Thursday, April 11, 2013

Pabrik Kapal Selam Ditargetkan Direalisasikan Paling Lambat 2017

KRI Cakra salah satu dari dua kapal selam TNI AL.

10 April 2013, Jakarta: Pembangunan pabrik modern untuk pembuatan kapal selam TNI Angkatan Laut di Indonesia ditargetkan dapat direalisasikan tahun 2016 atau 2017. Sebab, kapal selam pertama yang dibuat oleh Korea Selatan baru selesai tahun 2014.

"Pembangunan pabrik semua tergantung komitmen pemerintah. Pemerintah mutlak menyokong pendanaannya. Tanpa itu saya kira sangat sulit pembangunan kapal selam bisa direalisasikan di Indonesia," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati di sela seminar tentang "Teknologi Perkapalan sebagai Bagian dari Peradaban Maritim Indonesia", di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Rabu.

Ia berharap sudah ada perencanaan dari sekarang agar pada waktunya nanti pengerjaan kapal selam ketiga itu lancar tanpa kendala. "Keberadaan pabrik modern untuk membuat kapal selam menjadi kendala serius kita saat ini," kata Untung.

Pembangunan pabrik modern ini, tambah dia, bukan persoalan sederhana karena selain membutuhkan banyak sumber daya manusia yang andal. Pemerintah pun harus menyiapkan dana yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, ia berharap sumber daya manusia yang sudah dikirim ke Korea benar-benar menyerap ilmu secara komprehensif.

"Ketika secara keilmuan sudah memenuhi syarat, baru kemudian pemerintah mempersiapkan pabriknya," katanya.

Indonesia sudah sepakat melakukan transfer teknologi kapal selam dengan Korea Selatan, dimana akan dibuat tiga unit kapal selam. Untuk kapal selam pertama, pihak Indonesia hanya memantau pengerjaannya di Korea Selatan.

Selanjutnya, kata dia, pada pembuatan kapal kedua, teknisi di Indonesia dilibatkan dalam membuat kapal selam. Namun, pembuatannya tetap dilakukan di Korea Selatan.

Sementara untuk kapal selam ketiga, Indonesia akan membuat sendiri kapal itu di galangan kapal PT PAL. "Pada tahap inilah Indonesia harus mempersiapkan peralatannya. Termasuk membuat pabrik baru untuk mendukung pembangunannya," jelas Untung.

Ia juga memastikan Pangkalan Kapal Selam yang disiapkan di Teluk Palu, Sulawesi Tengah, bisa diresmikan pada akhir tahun 2013.

"Hingga kemarin (minggu lalu) saat Kepala Staf Angkatan Laut (Laksamana Marsetio) berkunjung ke sana, pangkalan sudah rampung lebih dari 90 persen. Diharapkan akhir tahun ini diresmikan," katanya menjelaskan.

Pangkalan seluas 13 hektare inilah yang nantinya digunakan untuk menyimpan semua kapal selam yang dimiliki Indonesia, termasuk untuk menyimpan kapal selam baru yang saat ini dibuat di Korea Selatan.

Sumber: Koran Jakarta

Sunday, April 7, 2013

Perusahaan Korsel Tawarkan Flying Ship ke Kemhan

Pesawat Amfibi Aron M50 mendarat di perairan Teluk Jakarta saat demo terbang pesawat tersebut di Markas Kopaska Pondok Dayung, Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (5/4). Pesawat buatan Korea Selatan tersebut merupakan pesawat pertama di dunia yang dapat beroperasi di udara dan di air bahkan pada cuara buruk yang diharapakan dapat menjadi solusi bagi malasah kelautan Indonesia. (Foto: ANTARA/Zabur Karuru/pd/13)

7 April 2013, Jakarta: Perusahaan asal Korea Selatan, Aron Flying Ship Ltd, menawarkan alat utama sistem senjata (alutsista) berupa kapal laut terbang (flying ship) kepada sejumlah pemangku kepentingan, seperti Kementerian Pertahanan serta Kementerian Kelautan dan Perikanan. Selain itu,Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), dan Badan SAR Nasional.

Hal itu terungkap ketika Aron Flying Ship dengan seri M-50 melakukan demonstrasi di Dermaga Pondok Dayung, kawasan TNI Angkatan Laut, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat.

Presiden Direktur Aron Flying Ship Ltd, Hyunwook Cho, mengatakan bahwa pesawat itu merupakan produk pertama di dunia yang menawarkan kapal berkecepatan tinggi di laut dan bisa terbang.

Ketika berada di laut, kecepatan maksimalnya bisa mencapai 54 knots atau 100 kilometer per jam, sedangkan saat terbang menjadi berlipat dua pada kisaran 220 kilometer per jam. Kapal yang menggunakan bahan bakar sejenis pertamax ini pun diklaim hemat energi.

"Dengan 200 liter bensin bisa terbang sejauh 800 kilometer. Performa di laut pun bisa lima kali lebih cepat dari speedboat," katanya.

Untuk bisa take off, kapal terbang ini hanya membutuhkan landasan air sepanjang 200-400 meter. Kapal ini diklaim mampu landing di perairan laut dengan kedalaman 50 sentimeter. Bahkan, kata dia, flying ship ini bisa terbang walaupun ombak di laut mencapai 2 meter.

"Ini terjadi karena mesin yang digunakan berkekuatan 250 tenaga kuda. Dengan spesifikasi ini, flying ship sangat berguna untuk pengintaian, navigasi, bahkan penyelamatan. Apalagi di Indonesia yang lautnya melimpah," jelasnya.

