KRI Dewaruci juga membawa misi yakni mempromosikan pariwisata Indonesia di setiap kota di benua Australia yang disinggahi.

Pelepasan KRI Dewaruci dipimpin secara langsung oleh KSAL Laksamana TNI Marsetio di Dermaga Koarmatim, Ujung Surabaya. Terlihat pula keluarga prajurit yang haru saat melepas keberangkatan prajurit TNI AL ke Australia untuk mengharumkan nama bangsa.

Rencananya KRI Dewaruci yang lama akan pensiun pada tiga tahun mendatang. Saat ini masih dilakukan lelang pembuatan kapal pengganti KRI Dewaruci yang diperkirakan memakan waktu dua tahun untuk pengerjaannya. KRI Dewaruci yang baru akan lebih besar dan bisa memuat sekitar 200 taruna.

Sumber: Metrotvnews

Saturday, August 10, 2013

KASAL Tinjau Pembangunan Kapal Perang di Batam



10 Agustus 2013, Batam: Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Marsetio didampingi Komandan Pangkalan Utama TNI AL IV (Danlantamal IV) Tanjungpinang Laksamana Pertama TNI Agus Heryana, S.E., melaksanakan kunjungan kerja di galangan kapal yaitu PT. Citra Shipyard dan PT. Palindo Marine Shipyard, Tanjung Uncang Batam, Kepulauan Raiu. Dalam kunjungann diterima langsung oleh Direktur Utama Palindo Marine Bapak Harmanto. Selasa (06/08/13)

Kunjungan tersebut dalam rangka peninjauan KRI Pari-849 dan KRI Sembilang-850 salah satu kapal perang patroli cepat jenis PC 43 meter dan KAL-II-4-57 Nipa, yang merupakan produk PT. Palindo Marine Shipyard karya anak bangsa Indonesia.

Turut hadir pada kegiatan tersebut; Danguskamlabar, Dandenma Mabesal, Asintel Danlantamal IV serta Danlanal Batam.

Sumber: Dispen Lantamal IV

Monday, July 29, 2013

KRI Imam Bojol Lakukan Bekal Ulang di Aceh Utara

(Foto: Dispenarmabar)

26 Juli 2013, Jakarta, KRI Imam Bonjol - 383 salah satu unsur dibawah kendali operasi Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Barat (Guspurla Koarmabar) melakukan bekal ulang (Bekul) di Dermaga pelabuhan Krueng Geukueh Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara, Jumat (26/7).

Kedatangan kapal perang tersebut disambut oleh Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Lhokseumawe Letkol Laut (P) Sumartono, S.E. dan Palaksa Lanal Lhokseumawe, beserta seluruh Perwira Staf Lanal Lhokseumawe.

KRI Imam Bonjol-383 yang dikomandani Letkol Laut (P) Tomi Erizal merupakan Kapal jenis Korvet kelas Parchim dibawah Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Komando Armada Barat (Koarmabar) yang saat ini tergabung dalam kegiatan Operasi Malaka Jaya 2013 atau Malaka Strait Sea Patrol (MSSP).

Dalam operasi tersebut, KRI Imam Bonjol - 383 melaksanakan operasi penegakkan kedaulatan dan operasi keamanan laut di perairan yuridiksi nasional Indonesia dengan daerah operasi di perairan Selat Malaka dengan skala prioritas di kawasan perairan yang memiliki kerawanan tindak pelanggaran hukum di laut.

Gelar Operasi Malaka Jaya tersebut untuk pengamanan laut yuridiksi di perairan wilayah Barat khususnya sepanjang perairan selat Malaka dan meningkatkan kesiapsiagaan unsur-unsur gelar KRI dalam rangka mendukung tugas yang emban dari Komando Atas.

Selain itu, selama berada di sektor operasi, tetap mendukung dan melaksanakan bantuan SAR di laut apabila terjadi kecelakaan di perairan wilayah Barat sesuai dengan perintah dari Komando Atas.

