Saturday, July 7, 2012

Komisi I Berkunjung ke Industri Pertahanan Spanyol

Fregat Alvaro de Bazán F-101 produksi Navantia. Komisi I DPR RI dijadwalkan berkunjung ke Navantia. (Foto: Navantia)

6 Juli 2012, London: Sebanyak 14 anggota DPR RI dari Komisi I mengadakan lawatan ke Spanyol untuk menggali informasi secara umum mengenai konsep dan sistem dalam industri pertahanan di Spanyol.

Konselor KBRI Madrid, Theodorus Satrio Nugroho kepada ANTARA London, Jumat mengatakan, kunjungan delegasi yang dipimpin oleh Hari Akhmadi itu terkait dengan pembahasan RUU Industri Pertahanan.

Selama kunjungan kerja dari tanggal 2 Juli-5 Juli 2012 itu delegasi Indonesia mengadakan tukar pendapat dengan Kementerian Pertahanan Spanyol yang diterima Wakil Menteri, Pedro Arguelles Salaveria.

Selain itu delegasi berkunjung ke perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi dan radar Indra, perusahaan BUMN di bidang perkapalan militer Navantia, dan perusahaan pembuat alutsista General Dynamic.

Selain itu dilakukan juga pertemuan dengan Ketua Komisi Luar Negeri Parlemen Spanyol, dan kunjungan ke Airbus Military baik di Madrid maupun di Sevilla.

Sementara itu Dubes RI untuk Spanyol, Adiyatwidi Adiwoso menilai Spanyol memberikan perhatian yang besar terhadap Indonesia.

Ia berharap selain berbagai informasi penting untuk pembahasan RUU Industri Pertahanan, kunjungan kali ini juga akan mempermulus rencana pembelian dan kerja sama untuk pesawat C-295 antara Airbus Military dengan PT Dirgantara Indonesia.

RUU Industri Pertahanan Segera Tuntas Masa Persidangan I Mendatang

Pembahasan RUU tentang Industri Pertahanan sudah mencapai 80 persen Daftar Inventaris Masalah (DIM) tuntas dan diperkirakan akan segera selesai pada masa Persidangan I mendatang.

“Setidaknya 80% dari total DIM dalam RUU tentang Industri Pertahanan yang sudah selesai dirumuskan dalam Tim Perumus dari sejumlah 478 DIM,” ujar Wakil Ketua Komisi I DPR RI Ramadhan Pohan dalam laporannya saat Rapat Badan Musyawarah di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (5/7).

Pembahasan RUU tentang Industri Pertahanan, menurut Ramadhan sudah memasuki tahap pembahasan dalam Tim Perumus (Timus) dimana secara umum telah tercapai kesepakatan konsepsi utama antara Komisi I DPR RI dengan Pemerintah. Serta Komisi I DPR telah terus menerus secara intensif melakukan Rapat Kerja, Rapat Panitia Kerja (Panja) maupun Rapat Tim Perumus (Timus).

“Komisi I DPR RI menargetkan untuk dapat disahkan dalam rapat paripurna DPR RI dalam masa persidangan I Tahun Sidang 2012-2013,” katanya.

Sumber: ANTARA News/DPR

Menhan: Lebih Baik Terima Hibah Hercules, Daripada Beli Baru


6 Juli 2012, Jakarta: Keputusan Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Pertahanan untuk menerima hibah empat unit pesawat Hercules C-130/H daripada membeli baru dikarenakan alasan keterbatasan anggaran. Menurut Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, harga pesawat tersebut sangat mahal.

“Ambil Hercules baru sekarang mahal sekali. Dan seri H sekarang sudah nggak ada, AS sekarang memproduksi seri J, dan harganya mahal sekali, bisa empat kali lipatnya,” kata Menhan Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Jumat (6/7).

Menurutnya, meskipun pesawat yang akan dihibahkan tersebut pesawat bekas operasional, namun kemampuannya masih bagus. “Kalau dilihat dari jam terbang masih bisa terbang sekitar 15-20 tahun. Justru ini jadi salah satu pertimbangan kami ambil karena kami tidak sembarangan ambil. Kami juga lihat kondisi untuk bisa terbang lagi, jam terbang sampai berapa lama, avionik, dan strukturnya,”jelas Menhan.

Namun begitu, papar Menhan, kemampuan pesawat tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan TNI AU. Karenanya, Kemhan mengirimkan tim inspeksi untuk menghitung kebutuhan TNI AU dan estimasi anggaran yang diperlukan. Selanjutnya, tim inspeksi akan meaparkan temuannya pada tim teknis TNI AU.

“Mungkin tim inspeksi menyatakan perlu tapi tim teknis tidak, baru kemudian dilaporkan pada kami. Setelah digedok baru kami ajukan anggarannya,”ujarnya.

Tim inspeksi ini merupakan tim gabungan yang terdiri dari TNI AU, Mabes TNI, dan Kemhan. Tim tersebut telah berada di Australia untuk mengecek kondisi pesawat pada 2 Juli lalu.

Estimasi Anggaran Perbaikan Hercules Hibah Tunggu Hasil Tim Inspeksi

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan, estimasi anggaran untuk perbaikan empat unit pesawat Hercules C-130/H yang akan dihibahkan dari Australia baru dapat diperoleh setelah tim inspeksi kembali dari Australia.

