Tuesday, May 18, 2010

Unmanned Aerial Vehicles a New Addition to CARAT Thailand 2010

Thailand (May 16, 2010) Paul Trist Jr., right, a civilian flight demonstration manager, shows Royal Thai Navy officers how to install the tail rudder on the Puma AE mini-unmanned aerial vehicle (UAV) during a demonstration of the vehicle's capabilities as part of Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) Thailand 2010. CARAT is a series of bilateral exercises held annually in Southeast Asia to strengthen relationship and enhance force readiness. (Photo: U.S. Navy/Mass Communication Specialist 1st Class Kim McLendon/Released)

17 May 2010 -- SATTAHIP, Thailand (NNS) -- Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) Thailand 2010 provides a unique experience for the U.S. Navy and Royal Thai Navy (RTN); but this year, a new technical aspect was added, as the Puma All Environment (Puma AE) evolutions were conducted for the first time.

Developed by Aerovironment, the Puma AE is a lightweight, man portable, mini-unmanned aerial vehicle (UAV) fitted with tiny high-resolution cameras, providing operators real-time video of people and places on the ground, and can be used for maritime patrols, special operations teams and in search and rescue or disaster response operations.

Several senior Thai Navy officers, including Rear Admiral Chaiyot Sundaranaga, Commander, Frigate Squadron 2, attended a demonstration on the Puma's capabilities aboard the Royal Thai Navy ship, HTMS Naresuan, while it was moored at Sattahip Naval Base. Rear Admiral Nora Tyson, Commander, Task Force 73, also attended, and the group watched as video images transmitted from the Puma as it flew several kilometers away from the ship.

"I am impressed with the length of time it is capable of flying," said Capt. Bhanupan Sapprasert, Commander of the Royal Thai Navy ship HTMS Kraburi.

The Puma AE can be packaged for collecting data with GPS coordinates. Infrared (IR) cameras enable the Puma AE to be used at night for search and rescue missions.

The Puma has the capability to interface with smart phones, transmitting information back and forth. Naval Postgraduate student, Marine Capt. Carrick Longley, who works on the field information support team, gave a demonstration of how a smart phone works with the Puma AE.

"It's ideal for disaster response in Southeast Asia. Just change the SIM (cell phone data) card and anyone can use it," said Carrick.

While the Puma AE has been deployed in more than 20 countries and after natural disasters such as Hurricane Katrina, the research and development is ongoing.

Information exchanges like those involving high-tech gear like UAVs allow partnering CARAT nations to stay atop of the latest advances.

CARAT is a series of bilateral exercises held annually in Southeast Asia to strengthen relationship and enhance force readiness.

NAVY.mil

RI-Jerman Bahas Kerjasama Pertahanan

Pertemuan bilateral Indonesia-Jerman diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (17/5). (Foto; Kemenlu)

17 Mei 2010, Jakarta -- Pemerintah Indonesia dan Jerman sepakat untuk menyediakan payung hukum yang baku bagi kerjasama pertahanan kedua negara. Kesepakatan itu, menurut keterangan dari Kementerian Luar Negeri di Jakarta, tercapai dalam pertemuan pertama konsultasi dwipihak Indonesia-Jerman yang diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (17/5).

Kesepakatan itu menyebutkan bahwa seluruh kerjasama pertahanan kedua negara akan tercantum dalam sebuah Perjanjian Kerjasama Pertahanan (DCA), yang saat ini sedang dirundingkan. Selain membahas mengenai pentingnya payung hukum bagi kerjasama pertahanan, pertemuan itu juga membahas langkah-langkah pelaksanaan program kerjasama bilateral untuk penguatan lembaga-lembaga demokrasi di Indonesia.

Dalam kaitan ini kedua delegasi memandang perlu untuk meningkatkan koordinasi pelaksanaan program kerjasama untuk mendukung proses desentralisasi di Indonesia, terutama dalam peningkatan kapasitas pemerintahan daerah dalam pelayanan publik sesuai dengan Rencana Pembangunan Nasional Indonesia.

Kedua delegasi juga mengindentifikasikan langkah-langkah koordinasi untuk pelaksanaan program kerjasama untuk mendukung upaya Indonesia dalam pemberdayaan dan perlindungan hak-hak perempuan dan kerjasama untuk mendukung upaya pemberantasan korupsi.

Pada kesempatan itu isu lingkungan hidup juga menjadi perhatian kedua pemerintah. Kedua delegasi membahas langkah-langkah koordinasi pelaksanaan kesepakatan pelaksanaan kerjasama lingkungan yang akan diawali dengan kegiatan terkait dengan penggunaan berlanjut energi panas bumi di Indonesia sebagai bagian dari pelaksanaan MoU mengenai "Clean Development Mechanism" (CDM) yang ditandatangani oleh kedua Menteri Lingkungan Hidup di Berlin, Desember 2009.

Delegasi Indonesia dalam pertemuan itu dipimpin oleh Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu RI, Retno L. P. Marsudi, sedangkan delegasi Jerman dipimpin oleh Direktur Jenderal urusan Asia dan Pasifik Kemlu Jerman, Cyrill Jean Nunn.

Secara umum pertemuan itu membahas langkah-langkah strategis untuk memajukan hubungan bilateral kedua negara sebagai tindak lanjut dari hasil-hasil kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Berlin pada Desember 2009, selain isu-isu regional dan global yang menjadi kepentingan bersama. Konsultasi bilateral berikutnya akan diselenggarakan di Jerman pada 2012.

tvOne

RI – UAE Diskusi Bilateral Bidang Pertahanan


18 Mei 2010, Jakarta -- Diskusi bilateral (bilateral discussion) khususnya bidang pertahanan antara RI dengan Uni Arab Emirates (UAE) hendaknya tidak berhenti pada tahap diskusi semata tetapi bisa terus berlanjut ke tingkat lebih tinggi yaitu kerjasama antar angkatan bersenjata kedua negara.

Hal tersebut bisa dimulai dengan melakukan kerjasama di bidang pendidikan (learning and education) dan bidang lainnya seperti industri teknologi (technology industry), industri pertahanan (defence industry), Peace Keeping Operation (PKO) serta pertukaran siswa atau personel (exchange personnel and student).

Demikian harapan yang disampaikan Direktur Kerjasama Internasional Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Dirkersin Ditjen Strahan Kemhan) Brigjen TNI (Mar) Ir. Syaiful Anwar, M.Bus, M.A dalam sambutannya mewakili Dirjen Strahan dalam acara bilateral discussion on the field of Defence Indonesia-Uni Arab Emirates (UAE), Senin (17/5), di kantor Kemhan, Jakarta.

Selain membicarakan kemungkinan kerjasama antara Indonesia dengan UAE, dalam pertemuan tersebut Dirkersin berkesempatan menyampaikan paparan mengenai struktur organisasi Kemhan, pendidikan dan pelatihan (education and training), defence industry, Humanitarian Assistant Disaster (HAD) dan Disaster Relief (DR).

Sebelumnya delegasi UAE yang dipimpin BG. Mohammad Ali Abdullah Al Isa melakukan kunjungan kepada Inspektur Jenderal (Irjen) Kemhan Marsda TNI Eris Heryanto, S.Ip, M.A dilanjutkan dengan kunjungan ke Pusat Bahasa (Pusbasa) Kemhan dan Museum Satria Mandala hari ini. Dijadwalkan Rabu (19/5) delegasi UAE akan melakukan kunjungan ke lembaga pendidikan Seskoad dan kunjungan ke industri pertahanan di Bandung seperti PT. Pindad dan PT. Dirgantara Indonesia.

