Monday, October 25, 2010

Kemhan Ingin Bangun Alutsista Multipurpose Untuk Dukung Operasi Militer Selain Perang

Bell 212.

22 Oktober 2010, Jakarta -- Untuk mendukung tugas TNI dalam operasi militer selain perang, Kementerian Pertahanan (Kemhan) berkeinginan membangun Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) yang dapat digunakan untuk multi purpose. Sehingga, Alutsista yang akan dibangun disamping untuk mendukung tugas operasi militer untuk perang, juga dapat digunakan untuk operasi militer selain perang.

Demikian dikatakan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, saat menjadi pembicara pada Roundtable Discussion “ “Meningkatkan peran TNI dalam operasi militer selain perang untuk memperkuat sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta dalam rangka mensukseskan pembangunan nasional”, Kamis (21/10) di kantor Lemhannas, Jakarta.

Lebih lanjut Menhan mengatakan, TNI sebagai komponen utama pertahanan negara selain harus selalu siap setiap saat khususnya dalam tugas operasi militer untuk perang, TNI juga dituntut harus siap menjalankan tugasnya dalam operasi militer selain perang.

Untuk itu, pembangunan Alutsista TNI diharapkan tidak hanya untuk straight force namun juga dapat digunakan untuk kegiatan tugas operasi militer selain perang. Menhan mencontohkan pembangunan sebuah helikopter serbu atau serang, utamanya memang untuk serangan dari udara ke darat, namun disamping itu juga dapat digunakan untuk mengangkut pasukan dan logistik serta hal - hal yang sifatnya darurat atau emergency.

Menurut Menhan, saat ini Kemhan sudah mendapatkan license dari Bell untuk membangun Skuadron Bell 412 untuk memperkuat Alutsita TNI AD. Kemungkinan Skuadron Belt 412 akan dibangun lebih dari satu skuadron yang di antara nya akan ditempatkan di Batu Raja.

Sementara itu untuk TNI AL, lanjut Menhan adalah pembangunan kapal Landing Platform Dock (LPD). Kapal LPD ini dapat digunakan untuk mengangkut pasukan dan kegiatan kegiatan operasi militer selain perang. Menurut Menhan, pembangunan kapal LPD ini ongkosnya sepertiga dari pembangunan kapal perang freegat, karena kapal LPD tidak banyak menggunakan elektronik, dan peralatan avionik seperti yang ada di kapal - kapal perang modern.

Sedangkan untuk TNI AU, adalah pembangunan Skuadron Hercules yang saat ini masih kurang. Namun Kemhan berusaha agar dapat membangun satu skuadron Hercules yang kuat dimana ini juga sangat sesuai untuk mendukung kegiatan – kegiatan operasi militer selain perang.

Selain itu, untuk mendukung kegiatan operasi militer selain perang, saat ini tengah dibangun Peace Keeping Center di Sentul, Bogor dengan luas komples seluas kurang lebih sekitar 240 hektar. Peace Keeping Center tersebut dapat disebut sebagi Four in One yaitu antara lain dapat digunakan untuk kegiatan Peace Keeping Operation, Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Humanitarian Assistant and Disasters Relief dan Standby Force.

DMC

TNI AU Uji Payung Udara Buatan Lokal

25 Oktober 2010, Jakarta -- TNI Angkatan Udara (AU) melakukan pengujian terhadap payung udara batang yang diproduksi Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara. Pengujian ini sebagai rangkaian dari rencana pendukung strategis dalam operasi militer perang dan operasi militer selain perang.

Kadislitbang TNI AU Marsma TNI Basuki Purwanto, dalam siaran pers yang diterima Suara Karya di Jakarta, akhir pekan lalu mengatakan, uji dinamis ini untuk melihat secara nyata hasil di lapangan terhadap produk Dislitbangau, setelah sebelumnya melalui uji laboraturium dan uji statis.

Melalui uji dinamis, akan diketahui tingkat keamanan, keselamatan dan daya kerja PUB produk Dislitbangau sekelas G12E buatan Amerika Serikat. "Pada akhirnya, PUB layak apa tidak untuk di perbanyak," ujarnya.

