Friday, May 31, 2013

KRI Makassar-590 Embarkasi Ranpur untuk Ikuti Latgama Malindo



30 Mei 2013, Jakarta: Bertempat di Dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Tanjung Priok, Jakarta Utara, Satgas Latihan Gabungan Bersama (Latgama) Malindo Darat Samudera Angkasa (Darsasa) tahun 2013 melaksanakan embarkasi kendaraan tempur (ranpur) yang akan dipergunakan dalam latihan ke KRI Makassar-590.

Kendaraan tempur dan perlengkapan latihan tersebut diantaranya Armour Halilintar, Rapid intervention Vehicle (RIV), Land Rover Commando/Ranger, kendaraan taktis, decco trailer, truk NPS serta beberapa truk berbagai ukuran.

Semua ranpur dan perlengkapan tempur tersebut diangkut dengan Landing Platform Dock KRI Makassar-590 yang bertolak dari dermaga Kolinlamil guna mengikuti kegiatan Latihan Gabungan Bersama yang akan digelar antara Malaysia-Indonesia (Latgama Malindo) Darsasa-8AB/2013 pada tanggal 7 sampai 12 Juni 2013 di Medan, Sumatera Utara.

Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Malaysia-Indonesia (Malindo) Darsasa diselenggarakan sebagai implementasi strategi penanggulangan teror untuk menghadapi kemungkinan terjadinya serangan teroris yang dapat mengganggu stabilitas keamanan wilayah Malaysia dan Indonesia. Latihan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kesiapan kedua angkatan dari kedua negara untuk melaksanakan kerja sama dalam penanggulangan teror. Latihan ini untuk melatih komando yang dibentuk dalam rangka meningkatkan kerja sama, pengertian dan profesionalisme di antara kedua pasukan ATM dan TNI.

Sumber: Dispen Kolinlamil.

Myanmar Tertarik Pesawat CN-295

Wakil Menteri Pertahanan Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsuddien (kanan) bersama Panglima Tentara Udara Diraja Malaysia, Jeneral Dato Rodzali Bin Daud (kedua kiri) dan Duta Besar Spanyol untuk Malaysia (kiri) sesaat setelah penerbangan promosi pesawat angkut militer CN 295 buatan PT Dirgantara Indonesia di bandara Subang, Malaysia, Jumat (31/5). Pesawat tersebut melakukan tur promosi ke enam negara ASEAN yaitu Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Myanmar, Thailand dan Malaysia. (Foto: ANTARA FOTO/Aulia Badar/ss/pd/13)

31 Mei 2013, Nay Pyi Taw: Kedatangan Pesawat CN-295, Selasa (28/5), di Nay Pyi Taw, Myanmar, menarik keperhatian pemerintah setempat. Sejumlah pejabat militer Myanmar, antusias untuk mengetahui kemampuan dan karakter pesawat produksi bersama PT Dirgantara Indonesia (DI) dan Airbus Military tersebut. Para pejabat tersebut juga mengikuti joy flight CN-295 yang dimulai dan diakhiri di Bandara Nay Pyi Taw.

Kehadiran pesawat CN-295 di Myanmar, sebagai bagian dari kunjungan Wamenhan ke enam negara Asean yaitu Filipina, Brunei, Vietnam, Myanmar, Thailand, dan Malaysia.

Saat bertemu dengan Wamenhan RI Sjafrie Sjamsoeddin yang memimpin rombongan dengan menggunakan pesawat CN-295, Menteri Pertahanan Myanmar Wai Lwin juga menanyakan pesawat tersebut.

“CN-295 dipakai untuk kepentingan militer dan operasi bencana. TNI AU pakai untuk mengangkut pasukan dan penerjun. Pesawat ini juga dapat mengangkut dua mobil dan bisa mendarat di landasan rumput sepanjang 650 meter. Dengan daya muat 9 ton, pesawat mampu terbang 9 jam.” Menurut Wamenhan.

“Terima kasih penjelasannya. Pesawatnya sangat bagus. Secara pribadi, saya suka pesawat itu. Tahun lalu kami punya rencana membeli pesawat, tapi dibatalkan. Sekarang ada rencana lagi kami harus melaporkan dahulu ke atasan” jawab Wai Lwin.

Sementara itu, Direktur Niaga PT Dirgantara Indonesia Budiman Saleh mengatakan, dibutuhkan waktu dua sampai tiga tahun untuk melakukan penetrasi pasar ke suatu negara. “Kami ke Myanmar, sebagai bagian dari penetrasi pasar ini,” kata Budiman.

Sumber: Kemhan

Wednesday, May 29, 2013

Kemhan Pesan Meriam Anti Serangan Udara Oerlikon Skyshield

Oerlikon SkyShield.(Foto: Rheinmetall Defence)

28 Mei 2013, Jakarta: Kementerian Pertahanan tak hanya membeli pesawat tempur untuk memperkuat pertahanan dirgantara Indonesia. Kementerian mengaku telah memesan perisai udara dari pabrik Rheinmetall Air Defence di Swiss. Alat utama sistem persenjataan bernama Oerlikon Skyshield itu berbentuk meriam yang terintegrasi dengan radar pangkalan udara.

"Kita pesan enam unit Oerlikon SkyShield, saat ini dalam proses produksi," kata Kepala Badan Sarana Pertahanan, Laksamana Muda Rachmad Lubis, saat dihubungi Tempo, Selasa, 28 Mei 2013.

Enam unit meriam perisai udara itu dipesan Kementerian Pertahanan dengan harga US$ 202 juta. Namun, TNI AU mesti menunggu cukup lama sebelum menggunakan alutsista baru ini. Pasalnya, Oerlikon Skyshield baru bisa dikirim dari Swiss pada 2015. "Jadi bertahap. Pertama, empat unit tiba tahun 2015, dua unit lagi tiba tahun 2017," kata dia.

Sumber Tempo menyebutkan, Oerlikon Skyshield menggunakan meriam kembar berukuran amunisi 35 milimeter dan rudal anti-serangan udara jarak pendek. Kemampuan meriam memuntahkan 1.000 peluru dalam satu menit dianggap efektif menghancurkan ancaman pesawat tempur dan rudal musuh.

Kemampuan Oerlikon Skyshield semakin mumpuni jika menggunakan amunisi khusus buatan Rheinmetall bernama Advanced Hit Efficiency and Destruction (AHEAD). Jika ditembakkan, peluru ini mampu menyebar membentuk perisai, sehingga presisi tepat sasaran mencapai lebih dari 90 persen.

Sumber: TEMPO