Tuesday, July 20, 2010

Major Program Milestone Demonstrates Success For Lockheed Martin C-130J Super Hercules Program

The first three C-130J Super Hercules for India take the final positions on Lockheed Martin’s assembly line in Marietta, Ga. (Photo: Lockheed Martin)

20 July 2010, FARNBOROUGH, England -- Lockheed Martin [NYSE: LMT] recently completed assembly of its 200th C-130J Super Hercules. The aircraft is the second HC-130J for the U.S. Air Force’s Air Combat Command and is a clear demonstration of the success and continued growth of the C-130J program, which produces the world’s most advanced airlifter. During media briefings at this year’s Farnborough International Airshow, Lockheed Martin representatives discussed this and the many other reasons why the C-130J is the airlifter of choice around the world.

“The C-130J Super Hercules has become an integral part of the very fabric of global airlift operations,” said Ross Reynolds, Lockheed Martin vice president for C-130 programs. “The C-130J proves itself on a daily basis while engaged in combat, peacekeeping, humanitarian and disaster relief operations. There is no greater proof of an aircraft’s value than when it does the job it is designed to do exceptionally well. The C-130’s excellent range and payload under high/hot conditions made the aircraft an early favorite among ground forces. The C-130J is not a distant promise or an idea – it is a battle-proven, reliable, affordable airlifter that can meet the growing need for air mobility today.”

CC-130J delivery headed for Canada on June 6, 2010. (Photo: Lockheed Martin)

Reynolds also referenced the 200th C-130J during the briefing, noting this new HC-130J variant indicates there is still a need for the highly efficient, flexible mission-focused aircraft. “The C-130J is still seeing new horizons in terms of design and we have more on the drawing board,” he said.

The ongoing success of the C-130J program continues to be demonstrated in other ways. This September marks the 50th anniversary celebration of Canada receiving its first C-130. When the time came to replace the existing Canadian C-130 fleet, the C-130J’s proven capabilities far exceeded the new airlift concepts offered. Canada received its first CC-130J in June 2010 and will have a total fleet of 17 CC-130Js.

Headquartered in Bethesda, Md., Lockheed Martin is a global security company that employs about 136,000 people worldwide and is principally engaged in the research, design, development, manufacture, integration and sustainment of advanced technology systems, products and services. The Corporation reported 2009 sales of $45.2 billion.

Lockheed Martin

KSAL Dorong Penyelesaian ZEE Indonesia - China


20 Juli 2010, Jakarta -- Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Agus Suhartono meminta Pemerintah Indonesia dan Pemerintah China segera menyelesaikan persoalan perbatasan maritim zona ekonomi eksklusif (ZEE) di kawasan Natuna, Kepulauan Riau, Kepri. "Perlu ada pertemuan antardua negara untuk membahas ZEE di Natuna. Kami selalu mendorong untuk penyelesaian itu secara baik sebagai negara sahabat," ujar KSAL usai mengikuti pertemuan evaluasi Malacca Strait Sea Patrol (MSSP) 2010 di Batam, Kepri, Senin (19/7).

Tujuh negara ikut dalam pertemuan tersebut, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Brunei Darussalam.

Agus mengatakan, ZEE Indonesia-China di perairan Natuna telah berdampak pada ketegangan antara TNI AL dengan nelayan China maupun ketegangan TNI AL dengan Angkatan Laut China. Dalam beberapa kali patroli, TNI AL menangkap basah kapal perang China memasuki wilayah perairan Natuna yang masih berada di ZEE Indonesia.

Sebaliknya, tutur ia menambahkan, nelayan China merasa berhak menangkap ikan di perairan Natuna karena perairan tersebut dinilai masih berada di batas ZEE China. "Telah menjadi kebiasaan, bahwa nelayan China menangkap ikan di perairan (Natuna) itu," ujarnya.

Klaim nelayan tradisional China terhadap ZEE di Natuna, menurut dia, telah melahirkan tumpang tindih perbatasan ZEE Indonesia dan China. Padahal, berdasarkan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) tahun 1982, perairan tersebut masuk dalam ZEE Indonesia. "Untuk itu, kami mendorong pemerintah China dan Indonesia untuk membahas batas ZEE Natuna dalam forum bilateral bertemu untuk membicarakan tumpang tindih itu," tambah KSAL.

Sementara itu, TNI AL juga meningkatkan patroli di perairan Natuna, Kalimantan Barat, pada musim gelombang tinggi untuk menekan pencurian ikan.

Komandan Pangkalan TNI AL Pontianak Kolonel TNI Parno menyatakan, peningkatan patroli itu untuk menekan tingkat pencurian ikan di kawasan perairan Natuna, yang menjadi sasaran empuk pencurian ikan oleh nelayan asing pada saat nelayan lokal takut melaut.

"Berdasarkan pengalaman, di saat gelombang kuat, nelayan kita takut melaut, sehingga kesempatan itu dimanfaatkan oleh nelayan asing untuk mencuri ikan di perairan kita. Makanya kami akan melakukan patroli di titik rawan pencurian ikan," katanya.

Parno menambahkan, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Kapal Perang Indonesia (KRI) yang kebetulan melakukan patroli rutin di kawasan perairan Natuna.

Suara Karya

Pacific Partnership 2010 bergabung Sail banda 2010


20 Juli 2010, Surabaya -- Kapal angkut militer Angkatan Laut Amerika Serikat USNS Mercy (T-AH 19) yang tergabung dalam Pacific Partnership Sail Banda 2010 meneruskan perjalanannya di Indonesia dengan tujuan akhir Ambon dari tanggal 26 Juli sampai 4 Agustus. Hal tersebut dikatakan oleh Mayor Daniel Bernardi salah seorang personel Angkatan Laut Amerika Serikat yang bertugas di bagian Media Publikasi Pacific Partnership 2010.

Kapal ini bergabung di Ambon dengan 2 kapal Australia, HMAS Labuan dan HMAS Tarakan. Pacific Partnership 2010 merupakan misi ke lima dari serangkaian misi tahunan Armada Pacific A.S. yang dilakukan di Indonesia sebagai latihan penanggulangan bencana yang ditujukan untuk memperkuat kerjasama regional dan meningkatkan kemampuan operasi dengan negara tuan rumah, negara-negara sahabat, dan organisasi kemanusiaan dan bantuan internasional.

Negara-negara yang terlibat Pacific Partnership 2010 di Indonesia termasuk para profesional di bidang kesehatan dan insinyur dari Australia, Kamboja, Kanada, Indonesia, Selandia Baru, Inggris, dan anggota militer Amerika Serikat. Juga ada Lembaga Swadaya Masyarakat seperti HOPE Worldwide; Latter-day Saint Charities; Project HOPE; UCSD Pre-Dental Society; Vets without Borders; dan World Vets berada di kapal Mercy untuk membantu melayani kesehatan masyarakat Ambon dan daerah sekitar pulau itu.

Sail banda adalah serangkain acara yang diprakarsai oleh pemerintah Indonesia untuk mempromosikan masa depan pulau-pulau kecil. Dengan fokus kepada ekologi, konservasi, dan kesadaran lingkungan, Sail Banda 2010 diharapkan untuk bisa mengulang sukses Bunaken Sail 2009 dengan membawa beberapa negara memperkuat persahabatan dan membangun kerjasama dan pengertian yang sama.

Acara-acara termasuk seminar, atraksi kebudayaan, pameran produk-produk, dan pelayanan sosial yang dijadwalkan berlangsung dari tanggal 12 Juli sampai tanggal 15 Agustus. Partisipasi Mercy termasuk klinik gigi dan kesehatan dan proyek konstruksi di Ambon dan luar Ambon, termasuk pulau seram.


Ini merupakan kunjungan ketiga Mercy ke Indonesia. Setelah bencana tsunami pada bulan Desember 2004 yang menimpa Asia Tenggara dan daerah Samudra India. USNS Mercy ditugaskan untuk mendukung usaha penanggulangan internasional. Pada tahun 2006 USNS Mercy sekali lagi ditugaskan sebagai bagian dari penugasan lima bulan yang meliputi program penanggulangan kesehatan di Banglades, Timor-Leste dan Filipina.

USNS Mercy sudah menyelesaikan dua misi pertama Pacific Partnership 2010 ke Vietnam dan Kamboja, begitu juga dengan kunjungan ke Indonesia di wilayah Propinsi Maluku Utara, dimana Tim kesehatan dan insinyur bangunan melayani bantuan kesehatan dan proyek konstruksi di daerah itu. “Pacific Partnership 2010 terus melangkah ke daerah baru. Sebagai contoh, selama kunjungan ke Kamboja, mengirim tim kesehatan sejauh 320 mil dari lokasi USNS Mercy untuk mencapai daerah pedalaman. Ketika di Indonesia, Pacific Partnership mencapai tingkat baru dalam arti mampu untuk berusaha menggabungkan acara penting negara lain sebagai upaya kesempatan kerjasama dan persahabatan di tingkat yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh Pacific Partnership. ,” kata Komandan Pacific Partnership 2010 Kapten Lisa Franchetti.

