Saturday, July 2, 2011

Perancis Tingkatkan Penanganan Terorisme Dengan Indonesia

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan berdiri) dan Perdana Menteri (PM) Republik Perancis Francois Fillon (kiri berdiri) menyaksikan Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana (kanan duduk) dan Menteri Muda Perdagangan Perancis Pierre Lellouche menandatangani naskah deklarasi kehendak di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (1/7). Indonesia dan Perancis menandatangani sejumlah perjanjian kerjasama yakni di bidang pendidikan, pariwisata, energi dan sumber daya mineral serta perhubungan. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/ed/pd/11)

1 Juli 2011, Jakarta (ANTARA): Perancis ingin meningkatkan kerjasama dengan Indonesia di bidang penanganan aksi terorisme dan pengamanan jalur maritim dari pembajakan.

"Kita ingin bekerjasama melawan terorisme dan mengamankan jalur maritim dari pembajakan, dimana Indonesia punya pengalaman berhasil dalam menyelamatkan Selat Malaka," kata Perdana Menteri Perancis, Francois Fillon di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat.

Fillon berdialog empat mata dengan Presiden Susilo B Yudhoyono di Istana Merdeka, sebagai satu agenda perjalanannya ke Indonesia.

Dalam lawatannya itu Fillon didampingi empat menteri, yaitu Menteri Negara Perdagangan Luar Negeri, Menteri Negara Transportasi, Menteri Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, dan Menteri Kebudayaan dan Komunikasi serta sejumlah anggota parlemen dan sekitar 20 pengusaha besar Prancis.

Sebelum konferensi pers oleh kedua kepala pemerintah terlebih dahulu dilakukan penandatangan kesepakatan/nota kesepahaman mengenai kerja sama di bidang energi dan sumber daya mineral, pariwisata, pendidikan, permuseuman, dan vulkanologi.

Untuk menghormati kunjungan resmi itu, Presiden Yudhoyono kemudian menjamu PM Prancis beserta seluruh anggota delegasinya dalam suatu jamuan santap malam resmi di Istana Negara.

Dalam keterangan persnya Fillon mengatakan, kerjasama di bidang penanganan terorisme dan pengamanan jalur maritim sangat penting untuk kelancaran kerjasama ekonomi.

Selain itu, katanya, kedua negara juga sepakat meningkatkan kerjasama di bidang pertahanan dan upaya menjaga perdamaian dunia.

"Kita ingin melakukan kerjasama di berbagai bidang. Kita ingin melipatgandakan kerjasama ekonomi ke depan," katanya. Perancis menawarkan dukungan finansial untuk proyek-proyek yang terkait bidang perkotaan dan transportasi penerbangan.

Dalam pertemuan dwipihak, menurut Fillon juga dibahas isu-isu kawasan dan global yang menjadi kepentingan kedua negara, antara lain kerjasama di G20, ASEAN dan perdamaian di Timur Tengah.

Ia menyebutkan, kunjungan kali ini merupakan kunjungan pertamanya ke Indonesia selaku PM Perancis.

"Ini kali ketiga saya mengunjungi Indonesia tapi pertama kali saya sebagai PM dan ini momen luar biasa bagi hubungan kita," katanya.

Pada keterangannya PM Fillon mengatakan bahwa Perancis ingin menjadi teman pertama Indonesia, merujuk pada prinsip zero enemy 1.000 friends Indonesia.

Kedua kepala pemerintahan menyepakati Deklarasi Bersama mengenai Kemitraan Indonesia-Prancis dalam pertemuan dwipihak.

Deklarasi Bersama mengenai Kemitraan Strategis Indonesia-Perancis itu merupakan landasan kuat bagi kerja sama yang lebih luas dan terarah antara kedua negara di masa mendatang.

Sumber: ANTARA News

Friday, July 1, 2011

1.243 Prajurit TNI Disiapkan ke Lebanon

Asisten Operasi Panglima TNI Mayor Jenderal TNI Hambali Hanafiah membuka secara resmi latihan pratugas pasukan pemelihara perdamaian PBB di Lebanon tahun 2011-2012. Pembukaan latihan pratugas pasukan pemelihara perdamaian PBB ini berlangsung di Pusat Pendidikan Infanteri Cipatat Bandung. (Foto: Puspen TNI)

30 Juni 2011, Jakarta (ANTARA News): Sebanyak 1.243 prajurit TNI disiapkan untuk bergabung dengan misi perdamaian PBB di Lebanon (Unifil).

