Tuesday, June 15, 2010

Eko Margiyono, Komandan Grup A Paspampres

Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) Mayor Jenderal Marciano Norman (tengah) hadir dalam lepas sambut Komandan Grup A Paspampres dari Kolonel (Inf) Doni Monardo (kanan) kepada Kolonel (Inf) Eko Margiyono di Markas Komando Paspampres, Jakarta, Senin (14/6). (Foto: KOMPAS/Alif Ichwan)

14 Juni 2010, Jakarta -- Kolonel Inf Eko Margiyono menjadi Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) menggantikan Kolonel Inf Doni Monardo.

Eko yang sebelumnya menjabat sebagai Asisten Teritorial Kasdiv I/Kostrad sebelumnya telah dikukuhkan bersama enam perwira menengah lainnnya sebagai anggota Paspampres pada 10 Mei 2010.

Acara pergantian Komandan Grup A dilanjutkan dengan lepas sambut Komandan Grup A sebelumnya yakni Kolonel Inf Doni Monardo, di Markas Komando Paspampres di Jakarta, Senin.

Paspampres dengan semboyannya "Setia Waspada" terdiri atas tiga satuan operasional yakni Grup A yang mempunyai tugas dan tanggungjawab mengamankan Presiden RI, Grup B mempunyai tugas dan tanggungjawab mengamankan Wakil Presiden RI.

Sedangkan Grup C mempunyai tugas dan tanggungjawab mengamankan Tamu Negara setingkat Kepala Negara dan pelatihan serta pembinaan bagi personil baru Paspampres.

Tugas mengamankan Presiden/Wapres tak mudah

Komandan Pasukan Pengamanan Presiden Mayjen TNI Marciano Norman mengatakan, tugas pasukan mengamankan presiden dan wakil presiden serta kepala negara dan kepala pemerintahan negara sahabat tidak mudah dan penuh tantangan.

"Karena itu, perlu ada kerja sama saling menutupi kekurangan yang ada," katanya pada acara lepas sambut Komandan Grup A Kolonel Inf Doni Monardo di Markas Komandan Paspampres di Jakarta, Senin (14/6).

Marciano mengaku, dirinya dengan Doni selalu berpasangan saling menutup kekurangan, menghadapi berbagai macam tugas seperti rangkaian kegiatan pemilu, acara kenegaraan di dalam negeri dan luar negeri serta kegiatan pengamanan.

"Tidak selamanya berjalan mulus. Banyak hal yang tidak sempurna. Karena kerja sama baik, ketidaksempurnaan dapat kita kurangi," ujarnya.

Dalam sambutannya, mantan Komandan Grup A Kol Inf Doni Monardo mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang selama ini membantu dalam melaksanakan tugas, seperti Komandan Paspampres Mayjen Marciano Norman, dan Bidang Rumah Tangga Presiden.

Dia berpesan kepada anggota Paspampres bahwa tugas seorang prajurit tidak pernah selesai. Anggota Paspampres tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun atau zero accident.

"Pengamanan memerlukan kewaspadaan tinggi. Kita buat adrenalin kita terpelihara untuk menghadapi apa pun yang terjadi," katanya.

Doni juga meminta maaf kepada anggota Paspampres jika memberikan perintah terlalu keras, atau anggota Paspampres di lingkungan presiden yang tidak nyaman karena dibatasi, terutama masalah merokok. Maklum, Doni dikenal dengan antirokok dan tidak memberikan toleransi kepada anak buahnya yang merokok.

Selepas jabatannya di Paspampres, Doni akan menduduki jabatan sebagai Komandan Komando Resor Militer 061 Suryakencana Kodam III Siliwangi yang berkedudukan di Bogor. Doni menggantikan Kolonel Agus S yang juga merupakan mantan Komandan Grup A Paspampres.


ANTARA News/Suara Karya

RI Tak Akan Mengemis Pada AS

USMC bersiap mengikuti latma dengan Korps Marinir TNI AL.

14 Juni 2010, Jakarta -- Pemerintah Indonesia menyatakan tidak akan mengemis pada Amerika Serikat dalam hal kerjasama pertahanan dan militer, khususnya pemulihan kerjasama pasukan khusus kedua negara, demikian Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, Senin.

"Latihan itu tidak ada urgensinya. Sebenarnya kerjasama antarmiliter Indonesia-AS terus berjalan sejak 2001 saat embargo ke kita diangkat. Saat itu kedua negara lalu membentuk forum Indonesia-USA Security Dialogue yang pertemuannya sampai sekarang sudah delapan kali," ujar Purnomo didampingi tiga kepala staf angkatan TNI dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR.

Dia menilai, hubungan antarkedua negara sebetulnya tidak pernah bermasalah, namun meski hubungan militer RI-AS telah berjalan normal Indonesia tidak ingin mengukuhkan kerjasama itu melalui payung hukum "Defence Cooperation Agreement" (DCA) jika Indonesia tidak diposisikan setara dengan AS.