Dispenarmatim

Operasi SBJ Sudah Layani 5.123 Pasien

(Foto: Dispenarmatim)

20 Juli 2010, Ambon -- Operasi Bhakti Surya Bhaskara Jaya (SBJ) di Maluku yang merupakan salah satu program Sail Banda 2010 telah melayani 5.123 pasien di Pulau Buru dan Ambon.

Data yang diterima Kepala Dinas Kesehatan Maluku, Fat Basalamah dari dr. Aril Zakaria selaku Wakil Kepala Operasi Surya Bhaskara Jaya menyebutkan, angka tersebut merupakan pasien yang terlayani sejak pelayanan kesehatan gratis KRI Soeharso di Namlea, Kabupaten Buru pada 11 – 13 Juli yang dilanjutkan ke Desa Liang, Waai dan Passo, Pulau Ambon hingga Senin kemarin.

“Di Buru jumlah pasien yang terlayani selama tiga hari sebanyak 2.007 orang. Belum termasuk 21 pasien yang ikut KRI Soeharso untuk menjalani operasi di Ambon sewaktu tiba di Pelabuhan Yos Sudarso pada 14 Juli. Sementara 50 pasien lainnya dari sini (Ambon, red) juga sempat tertangani hari itu,” kata Fat Basalamah kepada ANTARA di Ambon, Selasa.

Sementara jumlah pasien yang tertangani selama keberadaan KRI Soeharso di Pulau Ambon antara lain di Desa Liang pada 15 – 16 Juli sebanyak 1.048 pasien, Waai pada 17 – 18 Juli sebanyak 1.324 pasien, Passo yang digeser ke Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) IX yang berlokasi di Desa Halong pada 19 Juli sebanyak 428 pasien.

Sedangkan jumlah pasien yang terlayani hari ini di Rumah Sakit Lantamal IX Desa Halong belum dihitung, demikian pula yang di Kapal KRI Soeharso.

Pelayanan kesehatan SBJ di setiap desa sasaran di Pulau Ambon berlangsung di darat dan laut. Di darat pelayanan dipusatkan Rumah Sakit Lantamal IX Desa Halong, sedangkan di laut berlangsung di atas kapal KRI Soeharso.

Jenis pengobatan dan tindakan medis dalam program Sail Banda ini dilakukan terhadap semua jenis penyakit.

Tim dokter dalam Kapal KRI Soeharso berjumlah 19 orang, terdiri dari penyakit dalam, bedah orthopedy, bedah mulut, THT dan hiperbarik masing-masing satu orang, anastesi dua orang, ahli mata empat orang, umum dan gigi masing-masing dua orang.

Setelah melayani masyarakat dari Desa Passo, pelayanan keseharan KRI Soeharso di Pulau Ambon akan diteruskan kepada masyarakat di Desa Hutumuri pada 21 – 22 Juli.

Selanjutnya operasi SBJ akan berlanjut di Ibu kota Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) yakni Masohi pada 23 – 25 Juli dan Pulau Banda 26 – 28 Juli.

USNS Mercy

Sementara pada 26 Juli, Kapal Rumah Sakit terbesar Amerika Serikat (AS), USNS Mercy T-AH 19 tiba di Ambon dan akan melayani masyarakat di Desa Waihaong pada 27 – 29 Juli sebagai bagian program SBJ di Maluku.

Saat bersamaan, masyarakat di Desa Pelauw, Pulau Haruku, Malteng juga mendapatkan pelayanan yang sama dari tim dokter USNS mercy yang merupakan gabungan dari Angkatan Laut AS, Singapura dan Australia.

USNS Mercy juga akan melakukan pengobatan masal kepada masyarakat di Kabupaten Seram Bagian Barat yang dipusatkan di Ibu kota Piru pada 27 – 28 Juli dan dilanjutkan di Kecamatan Kairatu pada 29 – 30 Juli.

Sedangkan pengobatan masal di Kecamatan Leihitu yakni Desa Mamala dan Morela dan Kecamatan Sirimau dipusatkan di Desa Karang Panjang, Ambon akan dilakukan oleh USNS Mercy bersama KRI Soeharso pada 30 – 31 Juli.

Selanjutnya operasi terakahir Surya Bhaskara Jaya akan berlangsung di Desa Tulehu pada 1 – 2 Agustus.

ANTARA Maluku

Lockheed Martin F-16 Is Ready For The Future As The World’s Most Advanced 4th Generation Fighter


20 July 2010, FARNBOROUGH, England -- The versions of the F-16 being delivered to customers now are the most advanced 4th Generation multi-role fighter aircraft currently available on the international market and are building on the F-16’s reputation for effectiveness and value, the Lockheed Martin [NYSE: LMT] director of business development for the program said today.

“The F-16 continues as a modern, highly capable, affordable and supportable fighter. The program is healthy and active, with firm production through 2013 and a strong likelihood of new orders that will extend the line for several more years,” said Bill McHenry, director of business development for F-16 programs, in remarks to reporters at the Farnborough International Airshow. McHenry also added that there is a firm backlog of 86 F-16 aircraft, including a recent order from Egypt for 20 new, Advanced Block 50/52 aircraft, the sixth follow-on buy for this country.

More than 4,450 F-16s have been delivered worldwide since the program’s inception more than 30 years ago – including 53 follow-on buys by 14 countries.

In addition to the F-16 production programs, Lockheed Martin continues to develop the F-16 for the future by integrating advanced technologies through upgrade programs for existing F-16s to ensure interoperability with the world’s only 5th Generation fighters, the F-22 Raptor and F-35 Lightning II.

“This integration of advanced technologies for fielded and new aircraft provides an opportunity for F-16 operators to benefit from the latest developments in technology and capabilities for fighter aircraft,” McHenry said. “This synergy will parallel technology and provide a natural bridge from the 4th Generation of fighters to the 5th Generation.”

Aircraft now being produced for Turkey, Pakistan, Morocco and Egypt are the Advanced Block 50/52 F-16C/D configuration. The United Arab Emirates was the launch customer for the Block 60 F-16 E/F version, and is the platform basis for the proposed variant called the F-16IN Super Viper for the Indian Air Force’s Medium Multi-role Combat Aircraft competition.

McHenry said the F-16 offers the latest technologies and capabilities available today – including AESA radar, day-night, all-weather, standoff, autonomous, air intercept and precision strike. These aircraft have the latest in avionics, sensors and weapons, plus user-friendly cockpits and systems integration that provide pilots with high situational awareness.

Headquartered in Bethesda, Md., Lockheed Martin is a global security company that employs about 136,000 people worldwide and is principally engaged in the research, design, development, manufacture, integration and sustainment of advanced technology systems, products and services. The Corporation reported 2009 sales of $45.2 billion.

Lockheed Martin

Taiwan Akan Borong Senjata dari AS

Torpedo MK-54 MAKO diatas kapal perang USS Ross DDG-71. (Foto: USN)

20 Juli 2010 – Taiwan berencana membeli torpedo dan main battle tank (MBT) dari Amerika Serikat untuk meningkatkan kemampuan pertahanan meskipun hubungan Taiwan dan Cina mencair, diberitakan kantor berita AFP, Selasa (19/7).

Presiden Taiwan Ma Ying-jeou telah memerintahkan Menteri Pertahanan membuat daftar belanja, termasuk torpedo MK-54 MAKO, lusinan MBT M1A2, amphibious landing vehicles, diberitakan the Liberty Times.

Torpedo MK-54 akan menggantikan torpedo tua MK-46.

Menhan Taiwan mengatakan daftar belanja belum final.

Harian Taiwan sebelumnya memberitakan Cina meningkatkan jumlah rudal yang diarahkan ke Taiwan dari 300 pada 2001 menjadi 1400 pada 2008.

Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan Januari lalu penjualan paket senjata ke Taiwan, termasuk sistem pertahanan rudal Patriot, helikopter Black Hawk, perlengkapan armada jet tempur F-16, tetapi tidak ada penjualan kapal selam atau jet tempur baru.

Penjualan ini memancing kemarahan Beijing, mengancam akan memotong kontak militer dan keamanan dengan AS.