Di bidang pelatihan dan pendidikan, Dirkersin menyampaikan harapan dan undangan kepada delegasi UAE untuk bergabung dalam Lemhannas atau Sesko angkatan yang terbuka bagi perwira asing dengan alokasi 10%.

DMC

Kodam XVII/Cenderawasih Gelar HUT Ke 47

Hari ulang tahun Kodam XVIII Cenderawasih yang Ke 47 berlangsung, di Makodam, Polimak, Jayapura, Papua Senin (17/5). Inspektur Upacara Pangdam XVII Cenderawasih Mayjend TNI. Hotma Marbun mengatakan bahwa netralitas kemanunggalan TNI dan rakyat prajurit diharapkan mampu mewujudkan Papua sebagai tanah damai. (Foto: ANTARA/Anang Budiono /ss/hp/10)

17 Mei 2010, Jayapura -- Tepat pada tanggal 17 Mei 2010, Kodam XVII/Cenderawasih genap berumur 47 tahun. Dengan mengangkat tema “Dengan Netralitas TNI dan kemanunggalan TNI-Rakyat Prajurit Kodam XVII/Cenderawasih bertekad mewujudkan Papua Tanah Damai” Kodam berharap dapat terus memberikan yang terbaik bagi Tanah Papua.

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih Letkol Inf Susilo kepada Bintang Papua Minggu (16/03) menyebutkan bahwa dalam perayaan HUT Ke-47 Kodam XVII/Cenderawasih akan dilakukan upacara intern di Lapangan Makodam dimana akan diikuti oleh seluruh anggota TNI dibawah naungan Kodam XVII/Cenderawasih. “Baru pada moment syukuran yang digelar Kodam XVII/Cenderawasih, akan dihadiri oleh keluarga besar TNI dan sejumlah muspida,” tandasnya. Kapendam berharap agar perayaan HUT ke-47 Kodam XVII/Cenderawasih ini dapat berjalan dengan aman dan lancar. Dimana selain melaksanakan upacara dan syukuran, juga akan ditampilkan atraksi-atraksi sebagai hiburannya.

Bintang Papua

Wadanjen Kopassus Terima Athan Perancis


18 Mei 2010, Jakarta -- Wakil Komandan Jenderal Kopassus Kolonel Inf Nugroho Widyoutomo menerima kunjungan kehormatan Atase Pertahanan Kedutaan Besar Perancis Kolonel Jackues Rinaudo dan pendampingnya Ny. Fitri, di Markas Kopassus, Jakarta Timur, Senin (17/05).

Kunjungan kehormatan tersebut dilakukan dalam rangka mempererat hubungan yang selama ini sudah di bangun dengan baik. Kepada tamunya Wadanjen Kopassus mengatakan, kerjasama Kopassus dengan Pasukan Khusus Perancis telah berlangsung cukup lama, yang dilandasi pada sikap saling bersahabat dan bersaudara serta saling percaya.

Persahabatan yang terwujud baik dan erat tersebut, sesungguhnya dibangun dan dibentuk oleh karena sikap dan pandangan bersama guna mewujudkan kawasan Pasifik yang aman, damai namun dinamis. Oleh karena itu, kunjungan kehormatan ini, membuktikan bahwa hubungan antara Kopassus dan Pasukan Khusus Perancis adalah hubungan persaudaraan.

Komitmen untuk membangun persahabatan, persaudaraan dan kerjasama dalam bidang militer dan pertahanan, senantiasa menjadi agenda yang perlu disegarkan dan dikembangkan dari waktu ke waktu, termasuk penjajakan kerjasama industri pertahanan.

Kopassus

BAE Systems Receives $10.7 Million Order for Soldier Equipment


17 May 2010, PHOENIX, Arizona -- BAE Systems has received a $10.7 million order from the U.S. Army Research, Development and Engineering Command (RDECOM) to manufacture and deliver more than 20,000 Modular Lightweight Load-Carrying Equipment (MOLLE) system sets in MultiCam® camouflage.

Designed to blend into virtually any environment, MultiCam is a single camouflage pattern that provides the wearer with needed concealment in one, basic set of gear. The MultiCam order includes core riflemen sets, large rucksack sets, as well as medic, grenadier, pistolman and SAW (Squad Automatic Weapon) Gunner pocket sets.

Developed by the U.S. Army RDECOM, MOLLE is the Army's primary field equipment system. MOLLE is a highly adaptable platform that enables soldiers to carry equipment and supplies critical to their mission.

"For more than a decade, the MOLLE system has proven its effectiveness as a highly durable, reliable and adjustable platform that delivers performance for the individual soldier," said Greg Kraak, Director of U.S. Military Programs for BAE Systems' Security & Survivability business. "The system's modular design-with a flexible attachment system-allows for limitless configurations, giving our servicemen and women the ability to customize their kit with specialized equipment to suit their specific mission," added Kraak.

Production of the MOLLE sets will take place at BAE Systems' facilities in Jefferson City, Tennessee; McKee, Kentucky; and Jessup, Pennsylvania. Production on this initial delivery order will begin in June 2010, with final deliveries expected to be completed by August 2010.

To date, BAE Systems has delivered more than a million core rifleman sets, and more than 750,000 large rucksack sets to support U.S. troops in Iraq, Afghanistan and throughout the world.

BAE Systems' Security & Survivability business is a leader in protection, security and survivability systems. It is a technology leader in lightweight materials, including composites, ceramic and transparent armor technologies; integrated vehicle armor systems; vehicle and aircraft survivability components and accessories; and soldier protection equipment, sold primarily to the government and other defense contractors.

About BAE Systems

BAE Systems is a global defense, security and aerospace company with approximately 107,000 employees worldwide. The Company delivers a full range of products and services for air, land and naval forces, as well as advanced electronics, security, information technology solutions and customer support services. In 2009 BAE Systems reported sales of £22.4 billion (US$ 36.2 billion).

About MultiCam®

The MultiCam® camouflage system is patented and is a registered trademark of Crye Precision LLC.

For further information, please contact

Jennifer Robinson, BAE Systems
Tel: +1 513 341 4073 Mobile: +1 513 833 5389
jennifer.s.robinson@baesystems.com

www.baesystems.com

Successful Test of AGNI – 2

17 May 2010 -- The Strategic Forces Command today successfully launched the AGNI A2 missile. The launch was carried out from Wheeler Island off the coast of Orissa. The vehicle lifted off at 0918 hrs and was tracked by various downrange stations. All mission objectives have been met. With this launch the Strategic Forces have carried out launch of all three versions of Agni within three months demonstrating their capability.

Dr VK Saraswat, Scientific Adviser to Defence Minister & Secretary, DRDO and Dr Avinash Chander Programme Director, AGNI were present in the Wheeler Island during the mission.

The Defence Minister Shri AK Antony spoke to Dr. Saraswat over phone and congratulated him for the successful launch of Agni – 2. Shri Antony conveyed his appreciation for the contribution of the DRDO Scientists to make the endeavour a success.

PIB

KSAU Tingkatkan Paskhas Biak Jadi Batalyon


18 Mei 2010, Biak -- Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat menyatakan status Pasukan Khas (Paskhas) di Kabupaten Biak Numfor, Papua yang masih setingkat kompi akan ditingkatkan menjadi batalyon.

"Peningkatan status Paskhas Biak menjadi batalyon untuk memenuhi tuntutan tugas pasukan elit TNI AU itu dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," katanya saat melakukan kunjungan kerja ke markas TNI AU Biak, Selasa.

