Thursday, October 28, 2010

Daya Tempur Udara Masih Butuh Kerja Keras

Prajurit TNI Angkatan Udara (AU) melakukan penerjunan saat upacara penutupan Latihan Puncak TNI AU "Angkasa Yudha" tahun 2010 di Sangatta, Kalimantan Timur, Rabu (27/10). Latihan "Angkasa Yudha" merupakan ajang untuk melatih kemampuan personel prajurit TNI AU, baik kemampuan taktik "air to ground" atau "air to air" dalam rangka menjaga dan mempertahankan NKRI. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/hp/10)

28 Oktober 2010, Sangata -- TNI Angkatan Udara (AU) masih harus meningkatkan latihan, dalam rangka mewujudkan ketangguhan daya tempur dan operasi udara menghadapi musuh. Saat ini, TNI AU harus berjuang keras untuk menambah alat utama sistem senjata (alustsista) canggih dan berteknologi tinggi yang disesuaikan dengan luas wilayah Indonesia.

"Karena keterbatasan anggaran, maka kita harus meningkatkan kualitas pasukan disamping menambah alutsista secara bertahap," ujar Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat, usai menyaksikan latihan operasi udara yang dengan sandi Angkasa Yudha 2010, di Sangata Kutai Timur, Kalimantan Timur, Rabu (27/10).

Latihan operasi udara yang melibatkan 1235 prajurit TNI AU dari Koops TNI AU I dan Koops TNI AU II, Kohanudnas dan Kopaskhas ini mengambil tema Komando Tugas Udara dan Komando Pertahanan Udara Nasional Melaksanakan Operasi Udara di Kalimantan Timur Dalam Rangka Menegakan Integritas Kedaulatan NKRI.

Selain itu, Angkasa Yudha 2010 melibatkan pesawat-pesawat tempur canggih yang dimiliki TNI AU, seperti 4 unit Sukhoi buatan Rusia, 4 unit F-16 buatan Amerika Serikat (AS), 6 unit F-5 Tiger, 8 Hawk 109/209 serta 4 pesawat angkut personil Hercules, Casa dan Helikopter Puma.

Imam mengatakan, TNI AU sangat membutuhkan pesawat intai tanpa awak yang sudah masuk dalam renstra pertahanan Indonesia. Pesawat tanpa awak cukup membantu untuk mendukung operasi udara, seperti menentukan titik kordinat target atau sasaran.

"Setelah kita saksikan langsung dalam latihan, beberapa sasaran harus dihancurkan setelah dibombardir berkali-kali. Seharusnya, kita tak perlu lagi mengeluarkan banyak roket untuk menghancurkan satu target apabila ada pendukung untuk menunjukan kordinat sasaran," ujarnya.

Karena itu, ia menyakini, keberadaan pesawat intai tanpa awak semakin mengefektifkan daya tempur dan operasi udara yang dilaksanakan TNI AU uuntuk menangkal musuh. "Operasi udara itu tidak bisa langsung mengadakan pengeboman. Melainkan, operasi itu harus berdasarkan informasi intelijen, yang diawali dengan pesawat recognize," ujar KSAU.

Artinya, pesawat intai tanpa awak mampu mendeteksi posisi dan kekuatan musuh. "Dengan kedatangan pesawat tanpa awak, kita bisa mendeteksi lebih dini dan centre of gravity kedudukan musuh," ujarnya.

Bukan politis

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Bambang Samoedro, menepis anggapan bahwa Angkasa Yudha 2010 dalam rangka pertunjukan aksi kekuatan udara Indonesia ke negara tetangga, Malaysia.

"Malaysia pasti tahu kalau kita sedang melaksanakan latihan operasi udara. Tapi, bukan berarti TNI AU pamer kekuatan," ujarnya.

Menurut Bambang, pemilihan Sangata sebagai latihan puncak TNI AU Angkasa Yudha karena lokasinya cukup ideal untuk latihan penembakan dari udara ke darat (air to ground). Karena itu, menurut dia, Bukit Tinjau Sangata perlu dipertahankan dan dikembangkan sebagai area latihan militer TNI AU, TNI AL dan TNI AD.

Imam menjelaskan, pemilihan Sangata sebagai tempat puncak latihan juga ditinjau dari aspek kesiapan pangkalan sekitarnya.