AFP/Berita HanKam

Boeing F-15 Silent Eagle Demonstrator Completes 1st Weapon Launch


20 July 2010, ST. LOUIS -- The Boeing Company [NYSE: BA] successfully launched a missile from the F-15 Silent Eagle's newly designed Conformal Weapons Bay (CWB) on July 14. Demonstration aircraft F-15E1 departed from Point Mugu Naval Air Weapon Station, Calif., at 5:59 p.m Pacific time, launched an inert AIM-120 Advanced Medium Range Air to Air Missile (AMRAAM) from its left-side CWB, and returned to base at 6:52 p.m.

The test demonstrated the CWB's flightworthiness and ability to deploy an AMRAAM in flight with no adverse effect on the performance of the aircraft or the CWB itself.

"I've been flying F-15s for more than 20 years, but this flight was different from all others," said Boeing F-15 Chief Test Pilot Dan Draeger. "This first launch of an AMRAAM from the F-15's internal weapons bay opens a new era for the F-15 and for strike fighter capability in the dominance of the F-15 Eagle.

"The F-15, CWB and missile performed exactly as we predicted," Draeger continued. "The Silent Eagle continues the F-15's role as the most versatile strike fighter aircraft ever built."

F-15E1 made its first flight with a CWB from Lambert St. Louis International Airport on July 8. The CWB, which carried an AIM-120 Instrumented Test Vehicle (ITV), was successfully opened and closed during that 80-minute flight, validating Boeing's design approach.

"The F-15SE's internal carriage CWBs will significantly increase tactical options for international customers while retaining all the cost-certain, battle-proven capability of the Strike Eagle," said Roger Besancenez, F-15 Program vice president for Boeing.

The Silent Eagle is an innovative design solution developed in response to international customer requirements for a cost-effective, high-performance fighter aircraft to defend against future threats. Using a modular design approach, the F-15SE offers unique aerodynamic, avionic and Radar Cross Section (RCS)-reduction features that provide the user with maximum flexibility to dominate the ever-changing advanced threat environment. RCS reductions include treatments to the aircraft (based on U.S. government policy). The F-15SE CWBs can carry a variety of air-to-air missiles, such as the AIM-9 and AIM-120, and air-to-ground weapons such as the Joint Direct Attack Munition and Small Diameter Bomb. The Silent Eagle's CWBs can be easily removed, and the aircraft can be rapidly reconfigured into the combat-proven external carriage/conformal fuel tank loadout based on mission requirements.

A unit of The Boeing Company, Boeing Defense, Space & Security is one of the world's largest defense, space and security businesses specializing in innovative and capabilities-driven customer solutions, and the world's largest and most versatile manufacturer of military aircraft. Headquartered in St. Louis, Boeing Defense, Space & Security is a $34 billion business with 68,000 employees worldwide.

Boeing Company

Kopaska TNI AL Menembak Sniper


20 Juli 2010, Surabaya -- Setelah berlatih selama sepekan, kini Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL dan Angkatan laut Amereka Serikat dari jajaran US Navy Seal menggelar latihan dengan materi latihan Markmanship (keahlian menembak).

Latihan menembak ini dimulai Senin (19/7) sampai hari ini Selasa (20/7) di Lapangan Tembak Koarmatim Ujung Surbaya. Latihan menembak ini merupakan rangkaian kegiatan latihan bersama antara Kopaska TNI AL dengan US Navy Seal yang diberi nama “Latma Flash Iron 10-2 JCET 2010.

Pelaksanaan latihan dimulai tanggal 12 Juli, dan akan berakhir hingga tanggal 5 Agustus bulan depan. Berbagai ragam senjata panjang jenis Sniper yang dilatihkan pada saat itu, diantaranya ada SG 550 kaliber 5,56 mm serta AW, Galil, Steyr, dan SPR dengan kaliber 7,62 mm. Disamping Sniper, juga latihan menembak pistol.

Keahlian menembak bagi setiap prajurit adalah sesuatu hal yang wajar, karena begitu masuk dalam pendidikan dasar keprajuritan latihan keterampilan menembak perorangan ini sudah diberikan. Tapi lain halnya bila dalam latihan menembak tersebut menggunakan senjata khusus seperti senjata jenis Sniper, terasa ada kebanggaan tersendiri bagi pelakunya.

Menjadi kebanggaan tersendiri bagi prajurit Kopaska TNI AL, karena tidak semua prajurit memiliki kesempatan sama untuk bisa melaksanakan latihan menembak Sniper, hanya prajurit-prajurit khusus yang dibekali menembak Sniper.

Pasukan yang terlibat dalam latihan ini dari Kopaska TNI AL 92 personel sedangkan dari pihak US Navy Seal 19 personel. Latihan yang digelar hingga 5 Agustus tersebut melaksanakan beberapa materi latihan diantaranya pengamanan VVIP, MIO (Martime Interdiction Operation), Markmanship and Skills, CQC (Closed Quarter Combat), Urban Warfare dan TCCE (Tactical Combat Casualiv Care).

Komandan Komando Komando Pasukan Katak (Kopaska) Koarmatim, Letkol Laut (P) Yeheskiel (kiri) dan Komandan Naval Special Warfare unit 1 Guam, Major Arthur (kanan) memberikan instruksi kepada anggota Kopaska TNI AL saat giat keahlian menembak (Markmanship) di Lapangan tembak Koarmatim, Surabaya, Senin (19/7). Kegiatan latihan bersama antara Kopaska TNI AL dan US Navy Seal dengan sandi "Flash Iron 10 - 02 JCET" tersebut, bertujuan menciptakan kemampuan profesional untuk merencanakan dan melaksanakan protap kesiagaan operasional. (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/ss/NZ/10)

Sejumlah anggota Naval Special Warfare unit 1 Guam memberikan instruksi kepada anggota Kopaska TNI AL saat giat keahlian menembak (Markmanship) di Lapangan tembak Koarmatim, Surabaya, Senin (19/7). (Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat/ss/NZ/10)

Dispenarmatim

Northrop Grumman Block 40 Global Hawk Successfully Completes Major Flight Test Milestone

AF-18, the first Block 40 Global Hawk, shown during its first flight in late 2009, has completed envelope expansion flights. The next step is to finalize Multi-Platform Radar Technology Insertion Program (MP-RTIP) sensor integration with the airframe and conduct the first flight of the full Block 40 system later this year. (Photo: U.S. Air Force)

19 July 2010, EDWARDS AIR FORCE BASE, Calif. -- Northrop Grumman Corporation's (NYSE:NOC) first Block 40 RQ-4 Global Hawk high altitude long endurance (HALE) unmanned aircraft system (UAS) has completed envelope expansion flights, just six months after conducting its first flight. The Block 40 aircraft will be equipped with the high performance Multi-Platform Radar Technology Insertion Program (MP-RTIP) sensor and is the first of 22 Block 40 Global Hawks assigned to Grand Forks Air Force Base, North Dakota.

The company also delivered on time the first development test MP-RTIP sensor to Edwards AFB for integration on the aircraft. The MP-RTIP sensor has completed radar system level performance verification on a surrogate aircraft, and will be integrated into AF-18, a Block 40 Global Hawk aircraft, for operational evaluation.

"The MP-RTIP-equipped Global Hawk illustrates Northrop Grumman's unique ability to create a system that will provide game-changing situational awareness for our warfighters with its unprecedented capability to detect, track and identify stationary and moving targets," said Duke Dufresne, vice president of the Strike and Surveillance Systems division of Northrop Grumman's Aerospace Systems sector. "Our next step is to finalize sensor integration with the airframe and conduct the first flight of the full Block 40 system later this year."

"The MP-RTIP sensor has proven to perform above and beyond expectations," said George Vardoulakis, Northrop Grumman vice president of MP-RTIP. "The superior technology of the MP-RTIP will prove to be an invaluable resource to the warfighter."

Global Hawk's range, endurance and large payload capabilities are well suited to provide persistent surveillance with MP-RTIP. Flying at altitudes up to 60,000 feet for more than 32 hours per sortie at speeds approaching 340 knots, the MP-RTIP-equipped Block 40 Global Hawk can persistently see through most types of weather, day or night. As the world's first fully autonomous HALE UAS, Global Hawk is the platform of choice for a wide variety of sensors, foreign and domestic, meeting the global need for persistent ISR.

Northrop Grumman is the prime contractor for the Global Hawk and MP-RTIP programs and continues to move these technologies forward under the stewardship of the Air Force's Aeronautical Systems Center at Wright-Patterson Air Force Base, Ohio, and the Electronic Systems Center, located at Hanscom Air Force Base, Mass. Northrop Grumman's Norwalk, Conn., facility is the principal MP-RTIP radar developer along with principal subcontractor, Raytheon Space and Airborne Systems, El Segundo, Calif.