"Enggak pernah ada yang mempersoalkan kok, saya sering ketemu militer dan perwakilan pemerintah AS, mereka tidak pernah menyoalkan Kopassus.

Kalau pun Kopassus tidak bisa latihan dengan pasukan khusus militer AS, kan tetap bisa latihan dengan pasukan khusus Australia, kemarin kita baru latihan bersama di Perth," katanya mengungkapkan.

Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso menyatakan kerjasama militer antarkedua negara semakin kerap dilakukan setelah 2008, namun kerja sama latihan masih belum terealisasi meski sejumlah petinggi militer dan pemerintahan AS ingin membuka kembali kerja sama dengan Kopassus.

"Mudah-mudahan berhasil. Memang masih ada hambatan di kongres sana. Namun, kami tidak mau mengemis-ngemis," kata Djoko.

Hati-hati Kerjasama Militer dengan Amerika

Anggota Komisi I DPR RI Paskalis Kossay, Senin malam, mengingatkan pemerintah untuk berhati-jhati membangun kerjasama militer dan pertahanan dengan Amerika Serikat.

"Kita tidak boleh lengah membangun kerjasama dengan mereka. Posisinya harus jelas, jangan sampai kita hanya jadi semacam `pembantu` mengamankan kepentingan mereka, terutama di Selat Malaka dan dalam rangka menghadapi ekspansi Tiongkok,"
tandas anggota Fraksi Partai Golkar itu.

Paskalis juga mengingatkan penting dan strategisnya posisi Indonesia dalam geostrategi global yang merupakan possisi tawar paling harus diandalkan.

"Kita semua tahu, mengapa Indonesia diminati bangsa-bangsa sejak tempo dulu, itu karena posisi strategis kita, bukan hanya kepemilikan atas sumber kekayaan alam," ungkapnya.

Posisi RI, menurutnya, sangat vital bagi Amerika, karena berada di antara dua benua, dua samudera serta alur niaga terbesar di dunia.

"Ini harus jadi kerangka dasar kerjasama pertahanan, di samping dasar politik luar negeri yang kita anut, yakni sistem politik luar negeri yang bebas aktif, tidak memihak pada salah satu kekuatan," tandas Paskalis.

ANTARA News

Arab Saudi Cemas Kekuatan Militer Iran Upgrade Jet Tempurnya

F-15 Eagle AU Arab Saudi sedang mengisi bahan bakar di udara. (Foto: f-16.net)

15 Juni 2010 -- Arab Saudi membantah berita bekerja sama dengan Israel mempersiapkan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran.

Situs Media Line mengutip pernyataan Arie Egozi pakar penerbangan Israel untuk harian Israel Yediot Ahronot, Arab Saudi sangat khawatir akan peningkatan kekuatan militer Iran. Arab Saudi ingin melindungi sumber minyak bumi dan fasilitas lainnya dengan meningkatkan kemampuan angkatan udaranya.

AU Arab Saudi telah menandatangani kontrak peningkatan kemampuan 150 pesawat penyerangnya serta membeli persenjataan canggih guna menandingi kekuatan militer Iran. AU Arab Saudi akan memasang sistem baru pada pesawat tempurnya terutama jet tempur Boeing F-15 Eagle.

Goodrich Corporation mengumumkan telah dipilih Arab Saudi melakukan upgrade 150 jet tempur F-15 Eagle hingga setara kemampuannya dengan F-15 AU Amerika Serikat. Jane’s Defence memberitakan nilai kontrak sekitar 50 juta dolar.

Arab Saudi telah menandatangani dengan Lockheed Martin pembelian Sniper advanced targeting pods (ATP) untuk F-15. Perangkat ini akan memudahkan para pilot Arab Saudi mendeteksi dan menembakan bom yang dipandu laser pada berbagai macam sasaran di darat.
Egozi mengatakan sistem ini mirip yang dikembangkan oleh Israel. “Tentu saja Arab Saudi tidak dapat membeli dari Israel, jadi mereka membeli sistem ini dari Amerika Serikat.”

Arab Saudi dan Israel merasa terancam dengan senjata nuklir Iran. Harian Sunday Times memberitakan sebuah kesepakatan antara Arab Saudi dan Israel telah tercapai, dimana Riyadh akan menutup mata ketika jet-jet tempur Israel melintasi wilayah udara Arab Saudi guna melakukan serangan udara pada fasilitas nuklir Iran.

Arab Saudi telah membantah berita tersebut.

Egozi mengatakan sistem pertahanan udara Arab Saudi mampu menghadapi semua serangan ke wilayahnya. “Mereka telah mengupgrade AWACS (airborne warning radar) dimana dapat mendeteksi pesawat yang mendekati udara Arab Saudi. Mereka memiliki armada F-15. Ini sebuah kekuatan udara dimana setiap negara selayaknya memilikinya.”

The Media Line/Berita HanKam