Sunday, December 27, 2009

Pengamanan Gabungan Bandara Internasional Juanda

26 Desember 2009, Surabaya -- Sejumlah petugas keamanan gabungan Bandara Internasional Juanda Surabaya, Kopaska TNI AL, Pomal dan Polres Sidoarjo, siaga di alat pemeriksaan X-Ray pintu masuk keberangkatan domestik, Bandara Internasional Juanda Surabaya, Sabtu (26/12). Pengamanan gabungan dari berbagai unsur dengan membuka Posko Terpadu tersebut, dalam rangka pengamanan Natal dan Tahun Baru 2010 di lingkungan bandara. (Foto: ANTARA/Eric Ireng/ss/ama/09)

Sejumlah petugas keamanan gabungan Bandara Internasional Juanda Surabaya, Kopaska TNI AL, Pomal dan Polres Sidoarjo, melakukan patroli di sekitar area keberangkatan domestik, Bandara Internasional Juanda Surabaya, Sabtu (26/12). (Foto: ANTARA/Eric Ireng/ss/ama/09)

Yusron: Diplomasi Kuat Harus Ditopang Kekuatan Senjata

Dr Yusron Ihza Mahendra. (Foto: istimewa)

27 Desember 2009, Jakarta -- Pakar politik pertahanan, Dr Yusron Ihza Mahendra, menyatakan diplomasi suatu negara akan kuat jika ditopang oleh kekuatan senjata.

"Bagi saya, pertahanan tidaklah hanya bermakna bagi pertahanan itu sendiri, melainkan sekaligus juga bermakna sebagai alat utama dalam menopang diplomasi, baik diplomasi politik, maupun diplomasi ekonomi," kata Yusron di Jakarta, Minggu (17/12/2009).

Paradigma pertahanan oleh mantan Wakil Ketua Komisi I DPR RI (bidang Pertahanan) periode 2004-2009 tersebut, dikemukakannya dalam sebuah buku terbaru hasil karyanya yang diluncurkan awal pekan lalu di Jakarta.

"Artinya, memang ada beberapa gagasan menarik yang saya coba angkat lagi dalam buku ini, yang merupakan tawaran untuk dijadikan sebagai paradigma dalam memandang dan mengelola sistem pertahanan nasional. Antara lain bahwa pertahanan tidaklah hanya bermakna bagi pertahanan itu sendiri," ungkapnya.

Jadi, menurut doktor lulusan Universitas Tsukuba, Jepang, ini, pertahanan itu sekaligus juga bermakna sebagai alat utama dalam menopang diplomasi. "Baik diplomasi politik, maupun diplomasi ekonomi. Karenanya, diplomasi yang kuat, harus ditopang oleh kekuatan senjata," katanya.

Hal ini, lanjut Yusron, sesungguhnya telah berlaku sejak dulu hingga kini, yakni mulai pada zaman Pax Romana, Pax Britanica, Pax Americana, sampai ke persoalan Blok Ambalat sekarang di Indonesia.

Tragedi Pertahanan

Yusron dalam bukunya yang berjudul "Tragedi & Strategi Pertahanan Nasional" yang diluncurkan di ’Ballroom’ Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, antara lain mengupas masalah pertahanan nasional secara komprehensif itu.

Mulanya merupakan Laporan Tim Alutsista Komisi I DPR RI periode 2004-2009, yaitu sebuah tim yang digagas dan diketuai oleh Yusron Ihza Mahendra, terkait rentetan kecelakaan (terutama pesawat udara) di lingkungan TNI di tahun 2009.

Sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Bidang Pertahanan, ia mengerjakan, menyusun dan menulis laporan itu. "Saya kemudian mengolah kembali naskah tersebut, termasuk melakukan wawancara secara lebih dalam ke perusahaan-perusahaan BUMN Industri Strategis yang relevan.

Terutama sekali, menurutnya, dalam rangka mengetahui permasalahanan serta potensi industri pertahanan nasional. Penulisan ulang dalam bahasa yang lugas dan kasual, menjadikan buku ini sebagai bacaan mengasyikkan serta mudah dipahami masyarakat luas, khususnya bagi reka yang berminat terhadap isu-isu pertahanan.

Tribun Timur

TNI AL Butuh 151 Kapal Perang

KRI Krait-827 produksi bersama Fasharkan (fasilitas pemeliharaan dan perbaikan) Mentigi- dan PT Batam Expresindo Shipyard (BES), Tanjung Guncang. KRI Krait bertonase 190 DWT dengan jarak jelajah sekitar 2.500 mil, dipersenjatai senapan mesin 12,7 mm dan meriam laras ganda (Two in Barrel) kaliber 25 mm yang dapat dioperasikan secara otomatis maupun manual. Dilengkapi radar dengan jangkauan 96 Nautical Mil (setara 160 km) dengan sistem navigasi GMDSS Area 3 dengan kecepatan terpasang 25 knots.(Foto: jpnn.com)

26 Desember 2009, Jakarta -- Asisten Perencanaan (Asrena) KSAL Laksamana Muda TNI Mochamad Jurianto menegaskan, TNI AL membutuhkan sedikitnya 151 kapal perang atau KRI (Kapal RI) untuk mengamankan seluruh wilayah Nusantara.

“Kami sudah mempunyai sejumlah kapal perang, pesawat udara, dan kendaraan tempur, tapi mayoritas sudah berusia 26 tahun lebih,” katanya, kemarin.

Jurianto mengatakan kebutuhan minimal alat sistem utama senjata (alutsista) bagi TNI AL adalah 151 kapal perang, 54 pesawat udara, dan 310 kendaraan tempur.

“Karena keterbatasan anggaran negara, maka kami menargetkan kebutuhan itu terpenuhi dalam 10-15 tahun, namun kami akan tetap merencanakan tiga cara dalam jangka pendek yakni penambahan baru sesuai kemampuan anggaran, menghapus alutsista yang tua atau membahayakan, dan memodernisasikan,” katanya.

Terkait penambahan alutsista baru itu, katanya, KSAL sudah mencanangkan korvet nasional dalam beberapa tahun ke depan, kemudian melakukan pemodernisasian kapal perang.

“Alutsista tua itu membutuhkan biaya perawatan yang mahal, karena itu pimpinan akan melakukan modernisasi, di antaranya untuk kapal selam yang akan dilakukan di Korea selama 1-2 tahun dengan melakukan kerja sama alih teknologi,” katanya.

POS KOTA