Northrop Grumman is also the prime contractor for the NATO Alliance Ground Surveillance (NATO AGS) system, in development at the Melbourne, Florida facility of the Aerospace Systems Battle Management & Engagement Systems division, in which the Block 40 RQ-4 is a key component.

Northrop Grumman's Global Hawk program is based at its Aerospace Systems' Unmanned Systems Development Center in San Diego. The company performs Global Hawk sub-assembly work at its Unmanned Systems Center in Moss Point, Miss., and final assembly at its Antelope Valley Manufacturing Center in Palmdale, Calif.

The principal Global Hawk industry team includes: Aurora Flight Sciences, Bridgeport, West Va. (V-tail assembly and other composite structures); L-3 Communications, Salt Lake City (communication system); Raytheon Company, Waltham, Mass. (ground station); Rolls-Royce Corporation, Indianapolis (engine); and Vought Aircraft Industries, Dallas (wing).

Northrop Grumman Corporation is a leading global security company whose 120,000 employees provide innovative systems, products, and solutions in aerospace, electronics, information systems, shipbuilding and technical services to government and commercial customers worldwide. For more information, visit www.northropgrumman.com.

Northrop Grumman Corporation

Harrier USMC Jatuh


20 Juli 2010 -– Jet tempur AV-8B Harrier Marinir AS dari satuan 26th Marine Expeditionary Unit (MEU), jatuh di bagian Barat danau George di taman nasional Ocala, dekat kota Salt Springs, Florida, sekitar pukul 20:00 waktu setempat, Minggu (18/7).

Jet berasal dari kapal amphibi USS Kearsarge (LHD-3), saat jatuh sedang melakukan latihan.

Pilot Kaptain Jarrod L. Klement dari Marine Medium Tiltrotor Squadron 266, berhasil melakukan eject dan dilarikan ke Shands Cancer Hospital di Universitas Florida, Gainesville oleh pihak berwajib setempat.

Kondisi Klement dalam keadaan stabil, tidak memerlukan perawatan serius.

Penyebab kecelakaan dalam penyelidikan.

USN/Berita HanKam

The Lockheed Martin F-35: Centerpiece Of 21st Century Global Security


19 July 2010, FARNBOROUGH, England -- The 5th generation F-35 Lightning II stealth fighter will serve as the centerpiece for 21st century global security while strengthening international political and industrial partnerships, a senior Lockheed Martin [NYSE: LMT] F-35 executive said Monday at the Farnborough Air Show.

“As we continue to define what a next generation multirole fighter is and bring to the world a profound increase in capability over the best existing fighters, I’m most proud that we’re able to do it affordably—at about the price of fourth generation aircraft,” said Tom Burbage, Lockheed Martin executive vice president and general manager of F-35 Program Integration. “The program continues to make good progress both in flight test and production, with all test aircraft now out of the factory and the first international jets beginning to take shape.”

Throughout its life cycle, the F-35 will create enduring industrial relationships, from manufacturing and production to worldwide operation and support via Autonomic Logistics Global Sustainment (ALGS), Burbage said. F-35 ALGS, developed in parallel with the aircraft and its systems, defines the F-35’s total life-cycle sustainment system.

Thousands of people are employed in the F-35 partner countries, which have invested more than U.S. $4 billion in the project. Those countries – the United Kingdom, Italy, the Netherlands, Australia, Turkey, Canada, Norway and Denmark– also stand to become more strategically aligned as each employs the same front-line fighter that brings unprecedented levels of interoperability.

Burbage also expressed increased confidence in the program, and acknowledged that most early challenges have been overcome. With more than 280 test flights completed, all systems operating in F-35 aircraft and laboratories, 19 aircraft delivered and 31 in assembly, the program is demonstrating steady progress. In the last few months, the first F-35C carrier variant flew for the first time, the first F-35B short takeoff/vertical landing (STOVL) variant completed short takeoffs and vertical landings and also flew supersonically, and both the F-35A and F-35B completed structural static testing in less than half the time of legacy programs.

The F-35 Lightning II is a 5th generation fighter, combining advanced stealth with fighter speed and agility, fully fused sensor information, network-enabled operations, advanced sustainment, and lower operational and support costs. Lockheed Martin is developing the F-35 with its principal industrial partners, Northrop Grumman and BAE Systems. Two separate, interchangeable engines are also currently under development: the Pratt & Whitney F135 and the GE Rolls-Royce Fighter Engine Team F136.

Headquartered in Bethesda, Md., Lockheed Martin is a global security company that employs about 136,000 people worldwide and is principally engaged in the research, design, development, manufacture, integration and sustainment of advanced technology systems, products and services. The Corporation reported 2009 sales of $45.2 billion.

Lockheed Martin

BAE Systems Supports Tornado On The Frontline


19 Juli 2010, Farnborough, UK – BAE Systems is supporting the UK’s Royal Air Force’s (RAF) Tornado GR4s on deployed operations in Afghanistan by working in close partnership with the RAF to deliver Urgent Operational Requirements (UORs) and capability upgrades.

The aircraft in Afghanistan are currently providing vital close air support to troops on the ground.

An upgrade to Tornado’s Stores Management System (SMS) which controls the release of weapons from the aircraft, was brought forward and delivered by BAE Systems in April this year, giving the RAF increased flexibility by enabling pre-programming from the ground.

At the same time Design Authority advice was provided to allow an expanded clearance for the Advanced Infra-red Counter Measures (AIRCM) pod. This has allowed the RAF to clear the pod for a flying hour life of 1,000 hours. By September 2010, more work will have been undertaken on the AIRCM pod to extend the life even further.

In June this year, BAE Systems was awarded a contract by the UK Ministry of Defence to undertake work in support of frontline operations to make improvements to the Navigators Hand Controller which will allow increased exploitation of the functionality of the rear cockpit systems, significantly reducing the workload in the cockpit. This work is expected to be completed and delivered into service in 2012.

Other work being undertaken by BAE Systems includes the introduction of a repeat function on the Pilots Multi Functional Display (PMFD) and RMDP (Radar and Map Display processor) which will allow the pilot and navigator to view the same data simultaneously. Once again work is expected to be completed and delivered into service in 2012.

Alun Fishburne, Director Tornado and Harrier at BAE Systems said: “It is vital that we work closely with the MoD and the RAF to ensure the troops on the frontline get the best possible air support. Our experience on Harrier from its time in Afghanistan has allowed us to deliver a smarter, leaner service to the RAF giving them an improved capability that meets their budget and timescales. The end result is that the aircraft in Afghanistan are the most capable Tornados in the RAF’s fleet.”

Urgent Operational Requirements and capability upgrades underline the company's capabilities in the area of readiness and sustainment.

About BAE Systems

BAE Systems is a global defence, security and aerospace company with approximately 107,000 employees worldwide. The Company delivers a full range of products and services for air, land and naval forces, as well as advanced electronics, security, information technology solutions and customer support services. In 2009 BAE Systems reported sales of £22.4 billion (US$ 36.2 billion).

BAE Systems

Monday, July 19, 2010

Pakistan Akan Jual JF-17 Thunder di Farnborough

Jet tempur JF-17 Thunder. (Foto: rupeenews)

19 Juli 2010 – Pakistan akan memamerkan dan menjual jet tempur JF-17 Thunder di Pameran Dirgantara Farnborough, diberitakan televisi Pakistan, Senin (19/7).

Turki dan negara-negara di wilayah Timur-Tengah dan Afrika tertarik pada jet ini, menurut seorang pejabat senior Pakistan. Uang hasil penjualan diarahkan untuk memperkuat angkatan udara.

JF-17 Thunder pesawat tempur ringan serbaguna dikembangkan hasil kerjasama Pakistan Aeronautical Complex dan the Chinese Chengdu Aircraft Industries Corporation.

Hampir 50% peralatan pesawat dan avionik pesawat dibuat di Kamra, Pakistan, sedangkan sisanya dikirim dari Cina.

RIA Novosti/Berita HanKam

Boeing Delivers Final C-130 Avionics Modernization Program Test Aircraft


19 July 2010, SAN ANTONIO -- Boeing [NYSE: BA] on June 30 delivered the last of three test aircraft for the U.S. Air Force C-130 Avionics Modernization Program (AMP) system design and development contract.

Boeing made the final delivery one week ahead of schedule after the aircraft completed a successful functional check flight on June 25. The test aircraft was flown by a joint Boeing and Air Force crew from the Boeing facility in San Antonio to Little Rock Air Force Base, Ark., where it will be prepared for programmed depot maintenance. The two other C-130 AMP test aircraft are on their way to Robins Air Force Base, Ga., for programmed depot maintenance.