(Foto: Aron Flying Ship)

Pesawat Aron juga dinilai sebagai solusi bagi permasalahan laut yang dihadapi Indonesia, terutama penyelamatan di laut (sea rescue) dan pertahanan laut (defence).

Hyunwook juga menjamin bahwa pesawat ini aman dan nyaman, bahkan nyaris tak ada getaran sewaktu terbang. Kelebihan lain, kapal ini juga tak terdeteksi radar karena hanya bisa terbang rendah maksimal 150 meter di atas permukaan laut.

"Kapal ini juga bisa dipergunakan malam hari untuk pengintaian karena dilengkapi inframerah," ujarnya.

Adapun bahan bodi yang digunakan kapal ini adalah kevlar komposit karbon atau bahan yang kerap digunakan untuk rompi antipeluru. Dengan demikian, bodinya kuat walaupun menumbuk benda keras yang mengapung di permukaan laut. Bobot kapal tipe M-50 ini mencapai 1,7 ton.

Kapal yang dikembangkan selama 15 tahun ini sudah menarik peminat di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Kolombia, dan Filipina.

Keistimewaan lain, dalam keadaan mesin mati, kapal ini masih bisa bergerak maju-mundur dan berputar hingga 360 derajat. Kapal dengan sayap di bawah ini juga sudah dilengkapi radar dan senjata ringan.

Namun, sejumlah keunggulan yang ditawarkan itu tak serta-merta membuat pejabat di Indonesia langsung kepincut. Undangan dari TNI AU Kolonel Amrizal mempertanyakan sertifikasi apa saja yang telah didapat kapal ini.

"Saya lihat dari bodinya, kapal ini sepertinya tak layak untuk dipakai di laut lepas. Kekuatan terbangnya pun terbatas," katanya.

Kapal ini hanya memiliki panjang 10 meter, rentang sayap 12 meter, dan tinggi 3 meter. Untuk tipe M-50, kapasitas penumpang hanya empat orang, belum termasuk pilot dan kopilot. Adapun untuk tipe M80, kapal ini sedikit lebih jembar dan mampu mengangkut delapan orang.

Jenis pesawat lainnya yang dimiliki Aron Flying Ship, yakni Aron MK80 yang dapat digunakan untuk kepentingan militer dan Aron M200 yang memiliki kapasitas 20 orang.

Irjen Kemhan Laksamana Madya TNI Sumartono mengatakan bahwa pesawat Aron lebih cocok untuk penyelamatan di laut, sementara pesawat untuk kepentingan militer perlu dikembangkan lagi.

"Akan tetapi, bila untuk pengamatan maritim dan intelijen, saya kira masih memadai," katanya.

Untuk pembelian pesawat itu, kata Sumartono, Kemhan akan melakukan pengkajian dari berbagai aspek, bagaimana cara pemeliharaannya, anggarannya bagaimana, apakah bisa dilakukan alih teknologi (transfer of technology/TOT).

"Banyak aspek yang perlu dipertimbangkan. Namun, secara keseluruhan pesawat tersebut bagus," tuturnya.

(Foto: Aron Flying Ship)

Anggota Komisi I DPR Susaningtyas Kertopati yang juga menyaksikan demonstrasi perdana itu menilai kapal ini sangat cocok untuk menjaga keamanan laut di Indonesia.

"Terutama untuk mencegah illegal logging dan illegal fishing yang masih marak di sini," katanya.

Dengan harga yang ditawarkan sebesar lima juta dolar Amerika, Susaningtyas melihat angka itu relatif cukup murah dengan kemampuannya yang komplit.

"Ada baiknya Indonesia memiliki kapal jenis ini, terutama untuk menjaga daerah kepulauan," ujarnya.

Sumber: Investor Daily

Satgasmar Ambalat XVI Diberangkatkan ke Ambalat



6 April 2013, Surabaya: Komandan Brigif-1 Marinir Kolonel Marinir Markos melepas keberangkatan Satuan Tugas Marinir Ambalat XVI di dermaga Ujung, Surabaya, Sabtu, (6/4).

Satgasmar Ambalat XVI dengan Komandan Satgas Kapten Marinir M. Ali Wardana tersebut akan menggantikan Satgasmar Ambalat XV yang saat ini berada di perbatasan Indonesia - Malaysia tepatnya di pulau Sebatik, keberangkatannya ke daerah penugasan Ambalat dengan menggunakan KRI Teluk Parigi - 539.

Sebelum berangkat ke daerah penugasan, Satgasmar Ambalat XVI telah inspeksi kesiapannya oleh Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) A. Faridz Washington pada 26 Maret 2013, selain itu personel yang tergabung dalam Satgasmar Ambalat XVI juga telah menerima pembekalan-pembekalan tentang kondisi geografi dan demografi, pengetahuan keimigrasian, pengetahuan hukum HAM dan Humaniter, pengetahuan hukum laut internasional, situasi keamanan saat ini di daerah perbatasan dan pengetahuan agama, adat istiadat, bahasa yang dipakai masyarakat pulau Sebatik, serta telah melaksanakan latihan Pra Tugas di Pusat Latihan Tempur TNI AL Grati Pasuruan.



Personel Satgasmar Ambalat XVI tersebut akan menempati beberapa pos yaitu Sei Pancang, Sei Taiwan, Balansiku, Sei Bajau, Tembaring, Bambangan dan Nunukan.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Pasops Brigif-1 Mar Letkol Marinir Gatot Mardiyono, Danyonif-1 Mar Letkol Marinir Teddy Yulianda Bakri dan perwira di jajaran Brigif-1 Marinir.

Sumber: Dispenkormar