Tuesday, February 14, 2012

Al Muzzammil Yusuf: Pesawat Intai Israel Dapat Bocorkan Rahasia Negara

UAV Heron buatan Israel dan UAV buatan Irkut, Rusia tersisih dalam tender pengadaan UAV. UAV Heron digunakan oleh AB Australia. UAV Searcher buatan IAI, Israel telah digunakan oleh AB Singapura, India, Spanyol. (Foto: Australia DoD)

15 Februari 2012, Senayan: Anggota Komisi I DPR RI Al Muzzammil Yusuf mengingatkan, kemungkinan besar pesawat intai Israel dapat membocorkan rahasia negara. Untuk itu, pemerintah diminta untuk menggunakan pesawat intai buatan dalam negeri.

"Kerahasiaan data negara itu sangat penting. Kita tidak tahu jika Israel memasang alat penyadap di pesawat intai tersebut yang bisa mentransfer rahasia penting negara kita ke Israel," kata Muzzammil di Gedung DPR RI, Senin (13/2).

Menurut Muzzammil, Israel memiliki tradisi melanggar privasi sebuah negara, antara lain dengan cara penyadapan, sabotase, dan pemalsuan paspor. Intel Israel sering mencuri rahasia negara lain dengan berbagai teknologi yang dimilikinya.

Hal ini sudah terbukti di berbagai kasus pembunuhan dan pencurian data dan identitas di negara lain. Contohnya, pemalsuan paspor oleh keperluan intelijen Israel yang digunakan dalam aksi pembunuhan seorang pemimpin Hamas pada tahun 2000. Peristiwa itu melibatkan 26 intel Israel. Mereka menggunakan paspor negara-negara maju seperti Inggris, Australia, Irlandia dan Perancis.

Dalam kasus lain, pembunuhan ilmuwan nuklir Iran yang akhir-akhir ini terjadi diduga kuat dilakukan oleh intel Israel. Israel juga diduga telah menyadap dan mensabotase pesawat komersial Mesir—menyebabkan pesawat jatuh dan menewaskan puluhan prajurit Mesir yang dilatih di AS pada tahun 1999.

"Bukankah peristiwa tersebut harus menjadi pertimbangan Kemenhan dan TNI ketika membeli alutsista dari Israel? Jangan sampai rahasia negara kita menjadi korban kejahatan intel Israel di kemudian hari," ujar Muzzammil.

Untuk itu, Wakil Ketua Fraksi PKS ini mendesak agar Kemenhan menggunakan pesawat intai produksi dalam negeri yang dibuat oleh anak bangsa seperti BPPT, PT DI atau industri strategis pertahanan lainnya.

"Selain keamanan datanya terjamin, sebagai bangsa kita akan bangga dengan alutsista buatan dalam negeri dan menjadikan industri strategis dalam negeri semakin mandiri," pungkasnya.

Sumber: Jurnal Parlemen

Pangdam XII/TPR: Kostrad 305 Jaga Perbatasan Kalbar

Ekspresi Panglima Kodam XII/Tanjungpura, Mayjen TNI Erwin Hudawi Lubis saat jumpa pers seusai Pembukaan Rapat Pimpinan Makodam XII/Tanjungpura di Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Senin (13/2). Dalam kesempatan tersebut, Mayjen TNI Erwin Hudawi Lubis menyatakan pada akhir Maret 2012 Kodam XII/Tanjungpura akan menarik mundur pasukan Batalyon Infanteri 643 Wanara Sakti Sintang dari 34 pos pengamanan perbatasan Indonesia-Malaysia di wilayah Kalbar, dan menggantikannya dengan satu batalyon pasukan Komando Strategi dan Cadangan Angkatan Darat (Kostrad) 305. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/ss/nz/12)

13 Februari 2012, Pontianak: Panglima Komando Daerah Militer XII Tanjungpura Mayor Jenderal TNI Erwin Hudawi Lubis menyatakan, akan mengganti pasukan pengamanan perbatasan dari yang sebelumnya Batalion Infanteri 643 Wanara Sakti Sintang ke Komando Strategi dan Cadangan Angkatan Darat 305.

"Pergantian itu guna memberikan penyegaran bagi prajurit yang telah bertugas menjaga keamanan di sepanjang perbatasan yang akan berakhir Maret 2012 hingga enam bulan mendatang bagi prajurit Kostrad 305," kata Erwin Hudawi Lubis dalam keterangan persnya di Pontianak, Senin.

Ia menjelaskan, satu Batalion Kostrad 305 atau sekitar 600 personel yang akan menjaga perbatasan Kalimantan Barat (Indonesia) dengan Sarawak (Malaysia) yang ditempatkan pada 34 pos pengamanan perbatasan.

"Intinya pengamanan perbatasan sama saja, cuma melakukan penyegaran saja agar prajurit yang bertugas di perbatasan tidak jenuh," ujarnya.

Pangdam XII/TPR menambahkan, selama ini pasukan yang menjaga perbatasan hanya dari tiga batalion yang ada di bawah Kodam XII/TPR yang ada di Kalbar, yakni Batalion Infanteri 643 Wanara Sakti, Batalion Infanteri 641 Beruang Hitam di Kota Singkawang, Batalion Infanteri 642 Kapuas.

Ia berharap, kehadiran petugas TNI di sepanjang perbatasan bisa menjaga masyarakat dan kedaulatan NKRI dari ancaman musuh baik dari dalam maupun dari luar.