"C-130 AMP is now ready to transition to low-rate initial production [LRIP]," said Mahesh Reddy, C-130 AMP director for Boeing. "This is a significant development for Boeing and the Air Force, as it is the most comprehensive avionics upgrade for the C-130 in its 50 years of Air Force service."

C-130 AMP improvements include a fully integrated, night-vision-goggle compatible, digital glass cockpit and new digital avionics that increase situational awareness and enhance safety. The AMP upgrade also brings avionics commonality to the C-130 fleet and flexibility in assigning aircrew, regardless of aircraft model. A total of 20 AMP kits will be installed during LRIP.

A unit of The Boeing Company, Boeing Defense, Space & Security is one of the world's largest defense, space and security businesses specializing in innovative and capabilities-driven customer solutions, and the world's largest and most versatile manufacturer of military aircraft. Headquartered in St. Louis, Boeing Defense, Space & Security is a $34 billion business with 68,000 employees worldwide.


Boeing

Pramono: Calon Panglima TNI Mungkin dari AL

Pramono Anung. (Foto: JPPN)

19 Juli 2010, Jakarta -- Wakil Ketua DPR, Pramono Anung, mengatakan bahwa kalau Presiden Susillo Bambang Yudhoyono masih memberlakukan giliran dari ketiga angkatan di internal TNI, maka calon Panglima TNI mendatang berasal dari angkatan laut (AL).

"Pergantian Panglima TNI sepenuhnya merupakan kewenangan Presiden," kata Pramono Anung menjawab pertanyaan pers di Gedung DPR, Jakarta, Senin.

Menurut dia, sejak era reformasi pada 1999 jabatan Panglima TNI diduduki secara bergiliran oleh perwira tinggi dari ketiga angkatan di TNI untuk menjadi Panglima TNI.

Untuk menduduki jabatan Panglima TNI, katanya, Presiden akan melihat figur-figur terbaik dari perwira tinggi dari ketiga angkatan, baik TNI AD, TNI AU, maupun TNI AL.

"Saya melihat dan mendengar informasi untuk Panglima TNI mendatang tampaknya masih akan dilakukan secara bergiliran di antara ketiga angkatan di TNI," katanya.

Jika didasarkan pada giliran, katanya, maka calon Panglima TNI mendatang berasal dari TNI AL.

Panglima TNI sejak era reformasi meiputi, Laksmana TNI Widodo AS (mantan KSAL) pada 26 Oktober 2009-7 Juni 2002, Jenderal TNI Endriartono Soetarto (mantan KSAD) pada 7 Juni 2002-13 Februari 2006, Marsekal Djoko Suyanto (mantan KSAU) pada 13 Februari 2006-28 Desember 2007, serta Jenderal TNI Djoko Santoso (mantan KSAD) pada 28 Desember 2007-sekarang.

Saat ini, jabatan KSAL diduduki oleh Laksmana Agus Suhartono yang disebut-sebut sebagai calon kuat pengganti Panglima TNI saat ini.

ANTARA News

Latma Teak Iron Pererat Tali Persahabatan TNI AU - USAF

MC-130P Combat Shadow. (Foto: USAF/ Sgt. Veronica Pierce)

19 Juli 2010, Bandung -- Latihan Bersama antara TNI Angkatan Udara (TNI AU) dan United States of Air Force (USAF) dengan sandi Teak Iron 2010 kembali digelar di Lanud Husein Sastranegara. Latihan yang akan dilaksanakan selama dua minggu ini dibuka dengan upacara resmi bertempat di Wisma Sompil, Lanud Husein S., pada hari Senin (19/7) pukul 09.00 WIB, diikuti perwakilan dari masing-masing Negara.

Dalam sambutannya Komandan Lanud Husein Sastranegara, Kolonel Penerbang Asep Adang Supriyadi, selaku Direktur Latihan (Dirlat) dalam latma ini menyampaikan bahwa latihan ini bertujuan untuk mempererat persahabatan dan memperkokoh hubungan baik antara TNI AU dan USAF, serta secara khusus meningkatkan kemampuan dan profesionalisme personel yang terlibat latihan ini baik taktik maupun teknik operasi udara.

Senada yang dikemukakan oleh Dirlat, Major Richard Gunn, Mission Commander USAF, menegaskan pula latihan yang digelar di Lanud Husein ini merupakan rangkaian latihan yang telah direncanakan sebelumnya, “Next year we have three exercises that will be held again”, said Major Richard Gunn.

Peserta yang terlibat dari TNI AU kurang lebih 150 orang berasal dari Skadron Udara 31, Skadron Udara 32, Makorpaskhasau, Batalyon 461 dan 464 Paskhasau, Lanud Husein, Lanud Sulaiman, Lanud Halim Perdanakusuma, serta observer dari Mabesau.

USAF sendiri diwakili oleh Special Operations Group 353 yang berpangkalan di Okinawa, Jepang, Special Tactics Squadron 320, serta didukung oleh dua pesawat Herkules MC-130.

Hari pertama latihan diisi dengan briefing dari masing-masing seksi yang terlibat seperti meteo, PLLU, base rescue, serta paskhas terkait dengan pelaksanaan penerbangan keesokan hari serta mission planning yang akan digelar setiap harinya.

Pentak Lanud Husein

AP-3C Orion AU Australia Tembakan Harpoon di Latma RIMPAC 2010

19 Juli 2010 -- Kapal amphibi USS New Orleans (LH-11) yang bertugas di USN antara 1968 dan 1997, menjadi sasaran tembak rudal Harpoon, bom perpandu laser dan tembakan meriam dari 8 kapal perang saat Latma RIMPAC 2010. Rim of the Pacific (RIMPAC) 2010 dimulai 23 Juni 2010 di Hawaii. RIMPAC dirancang untuk menguji interoperability 14 negara di kawasan Pacific. RIMPAC 2010 melibatkan 34 kapal perang, 5 kapal selam, lebih dari 100 pesawat terbang dan 20.000 personil dari Australia, Kanada, Chile, Kolombia, Perancis, Indonesia, Jepang, Malaysia, Belanda, Peru, Korea Selatan, Singapura, Thailand dan Amerika Serikat. (Foto: Australia DoD)



Personil 92 Wing mempersiapkan rudal Harpoon yang akan ditembakan dari pesawat patroli maritim AU Australia AP-3C Orion, saat digelar latihan MISSILEX di pangkalan USMC di Kaneohe Bay, Hawaii, bagian dari Latma RIMPAC 2010. (Foto: Australia DoD)

Berita HanKam

Gubernur Akmil: Kesejagatan Menuntut Prajurit Unggul

Gubernur Akademi Militer Mayjen TNI Gatot Nurmantyo (kiri) menyerahkan penghargaan kepada siswa terbaik pada upacara penutupan pendidikan siswa Dikmapa prajurit karier TNI tahun ajaran 2010 di lapangan Sapta Marga, lembah Tidar komplek Akmil Magelang, Jateng, Sabtu (17/7). Dalam amanatnya di hadapan 209 siswa Dikmapa PK, gubernur Akmil menegaskan perkembangan lingkungan strategis di era kesejagatan (globalisasi) yang ditandai dengan kemajuan secara pesat ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi menuntut sumber daya manusia yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. (Foto: ANTARA/Anis Efizudin/ss/nz/10)

17 Juli 2010, Magelang -- Gubernur Akademi Militer, Mayor Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, mengatakan, perkembangan lingkungan strategis pada era kesejagatan menuntut prajurit TNI yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif.

"Karena dengan keunggulan itu TNI dapat merebut peluang dan menekan kendala sehingga mampu melahirkan karya terbaik dan prestasi tertinggi untuk kepentingan TNI, bangsa, dan negara," katanya ketika memimpin Upacara Penutupan Pendidikan Pertama Perwira Prajurit Karier TNI Tahun Ajaran 2010 di Lapangan Sapta Marga, kompleks Akmil, lembah Gunung Tidar, Kota Magelang, Jawa Tengah, Sabtu.

Ia menjelaskan, perkembangan lingkungan strategis di era kesejagatan (globalisasi) itu ditandai dengan kemajuan secara pesat ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi.

Perkembangan itu, katanya, menuntut sumber daya manusia yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif.

Sumber daya manusia TNI yang unggul, katanya, memerlukan sosok prajurit dengan militansi tinggi yaitu keunggulan moral, rela berkorban, tidak mengenal menyerah, dan senantiasa manunggal bersama rakyat.

Selain itu, katanya, perlu prajurit yang senantiasa menempatkan kepentingan tugas di atas segala-galanya karena tugas adalah kehormatan, harga diri, dan kebanggaan.

"Itu harus dilakukan dengan penuh ikhlas, tulus, dan pengorbanan secara total," kata Gatot yang juga Komandan Dikmapa PK TNI itu.