Di sela-sela kunjungan kerja pada 17-20 Mei itu, KSAU Marsekal Imam Sufat mengharapkan pengembangan Paskhas Biak menjadi batalyon akan berdampak dengan penambahan personel dan sarana prasarana guna mewujudkan postur organisasi Paskhas ke depan.

"Saya selaku Kepala Staf TNI Angkatan Udara meminta dukungan pemkab dan masyarakat di daerah ini supaya kehadiran Paskhas bisa memberikan rasa aman serta menjaga kedaulatan NKRI," katanya di hadapan pejabat Pemkab Biak.

Ia menjelaskan kunjungan kerjanya ke Papua untuk melakukan serangkaian kegiatan, di antaranya melihat kesiapan prajurit TNI AU yang bertugas pada beberapa pangkalan udara di Biak, Jayapura, Merauke, dan Timika.

Selain itu, KSAU juga ingin melihat langsung rencana pengembangan satuan radar yang fasilitasnya kini dibangun secara bertahap tahun 2010 di Merauke, Jayapura, dan Timika.

Di Kabupaten Biak Numfor, rombongan KSAU Marsekal Imam Sufaat meninjau mako Lanud Manuhua, kompi Paskhas, Kosek Pertahanan Udara Nasional IV, dan satuan radar 242.

Rombongan KSAU antara lain Asisten Logistik Marsda TNI Imam Wahyudi, Aspers Marsda TNI Rodi Suprasoedjo, Komandan Korps Paskhas Marsekal Pertama Ari Budiyono, dan sejumlah perwira tinggi lainnya.

ANTARA Jatim

TNI AU Bangun Detasemen Udara dan Satuan Radar di Nusa Tenggara

Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Imam Sufaat sedang meninjau dan menunjukkan rencana lokasi pembangunan Detasemen Udara di Tambolaka setelah menerima informasi mengenai lokasi Detasemen Udara dari Wakil Bupati SBD, Jacob Malo Bulu, B.Sc disaksikan oleh Ketua DPRD SBD, Yosef Malo Lede.

18 Mei 2010, Sumba Barat Daya -- Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat bersama rombongan melakukan kunjungan kerja untuk pertama kalinya ke wilayah Sumba Barat Daya Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam rangka meninjau lokasi rencana Detasemen Udara Tambolaka dan rencana pembangunan Radar untuk wilayah Nusa Tenggara bagian Barat Senin (17/5).

Dalam sambutan Kasau mengatakan bahwa wilayah Sumba sampai saat ini belum ada satuan radar yang mengkaper wilayah ini. Sumba merupakan wilayah yang strategis untuk pengamanan wilayah udara, rencana pembangunan Detasemen Udara dan pembangunan satuan radar sudah dalam program Mabes TNI Angkatan Udara dan Kementerian Pertahanan dan keamanan. “Hal ini pulau Sumba merupakan salah satu pulau terdepan yang memerlukan pengamanan”, Tegas Kasau

Secara teknis Bandara Tambolaka yang empat tahun lalu pernah didarati oleh pesawat Adam Air jenis Boeing 737 yang melakukan emergency landing memiliki panjang landasan 2200m (termasuk RESA) dengan lebar 30m. Dalam waktu dekat landasan akan diperpanjang menjadi 2500m dan diperlebar menjadi 45m serta dipertebal 5cm. Program pengembangan bandara Tambolaka oleh Pemda setempat direncanakan untuk mendukung kegiatan penerbangan bagi semua jenis pesawat termasuk pesawat TNI AU. Letak dan kondisi bandara Tambolaka saat ini menjadikannya sebagai Bare Base yang sangat potensial dan strategis dalam mendukung operasi udara diwilayah Indonesia Timur khususnya Nusa Tenggara Timur.

Dispenau

Army Decides to Take 124 More MBT Arjun


17 May 2010 -- The Army has decided to place fresh order for an additional home-built 124 Main Battle Tank (MBT) Arjun. This is over and above the existing order of 124 tanks. The development follows the success of the indigenous MBT Arjun in the recent gruelling desert trials.

The project for the design and development of the MBT Arjun was approved by the Government in 1974 with an aim to give the required indigenous cutting edge to our Mechanised Forces. After many years of trial and tribulation it has now proved its worth by its superb performance under various circumstances, such as driving cross-country over rugged sand dunes, detecting, observing and quickly engaging targets, accurately hitting targets – both stationary and moving, with pin pointed accuracy. Its superior fire-power is based on accurate and quick target acquisition capability during day and night in all types of weather and shortest possible reaction time during combat engagements.

PIB

PBB Berikan Apresiasi Terhadap Komitmen Indonesia Dukung Peacekeeping Operation


18 Mei 2010, New York -– Badan Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Badan Under Secretary General (USG) memberikan apresiasi terhadap komitmen Indonesia dalam mendukung Peacekeeping Operations (Operasi pasukan penjaga perdamaian). Pemberian apresiasi tersebut disampaikan kepada Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro saat menghadiri pertemuan bilateral dengan para petinggi USG (12-13 Mei) di Markas Besar PBB, New York, Amerika.

Pertemuan bilateral antara Menteri Pertahanan RI dengan para petinggi PBB setingkat Under Secretary General (USG), seperti Mr. Alan Le Roy USG For Peacekeeping Operation (PKO), Ms. Susana Malcorra USG For Field Support dan Mr. John Holmes USG For Humanitarian Affairs di Markas PBB dimaksudkan untuk membahas peningkatan peranan dari keberadaan pasukan TNI maupun Kepolisian Indonesia dalam menjalankan operasi pasukan penjaga perdamaian di Forum PBB.

Pemberian apresiasi kepada komitmen Indonesia tersebut, dinilai PBB sangat wajar karena posisi Indonesia sebagai C-34 Working Group dinilai dapat menjembatani kebutuan antara Grup negara-negara Non Blok dengan group negara lain dalam menanggapi concept note sekretariat terkait Protection of Civilian dan Robust Peacekeeping.

Selain memperoleh apresiasi, Indonesia juga mendapatkan beberapa penawaran dari badan USG, diantaranya penawaran untuk penyiapan dan pengiriman sekitar 175 pasukan yang akan tergabung kedalam kontingen Engineering Company yang akan ditugaskan ke Haiti, Amerika. Kontingen Engineering Company nantinya akan bertugas guna membantu melaksanakan restorasi infrastruktur di sebagian besar wilayah Haiti yang terkena bencana gempa bumi beberapa waktu yang lalu.

Adapun peluang lain yang ditawarkan, terkait pemberian dukungan satuan udara seperti jenis pesawat transport dan Utility Helicopter yang akan sangat dibutuhkan dalam melaksanakan misi kemanusian di wilayah Afrika.

Terkait seputar kegiatan disektor kemanusiaan, USG For Humanitarian Affairs melalui Mr. John Holmes menyambut baik berbagai inisiatif yang dilakukan oleh Pemerintah RI dalam bidang penanggulangan bencana, termasuk pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai focal point tingkat nasional.


Menurut badan USG yang mengatasi masalah kemanusiaan ini, terdapat bebarapa faktor yang perlu mendapatkan perhatian Pemerintah Indonesia. Salah satunya adalah penguatan sistem penanggulangan bencana pada tingkat nasional dan tingkat daerah, mengingat Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dengan penduduk yang tersebar di banyak pulau.

Perhatian lainnya, adalah pentingnya untuk meningkatkan kesiapan dan kesiagaan sebelum terjadi bencana yaitu early warning system, prevention dan preparedness untuk mengurangi jumlah korban.