Tim ini akan melaporkan apa saja yang harus di-up-grade untuk menyesuaikan dengan kebutuhan TNI AU sebagai pengguna. “Sekarang kami kirim tim inspeksi, dan tim itu akan melaporkan apa saja yang harus di-up-grade.

Kami ingin sewaktu datang ke Indonesia sudah 100 persen serviceable, siap terbang. Sekarang juga sudah bisa terbang, tapi kan mesti disesuaikan dengan keinginan TNI AU,” kata Menhan Purnomo Yusgiantoro usai menghadiri serah terima jabatan Kalakhar Bakorkamla di Jakarta, Jumat (6/7).

Menhan pun membantah angka US$60 juta yang belakangan disebut-disebut sebagai jumlah yang harus dikeluarkan Indonesia untuk memperbaiki pesawat tersebut. Menurutnya, angka tersebut adalah angka lama yang kemungkinannya akan berubah saat ini.

Namun begitu, Menhan pun membantah nilai anggaran yang harus dikeluarkan akan lebih besar. “Belum tentu. Tergantung tim inspeksi yang sekarang ini ada di Australia. Jadi lebih baik kita tunggu tim inspeksi kembali dari Australia melaporkan berapa biaya yang diperlukan untuk melakukan perbaikan itu,” kata Menhan menjelaskan.

Menurut Dia, dari empat unit pesawat yang akan dihibahkan Australia, hanya satu yang masih dapat langsung diterbangkan. Sedangkan tiga sisanya unserviceable, perlu perbaikan untuk dapat kembali terbang. “Tapi perbaikan nggak cuma agar bisa terbang. Macam-macam yang harus dicek lagi dan disesuaikan dengan kebutuhan TNI AU,” kata Menhan.

Sumber: Jurnas

Hibah Empat C-130H Hercules Australia


7 Juni 2012, Jakarta: Sekretaris Jenderal Kemhan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto dan Panglima Angkatan Bersenjatan Australia Jenderal David Hurley menandatangani Memorandum of Understanding (MoM) penyerahan empat pesawat angkut militer C-130H Hercules bekas pakai Royal Australia Air Force (RAAF), Senin (2/7) di Pangkalan RAAF Darwin.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Australia Julia Gillard mencapai kesepakatan hibah empat C-130H Hercules senilai 30 juta dolar dan tiga kapal cepat, saat digelar Asia-Pacific Summit di Denpasar, Bali, November 2011.

C-130H akan meningkatkan kemampuan Indonesia dalam penangganan bencana dan bantuan kemanusian. Kapal cepat ditujukan mengatasi penyeludupan manusia ke Australia.

37 Squadron mengoperasikan 12 C-130H dan 12 C-130J Hercules. Menurut data ADF Serials, dua C-130H Hercules diparkir tanpa mesin di Richmond sejak 2009.

RAAF berencana pensiunkan dini armada C-130H Hercules pada 2013, diharapkan menghemat anggaran pemerintah 250 juta dolar untuk biaya perawatan dan operasional. Armada C-130H Hercules diterima RAAF pada 1978 dan diperkirakan bukukan 3200 jam terbang pada 2011-2012.

Program ini mendapat kritikan keras dari Serikat Buruh Australia, keputusan mempensiunkan dini C-130H Hercules diklaim mengancam 250 pekerja Qantas Defence Services di Pangkalan Udara Richmond.

QDS merupakan anak perusahaan Qantas Airways Limited, memperkerjakan 500 karyawan. QDS merawat pesawat C-130H Hercules, P-3 Orion, Boeing B-737-700IGW, Bombardier Challenger CL604, BAE Hawk 127, EADS Casa KC-30A MRTT dan helikopter Sikorsky S-701-9 Black Hawk.

Indonesia harus mengeluarkan 60 juta dolar untuk perbaikan empat C-130H Hercules hibah. Pesawat ini akan diperbaiki di Australia sebelum diterbangkan ke Indonesia. Perbaikan tidak dapat dilakukan di Indonesia, karena hibah berupa airframe C-130H Hercules.

Australia juga menawarkan enam C-130H siap operasional ke Indonesia senilai 90 juta dolar.Tawaran ini ditampik Indonesia, karena pesawat harus diremajakan setelah pemakaian empat tahun. Sehingga total pembelian enam C-130H menjadi 180 juta dolar.

Hibah pesawat menguntungkan pemerintah Australia dalam penghematan anggaran, tetapi tetap menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga negaranya. Pesawat yang terancam menjadi rongsokan atau menjadi monumen, masih dapat bernilai ekonomis tinggi dengan program hibah.

Hibah solusi tercepat dan murah dalam memenuhi program kerja pemerintah. India membeli enam C-130J Hercules senilai 1,2 milyar dolar pada 2008. Pesawat pertama tiba di India pada 2010 dan seluruhnya diterima pada 2011. Saat ini TNI AU mengoperasikan 21 unit C-130 Hercules dari berbagai tipe.

Pemerintah berencana memiliki 30 unit C-130 Hercules hingga TNI dapat mengelar kekuatan 2 batalion dengan spot berbeda.

C-130H Hercules A97-010 dan A97-12 tanpa mesin diparkir di Richmond sejak 2009. (Foto: Joshua Masterson dan CPL Colin Dadd)


Dari berbagai sumber
@Berita HanKam