Sebanyak 209 siswa Dikmapa PK menjalani penutupan pendidikan setelah mereka selama tujuh bulan dididik dan dilatih olah keprajuritan di kompleks Akmil Kota Magelang (siswa pria) sebanyak 179 orang dan Pusat Pendidikan Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) Lembang, Bandung, Jawa Barat sebanyak 30 orang.

Mereka yang sebelumnya sebagai warga sipil dan telah lulus perguruan tinggi berasal dari berbagai jurusan itu, setelah menjalani Dikmapa PK TNI, selanjutnya sebagai perwira TNI dengan pangkat letnan dua.

Menurut rencana, pelantikan mereka sebagai perwira TNI berpangkat letnan dua melalui Upacara Prasetia Perwira oleh Panglima TNI, Jenderal TNI Djoko Santoso, pada 20 Juli 2010 di Akmil.

Lulusan pria terbaik Dikmapa PK TNI Tahun Ajaran 2010 sehingga meraih penghargaan "Trisura Jalu Wiratama" adalah Sibin Chandra (matra darat), Z. Chandra S. Harahap (matra laut), Oky Freeza P.G. Daulay (matra udara).

Lulusan wanita terbaik sehingga meraih penghargaan "Trisura Wanodya Wiratama" adalah Yuharti (matra darat), Yosina Kahibela (matra laut), Nadia Yuanita (matra udara).

"Setelah menjadi perwira kelak, kalian harus terus berupaya mengembangkan kemampuan baik aspek intelektualitas maupun profesionalitas keprajuritan dengan menjadikan belajar dan berlatih sebagai budaya dan kebiasaan hidup kalian, sehingga mampu menjawab tuntutan berbagai penugasan nantinya," katanya.

ANTARA Jateng

TNI AU Laksanakan Operasi "Eis"

CN-235 MPA TNI AU. (Foto: Dispenau)

18 Juli 2010, Tanjungpinang -- Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara bersama dengan Angkatan Udara Malaysia, Singapura, dan Thailand melakukan operasi "Eyes in the Sky" di Selat Malaka dan Singapura.

Kapten Pilot pesawat cassa TNI AU, Kapten Pnb Muhammad Arif di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Minggu, mengatakan operasi pengamanan wilayah udara dan laut di jalur perdagangan tersibuk di dunia itu merupakan patroli regional dalam rangka mempererat hubungan negara tetangga dalam hal pertahanan dan keamanan.

"Di bawah program EiS ini negara peserta akan melaksanakan pesawat patroli maritim (maritime patrol aircraft/MPA) untuk melaksanakan patroli di Selat Malaka dan Singapura sebagai bagian dari usaha untuk mempertinggi keamanan di jalur perairan dan selat itu sendiri," ujarnya.

Menurut dia, operasi "Eyes in the Sky" (EiS) sejak 2005 tersebut dilaksanakan dari 16 sampai 18 Juli 2010.

Operasi tersebut menurut dia, tidak berprasangka kepada posisi dari seluruh negara yang terkait ke semua area yang sedang dipersengketakan atau yang belum ada batasnya.

"Area dari operasi ini akan mencakup internasional dan nasional wilayah udara di atas perairan dari Selat Malaka dan Singapura," katanya menegaskan.

Pejabat Sementara (Pjs.) Kepala Seksi Penerangan dan Perpustakaan Pangkalan TNI AU Tanjungpinang, Lettu Lek Wardoyo, mengatakan EiS merupakan sistem pengaturan terbuka dengan persetujuan dari tiga negara daerah pesisir, yaitu Malaysia, Indonesia, dan Singapura.

"Beberapa negara lain dapat diundang untuk berpartisipasi dengan dasar sukarela dengan persetujuan dan izin dari ketiga negara tersebut," ujar Wardoyo.

Menurut dia, negara peserta akan menyediakan berturut-turut aset udara untuk melaksanakan operasi yang harus dilengkapi dengan benar.

"Pusat operasi EiS bertanggung jawab kepada jadwal dari penerbangan atau `observer` dan menyebarkan informasi ini ke masing-masing negara yang bersangkutan," katanya menambahkan.

ANTARA News

Sunday, July 18, 2010

Bandara Pattimura Dibenahi Untuk Operasional Sukhoi

Landasan pacu Bandara Pattimura. (Foto: Adhi Karya)

17 Juli 2010, Ambon -- Landasan pacu bandara internasional Pattimura Ambon akan dibenahi untuk operasional pesawat militer TNI AU jenis Sukhoi yang dijadwalkan akan memeriahkan puncak Sail Banda yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 3 Agustus 2010.

Ketua panitia lokal Sail Banda, Said Assagaff, di Ambon, Sabtu, mengatakan, pembenahan landasan pacu itu ditangani Dinas PU Maluku karena olah gerak pesawat tersebut berkecepatan tinggi.

“Jadi landasan pacunya diperkuat agar pendataran maupun penerbangan pesawat Sukhoi itu terjamin kelaikan maupun keselamatan,” ujarnya.

Assagaff yang didampingi koordinator acara panitia lokal Sail Banda, Cak Saimima mengatakan, pembenahan tersebut dijadwalkan dalam tenggat waktu lima hari sehingga gladi bersih atraksi “fly pass” pesawat Sukhoi dan terjun payung berlangsung sesuai jadwal pada 28 Juli 2010.

“Sebanyak lima unit pesawat Sukhoi akan atraksi di udara Kota Ambon dengan 90 penerjun payung saat puncak perhelatan bahari bertaraf internasional digelar di dermaga Yos Sudarso Ambon,” katanya.

Assagaff yang juga Wagub Maluku itu mengatakan saat puncak Sail Banda pada 3 Agustus 2010, Presiden juga dijadwalkan mencanangkan Maluku sebagai lumbung ikan nasional serta penyerahan bantuan renovasi Masjid Raya Alfatah, Gereja Maranatha dan Santo Paulus.

Kepala Negara juga akan melakukan penandatanganan sampul pertama perangko Sail Banda, meninjau ke kapal USNS Mercy, KRI Soeharso dan menyaksikan perahu-perahu peserta.

Rp 80 miliar

Sukhoi TNI AU. (Foto: Dispenau)

General Manager PT Angkasa Pura (AP) I Cabang Bandara Patimura, Reggynald Kronest, mengatakan, pihaknya kebagian anggaran sebesar Rp80 miliar dari dana internal BUMN pengelola bandara itu untuk menyukseskan “Sail Banda” 2010.

“Itu semua merupakan investasi pada 2010 dan merupakan dukungan PT AP I untuk menyukseskan kegiatan bahari bertaraf internasional tersebut,” katanya.

Menurut Kronest, investasi sebesar itu fokusnya untuk peningkatan pelayanan di bandara Pattimura, baik menjelang, puncak dan pasca-Sail Banda.

Realisasi investasinya antara lain untuk penggantian Radar – VHF – ER di Gunung Nona, Ambon, perbaikan alat navigasi keselamatan di Saumlaki, perluasan terminal 300 meter persegi dan pengadaan 100 troli tambahan.

Selain itu, satu garbarata, dua eskalator di terminal kedatangan dan keberangkatan serta dua catu daya (travo) listrik untuk pengamanan suplai hingga 100 persen.

“Dari beberapa investasi itu, yang siap sebelum pelaksanaan Sail Banda adalah baru 100 troli baru, eskalator, catu daya listrik, penataan parkir dan penambahan dua X-ray,” kata Kronest.

Sedangkan untuk garbarata dan lainnya, akan diselesaikan secara bertahap hingga akhir tahun setelah pelaksanaan Sail Banda 2010.

ANTARA Maluku

Korsel Kembangkan Rudal Jelajah 1500 Km

Rudal permukaan-permukaan Hyunmoo. (Foto: telegraph)

18 Juli 2010 – Korea Selatan mengembangkan rudal jelajah mampu mencapai 1500 km dan berencana menempatkan sepanjang perbatasan dengan Korea Utara paling lambat tahun ini, ucap seorang pejabat pertahanan, Sabtu (17/7) kutip kantor berita Yonhap.

Korsel telah memiliki rudal Hyunmoo yang hanya mempunyai jarak jelajah 1000 km. Berdasarkan kesepakatan dengan Amerika Serikat, Korsel diperkenankan mengembangkan jarak jelajah rudalnya sejauh hulu ledaknya dibawah 500 kg.

Produksi masal rudal permukaan-permukaan Hyunmoo-3C sukses setelah dikembangkan sejak 2008, tambah pejabat tersebut.