Sementara itu, USG For Humanitarian Affairs menyambut baik tawaran Menhan RI tentang peningkatan kemitraan antara Pemerintah RI, kawasan ASEAN dengan lembaga UN-OCHA. Menurut USG For Humanitarian Affairs bahwa saat ini UN-OCHA memiliki kantor di Bangkok untuk memperkuat kemitraan dengan negara-negara di kawasan sedang membahas rencana penandatanganan MoU antara UN-OCHA dengan Sekretariat Jenderal ASEAN dalam penanganan bencana. Namun terdapat sedikit kendala mengenai minimnya kapasitas dan pendanaan.

Pada kesempatan ini, PBB tidak hanya menawarkan kesempatan pemberian kontribusi pasukan Indonesia dalam mendukung kegiatan Peacekeeping Operation maupun kegiatan Humanitarian, Namun badan internasional tersebut juga membuka kesempatan kepada pejabat kemiliteran Indonesia yang berkriteria khusus untuk dapat berkarir di dalam struktur badan PBB.

Kriteria khusus ini diperuntukan kepada pejabat militer yang berpangkat Jenderal bintang dua ataupun tiga untuk dipromosikan menjadi Force Comamander di satuan pasukan PBB di wilayah Republik Demokratik Kongo (MONUC). Diharapkan pejabat yang dipersiapkan ini menguasai bahasa Inggris dan Perancis, mengingat komunitas lokal menggunakan bahasa Inggris dan Perancis.

Sebagai tindak lanjut dari beberapa penawaran tersebut PBB akan menyiapkan dokumen UNSAS (UN Standby Arrangement System) agar dapat segera direalisasaikan guna menyiapkan kontingen, military observer dan staff officer yang siap deploy dalam waktu segera apabila PBB membutuhkan.

Peranan Pasukan Indonesia di PBB

Sebelumnya pada pertemuan bilateral tersebut, Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro di hadapan petinggi USG menyampaikan komitmen Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kontribusi peacekeeper pada masa mendatang, diantaranya dengan mengirimkan berbagai kontingen secara kontinyu termasuk rencana pengiriman KRI Kasiepo ke MTF UNIFIL dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Selain itu Menhan menawarkan kepada badan USG berupa hasil produksi industri pertahanan non alutsista, seperti makanan yang dikonsumsi oleh peacekeeper pada berbagai misi. Mengenai upaya kontribusi Pemerintah RI dalam mendukung pasukan perdamaian yang ditugaskan di sektor kegiatan kemanusiaan, Menhan RI menjelaskan Pemerintah Indonesia saat ini terus meningkatkan kemampuan personel sipil dengan cara memperkuat kerjasama sipil-militer dalam penanggulangan bencana.

Ditambahkan Menhan, saat ini Pemerintah Indonesia juga tengah membangun pusat pelatihan peace keeping di Bogor seluas 240 Ha. Selain untuk melatih pasukan yang akan digelar untuk operasi peace keeping¸ fasilitas ini juga akan dilengkapi dengan pelatihan personil penanganan bencana yang bisa digunakan oleh pasukan perdamaian yang berasal dari ASEAN maupun internasional.

Menhan juga menyampaikan beberapa rencana kegiatan yang akan dilakukan Indonesia dalam bidang penanganan bencana seperti table top exercise, field exercise bulan Maret 2011 di Manado bekerjasama dengan Jepang dan humanitarian partnership workshop tanggal 5-6 Agustus di Jakarta bekerjasama dengan Australia dan UN-OCHA.

Keterlibatan kali pertama Indonesia dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah Misi Penjaga Perdamaian pada tahun 1957, pasukan TNI terlibat dan berpartisipasi kedalam UNEF (PBB Angkatan Darurat), di Sinai.

Hingga saat ini, Indonesia telah terlibat dalam 24 Misi Penjaga Perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dengan mengikutsertakan sejumlah 1.618 personel TNI dari tiga Matra Angkatan dan Polri.

Indonesia saat ini secara aktif juga terlibat dalam 6 Misi Internasional di bawah Operasi PBB di 5 negara dunia, diantaranya sekitar 174 tentara dan 15 pengamat militer di tugaskan di Republik Demokratik Kongo (MONUC), 1,248 Pasukan TNI telah ditugaskan di Lebanon (UNIFIL).

Sementara di Sudan sekitar 18 personel dan 12 pengamat militer bergabung di dalam UNMIS dan sekitar 142 Personel dan 2 pengamat militer telah bergabung di dalam UNAMID, di negara Liberia (UNMIL) terdapat 2 personel Pengamat Militer; dan 5 Pengamat Militer. bertugas di Nepal (UNMIN).

DMC

Ballistic Protection for Tiger Combat Helicopter

Tiger Combat Helicopter. (Photo: Australian DoD)

17 May 2010 -- AMAPTM (Advanced Modular Armor Protection) is the expression of the system approach for a balanced and optimized Survivability Concept, developed by IBD Deisenroth Engineering.

Based on advances in material sciences IBD succeeded in the development of new nano materials for armor technologies of the 4th generation with outstanding ballistic performance at significantly reduced weight. This new armor technology is the basis for the introduction of AMAPTM-AIR, a product specifically dedicated for the protection of aircrafts and especially helicopters. It is an important improvement in the survivability of the crew while maintaining the dynamics and payload of the aircrafts.

Mr. Ulf Deisenroth, President of IBD: "The introduction of our technologies in the Tiger attack helicopter platform, as well as the close cooperation with Eurocopter, marks an important step for IBD to support with our latest achievements in the survivability area and thereby enhance the protection for the integrated system."

IBD Deisenroth Engineering

Rusia Setuju Selesaikan Kapal Penjelajah Kelas Slava AL Ukraina

RFS Moskva kapal penjelajah kelas Slava AL Rusia dibawah binaan Armada Laut Hitam. (Foto: Black Sea Fleet)

18 Mei 2010 -- Rusia setuju membantu Ukraina menyelesaikan konstruksi kapal penjelajah rudal, yang tertunda hampir 15 tahun, dikatakan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych, Minggu (17/05).

Konstruksi kapal penjelajah kelas Slava Admiral Lovov diluncurkan 1984 di galangan kapal Nikolayev di Ukraina tetapi dihentikan saat tahap akhir pada akhir 1980-an karena terkena pemotongan anggaran militer. Kapal diganti namanya menjadi Ukraina 1992.

“Kami telah menyetujui bahwa Rusia akan menyelesaikan konstruksi penjelajah Ukraina,” ungkap Yanukovych saat digelar konfrensi press setelah pertemuan dengan Presiden Rusia Dmitry Medvedev di Kiev, Ukraina.

Yanukovych menambahkan penjelajah telah rampung 95% tetapi tidak akan selesai tanpa bantuan Rusia.

Menurut data terbaru, diperlukan sekitar 30 juta dolar guna menyelesaikan konstruksi kapal.

Penjelajah kelas Slava dipersenjatai 16 rudal anti kapal permukaan supersonik SS-N-12 Sanbox. Rudal ini mampu dipasang dengan hulu ledak nuklir.

AL Rusia mengoperasikan tiga penjelajah kelas Slava.

RIA Novosti/@beritahankam

Wamenhan Tinjau Pembuatan Panser PT. Pindad di Bandung


17 Mei 2010, Jakarta -- Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Jumat (14/5) melakukan kunjungan kerja ke PT. Pindad di Bandung. Dalam kunjungan tersebut Wamenhan didampingi Direktur Utama (Dirut) PT. Pindad Adik A. Soedarsono meninjau secara langsung proses pembuatan Panser 6x6, Panser 4x4 dan Panser Amphibi.