Selama sandar di Dermaga pelabuhan Krueng Geukueh Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara, KRI Imam Bonjol-383 melaksanakan kegiatan bekal ulang (Bekul) antara lain pengisian bahan bakar, pengisian air tawar dan pembekalan bahan basah guna mendukung kegiatan operasi selanjutnya.

Sumber: Dispenarmabar

Thursday, July 25, 2013

TNI AL dan RSN Gelar Latihan Peperangan Ranjau



25 Juli 2013, Surabaya: Indonesia sebagai negara kepulauan yang banyak berbatasan dengan negara tetangga, perlu menjalin kerjasama bilateral maupun multilateral khususnya dalam bidang militer agar keamanan kawasan tetap terjaga. Hal ini disebabkan wilayah perairan Indonesia memiliki potensi kerawanan terhadap berbagai bentuk dan jenis ancaman melalui laut. Salah satu ancaman yang paling berbahaya di laut adalah bahaya ranjau, terutama jika terjadi pada jalur-jalur strategis yang berhubungan dengan Alur Pelayaran Internasional.

Salah satu kerja sama bilateral tersebut adalah latihan tentang bahaya ranjau yang digelar antara TNI AL dan Republic of Singapura Navy (RSN) pada tanggal 1 hingga 8 Juli 2013 di Changi Naval Base dan Perairan timur Pulau Bintan dengan sandi Joint Minex 16/2013. Satuan Kapal Ranjau (Satran) Koarmatim yang mempunyai kemampuan dalam menyelenggarakan peperangan ranjau turut serta dan berperan aktif dalam Latma bilateral Joint Minex 16/2013 ini.

Latihan dibuka oleh Commander Maritime Security Task Force (MSTF) Rear Admiral (RADM) Harris Chan dan dihadiri oleh delegasi angkatan laut Indonesia dan Singapura di Changi Naval Base (CNB).



Latihan Joint Minex 16/2013 ini melibatkan 3 KRI dari TNI AL yaitu KRI Pulau Rengat-711, KRI Pulau Rupat-712 dari Satran Koarmatim dan KRI Pulau Rangsang-727 dari Koarmabar. Sedangkan dari pihak AL Singapura melibatkan 2 kapal perangnya yaitu RSS Bedok (M-105) dan RSS Punggol (M-108).

Joint Minex 16/2013 ini bertujuan untuk memperkuat hubungan dan meningkatkan kerja sama, interoperabilitas serta pemahaman antara TNI AL dan RSN khususnya mengenai peperangan ranjau serta pertukaran informasi tentang kemampuan dan perkembangan teknologi dari masing-masing negara sekaligus sebagai wadah untuk menguji doktrin Taktik Peperangan Ranjau (TPR) dan peranjauan serta kemampuan alat utama (Alut), peralatan dan personel Satran Koarmatim dan Koarmabar secara terintegrasi untuk mendapatkan kemampuan peperangan ranjau yang optimal.

.Dalam latihan ini peserta latihan mendapatkan cakrawala baru tentang kemampuan dan peralatan peperangan ranjau yang dimiliki oleh masing-masing negara serta kesempatan praktek melaksanakan kerjasama taktis perlawanan ranjau yang meliputi kegiatan : Exploratory Hunting, Clearance Hunting, Mineshape Recovery (Diving ops) , MDC Firing antar dua negara melalui manuver lapangan.

Sumber: Dispenarmatim

Saturday, July 20, 2013

KRI Kerapu-812 Amankan Perairan Perbatasan dengan Filipina

(Foto: Dispenarmatim)

19 Juli 2013, Surabaya: Sebagai upaya untuk mendukung pengamanan perairan laut wilayah timur, Satuan Kapal Patroli (Satrol) Koarmatim mengerahkan unsur Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) yang siap bertugas di wilayah tersebut. Kapal perang yang disiagakan itu dari jenis Kapal Patroli Cepat atau Fast Patrol Boat (FPB) KRI Kerapu – 812.

