Tuesday, March 19, 2013

Kopaska dan USN Seal Latihan Pertempuran Jarak Dekat



18 Maret 2013, Jakarta: Dalam rangka meningkatkan ketajaman profesionalisme prajurit Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut dan menguji kemampuan individu maupun tim serta memantapkan standar operasi prosedur (SOP) di lapangan, prajurit Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut melaksanakan latihan Close Quarter Combat (CQC) bersama dengan US Navy Seal di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (18/3).

CQC adalah merupakan pertempuran yang dilakukan dalam jarak dekat atau di dalam ruangan yang bersifat agresif, dadakan, surprise dan Selektif Fire. Kegiatan latihan yang dilaksanakan antara pasukan khusus Angkatan Laut dari Indonesia dan Amerika Serikat (AS) tersebut dalam rangka latihan bersama dengan sandi “Flash Iron 13-01 Joint Combined Exchange Training (JCET)”.

Kegiatan latihan bersama tersebut, ditinjau secara langsung oleh Wakil Komandan Komando Latihan Komando Armada RI kawasan Barat (Wadan Kolatarmabar) Letkol Laut (P) I.G.P Aswan Candra selaku Tim evaluasi latihan.

Sumber: Dispenarmabar 

Monday, March 18, 2013

Proyek Pembuatan Kapal Selam Tetap Diteruskan

Maket kapal selam dipesan Indonesia, dipamerkan PT PAL di Indo Defense 2012. (Foto: Berita HanKam)

18 Maret 2013, Jakarta: Proyek kerja sama pembuatan tiga kapal selam antara Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) tetap diteruskan. Proyek kapal selam ini tak terimbas penundaan proyek pengembangan pesawat tempur Korean Fighter Xperiment (KFX)/Indonesian Fighter Xperiment (IFX) karena kondisi ekonomi di Korsel. "Tidak ada penundaan. Proyek kapal selam tetap diteruskan sesuai jadwal yang ada," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik, Kementerian Pertahanan (Kemhan), Brigjen TNI Sisriadi, saat dihubungi Koran Jakarta, Minggu (17/3).

Itu artinya kapal selam pertama dan kedua hasil kerja sama kedua negara akan rampung pada 2016. Dia menambahkan mulai April 2013, tahapan pembuatan kapal selam sudah masuk pada steel cut atau pemotongan baja. "Steel cut merupakan tahapan awal dari pembuatan kapal selam. Diharapkan selesai dalam 40 bulan," jelas Sisriadi.

Dia menjelaskan pembuatan kapal selam tak tertunda seperti KFX karena mekanisme yang digunakan adalah jual-beli, sedangkan proyek KFX menggunakan mekanisme kerja sama. "Kalau sampai tertunda, artinya pihak Korsel harus membayar denda," kata dia. Seperti diketahui, Kemhan telah mengirimkan 130 personel ke Korsel pada Februari 2013 lalu untuk proyek pembuatan kapal selam.

Para personel itu diambil dari anggota TNI AL, ahli kapal selam dari PT PAL, dan sejumlah aka demisi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. "Pada 36 bulan pertama, mereka hanya akan memperhatikan cara membuat kapal selam," kata Staf Ahli Kementerian Pertahanan, Mayjen Hartind Asrin.

Hartind menjelaskan dua dari tiga kapal selam yang dibeli Indonesia akan dibuat di Korsel melalui perusahaan galangan Daewoo Shipbuiliding Marine Enginering (DSME). Pembuatan kapal selam pertama berlangsung dalam kurun 36 bulan. Selama itu pula teknisi dari Indonesia akan memperhatikan dengan saksama cara mereka merakit hingga akhirnya kapal selam itu selesai.

Masih Dibantu

Pada pembuatan kapal selam kedua, barulah para teknisi itu ikut turun. Namun, masih akan dibantu dari pihak Korsel. "Separo teknisi dari kita, separo dari mereka," kata dia. Pembuatan kapal selam kedua ini diperkirakan lebih singkat, yakni hanya 20 bulan. Pasalnya, pihak Korsel dan Indonesia menargetkan bisa membangun dua kapal selam itu dalam kurun 56 bulan atau sekitar 4,5 tahun.

"Diperkirakan dua kapal selam itu akan selesai pada pertengahan 2016," ujar Hartind. Untuk pembuatan kapal selam ketiga, pengerjaan sepenuhnya dilakukan teknisi Indonesia. Hartind mengatakan pembuatan kapal selam ketiga ini akan dilakukan di galangan PT PAL di Surabaya.

Meski demikian, pihak DSME tetap akan mengawasi pembuatannya. "Proses pembuatannya diperkirakan memakan waktu 24-36 bulan," kata dia. Kapal selam berjenis 209 dengan teknologi setara jenis 214 ini diperkirakan menghabiskan dana 1 miliar dollar atau 10 triliun rupiah. Pembayarannya menggunakan anggaran APBN 2010-2014.

Sumber: Koran Jakarta

Sunday, March 17, 2013

Yonif 10 Marinir Segera Dibentuk di Batam

(Foto: Marinir)

17 Maret 2013, Jakarta: TNI AL akan kembangkan satuan tempur beberapa wilayah tanah air. Hal itu ditegaskan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Dr. Marsetio, di sela penganugerahaannya sebagai warga kehormatan Korps Marinir, di Cilandak Jakarta Selatan, Kamis (14/3/13).

“Dalam waktu dekat akan dibentuk Yonif-10 Marinir yang berkedudukan di Pulau Setoko Batam dan Pasmar-3 yang berkedudukan di Sorong Papua”, ujar Marsetio.

Pengembangan satuan-satuan itu adalah untuk mengantisipasi dan menyikapi perubahan paradigma yang terjadi, termasuk mengamankan Selat Malaka dari ancaman prompak,tambah Marsetio.

Diingatkannya pula dengan adanya pengembangan satuan tersebut, seluruh Korps Marinir agar terus berupaya optimal menjaga konsistensi serta meningkatkan kemampuan profesionalisme hingga memenuhi kriteria world class marine.

Selain Kasal Laksamana Dr. Marsetio mendapat kehormatan sebagai warga Korps Marinir yang ke 30, Koptu Mar. Eko Yulianto juga mendapat penghargaan kenaikan pangkat luar biasa yang diberikan langsung oleh Kasal Laksamana TNI Dr. Marsetio.

Koptu Mar Eko Yulianto merupakan anggota Puskodal Mako Kormar yang beberapa waktu lalu berhasil menggagalkan aksi perampokan sepeda motor di Bekasi.

Sumber: Harian Pelita