Ke-1.243 prajurit TNI itu memasuki masa pratugas di Pusat Pendidikan Infanteri Cipatat Bandung, sejak Kamis selama satu bulan kedepan.

Mereka terbagi menjadi Satuan Tugas (Satgas) Batalyon Infanteri Mekanis Konga XXIII-F/Unifil, Satgas Force Protection Company (FPC) Konga XXVI D-2/Unifil dan Satgas Military Police Unit (MPU) Konga XXV-D/Unifil.

Kontingen TNI yang akan menggantikan kontingen sebelumnyam yang telah bertugas selama satu tahun itu terdiri atas Satgas Batalyon Infanteri Mekanis Konga XXIII-F/Unifil berjumlah 1018 orang, dipimpin oleh Dansatgas Letkol Inf Suharto, Satgas Force Protection Company (FPC) Konga XXVI D-2/Unifil 150 orang dipimpin Dansatgas Kapten Inf Wimoko dan Satgas Military Police Unit (MPU) Konga XXV-D/Unifil berjumlah 75 orang dipimpin oleh Dansatgas Letkol CPM Ida Bagus Rahwan.

Asisten Operasi Panglima TNI Mayjen TNI Hambali Hanafiah mengatakan penugasan yang akan dilaksanakan oleh para prajurit sangat mulia dan terhormat serta membanggakan mengingat operasi pemeliharaan perdamaian dunia saat ini menjadi ujung tombak bagi TNI untuk menunjukkan eksistensinya di mata dunia internasional.

"Semua prajurit harus merasa bangga karena selama ini Kontingen Garuda dimanapun bertugas selalu memperoleh pujian serta pengakuan yang positif dari PBB maupun dari negara lain.

Untuk itu, para prajurit harus bersungguh-sungguh dalam latihan, pelajari semua materi yang diberikan oleh Komandan Latihan dan para Instruktur sehingga dapat menjawab tuntutan tugas di daerah operasi," kata Mayjen Hambali .

Hambali menambahkan, selain materi latihan yang didapatkan, para prajurit diharapkan senantiasa menjaga kesehatan, dan memelihara kesamaptaan jasmani yang prima agar dapat tampil maksimal di daerah penugasan.

"Dan tidak kalah pentingnya para prajurit harus belajar mengenal dan memahami karakteristik wilayah penugasan operasi serta senantiasa mengikuti perkembangan situasi, karena di kawasan Timur Tengah sedang terjadi gejolak politik yang sedikit banyak akan berpengaruh kepada pelaksanaan tugas di Lebanon.

Hambali menekankan sebagai pasukan pemelihara perdamaian para prajurit harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang konflik yang terjadi dan bagaimana menyikapinya.

"Para prajurit harus mampu menjadi penengah antara pihak-pihak yang bertikai secara imparsial, sehingga tidak dianggap memihak kepada salah satu kelompok yang bertikai dan memahami benar bahwa penggunaan senjata harus sesuai dengan aturan pelibatan serta mengikuti standar prosedur operasi yang berlaku," ujarnya.

Sumber: ANTARA News

KSAD: Bangun Tentara Profesional

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Letjen TNI Pramono Edhie Wibowo (kiri) mendapat ucapan selamat dari pejabat lama KSAD Jenderal TNI George Toisutta seusai acara pelantikan KSAD di Istana Negara, Jakarta, Kamis (30/6). Presiden SBY mengangkat dan melantik Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen TNI Pramono Edhie Wibowo sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) menggantikan Jenderal TNI George Toisutta yang akan memasuki masa purnawirawan. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/mes/11)

30 Jun 2011, Jakarta (Jurnas.com): Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) yang baru, Letnan Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan dirinya akan memrioritaskan pembangunan tentara yang profesional dan dicintai rakyat. Selain itu, dirinya juga akan membangun peralatan TNI, yaitu Alat Utama Sistem Persenjataan atau Alutsista.

“Menyangkut peralatan TNI, itu menjadi salah satu pertimbangan karena sudah direncanakan oleh KSAD sebelumnya (Jenderal TNI George Toisutta),” kata Letjen TNI Pramono Edhie Wibowo usai dilantik menjadi KSAD oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Kamis (30/6).

Menurut Pramono, peningkatan sumber daya manusia atau personel TNI AD terus dilakukan untuk mengimbangi perkembangan teknologi.

Sebelumnya, Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI George Toisutta mengatakan, sebagai KSAD baru Pramono Edhie Wibowo memunyai banyak PR (pekerjaan rumah) antara lain masalah personel, persenjataan, pendidikan dan latihan termasuk pengalihan bisnis TNI.

Sumber: Jurnas