Keberangkatan KRI Kerapu – 812 ke medan tugas, dilepas oleh Komandan Satrol Koarmatim Kolonel Laut (P) Suhartono di Dermaga Satrol Koarmatim, Ujung Surabaya, (19/07). Operasi tersebut diberi sandi Arung Hiu 2013. Selanjutnya kapal perang yang di komandan Mayor Laut (P) Kusumo Atmojo itu akan bertugas melaksanakan patroli intensif di sekitar perairan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) III yang berada di perbatasan Indonesia Filipina.

(Foto: Dispenarmatim)

Dalam sambutannya saat brifing bersama prajurit KRI Kerapu, Dansatrol Koarmatim menyampaikan misi dan penugasan khusus yang diemban oleh kapal perang tersebut selama kurang lebih tiga bulan. Tugas khusus tersebut di antaranya adalah mencegah upaya – upaya penyelundupan barang ilegal berupa Narkoba, Senjata Api (Senpi) dan perompakan yang disinyalir kerap terjadi di wilayah perairan tersebut.

Selain itu secara umum kapal perang buatan PT. Pal Indonesia itu juga bertugas untuk menindak aksi – aksi kejahatan dan pelanggaran di laut seperti penangkapan ikan ilegal (Ilegal Fishing), penyelundupan hasil hutan (ilegal Logging) dan tindakan kejahatan di laut lainnya.

Sumber: Dispenarmatim

Monday, July 8, 2013

KRI Malahayati-362 Tembakan Roket Chaff



8 Juli 2013, Laut Jawa: Pelayaran menuju daerah operasi di perairan Karang Unarang ternyata harus dilalui KRI Malahayati-362 dengan cuaca yang tidak bersahabat. Namun berkat kegigihan, pengalaman dan naluri tempur yang selalu terasah, cuaca ekstrem Laut Jawa dan Laut Sulawesi dapat dilalui dengan mudah. Sesampainya di daerah operasi Karang Unarang, prajurit KRI Malahayati-362 melaksanakan latihan penembakan rocket chaff, Sabtu (6/7). Latihan ini untuk melatih profesionalisme prajurit serta kesiapan material untuk menghadapi berbagai kemungkinan ancaman di medan tugas.

Disimulasikan KRI Malahayati-362 melaksanakan peran tempur bahaya udara setelah radar udara KRI Malahayati-362 mendeteksi adanya kontak udara yang mencurigakan. Teridentifikasi berdasarkan squawking IFF bahwa kontak udara merupakan pesawat tempur musuh yang menyelinap, berdasarkan aturan pelibatan Operasi Tameng Hiu-13 KRI Malahayati diwajibkan memperingatkan musuh untuk meninggalkan wilayah kedaulatan NKRI.



Pesawat tempur musuh bermanuver ekstrem lalu menembakan peluru kendali (Rudal) ke arah KRI Malahayati-362. Komandan memerintahkan PWO (Principle Warfare Officer) memimpin timnya untuk menangkis serangan tersebut. Diambil langkah taktis dengan meluncurkan chaff untuk mengalihkan sasaran peluru kendali musuh. Chaff meledak di udara dan membentuk awan pejal berelektromagnet yang mengalihkan sasaran peluru kendali dari kapal ke awan pejal yang terbentuk. Hal tersebut dimonitor secara visual serta melalui tampilan radar yang menujukkan echo pada kumpulan awan pejal.

Komandan KRI Malahayati-362, Letkol Laut (P) Moch. Irchamni dalam pernyataannya menyampaikan bahwa latihan ini merupakan rangkaian kegiatan yang sudah terencana dan akan berkelanjutan. "Setelah diserang, kita wajib menyerang. Oleh karena itu, setelah bekal ulang di pelabuhan Balikpapan selanjutnya kami akan menyiapkan latihan penyerangan sebelum tiba di daerah operasi. “Ci Vis Pacem Parabellum, Jika ingin damai, Harus siap untuk berperang", ungkap Komandan KRI Malahayati-362.