Turut mendampingi Wamenhan dalam kunjungan tersebut antara lain Dirjen Ranahan Kemhan Laksda TNI Gunadi, M.D.A, Dirjen Renhan Kemhan Marsda TNI Bonggas S. Silaen, S.Ip, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Pramono Edi Wibowo, Aslog TNI dan Aslog Angkatan. Hadir pula Dirut PT. Dirgantara Indonesia Budi Santoso.

Selain meninjau proses pembuatan panser, Wamenhan juga meninjau pembuatan munisi kaliber kecil, granat, bom, revolver atau pistol, senapan serbu dan mortir. Dipenghujung rangkaian peninjauannya Wamenhan melakukan uji coba senapan serbu produksi PT. Pindad.

Usai melakukan peninjauan, Wamenhan memimpin rapat antara pihak produsen dan pengguna bidang Alustista. Dari pihak produsen yaitu PT. Pindad dan PT. DI, sementara itu dari pihak pengguna dalam hal ini yaitu TNI. Dalam rapat ini Wamenhan menerima klarifikasi, masukan dan saran dari Kemhan, TNI dan Angkatan.

Wamenhan mengatakan, kunjungan ini dalam rangka untuk meyakinkan kemampuan dari produsen khususnya PT. Pindad dapat memenuhi kebutuhan pengguna dalam hal ini TNI. “Kunjungan ini untuk meyakinkan bahwa kebutuhan yang dapat dipasok di dalam negeri betul- betul dikelola dengan baik”, ungkap Wamenhan.

Menurut Wamenhan, dengan melihat proses produksi secara langsung, diharapkan akan dapat dilihat sejauh mana kualitas yang dihasilkan oleh produsen baik menyangkut kemampuan senjata maupun yang menyangkut alat utama untuk kebutuhan - kebutuhan mobilitas.

DMC

Pembangunan Kekuatan TNI AL Diprioritaskan Pemenuhan EMF


18 Mei 2010, Jakarta -- Dihadapkan pada dinamika perkembangan lingkungan strategis global, regional maupun nasional serta krisis global yang dialami dunia yang berdampak kepada lambatnya pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia, menyebabkan kemampuan Pemerintah dalam mengalokasikan anggaran pertahanan terbatas.

Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan dalam pembangunan kekuatan TNI dengan prioritas pada pembangunan komponen utama untuk memenuhi kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force/MEF) yang dititikberatkan pada keterpaduan matra (Trimatra terpadu). Demikian dikatakan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E. dalam amanat tertulis yang dibacakan Kaskolinlamil Laksamana Pertama Arie H. Sembiring pada upacara bendera 17-an di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok Jakarta, Senin (17/5)

Kasal lebih lanjut mengatakan, menindaklanjuti hal tersebut, TNI AL telah menyusun kebijakan dasar pembangunan TNI AL menuju kekuatan pokok minimum, yang pada saat ini sedang dijabarkan dalam kegiatan Forum Strategi TNI AL tahun 2010 untuk menyusun beberapa dokumen diantaranya konsep strategi dan perencanaan kekuatan TNI AL tahun 2010 s.d. 2024 yang selaras dengan MEF.

Untuk mendukung konsepsi tersebut, maka perlu disusun Blue Print logistik TNI AL yang dapat menjawab persoalan bagaimana menyusun perencanaan logistik secara umum, perencanaan pembinaan materiil dan perencanaan pembinaan dukungan logistik alutsista TNI AL. Selain itu disusun pula Blue Print personel TNI AL sesuai dengan kebijakan pemerintah tentang zero growth serta Blue Print penyiapan komponen cadangan dan pendukung kekuatan Hankamneg di laut.

Menurut Kasal, forum tersebut merupakan kegiatan yang sangat penting dan bernilai strategis dalam rangka perencanaan pembangunan dan gelar kekutan TNI AL. Kasal mengharapkan hasil forum tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan serta perencanaan pembangunan kekuatan TNI Angkatan Laut ke depan.

Dispen Kolinlamil

Airbus Military A330 MRTT refuels second A330 MRTT

A330 MRTT refuels another A330 MRTT.

17 May 2010 -- To-date three such flights have been performed, the latest one being part of the certification flight trials. This type of operation further illustrates the capability of the new-generation A330 MRTT tanker to refuel any kind of large receiver, even wide-body aircraft like another A330 MRTT or receiver aircraft with complex aerodynamics such as the E-3 AWACS tested in February. It also demonstrates the capability of the aircraft as a receiver and means that the A330 MRTT is now both the largest aircraft to have refuelled an A330 MRTT and the largest to have received fuel from it.

The two aircraft used for these flight trials were the first two A330 MRTTs built for the Royal Australian Air Force. They are both now being used in the final stages of the certification programme due for completion in the next months.

During the flights, performed over the Gulf of Cadiz in southern Spain, fuel was passed from the refuelling aircraft´s Aerial Refuelling Boom System (ARBS) to the receiving aircraft´s Universal Aerial Refuelling Receptacle Slipway Installation (UARRSI).

Programme director Airbus Military Derivatives, Antonio Caramazana, said: “This latest flight demonstrates the ability of the A330 MRTT to refuel a true widebody aircraft and to conduct buddy-buddy refuelling between two tankers, which is a vital enabler for even longer range deployments.”

About the A330 MRTT

The Airbus Military A330 Multi Role Tanker Transport (MRTT) is the most capable new generation aircraft in this category flying and available today. The large 111 tonnes/ 245,000 lb basic fuel capacity of the successful A330-200 airliner, from which it is derived, enables the A330 MRTT to excel in Air-to-Air Refuelling missions without the need for any additional fuel tanks. The A330 MRTT is offered with a choice of proven air-to-air refuelling systems including an advanced Airbus Military Aerial Refuelling Boom System (ARBS), and/or a pair of under-wing hose and drogue pods, and/or a Fuselage Refuelling Unit.

Airbus Military

Lanud Abd. Saleh Gelar Latihan Garuda Perkasa 2010


18 Mei 2010, Malang -- Lanud Abd Saleh menggelar Latihan Garuda Perkasa 2010 yang dibuka oleh Komandan Lanud Abd Saleh Marsma TNI Ida Bagus Anom M., S.E. di Taxy Way Lanud Abd Saleh dan diikuti oleh seluruh anggota Lanud Abd Saleh. (18/5).

Latihan Garuda Perkasa 2010 merupakan program kerja latihan satuan yang dilaksanakan oleh Lanud Abd Saleh beserta jajarannya, dalam rangka menciptakan kesatuan tindakan dan pengertian untuk merencanakan suatu kegiatan operasi udara. Dalam latihan ini semua unsur satuan dan staf akan diuji kesiapan operasionalnya, baik mulai dari menganalisa dan menguji doktrin sampai mengaplikasikan prosedur, mengembangkan taktik dan tehnik sistem operasi udara serta pertahanan pangkalan.

Latihan ini mempunyai arti yang sangat penting, jelas Komandan, karena sebagai pangkalan operasi, Lanud Abd Saleh harus selalu berada pada tingkat kesiapan operasional yang tinggi, sehingga apabila setiap saat mendapatkan tugas operasi, akan mampu melaksanakan dengan berhasil, aman dan lancar.

Untuk mencapai kondisi tersebut, maka secara terjadual, dalam program kerja 2010 bidang operasi dan latihan dilaksanakan latihan-latihan secara bertahap, mulai dari latihan perorangan sampai latihan satuan bagi satuan-satuan yang berada dalam jajaran Lanud Abd Saleh. Lanjutnya.