YONHAP/Berita HanKam

Saturday, July 17, 2010

Boeing Siap Ubah F-16 Menjadi Drone QF-16

F-16 pertama yang akan dijadikan drone QF-16 terbang di atas Jacksonville. (Foto: Boeing)

17 Juli 2010 – Boeing menerima jet tempur F-16 pertama yang akan dijadikan drone QF-16. Perayaan penyerahan disaksikan Senator Florida, pemerintah daerah dan pemuka masyarakat, Jumat (9/7) di lapangan terbang Cecil, Jacksonville.

Boeing memenangkan kontrak senilai 69,7 juta dolar dari AU AS Maret tahun ini untuk mengubah 126 F-16 menjadi QF-16. QF-16 sebagai drone dapat diterbangkan oleh atau tanpa pilot. Penyerahan QF-16 dijadwalkan mulai 2014.

Boeing/Berita HanKam

Pembom Uzur F-111 Beraksi di Latma Pitch Black 2010

17 Juli 2010 -- Pembom veteran Perang Vietnam F-111 AU Australia melakukan aksi terakhir dalam latihan bersama skala besar. F-111 dari Skuadron 6 berpartisipasi dalam latma Pitch Black 2010, sebelum dipensiunkan akhir tahun ini. F/A-18 Super Hornet akan menggantikan F-111.



Australian DoD

Aksi F-16 Thailand di Latma Pitch Black 2010


17 Juli 2010 – AU Thailand berpartisipasi latihan bersama Pitch Black 2010, berlangsung di Australia.

Latma Pitch Black 2010 diikuti sejumlah Negara AB Australia, AU Singapura, AU Selandia Baru dan AU Thailand. Lebih dari 1500 personil dan 50 pesawat tempur terlibat dalam latihan ini.

Latihan berlangsung di dua tempat, “Blueland” berlokasi di pangkalan udara Darwin dan “Redland” di Tindal.

Australia menyertakan F-111, F/18 Hornet, Hawk dan pesawat latih PC-9/A Pilatus. AU Thailand menurunkan F-16 A/B, dan Singapura F-16, E-3 Hawkeye dan pesawat tanker KC-135.








Australian DoD

A330 MRTT Appears in RAAF Colours


14 July 2010 -- One of the two Airbus Military A330 MRTT Multi Role Transport Tankers scheduled to be delivered to the Royal Australian Air Force this year has now been painted in the service’s colours. The aircraft, seen here at the Airbus Military facility at Getafe, Madrid, is the second to have undergone conversion and one of five ordered by the RAAF. The first two will be delivered later this year and will serve under the designation KC-30A with 33 Squadron at RAAF Amberley.

About the A330 MRTT

The Airbus Military A330 MRTT is the most advanced and most cost-effective Multi Role Tanker Transport existing today. The large 111,000 kg/245,000 lb basic fuel capacity of the successful A330-200 airliner, from which it is derived, enables the A330 MRTT to excel in air-to-air refuelling missions without any additional fuel tanks.

The A330 MRTT is offered with a choice of proven in-air refuelling systems, including an advanced aerial refuelling boom system, and/or hose and drogue wingpods and/or fuselage refuelling unit. Thanks to its true wide-body fuselage, the A330 MRTT can also be used as a pure transport aircraft able to carry up to 380 passengers or a payload of up to 45 tonnes / 99,000 lb. It can also easily be converted to accommodate up to 130 stretchers for Medical Evacuation (MEDEVAC). Australia, Saudi Arabia, the United Arab Emirates and the United Kingdom have ordered a total of 28 A330 MRTTs.

Airbus Military

Airbus Military is the only military and civil transport aircraft manufacturer to develop, produce, sell and support a comprehensive family of airlifters ranging from three to 37 tonnes of payload. Within Airbus, Airbus Military is responsible for the A400M programme, as well as for military tanker transport derivatives based on Airbus civil aircraft, with the integration of the state-of-the-art flight-refuelling boom (ARBS) which is unique in its class. With the C-295, CN-235 and C-212, Airbus Military is the global leader in the market segments for light and medium-sized military transport aircraft. Altogether Airbus Military has sold more than 1,000 aircraft with over 650 flying with more than 100 operators worldwide.

Airbus Military

Taruna Akademi TNI dan Polri Saksikan Demo Pendaratan di dermaga Kolinlamil

KRI Teluk Tomini-508 digunakan dalam demo pendaratan. (Foto: Dispenal)

16 Juli 2010, Jakarta -- Para Taruna Akademi TNI dan Polri dalam kegiatan Bhinneka Eka Bhakti (BEB) di Kolinlamil menyaksikan demo latihan pendaratan amfibi parsial dengan melibatkan unsur kapal perang jajaran Kolinlamil KRI Teluk Tomini-508 dan Teluk Kau-504, di Kolam Pelabuhan Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (15/7).

Demo kegiatan operasi pendaratan amfibi yang tergabung dalam operasi gabungan tersebut berlangsung dengan menampilkan kegiatan yang diskenariokan dengan berbagai peran tempur mulai berangkat dari pangkalan aju sampai dengan menuju daerah operasi pendaratan, jelas Kadispen Kolinlamil Letkol Laut (Kh) Drs Agus Cahyono.

Dalam kegiatan demo tersebut melibatkan dua KRI dengan didukung dua buah tank amfibi PT 76 dan panser amfibi pendarat BTR-50 dengan satu peleton pasukan Marinir melaksanakan pendaratan di daerah sasaran operasi pendaratan.

Kegiatan demo pendaratan tersebut diawali dengan pelaksanaan berbagai peran tempur mulai dari bahaya serangan udara, perang kebakaran akibat terkenan tembakan pesawat udara musuh di KRI Teluk Tomini-508 dan sebelumnya dilaksanakan peragaan gerakan semaphure sebagai gerakan isyarat komunikasi dikarenakan jaring komunikasi radio terputus.

Demikian pula bantuan tembakan dari kapal perang yang tergabung dalam operasi gabungan tersebut melaksanakan bantuan tembakan ke daerah pantai pendaratan dalam rangka operasi pendaratan amfibi yang dilaksnakan di kolam dermaga Kolinlamil Tanjung Priok,Jakarta
Demo yang dikemas dalam operasi gabungan ini diakhiri dengan meluncurnya dua tank amfibi dan PT 78 dan dua panser amfibi pendarat BTR 50 dari KRI Teluk Tomini-508 dan KRI Teluk Kau-504 di kolam pelabuhan dengan disaksikan para Taruna yang berada di dermaga Kolinlamil.

Sebelum kegiatan demo, para Taruna TNI dan Polri tersebut diberikan pembekalan oleh Panglima Kolinlamil Laksda TNI Slamet Yulistiyono di Gedung Laut Natuna Mako Kolinlamil.
Kegiatan pembekalan kepada Taruna dalam kegiatan Bhinneka Eka Bhakti Taruna Akademi TNI dan Polri di Mako Kolinlamil tersebut dihadiri Kas Kolinlamil Laksma TNI Arie H Sembiring dan Irkolinlamil dan para pejabat teras Kolinlamil.

Pelita

Canada Selects Lockheed Martin F-35 For Next-Generation Fighter


16 July 2010, FORT WORTH, Texas -- The Government of Canada today announced plans to acquire the Lockheed Martin [NYSE: LMT] F-35 Lightning II as the country’s next-generation fighter aircraft. The F-35 will replace Canada’s fleet of CF-18 Hornets that entered service in the early 1980s.

“We’re very pleased with the decision and are committed to supporting the Government of Canada in moving forward with the F-35,” said Tom Burbage, Lockheed Martin executive vice president and general manager of F-35 Program Integration. “The Lightning II will help ensure Canada’s national security, and also positions Canadian industry to immediately capture long-term work that will endure for the next 30 years.”

The F-35 is a supersonic, multi-role, 5th generation stealth fighter developed and funded by a consortium of nine countries, including Canada. It is designed to excel in both air-to-air and air-to-ground operations and features the most comprehensive and powerful avionics of any fighter ever produced. Canada plans to acquire 65 F-35s to replace the CF-18 fleet that is currently in service. Delivery of Canada’s F-35s will begin in 2016.

Three F-35 variants derived from a common design, developed together and using the same sustainment infrastructure worldwide, will replace at least 13 types of aircraft for 11 nations initially, making the Lightning II the most cost-effective fighter program in history.

Lockheed Martin is developing the F-35 with its principal industrial partners, Northrop Grumman and BAE Systems. Two separate, interchangeable F-35 engines are under development: the Pratt & Whitney F135 and the GE Rolls-Royce Fighter Engine Team F136.

Headquartered in Bethesda, Md., Lockheed Martin is a global security company that employs about 136,000 people worldwide and is principally engaged in the research, design, development, manufacture, integration and sustainment of advanced technology systems, products and services. The Corporation reported 2009 sales of $45.2 billion.