Ia menambahkan, PUB produk Dislitbangau merupakan program penelitian untuk industri pertahanan yang didanai Kementerian Riset dan Teknologi.

"Melalui kerja sama antara Dislitbangau dan CV Maju Mapan ini diharapkan upaya kemandirian terhadap industri pertahanan di Tanah Air dapat direalisasikan," ujar Kadislitbangau.

Penerjunan PUB di Lanud Suryadarma dengan ketinggian 900 kaki tersebut, dilaksanakan sebanyak empat kali (run). Penerjunan pertama PUB I membawa beban pasir 800 kg, penerjunan kedua PUB II membawa air seberat 800 kg, ketiga PUB low cost (bahan murah) membawa air 200 kg dan terakhir PUB membawa helly box seberat 20 kg.

Setelah mengadakan rapat evaluasi dari keempat penerjunan tersebut disimpulkan, secara umum PUB produk Dislitbangau tersebut baik dan layak untuk diperbanyak.

Karena, memenuhi berbagai aspek seperti aspek kontruksi dan perlengkapan, aspek kemampuan, aspek operasional, aspek pemeliharaan dan aspek insani. "Produk PUB Dislitbangau tersebut nilai akhirnya 97,00 berarti layak diperbanyak," ujar Basuki.

Secara terpisah, Lanud Pekanbaru siap membantu Pemerintah Kota (Pemkot) Pekanbaru dalam penanggulangan bencana alam, dan membantu Polri dalam mengatasi masalah keamanan serta penanggulangan terorisme di daerah tersebut.

Suara Karya

TNI Siapkan Infrastruktur Pesawat Intai Tanpa Awak

UAV Searcher MkII milik AU Spanyol. (Foto: DID)

25 Oktober 2010, Jakarta - Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengungkapkan, pihaknya telah mempersiapkan infrastruktur bagi skuadron pesawat intai tanpa awak di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat.

"Kami percepat pembangunannya seperti hanggar dan segala perlengkapan yang menyertainya, seperti peralatan intai, intelijen dan lainnya" katanya, ketika di konfirmasi ANTARA, usai memimpin upacara serahterima jabatan Panglima Komando Operasi Angkatan Udara I di Jakarta, Senin.

TNI segera membangun skuadron pesawat intai untuk mengamankan seluruh wilayah RI, terutama di perbatasan baik darat, laut maupun udara.

"Rencananya, empat pesawat intai tanpa awak akan tiba pada medio 2011, dari satu skuadron yang direncanakan," ujar Imam menambahkan.

Ia mengemukakan, skuadron pesawat intai tanpa awak meski akan bermarkas di Pangkalan Udara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat namun pengoperasiannya di bawah Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) Mabes TNI.

Tentang jumlah personel dan teknisi yang dipersiapkan, Kasau mengatakan, "Hal itu, terkait organisasi, dan karena kita belum memiliki skuadron pesawat intai tanpa awak sebelumnya maka kita tengah mempelajari susunan dan bentuk organisasinya,".

Imam mengemukakan, pihaknya tengah menjajaki bentuk dan susunan organisasi skuadron pesawat intai tanpa awak dari Australia dan Singapura.

"Kita pelajari bentuk dan susunan organisasinya sambil mempersiapkan yang lain, karena kita kan belum pernah memiliki skuadron pesawat intai tanpa awak," paparnya.

Sebelumnya, Asisten Perencanaan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Muda TNI Ery Biatmoko mengemukakan, personel yang mengoperasionalkan tidak banyak, sekitar dua orang untuk memantau seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, terutama di perbatasan darat, laut dan udara.

Pesawat intai tanpa awak itu, dapat dioperasikan lima sampai enam jam per hari."Sehingga, semisal, kita ingin memantau wilayah tengah Indonesia, kita bisa terbangkan hingga Tarakan, kembali lagi ke Pontianak. Begitu untuk ke wilayah lainya di Indonesia," tuturnya menjelaskan.

ANTARA News