Mengingat pentingnya latihan Garuda Perkasa ini, maka harus dilaksanakan sesuai dengan siklus kerjanya. Setiap kali mengadakan latihan maka eskalasi latihan harus ditingkatkan dan hasilnya harus semakin baik. Keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi hendaknya jangan sampai mengendorkan semangat berlatih, dan untuk mengatasinya agar dilaksanakan koordinasi dengan sebaik-baiknya.

Rencana latihan digelar selama 4 hari mulai tanggal 18 sampai dengan 21 Mei 2010 dan dibagi dalam dua tahap yaitu gladi posko dan gladi lapangan (manuver lapangan) latihan melibatkan 40 orang Perwira, masing-masing dari staf Lanud dan Wing 2 Lanud sebagai Kolat serta 600 Orang personel sebagai pelaku.

Pentak Lanud Abd. Saleh

TNI AU Gelar Latihan "Survival" Tempur


18 Mei 2010, Jakarta -- Komando Operasi I TNI Angkatan Udara kembali menggelar latihan operasi "survival" tempur "Madhi Yudha" untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan tempur personel jajarannya, terutama kesiapsiagaan awak pesawat pada pelaksanaan operasi udara.

Panglima Koopsau I Marsekal Muda TNI Eddy Suyanto saat membuka latihan tersebut di Jakarta, Senin (17/5), mengatakan, latihan tersebut akan diikuti sejumlah awak pesawat gabungan dari Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta, Lanud Atang Sendjaja Bogor, Lanud PBR Pekan Baru, Lanud Supadio Kalimantan Barat, dan Lanud Surya Dharma Subang.

"Latihan `Survival` Tempur `Madhi Yudha` 2010 bertujuan melatih dan meningkatkan kemampuan fisik dan mental awak pesawat di jajaran Koopsau I agar mampu bertahan hidup sebelum ada pertolongan apabila mengalami keadaan darurat di daerah musuh, serta mampu menjaga kerahasiaan dalam melaksanakan tugas operasi udara," katanya.

Eddy menambahkan, latihan "survival" tempur tersebut dilaksanakan untuk para awak pesawat yang sudah melaksanakan "survival" dasar di masing-masing pangkalan induk. "Itu tingkat tertinggi dan untuk awak pesawat yang belum pernah melaksanakan latihan harus melaksanakan," tuturnya.

Selain sejumlah awak pesawat, latihan yang akan dipusatkan di Jatiluhur, Jawa Barat itu, juga melibatkan personel dan unsur Pasukan Khas TNI Angkatan Udara, yang akan bertindak selaku pelatih dalam kegiatan latihan "survival" tempur tersebut.

Latihan yang berlangsung hingga 20 Mei tersebut memiliki sasaran terwujudnya pemahaman teori SERE, yaitu "survive" untuk bertahan hidup, "evasion" untuk menghindari penangkapan musuh, "resistance" untuk daya tahan tubuh, dan "escape" untuk meloloskan diri.

"Skenario latihan mirip seperti kondisi sesungguhnya ketika operasi pertempuran," tuturnya.

Selain itu, latihan tempur itu juga dimaksudkan meningkatkan kesiapsiagaan operasi dan profesionalisme personel, baik dalam masa damai maupun perang.

SUARA KARYA

Paspampres Siap Antisipasi Serangan Teroris

Anggota Pasukan Pengamanan Presiden/ Wapres (Paspampres) melakukan aksi simulasi penyelamatan presiden di hadapan Presiden SBY dan sejumlah pejabat negara lainnya pada acara syukuran Hari Bhakti Paspampres ke-64 di Mako Paspampres, Jakarta, Jumat (22/1). Dalam kesempatan tersebut, Kepala Negara memberikan pengarahan kepada seluruh personel Paspampres yang intinya harus terus meningkatkan profesionalismenya karena tantangan ke depan semakin besar. (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/Koz/nz/10)

17 Mei 2010, Jakarta -- Pasukan Pengamanan Presiden sudah menyiapkan upaya untuk mengantisipasi berbagai ancaman teroris yang dicurigai beraksi pada saat Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus mendatang, dengan sasaran utama presiden, pejabat negara, dan utusan negara lain yang hadir.

"Kami tidak mengendurkan pengamanan di lingkungan Istana. Kami senantiasa siaga dan waspada terhadap berbagia macam ancaman termasuk teroris," kata Komandan Paspampres Mayjen TNI Marciano Norman kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Ia menegaskan, pengamanan terbaik dari Paspampres akan berikan kepada presiden, wakil presiden dan keluarganya, kepala-kepala negara sahabat dan pejabat negara dalam peringatan Hari Kemendekaan nanti. "Ini sudah menjadi tugas dan kewajiban kami. Ancaman datang silih berganti dan kami senantiasa waspada untuk mengantisipasi," ujar Marciano.

Sebelumnya Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri menyatakan, kelompok teroris berencana melakukan pembunuhan massal pada upacara 17 Agustus 2010.

Hal itu terungkap dari dokumen yang ditemukan dalam rangkaian operasi penangkapan para tersangka teroris sejak diungkapnya pelatihan paramiliter di Janto, Aceh.

"Mereka akan melakukan penyerangan dan pembunuhan terhadap pejabat negara pada upacara 17 Agustus. Semua pejabat negara bisa menjadi sasaran assassination, termasuk tamu asing yang hadir pada peringatan 17 Agustus," ujar Kapolr, akhir pekan lalu.

Bahkan, kata Kapolri, kelompok teroris ini sudah menyiapkan penembak jitu dan senjata yang akan digunakan untuk aksi teror tersebut.

Menurut Kapolri, dari hasil penelusuran diketahui bahwa 21 pucuk senjata telah disiapkan untuk melakukan aksi penembakan jarak jauh saat upacara peringatan Kemerdekaan RI.

ANTARA News

RI Harus Tolak Kerjasama Pangkalan Militer

Pangkalan militer AS di Okinawa, Jepang ditentang kehadirannya oleh masyarakat Okinawa. Kerap kali prajurit AS melakukan tindakan kriminal tetapi tidak dapat diadili oleh pengadilan Jepang. (Foto: globalsecurity)

18 Mei 2010, Jakarta -- Politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga mantan Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP), Abdillah Toha mengingatkan Pemerintah, agar harus menolak berbagai bentuk kerjasama untuk membangun aliansi militer atau pangkalan militer dengan pihak asing.

Ia mengatakan itu kepada ANTARA di Jakarta, Selasa, sehubungan dengan tercapainya kesepakatan RI-Jerman untuk membahas kerjasama di bidang pertahanan (militer).

"Pokoknya, selama kerjasama itu tidak menyangkut aliansi dan pangkalan militer, menghormati kedaulatan teritorial masing-masing dan lebih menekankan kepada kerjasama di bidang pendidikan (militer), teknologi dan pertukaran informasi, itu tak masalah," kata mantan Anggota Komisi I DPR RI ini.

Justru, menurutnya, dengan semakin banyak kerjasama dengan berbagai negara, akan menguntungkan Indonesia.

"Sekaligus mengurangi ketergantungan kita (di bidang militer) kepada negara tertentu," ujar Abdillah Toha.