F-35 and Lightning II are trademarks of Lockheed Martin Corporation.

Lockheed Martin

RI Mampu Produksi Jet Tempur

Model jet tempur KF-X. (Foto: aviationweek)

17 Juli 2010, Bandung -- PT Dirgantara Indonesia (DI) menyatakan siap membuat pesawat tempur KF-X guna mendukung kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan (Korsel).

Perusahaan dirgantara nasional tersebut memiliki kompetensi untuk membuat pesawat tempur dengan kemampuan di atas rata-rata. “Desain, sumber daya manusia, teknologi, dan quality control kami menyatakan siap,” ujar Kepala Humas PT DI Rakhendi Triyatna kepada wartawan di Bandung kemarin. KesiapanPTDIbukanlahisapan jempol. Rakhendi menyebutkan, antara tahun 1986-1990 saat masih bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN),pihaknya pernah memproduksi tujuh komponen untuk 40 pesawat tempur F-16. Hasilnya excellent,”tandasnya.

Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen TNI I Wayan Midhio mengatakan,RI akan berusaha agar pembuatan KFX dapat dilakukan di Tanah Air, khususnya di PT DI.Dengan demikian, diharapkan Indonesia bisa mendapat transfer teknologi. Namun di mana kepastian pesawat tempur KF-X akan diproduksi, menurut dia,sejauh ini belum dibicarakan. “Kami berharap pesawatnya dapat dibuat di sini (Indonesia). Ini akan dibahas dalam kesepakatan selanjutnya.Kalau yang ditandatangani Pak Erris Herryanto (Sekjen Kemhan) kemarin itu baru perjanjian awal,”ujar I Wayan.

I Wayan menuturkan, nota kesepahaman dengan Korsel berkaitan dengan rencana produksi bersama (joint production), riset hingga terbentuknya prototipe pesawat tempur. Prototipe tersebut dapat diproduksi di Indonesia tahun 2020 oleh PT DI. Lebih jauh dia menjelaskan, Indonesia tidak akan mendapat lisensi dari pesawat KF-X karena rancangan awal dari jet tempur tersebut adalah milik Korsel sepenuhnya. Indonesia dalam hal ini hanya menjadi mitra kerja sama, terutama dalam hal pemasaran. Kendati demikian, dia menjamin Indonesia akan mendapat keuntungan dari kerja sama ini karena dapat menyerap teknologi, sedangkan pihak Korsel dapat memangkas biaya produksi dan terbantu di urusan penjualan produk pesawat tempur.

Dia menambahkan, selain sudah mempunyai kemampuan membuat pesawat, Indonesia dipilih Korsel karena memiliki kedekatan dengan banyak negara berkembang.“ Pasar dari KF-X yang utama adalah negara berkembang dan Indonesia sebagai negara berkembang memiliki banyak kolega dengan negara-negara lain,”katanya. Seperti diberitakan sebelumnya, Kemhan RI meneken kesepakatan dengan Korsel untuk memproduksi dan memasarkan jet tempurKF- Xyang tertunda beberapa tahun karena terbentur masalah teknis dan pendanaan. Kesepakatan bukan hanya menjadi kebanggaan bangsa karena tidak banyak negara yang bisa memproduksi pesawat tempur,tapi juga untuk melepaskan ketergantungan alat utama sistem senjata (alutsista) dari negara lain.


Dalam kesepakatan yang diteken Komisioner Kementerian Pertahanan Korsel dan Sekjen Kemhan RI Marsekal Madya TNI Erris Herryanto, Indonesia akan menanggung 20% biaya dan akan memperoleh 50 pesawat yang mempunyai kemampuan tempur melebih F-16 ini. Sekjen Kemhan Erris Herryanto sebelumnya pernah mengungkapkan, anggaran yang dibutuhkan untuk proyek strategis tersebut sebesar USD8 miliar dengan jangka waktu kerja sama hingga 2020. Selama waktu itu diharapkan sudah bisa disiapkan lima prototipe. Berdasar informasi yang berkembang, KF-X tergolong pesawat tempur generasi baru.

Pesawat single seat bermesin ganda ini adalah jenis pesawat siluman (stealth) yang kemampuannya di atas pesawat Dassault Rafale atau Eurofighter Typhoon, tapi masih di bawah Lokheed Martin F-35.Kemampuan tempurnya juga tidak usah diragukan karena lebih unggul dibandingkan pesawat F-16 Block 60. Untuk mendukung ketersediaan peranti canggih,produksi KF-X akan merangkul sejumlah perusahaan internasional untuk menyediakan sistem radar, data link, desain, mesin jet, teknologi stealth, persenjataan,dan lainnya. Pengamat militer MT Arifin berharap dalam kerja sama pembuatan pesawat KF-X tersebut Indonesia bisa memastikan adanya alih teknologi. Proses alih teknologi dapat terjadi dengan melibatkan PT DI dalam pembuatan KF-X.

Menurutnya, tanpa adanya transfer teknologi, kerja sama yang memakan banyak biaya tersebut akan sia-sia,bahkan mendatangkan kerugian.“Kita harus melihat dulu perjanjiannya seperti apa? Yang terpenting,Indonesia harus mendapatkan transfer ilmu dari adanya kerja sama pembangunan pesawat ini,”ujarnya. Dia pun menilai Indonesia sudah saatnya memproduksi sendiri materi keperluan pertahanan dan keamanan.Jika ilmuwan Tanah Air mampu dengan optimal menyerap teknologi dari Korsel, hal itu dinilainya sebagai perkembangan yang luar biasa.Selama ini Indonesia masih banyak membeli senjata, pesawat,dan kapal dari luar. “PT DI memang begitu bagus di era Habibie. Namun setelah itu banyak ilmuwan terbaik kita yang lebih memilih bekerja di Singapura dan negara-negara lain.

Ini bisa menjadi momentum yang bagus untuk PT DI,”imbuhnya. Selain harus terdapat alih teknologi, menurut Arifin,ada satu lagi syarat yang mesti diperhatikan Indonesia dalam perjanjian ini,yakni harus tetap menjaga netralitasnya di dunia internasional. Dia berharap Indonesia jangan sampai terpicu untuk mengikuti paham atau blok yang tengah berkonflik. Sementara itu,anggota Komisi I DPR RI Sidarta Danusubroto mengaku pihaknya sama sekali belum mendengar rencana kerja sama Indonesia dengan Korsel untuk membuat pesawat tempur. Karena itu, Komisi I DPR akan meminta keterangan pemerintah,terutama Kemhan, tentang tujuan dan latar belakang kerja sama tersebut. “Saya baru mendengar ini.

Apakah ini berupa MoU atau malah baru sekadar wacana? Seharusnya kami diajak rembuk dulu dong.Kalau tidak diajak rembuk,mana kita tahu apakah ini bisa bermanfaat atau tidak? Sebab prinsipnya, setiap kerja sama yang akan dilakukan harus memberi manfaat bagi kita.Termasuk dalam pengadaan pesawat maupun dalam penguatan kemampuan personel,”katanya. Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu mengingatkan agar pemerintah lebih berhatihati dalam membuat kebijakan kerja sama dengan luar negeri.

Selain itu,pemerintah harus menjelaskan sumber dana yang akan dipakai untuk membiayai program kerja sama tersebut.Sebab,lanjut dia,masalah biaya menjadi pertanyaan mendasar karena bisa menjadi pemborosan anggaran jika sasaran yang dicari tidak bernilai signifikan. “Kalau ada kerja sama begini, harus jelas juga anggarannya dari mana? Siapa yang membiayai? Jangan seperti sebelum-sebelumnya yang tahu-tahu sudah terjadi baru DPR diberi tahu,”pungkasnya.

Dukungan Blogger

Kerja sama Indonesia-Korsel ini ternyata sudah sampai ke telinga para blogger sista (sistem pertahanan), Facebookerdan menjadi perbincangan hangat di Kaskus. Berdasarkan penelusuran harian Seputar Indonesia hingga sore kemarin,sudah ada akun Facebook dengan nama Dukung RI Produksi Pesawat Tempur Ini.Tampilan depan akun menunjukkan dua buah pesawat kuno yang mengudara dengan tiga foto pahlawan di atasnya.Adapun tagline yang ditampilkan adalah “Indonesia harus mampu produksi pesawat tempur”.

Salah seorang anggota bernama Anggih Romadhon menulis statusnya dalam laman tersebut terkait kerja sama ini: “Alhamdulillah akhirnya kerja sama Indonesia-Korsel buat produksi pesawat tempur jadi juga. Bukan sekadar wacana-wacana kosong belaka. Hidup Indonesia!”.

SINDO