Sumber: Dispenarmatim

Sunday, July 7, 2013

TNI Bangun Submarine Training Center Modern



5 Juli 2013, Surabaya: Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI DR. Marsetio, M.M. meresmikan dimulainya pembangunan gedung Submarine Training Center (STC) hari ini, Jum’at (5/7). Acara peresmian ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Kasal didampingi Pangarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H., M. Hum di area pembangunan gedung STC kompleks Komando dan Latihan Koarmatim, Ujung, Surabaya serta dihadiri pejabat teras TNI AL dan sesepuh brevet hiu kencana.

Latar belakang pembangunan gedung STC adalah sebagai fasilitas simulator untuk mempertahankan dan meningkatkan profesionalisme ABK kapal selam dihadapkan pada pembangunan kekuatan TNI AL sampai dengan tahun 2024 guna mewujudkan TNI AL yang handal, kuat dan disegani. Selain itu STC ini dapat digunakan untuk pratikum yang relevan bagi ABK kapal selam maupun calon ABK kapal selam tanpa menggunakan jam operasional kapal selam, sehingga kondisi teknis kapal dapat dilaksanakan secara maksimal dan efisien.

Negara-negara di kawasan regional seperti Malaysia, India dan Australia telah membangun sistem pelatihan awak kapal selam seiring dengan tahap awal pengadaan kapal selamnya, oleh karena itu pembangunan STC ini sangat tepat mengingat Indonesia dalam waktu dekat akan melaksanakan pengadaan tiga kapal selam baru.

Saat jumpa pers usai acara peletakan batu pertama, Kasal menyatakan saat ini Indonesia telah melaksanakan kontrak pembuatan tiga kapal selam dengan Korea Selatan dan direncanakan pada akhir tahun 2016 atau awal 2017 ketiga kapal selam tersebut sudah datang di Indonesia. Untuk pembuatan dua kapal selam dilaksanakan di Korea Selatan, sedangkan untuk pembuatan kapal selam ketiga, Indonesia telah merekrut para teknisi dari PT PAL dalam rangka Transfer of Technology (TOT) di Korea Selatan sehingga kapal ketiga dapat dibangun di PT PAL seperti halnya pembangunan kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) tahun lalu. Sehingga pada tahun 2017 Indonesia memiliki lima kapal selam termasuk dua kapal selam yang sudah ada yaitu KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402.

Menurut Kasal, dengan pembangunan STC ini TNI AL akan mempunyai personel awak kapal selam yang benar-benar profesional, sehingga apabila ada kapal selam yang sedang beroperasi ataupun sedang perbaikan di pangkalan, para personelnya masih dapat berlatih di STC. Enam fasilitas simulator akan melengkapi STC ini yang pembangunannya dilakukan secara bertahap. “Dengan demikian apabila TNI Angkatan Laut sewaktu-waktu menghadirkan kekuatan kapal selamnya dimanapun di wilayah NKRI, para personelnya sudah benar-benar siap dan terlatih”, tegas Kasal.

Terkait dengan kekuatan kapal selam yang dimiliki TNI AL, Kasal mengatakan bahwa sesuai dengan pembangunan Minimum Essential Force (MEF) TNI AL, untuk mengamankan wilayah NKRI diperlukan minimal 6 kapal selam dan diharapkan hal ini sudah tercapai pada tahun 2024. Menurut Kasal, pembangungan MEF ini akan terus di up date setiap tahun sesuai dengan anggaran yang dialokasikan ke TNI.

Fasilitas gedung Submarine Training Center (STC) yang akan dibangun ini terdiri dari enam macam simulator dan dibangun terintegrasi dalam satu lokasi sehingga proses pelatihan menjadi lebih efektif. Keenam fasilitas tersebut yaitu : pertama, Submarine control simulator (SCS) yaitu simulator pelatihan awak kapal selam yang bertugas di ruang kontrol teknis dan digunakan untuk melatih personel dalam olah gerak teknis dan taktis kapal selam. Kedua, Submarine command and team trainer (SCTT) yaitu sebuah platform yang digunakan sebagai sarana pelatihan tim Pusat Informasi Tempur (PIT) kapal selam dan merupakan sebuah mock-up situasi PIT yang sesungguhnya.