ANTARA News

Lockheed Martin F-35 Fighters Arrive Together At Edwards AFB

Two Lockheed Martin F-35A Lightning II stealth fighters, known as AF-1 and AF-2, fly side-by-side during a May 11 test flight near Fort Worth, Texas, in preparation for the fighters’ ferry flight to Edwards Air Force Base, Calif., on May 17. (Photo: David Drais, Lockheed Martin)

17 May 2010, EDWARDS AIR FORCE BASE, Calif., -- Two Lockheed Martin [NYSE: LMT] F-35A Lightning II stealth fighters flew nonstop from their final-assembly site in Fort Worth, Texas, to Edwards Air Force Base, Calif., today, signaling a further expansion of F-35 flight test operations. The arrival is the first in a series that will increase the Edwards F-35 test fleet to at least eight aircraft.

U.S. Air Force Test Pilot Lt. Col. Hank “Hog” Griffiths and Lockheed Martin Chief Test Pilot Jon Beesley flew the jets, known as AF-1 and AF-2, nonstop in the first multi-ship, long-range F-35 flight.

“The ferry flight went very smoothly, and reflects how the Air Force and Lockheed Martin will work cooperatively as we enter long-term F-35 testing at Edwards,” Beesley said. During the jets’ deployment to Edwards, the F-35s will undergo ground- and flight-test activities for propulsion, aerial refueling, logistical support, weapons integration and flight-envelope expansion.

“Through rigorous flight testing we are developing dominant and lethal 5th generation fighter capability for America and her allies,” said Doug Pearson, Lockheed Martin vice president of F-35 test and verification. “This historic moment at Edwards Air Force Base begins the planned expansion of F-35 flight test to a third permanent operating location. Lockheed Martin F-35A flight testing is a highly integrated partnership with the United States Air Force.” Three F-35s are currently undergoing flight trials at Naval Air Station Patuxent River, Md., the primary test site for the F-35B short takeoff/ vertical landing variant and the F-35C carrier variant. F-35s have conducted more than 200 test flights, with six additional test aircraft scheduled to begin flying and deploying to the two test sites this year.

The F-35A conventional takeoff and landing (CTOL) variant – designed to meet U.S. Air Force requirements – is also the primary export version of the Lightning II. The air forces of Italy, the Netherlands, Turkey, Canada, Australia, Denmark and Norway will employ the F-35A.

F-35 test aircraft are supported by the F-35 Autonomic Logistics Information System (ALIS) and managed by the Lockheed Martin F-35 Sustainment Operations Center in Fort Worth. ALIS is the worldwide support system reporting and recording the prognostics and health of all F-35s around the globe to ensure mission readiness.

The F-35 Lightning II is a 5th generation fighter, combining advanced stealth with fighter speed and agility, fully fused sensor information, network-enabled operations, advanced sustainment, and lower operational and support costs. Lockheed Martin is developing the F-35 with its principal industrial partners, Northrop Grumman and BAE Systems. Two separate, interchangeable F-35 engines are under development: the Pratt & Whitney F135 and the GE Rolls-Royce Fighter Engine Team F136.

Headquartered in Bethesda, Md., Lockheed Martin is a global security company that employs about 136,000 people worldwide and is principally engaged in the research, design, development, manufacture, integration and sustainment of advanced technology systems, products and services. The Corporation reported 2009 sales of $45.2 billion.

Media Contacts:

John R. Kent
Office: 817-763-3980
Email: john.r.kent@lmco.com

Chris Geisel
Office: 817-763-2643
Email: christian.g.geisel@lmco.com

Lockheed Martin

AS Janjikan Normalisasi Bagi Kopassus


18 Mei 2010, Jakarta -- Pemeintah Amerika Serikat menjanjikan segera memulihkan kembali kerja sama antarpasukan khusus militer kedua negara, terutama Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat (Kopassus).

Hal itu disampaikan Komandan Pasukan Khusus Komando Pasifik AS Laksamana Muda Sean A. Pybus saat diterima Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso, kata Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Aslizar Tanjung melalui keterangan tertulis yang diterima ANTARA News di Jakarta, Selasa.

Dalam pertemuan yang berlangsung tertutup itu, Pybus menyampaikan menyampaikan apresiasi terhadap Reformasi Internal TNI yang sudah berjalan dengan sangat baik.

Ia juga mengapresiasi peran TNI dalam membantu Polri memberantas terorisme. Pybus juga memuji kapabilitas TNI dalam penanganan masalah keamanan nasional sehingga stabilitas regional wilayah Asia Tenggara tetap terpelihara.

Dirinya berjanji berupaya ke berbagai pihak di Amerika Serikat khususnya melalui Kongres dan para Senator AS bahwa TNI pada umumnya dan utamanya Satuan Khusus TNI adalah mitra strategis bagi AS guna menjamin stabilitas keamanan kawasan yang memberi manfaat bilateral bagi kedua negara.

Dalam waktu dekat, Pybus berjanji melaporkan hasil pertemuan dengan Panglima TNI kepada Panglima Komando militer AS di Asia Pasifik (US PACOM) agar segera ditindaklanjuti bentuk kerja sama yang akan dilakukan, khususnya dalam rangka peningkatan daya mampu Satuan Khusus TNI meliputi Kopassus TNI AD, Denjaka TNI AL, dan Korpaskhas TNI AU dalam penanggulangan terorisme.

Satuan Khusus TNI telah banyak menjalin kerja sama denagn pasukan serupa dari berbagai negara, termasuk Kopassus.

Kopassus menjalin kerja sama pendidikan dan latihan dengan sejumlah negara seperti AS. Namun, kerja sama itu terhenti, menyusul embargo militer yang diterapkan AS terhadap Indonesia pada 1999.

Setelah AS mencabut embargo militernya terhadap Indonesia pada November 2005, pelatihan dan pendidikan bagi Kopassus masih belum diberikan pihak negara Paman Sam itu.

Padahal pascapencabutan embargo militer itu AS telah membuka kembali kerja sama International Military Education and Training (IMET), Foreign Military Sales (FMS), Foreign Military Financing (FMF), maupun Defence Export dengan Indonesia.

ANTARA News

Kapal Riset Amerika Serikat Didampingi Baruna Jaya

Kapal riset Okeanos Explorer. (Foto: NOAA)

18 Mei 2010, Jakarta -- Kapal riset Okeanos Explorer dari Amerika Serikat dijadwalkan berada di wilayah perairan Indonesia selama 40 hari pada periode Juli-Agustus 2010. Kegiatan eksplorasi kapal itu didampingi kapal riset Baruna Jaya IV milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Prioritas riset Okeanos untuk mengetahui kondisi hidrotermal atau gunung api bawah laut di perairan Sangihe-Talaud, Sulawesi Utara. Semua hasil riset dapat diadopsi para ilmuwan di Tanah Air.

”Okeanos memiliki kemampuan mendokumentasikan kondisi dasar laut sampai batas maksimal kedalaman 6.000 meter. Hasilnya bisa seketika dipantau di ruang kontrol yang ada di darat,” kata Kepala Bidang Tata Operasional Riset Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) pada Kementerian Kelautan dan Perikanan Berny Achmad Subki, Senin (17/5) di Jakarta.

Menurut Berny, bidang riset kelautan lainnya sebenarnya masih sangat luas. Termasuk fenomena yang terjadi akhir-akhir ini mengenai suhu permukaan laut di atas pola normal yang telah mengakibatkan terumbu karang mengalami pemudaran (pemutihan/bleaching).

”Berdasarkan pengamatan petugas BRKP, sejak dua sampai tiga minggu terakhir terjadi bleaching secara massal pada terumbu karang di sepanjang pantai Pemuteran, Bali,” kata Berny.