Suara Karya

Northrop Grumman-Built MQ-8B Fire Scout Unmanned Helicopter Surpasses 1,000 Flight Hours MilestoneSystem Demonstrates Increased Maturity in U.S. Navy


28 October 2010, SAN DIEGO -- The Northrop Grumman Corporation-built (NYSE:NOC) MQ-8B Fire Scout vertical unmanned aerial system (VUAS) has passed the 1,000 flight test hours milestone, attesting to its steady maturation as a key intelligence, surveillance and reconnaissance asset for military forces.

Northrop Grumman is the Navy's Fire Scout prime contractor.

To reach this milestone, the VUAS completed a number of rigorous flight demonstrations, including a military utility assessment on board the USS McInerney (FFG-8); an adverse conditions demonstration that exposed the system to extreme temperatures, wind and sand; and an on-going test flight program at Patuxent River Naval Air Station, Md.

While deployed, U.S. Navy Fire Scout operators detected, tracked and identified illicit traffickers on a go-fast boat in the eastern Pacific. Interception of the traffickers by a U.S. Coast Guard detachment on the frigate resulted in the capture of approximately 60 kilos of cocaine, and forced the traffickers to jettison about 200 additional kilos of narcotics.

"Since December 2006, there have been 741 MQ-8B Fire Scout flights totaling 1,032 hours," said Paul Achille, the Navy's deputy program manager for Multi-mission Tactical Unmanned Aircraft Systems. "This has allowed us to ensure full compliance of Naval Air Systems Command requirements prior to beginning operational evaluation."

The Fire Scout is currently undergoing system development and demonstration flight testing to mature it for use aboard Navy ships and is expected to begin its operational evaluation early next year.

"The MQ-8B Fire Scout has proven to be a versatile and highly-capable unmanned system," said George Vardoulakis, vice president for tactical unmanned systems for Northrop Grumman's Aerospace Systems sector. "We're looking forward to getting the system into the field where it can use its unique ISR and communications capabilities to support critical warfighter requirements."

A two-aircraft system of the Fire Scout is set to deploy on the USS Halyburton (FFG-40) in early 2011. This will be the second "at-sea" deployment of Fire Scout. A three aircraft land-based system will also support the warfighter within the Central Command area of responsibility as part of the DoD's ISR Task Force.

Northrop Grumman Corporation is a leading global security company whose 120,000 employees provide innovative systems, products, and solutions in aerospace, electronics, information systems, shipbuilding and technical services to government and commercial customers worldwide. Please visit www.northropgrumman.com for more information.

Northrop Grumman Corporation

TNI-AU Perlu 10 Skuadron

Kepala Staf TNI Angkatan Udara (AU) Marsekal TNI Imam Sufaat (kanan) dan Bupati Kutai Timur Isran Noor (kiri) menyaksikan Latihan Puncak TNI AU "Angkasa Yudha" tahun 2010 di Sangatta, Kalimantan Timur, Rabu (27/10). Latihan "Angkasa Yudha" merupakan ajang untuk melatih kemampuan personel prajurit TNI AU, baik kemampuan taktik "air to ground" atau "air to air" dalam rangka menjaga dan mempertahankan NKRI. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/hp/10)

28 Oktober 2010, Sangata -- TNI AU membutuhkan 10 skuadron atau 160 pesawat hingga 2024 untuk memperkuat pertahanan negara. "Sesuai dengan strategi TNI-AU kedepan sampai 2024 kita membutuhkan 10 Skuadron atau 160 buah pesawat tempur," kata Kepala Staf TNI-AU Marsekal Imam Syufaat, di Sangata, Rabu.

Menurut KASAU Imam Syufaat, mulai tahun 2011 TNI-AU akan mendatangkan pesawat intai tanpa awak sebanyak 4 unit dan juga pesawat tempur Sukhoi. Pengadaan itu masih diproses di Departemen Pertahanan.

"Pesawat jenis F.16 dan Sukhoi dibutuhkan untuk mendukung diplomasi kita," kata KASAU Marsekal Imam Syufaat menjawab pertanyaan wartawan usai menyaksikan kegiatan puncak kegiatan TNI-AU yang dilaksanakan di Sangata.

"Untuk menghadapi kondisi dan geografis yang butuhkan adalah jenis pesawat berbadan besar seperti Hercules dan tentunya kita masih membutuhkan pesawat seperti Sukhoi," katanya.

Ia menambahkan bahwa standar Alutsista TNI-AU memiliki peralatan yang sedang menuju ke 60 persen. "Karena anggaran kita sejak tahun 2008 kecil sekali sehingga pesawat kita sangat minim.Tahun 2010 ini lumayan besar," kata KASAU.

ANTARA News