Panjang perbatasan mencapai 966 kilometer mulai dari Tanjung Datuk di Kabupaten Sambas hingga Gunung Cemeru di Kabupaten Kapuas Hulu, baru didukung sebanyak 34 pos pengamanan perbatasan (Pamtas).

Dari jumlah tersebut tiga di antaranya Pamtas bersama, satu berada di Entikong, Kabupaten Sanggau dan dua di Malaysia, yakni Lubok Antu berbatasan Kabupaten Kapuas Hulu dan Biawak berbatasan Kabupaten Sambas (Indonesia).

Kodam XII TPR di Pontianak diresmikan kembali pada 2 Juli 2010. Sebelumnya di Kalimantan sempat terdapat empat Kodam yang kemudian dilebur menjadi Kodam VI/TPR pada Desember 1984.

Kodam XII/Tanjungpura kini bermarkas di Pontianak mencakup dua provinsi yakni Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Sedangkan Kodam VI/Mulawarman untuk wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Sumber: KALIMANTAN News

Bagian II: Suka Duka Awak KRI Naggala

(Foto: Kaskus)

14 Februari 2012: Bagi awak KRI Nanggala-402,berada di kedalaman air selama beberapa bulan punya cerita keseharian sendiri. Meski berada di dalam air, bukan berarti bisa mandi setiap hari.

Sebaliknya gerah dan gatal hampir menjadi rutinitisan mereka di dalam kapal selam. Bayangkan saja, sebulan sekali mereka baru dapat jatah mandi. Jangan kaget jika mendapati awak kapal selam berbau sedikit apek begitu selesai berlayar.Ini karena mereka jarang diguyur air selama berlayar.

Untuk membersihkan badan,mereka biasanya hanya menggunakan tisu basah, atau hanya mengusapnya dengan handuk hangat begitu saja. Bahkan kalau kondisi darurat kadang mereka hanya ganti pakaian saja. Semua dilakukan bukan karena malas atau berlaku jorok,tetapi karena aktifivas yang begitu padat sepanjang berlayar.

Untuk sekedar mandi mereka kadang tidak sempat.” Awak kapal ini terbatas, karena hanya 34 orang.Semua konsentrasi penuh dengan tugas masing-masing,”kata salah seorang awak KRI Nanggala-402 Pelda Suprapdi Beberapa alasan menurut Suprapdi adalah karena jumlah cadangan air di dalam kapal selam yang terbatas, sehingga pemakaiannya harus super hemat.

Ini karena kapasitas tampung air dalam kapal hanya 15.000 liter saja. Jumlah air tersebut dipakai untuk minum, mandi,b ersuci, memasak,dan MCK selama hampir sebulan. ”Karena air terbatas, sehingga tidak bisa dipakai seenaknya. Paling hanya bisa dikurangi untuk cuci muka dan ambil air wudlu saja. Selebihnya untuk cadangan minum dan memasak,” katanya.

Kendati punya jatah mandi sekali, bukan berarti mereka bisa berlama-lama saat berada di kamar mandi.Ini karena jumlah kamar mandi yang terbatas, sementara awak yang mengantre begitu banyak. ”Kamar mandi hanya dua. Satu untuk komandan satu lagi untuk kita.Jadi harus gantian. Makanya selalu antre panjang kalau pas jadwal mandi. Nah,kalau yang punya kebiasaan bernyanyi saat mandi, di sini tidak bisa. Sebab di luar banyak yang menunggu,” katanya mengisahkan pengalamannya berada di kapal selam.

Tidak hanya urusan mandi saja kata Suprapdi yang harus bergantian,tidur pun demikian. Para awak KRI Nanggala tidak bisa tidur seenaknya karena harus bergiliran jaga. Untuk setiap awak misalnya, rata-rata hanya punya jatah tidur 4 jam dengan waktu yang tidak menentu. Semua dilakukan dengan sistem shift seperti tugas jaga.

Saat awak lain menjalankan tugas piket misalnya,maka awak lainnya mendapat giliran tidur,begitu seterusnya hingga 36 awak mendapat jatah merata.”Jadi kalau tidur tidak mesti malam hari. Kalau jatahnya pas siang ya siang itu harus tidur. Kalau tidak,maka jatahnya hangus,” imbuhnya.

Karena jatah yang minim pula kadang awak kapal selam susah tidur dengan nyaman. Apalagi kondisi tempat tidur juga sangat sempit, menempel di dinding kapal dan hanya berukuran 170 x 50 cm.Dengan ukuran ini,praktis mereka tidak bisa bergerak bebas saat tidur,misalnya mengubah arah kepala atau bahkan mlungker (menekuk kaki dan badan) saat kedinginan.

Bahkan saat bangun pun mereka tidak bisa langsung duduk seperti di tempat tidur normal. Ini karena tinggi tempat tidur yang tidak lebih dari 40 cm. Tak hanya itu saja,besarnya gelombang air laut seringkali juga membuat mereka mendadak terjaga saat tidur. Ini karena tubuh mudah tergoyang dan membentur dinding.

Kendati demikian,para awak kapal tidak lantas jenuh dan menyerah.Sebaliknya mereka tetap tegar dan semangat menjalankan tugas dengan profesional.”Bertugas di tengah keterbatasan sudah menjadi resiko, sehingga harus tetap dinikmati. Dan kami bersyukur karena masih bisa melewatinya dengan baik,” katanya.

Bagi Suprapdi sukses menjalankan tugas yang diperintahkan atasan adalah sesuatu yang luar biasa.”Kalau semua itu sudah tercapai, maka semua penderitaan selama bertugas menjadi sirna,”tandasnya.

Sumber: SINDO