Ketiga, Sonar laboratory (SL) yaitu ruang laboratorium yang memiliki fasilitas simulator sonar yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan operator dalam melaksanakn analisa gelombang akustik. Keempat, Machinery and propulsion control simulator (MPCS) yaitu fasilitas latihan pengoperasian peralatan utama bagian permesinan dan sistem pendorong bagi awak kapal selam. Kelima, Fire and damage control simulator (FDCS) adalah sarana latihan penanggulangan kedaruratan pada kapal selam yaitu bahaya kebakaran dan kebocoran. Terakhir yaitu Submarine escape training tank (SETT) yaitu fasilitas yang digunakan sebagai sarana latihan bagi awak kapal selam untuk melaksanakan penyelamatan diri dalam kondisi darurat.

Usai acara peletakan batu pertama pembangunan gedung Submarine Training Center (STC) ini, Kasal juga akan meresmikan Balai Pertemuan Warga Flat Daerah Basis TNI AL Ujung di kompleks perumahan Flat Koarmatim, Ujung Surabaya. Balai warga dengan ukuran 24 m x 24 m ini mulai dibangun pada tahun 2012 oleh Dinas Fasilitas Pangkalan (Disfaslan) Lantamal V Surabaya.

Sumber: Dispenarmatim

Saturday, July 6, 2013

TNI AL Menuju Tentara Kelas Dunia

Seorang anggota Provos TNI AL melintas di dekat kapal selam KRI Cakra 401 yang berlabuh di Pangkalan TNI-AL (Lanal) di Watusampu, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (12/5) dalam rangka mengisi bahan bakar dan perbekalan. Lanal Palu oleh TNI-AL akan dikembangan menjadi salah satu pangkalan kapal selam untuk memperkuat basis pertahanan laut di wilayah Tengah dan Timur Indonesia. (Foto: ANTARA/Basri Marzuki/ss/pd/13)

6 Juli 2013, Jakarta: TNI AL berjuang menjadi tentara kelas dunia yang telah dicanangkan sejak Januari 2013. Untuk bisa ke arah sana, TNI AL melaksanakan inward looking dan outward looking. Upaya itu meliputi peningkatan kemampuan sumber daya manusia melalui pendidikan umum dan militer di dalam dan luar negeri serta penugasan melalui tour of duty.

"Selain itu, kami melaksanakan pembangunan kekuatan berbasis kemampuan yang mampu menangkal dan menindak setiap ancaman militer dari luar maupun dari dalam negeri," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal), Laksma Untung Suropati, seusai Lomba Menembak antarwartawan, di Mabes TNI AL, Jakarta, Jumat (5/7). Dari sisi outward looking, kata Untung, TNI terus menganalisis secara mendalam terhadap perkembangan lingkungan strategis, khususnya di kawasan Asia Pasifik.

TNI juga melakukan langkah-langkah antisipatif untuk menghadapi setiap bentuk ancaman faktual maupun potensial Upaya menjadi kelas dunia ini termasuk pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) baru yang dicanangkan sejak 2010–2014.

Alutsista baru itu terdapat 39 kapal perang, di antaranya 2 kapal selam, 2 kapal perusak kawal rudal (PKR), 16 kapal cepat rudal (KCR), dan 8 kapal patroli cepat (PC). Untuk pengadaan kendaraan tempur (Ranpur) Marinir sebanyak 84 unit terdiri dari 49 tank BMF-3F, 14 pansam BTR-80A, 5 BVP-2, dan 16 RM-70 Call-22 serta sejumlah persenjataan lainnya.

Sumber: Koran Jakarta