Sunday, March 1, 2009

Pindad Pertimbangkan Pesanan Panser dari Nepal

RPPM 4X4 buatan PT. PINDAD (Foto: weapon_maker)


27 Februari 2009, Jakarta -- Direktur Utama PT Pindad, Adik Avianto Soedarsono mengatakan, hingga kini masih mempertimbangkan pesanan 28 panser Angkut Personel Sedang (APS) 4x4 dari Nepal, karena masih harus menyelesaikan pesanan dari dalam negeri.

"Nepal meminta agar kami bisa memenuhi pesanannya pada pertengahan tahun ini. Pada saat yang bersamaan kami juga harus menyelesaikan pesanan dalam negeri. Jadi, masih dipertimbangkan," katanya, usai penyerahan 20 unit panser APS-2 6x6 kepada pemerintah di Bandung, Jumat.

Dijelaskannya, ke-28 panser APS 4x4 tersebut akan dipergunakan Nepal dalam misi perdamaian PBB di Kamerun.

Pihak Nepal mengatakan, PBB meminta agar kontingennya harus sudah tiba pada pertengahan 2009.

"Pada saat yang bersamaan kami juga harus menyelesaikan panser sejenis untuk kepetingan TNI dalam misi perdamaian PBB di Kongo. Untuk itu, kami telah meminta Nepal agar memundurkan jadwal pesanannya hingga enam bulan ke depan. Namun, belum ada jawaban," tutur Adik.

Ia mengemukakan, PT Pindad mampu memproduksi 16 unit panser per bulan dan dapat ditingkatkan menjadi 20 unit per bulan sejalan dengan dukungan dari Renault, Perancis.

"Jadi, bisa saja kami memenuhi permintaan Nepal, namun kita masih kaji 'delivery time'-nya," ujar Adik. (antara)

PT Pindad Sanggupi Penyelesaian 134 Panser Pesanan TNI


27 Februari 2009, Jakarta -- PT Pindad menyatakan sanggup menyelesaikan 134 panser Angkut Personel Sedang (APS) 6x6 pada 2009 pesanan pemerintah Indonesia untuk keperluan TNI-AD.

"Kami upayakan untuk dapat menyelesaikan 134 panser APS tersebut sesuai jadwal," kata Direktur Utama PT Pindad Adik Avianto Soedarsono, usai penyerahan 20 unit panser APS-2 6x6 kepada pemerintah di Bandung, Jumat.

Departemen Pertahanan (Dephan) memesan 154 panser APS untuk TNI Angkatan Darat (AD) pada PT Pindad. Pada tahap pertama, PT Pindad berhasil menyelesaikan 20 unit panser tersebut dan telah diserahkan resmi pada TNI AD.

Ia mengatakan penyelesaian ke-134 panser APS itu disesuaikan dengan dukungan anggaran yang disediakan pemerintah dan pihak Renault, Perancis."Yang jelas dengan kapasitas dan kemampuan produksi 16 unit per bulan, kami yakin bisa menyelesaikannya tepat waktu," tutur Adik.

Adik menambahkan, pembiayaan pembuatan 154 panser APS-2 6x6 itu seluruhnya menggunakan APBN, dan untuk modal kerja awal PT Pindad ditalangi terlebih dulu oleh BNI 46, Bank Mandiri, dan Bank BRI.

Sementara itu, Direktur Produk Komersial PT Pindad Wahyu Utomo, mengatakan selain dukungan anggaran, kendala untuk penyelesaian panser APS-2 6x6 tahap dua sebanyal 134 unit itu adalah kesediaan "engine" dari pihak Renault, Perancis.

"Kendala kita ada pada engine yang berasal dari Perancis. Mereka baru bisa menyelesaikan 20 pada tahun 2008 ini dan 130 pada 2009," kata Wahyu.

Kemampuan PT Pindad, menurutnya, baru pada merancang dan menyelesaikan body panser. "Namun, proses produksi Pindad sudah lolos sertivikasi ISO 9001. Proses penyelesaian body panser sebanyak 130 tersebut bisa diselesaikan Pindad dalam waktu satu tahun. Tidak berat," kata dia.

Panser Produksi Pindad 6x6 memiliki berat kendaraan maksimal 12 ton dengan body terbuat dari monocoque, plat tahan peluru setebal 8 sampai dengan 10mm. Dengan kapasitas angkut mencapai 15 orang prajurit, kendaraan ini memiliki delapan kaca intai dan delapan lubang tembak serta dilengkapi dua set tabung pelontar granat asap.

Selain itu, di bagian atas juga ada Copula yang bisa berputar 360 derajat untuk menembak dengan senjata jenis AGL atau SMB. Panser 6?6 ini, berkapasitas tanki ini 200 liter solar dan mampu berjalan di medan terjal mencapai kemiringan 45 derajat.

Direktur Produk Militer PT Pindad S Irianto menambahkan, selain varian angkut personil Pindad sedang mengembangkan produksi panser dengan empat varian lainnya, yakni komando, logistik, ambulan dan recovery.

"Tahun depan kita targetkan sudah menambah satu spesifikasi panser lagi, yakni panser canon. Spesifikasinya agak berbeda. Senjatanya belum kita kuasai. Kita mengarahkan untuk penguasaan teknologi daya apung menuju pembuatan tank amfibi," ujarnya.

Selain kendaraan tempur, Pindad juga terus mengembangkan teknologi persenjataan. Selain senapan serbu seri SS1 dan SS2 dengan berbagai varian, Pindad juga mengembangkan senapan pelontar granat tipe SPG1 dan senapan otomatis.(antara)

India Membangun Kapal Induk di Galangan Kapal Dalam Negeri

INS Viraat yang akan habis masa pakainya digantikan kapal induk buatan dalam negeri (Foto: indianavy.nic.in)

Ditengah ketidakpastian negosiasi harga kapal induk INS Vikramaditya (eks RFS Admiral Gorshkov). India membangun kapal induk di galangan kapal dalam negeri.

Peresmian peletakan lunas pertama dilakukan Kamis, 28 Februari. Dirancang Organisasi Design Angkatan Laut dan dibangun di galangan kapal Cochin, Kerala. Produksi komponen untuk kapal induk ini telah dilakukan sebelumnya. Kapal induk akan diluncurkan Oktober 2010.

Kapal induk ini mampu membawa hingga 30 pesawat tempur MiG-29K dan helikopter Ka-31 serta pesawat tempur buatan dalam negeri LCA Tejas dan helikopter DRUV.

LCA Tejas pesawat tempur ringan buatan dalam negeri

Panjang kapal induk mencapai 260 m dan lebar 60 m, kecepatan mampu dipacu hingga 28 knot, ditenagai 2 buah LM2500 turbin gas dengan total tenaga 80 MW, jarak jelajah hingga 8000 NM serta membawa awak 1600 orang.

Dilengkapi rudal permukaan ke udara, radar termutakhir, sistem tempur yang dipasok dari Israel, Perancis dan Rusia.

Kapal induk ini diharapkan masuk jajaran AL India akhir 2014 untuk menggantikan kapal induk INS Viraat (eks HMS Hermes) yang habis masa tugasnya.

AL India hingga tahun 2022 merencanakan mempunyai 160 kapal perang serta lebih 300 pesawat, ujar Admiral Sureesh Mehta.

RIA Novosti/Defensenews/theTimesofIndia/@beritahankam