Tuesday, February 3, 2009

India Memesan 80 Helikopter Mi-171

Mi-171

3 Februari 2009, Moscow -- Rusia akan mengirimkan satu unit helikopter angkut Mi-171 bagian dari 80 unit helikopter yang dipesan India. Kontrak pembelian ditandatangani di bulan Desember, uang muka telah dibayarkan ke Rosoboronexport ujar Viktor Komardin selaku wakil direktur pada RIA Novosti (2/2).

Mi-171 merupakan versi ekspor dari helicopter Mi-8 Hip. Diproduksi di dua lokasi pabrik di Kazan dan Ulan-Ude. Versi ini mempunyai mesin turboshaft dengan tenaga lebih kuat serta mampu mengangkut 37 penumpang.

India telah mengoperasikan 150 helikopter dari jenis Mi-8 dan Mi-17 terbagi sedikitnya dalam 12 skuadron.

Selain India, Iran akan menerima helikopter Mi-171 pada tahun ini dengan nilai kontrak USD45 Juta. Helikopter ini akan digunakan oleh Bulan Sabit Merah (Palang Merah Iran) dalam misi penyelamatan dan bencana alam.

RIA Novosti/@beritahankam

TNI AU Terima Tiga Sukhoi


3 Februari 2009, Makassar -- TNI Angkatan Udara yang diwakili oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) Marsdya TNI Wardjoko menerima tiga unit pesawat Sukhoi SU-30MK2 dari Mabes TNI, dari enam yang direncanakan untuk melengkapi satu Skadron diserahkan Irjen TNI Letjen TNI Liliek AS, di Lanud Sultan Hasannudin Makassar, Senin (2/2).

Sebelumnya Sekjen Dephan Letjen TNI Sjafrie Syamsudin menerima pesawat tersebut dari pemerintah Rusia yang disampaikan oleh Dubes Rusia di Jakarta Alexander Ivanop, sekaligus menerima sertifikasi kelaikan pesawat yang kemudian diserahkan kepada Mabes TNI.


Dalam sambutannya Sekjen Dephan mengatakan, pesawat tempur Sukhoi SU-30MK2 merupakan alutsista yang dapat memperkuat jajaran TNI AU khususnya Skadron Udara 11 Koopsau II, guna mendukung pelaksanaan tugas TNI dalam menjaga kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI, menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah yuridiksi nasional.

Penempatan Skadron Udara 11 Sukhoi di Lanud Sultan Hasannudin Makassar didasarkan pada pertimbangan taktis dan strategis untuk memelihara kedaulatan NKRI, serta dapat menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan dan diharapkan TNI AU dapat mengoperasionalkan secara optimal alutsista ini termasuk sistem pemeliharaan dan perawatannya, ujar Sekjen Dephan.

Dubes Rusia Alexander Ivanop mengatakan, pembelian alutsista TNI AU didasarkan kepada saling menguntungkannya kedua belah pihak, karena kerjasama dengan TNI AU sudah terjalin sejak tahun 1960-an dengan pengiriman pesawat MIG-17 yang terkenal cukup canggih pada masanya. Pemerintah Rusia juga menawarkan pengadaan kapal selam kepada pemerintah RI. (tni-au.mil.id)

Iran Luncurkan Satelit Pertama

3 Februari 2009 -- Iran telah meluncurkan satelit pertama yang dibuat di dalam negeri Iran, bertepatan dengan peringatan 30 tahun Revolusi Iran.

Stasiun TV pemerintah Iran mengatakan peluncuran Senin malam --yang menggunakan roket Safir 2-- merupakan pencapaian ilmuwan Iran ditengah-tengah sanksi internasional atas negara itu.

Satelit tersebut akan digunakan untuk tujuan penelitian dan telekomunikasi, seperti dilaporkan oleh stasiun TV resmi Iran.

Iran mendapat sanksi PBB karena sejumlah negara-negara Barat menduga Iran sedang mengembangkan bom nuklir, yang berulang kali dibantah oleh Iran.

Teheran menegaskan ambisi nuklir mereka terbatas untuk penggunaan energi dan mengatakan proyek satelit ini semata-mata untuk tujuan damai.

Peluncuran Satelit Omid, yang artinya harapan, sudah lama diperkirakan dan menurut wartawan BBC di Teheran, Jon Leyne, jelas dilakukan bersamaan dengan peringatan 30 tahun Revolusi Islam Iran.

Pusat ruang angkasa
Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad mengatakan satelit Omid diluncurkan untuk menyebarkan monoteisme, perdamaian, dan keadilan di dunia.

Namun peluncuran Omid meningkatkan kembali kekuatiran di dunia Barat karena teknologi ini bisa digunakan untuk membuat rudal jarak jauh dengan kemungkinan dilengkapi hulu ledak nuklir.

Wartawan BBC, Jon Leyne, menambahkan Iran tidak diragukan lagi akan menanggapi kekuatiran Barat dengan mengatakan mereka telah dinilai dengan standard ganda, karena mengembangkan teknologi yang sudah biasa di negara-negara lain.

Setelah peluncuran satelit itu, Menteri Luar Negeri Manoucher Mottaki menegaskan proyek satelit tersebut untuk tujuan damai.

"Teknologi satelit Iran semata-mata untuk tujuan dama dan untuk memenuhi kebutuhan negara," kata Mottaki ditengah-tengah KTT Persatuan Afrika kepada kantor berita Reuters

Bulan Agustus lalu, Iran mengatakan berhasil meluncurkan roket yang mampu membawa satelit buatan dalam negeri setelah beberapa bulan sebelumnya melepas roket ke orbit sebagai bagian dari peluncuran satelit.

Peluncuran ini juga menandai peresmian sebuah pusat ruang angkasa yang tidak diungkapkan letaknya di kawasan gurun pasir.

Pusat ruang angkasa luar itu dilaporkan mencakup ruang kendali di bawah tanah dan tempat peluncuran roket.

bbc.co.uk