Kepala BPPT Marzan Azis Iskandar mengatakan, riset kelautan bekerja sama dengan Amerika Serikat merupakan peluang untuk mengetahui berbagai fenomena kelautan yang sedang terjadi. Kemampuan menghasilkan data kelautan dari kapal riset yang dimiliki BPPT dapat dilengkapi dengan hasil-hasil penelusuran dasar laut kapal riset Amerika Serikat tersebut.

KOMPAS

Monday, May 17, 2010

Ketergantungan Teknologi, Penyebab Tersendatnya Pembangunan TNI AU


17 Mei 2010, Madiun -- Kekuatan Angkatan Udara merupakan salah satu komponen kekuatan yang dapat menjadi “Bargaining Power” dalam upaya menyelesaikan konflik antar Negara. Namun untuk dapat membangun sebuah angkatan Udara yang kuat, tidak mudah dan memerlukan dukungan dana yang tidak sedikit. Keterbatasan anggaran Negara dan tingginya tingkat ketergantungan teknologi, menjadi salah satu penyebab tersendatnya upaya pembangunan TNI Angkatan Udara ke depan.

Hal tersebut disampaikan Kasau, Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Dinas Personel, Letkol Pnb Syamsul Rizal Selaku Irup pada upacara bendera 17-an, di lapangan Dirgantara Lanud Iswahjudi, Senin (17/5).

Lebih lanjut Kasau mengatakan, dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, tantangan yang dihadapi TNI Angkatan Udara akan semakin berat, kemajuan teknologi semakin pesat, peran kekuatan udara dalam perang modern semakin diperlukan meskipun bagi bangsa Indonesia, perang merupakan jalan terakhir, namun menyiapkan diri untuk siap perang, adalah langkah yang cerdas untuk menjamin situasi damai.

“Profesionalisme sumber daya manusia di bidang tugas masing-masing merupakan nilai yang harus dimiliki oleh setiap personel TNI Angkatan Udara dalam melaksanakan tugas pengabdiannya. Oleh karena itu semangat perubahan harus kita bangun secara bersama-sama, jangan pernah berhenti berpikir dan berbuat, demi terwujudnya visi dan misi TNI Angkatan Udara”, lanjut Marsekal Imam.

Mengakhiri sambutan, Kasau, mengatakan bahwa kunci sukses menuju kondisi yang diharapkan, sangat tergantung pada tingkat kepedulian dan kepekaan setiap personel TNI Angkatan Udara terhadap potensi yang dapat menjadi sumber penyebab, maka budaya pembangunan “Budaya Safety” di lingkungan penugasan merupakan hal yang tidak dapat ditawar.

Pentak Lanud Iswahjudi

MASTEK Provides a Supervision Service for LPD Constructing in PT PAL


On December 2008, Mastek made the contract for supervision service of LPD 2 vessels which are constructing in PT PAL, Indonesia.

On contractual background, Daewoo International contracted the shipbuilding- 2 vessels of LPD (Hull No. LPD 239 and 240) with PT PAL.

However, after contract, caused by slow shipbuilding progress by PT PAL, it was difficult to satisfy delivery schedule on time.

Thereupon, Daewoo International requested the supervision service of vessels constructing in PT PAL to MASTEK which has a lot of experiences and know-how through shipyard construction consulting & management service as well as ship design service & Material Package service. Mastek accepted Daewoo's demand.

After contract, Mastek is taking in charge of supervision service throughout shipbuilding by PT PAL and as considering proper process, providing customized and optimizied supervision service.

As the first result, LPD 239 was delivered on October 01, 2009.

At present, LPD 240 is being constructing and it expects to deliver on August, 2010.

During performing this project, Mastek presents the guideline throughout PT PAL Management as well as supervision service for shipbuilding like dispatching representatives who have suitable position, experience and ability, educating and guiding PT PAL workers, etc.

Through this project, now Mastek is cooperating with PT PAL and Daewoo continuously for material package service, new shipbuilding, etc.







MASTEK

Wadan Sektor Timur Inspeksi Kesiapan BMR

Wadan Sektor Timur UNIFIL Kolonel Inf Surawahadi meninjau peralatan-peralatan yang dimiliki BMR (Batalyon Mobile Reserve) Satgas Batalyon Mekanis Konga XXIII-D/Unifil. (Foto: detikFoto/Puspen TNI)

17 Mei 2010, Lebanon -- Wadan Sektor Timur UNIFIL, Kolonel Inf Surawahadi melaksanakan inspeksi kesiapan BMR (Batalyon Mobile Reserve) Satgas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indonesian Battalion/ Indobatt) di lapangan upacara Soekarno Base UN Posn 7-1 Adshit Al-Qusayr, Minggu.

Disambut oleh Wadan Indobatt – Letkol Mar Guslin beserta beberapa perwira staf di depan Markas Batalyon, Wadan Sektor menerima paparan singkat tentang keberadaan dan fungsi serta tugas dari BMR di ruang rapat Mayon oleh Kasi Operasi – Kapten Inf Arfan Johan.

Dalam penjelasan, Kasi Ops dihadapan peserta briefing bahwa BMR sebagai pasukan cadangan batalyon yang digerakkan membantu patroli di lapangan dalam rangka mengatasi perkembangan situasi yang terjadi di seluruh area operasi Indobatt.

Pembentukannya berdasarkan Standarts Operation Procedure Nomor 0313 tertanggal 13 Februari 2009 tentang Sector East Reserves and Quick Reaction Teams.

Lebih lanjut dikatakan, struktur organisasi dari BMR adalah dibawah kendali Operasi Satgas yang dibagi dalam dua bagian yakni Quick Reaction Team (QRT) dan Regu (Batalyon Mobile Reserve).

Dengan komposisi personel terdiri dari 20 orang dan dua unit LAV atau kendaraan tempur ringan serta dua APC atau kendaraan angkut personel.

Untuk QRT terdiri dari enam orang yang dipimpin oleh seorang perwira selaku Komandan Tim, Bintara sebagai Wadan Tim dengan dua orang petembak serta dua orang pengemudi.
Perlengkapan yang harus dimiliki adalah dua unit kendaraan tempur ringan, LRF, GPS, Kamera, enam buah NVG, radio komunikasi (PRC, HT UNIFIL, HT Indobatt), serta yang terakhir adalah ransum satu kali bekal pokok untuk sehari.

Sedangkan BMR terdiri dari dua regu, dimana masing-masing regu terdiri dari tujuh orang dengan perlengkapan yang sama lengkapnya dengan QRT.

“Dan yang tak kalah pentingnya adalah selaku Komandan Tim harus menguasai bahasa Inggris dengan baik dan bagi anggota yang lain harus dapat mengoperasikan radio dengan piawai”, kata Kapten Inf Arfan Johan disaat mengakhiri paparannya yang dilakukan dengan bantuan slide proyektor.

Selanjutnya, Kolonel Inf Surawahadi beserta rombongan melihat dari dekat gelar kekuatan dan kesiapan BMR di lapangan Soekarno Base. Pada kesempatan kali ini, Perwira Force Protection Lettu Inf Arief menjelaskan apa yang menjadi tugas dari BMR.

Memberikan info secara mendetail tentang apa-apa saja yang terjadi di lapangan kepada Komandan dan TOC, baik tingkat Batalyon maupun Sektor.

Namun pada saat itu pula, sanggup mengatasi masalah yang ditemukan di lapangan sesuai dengan batas kemampuan yang dimiliki.

Jika diperlukan nantinya, sanggup melaksanakan operasi anti huru-hara, dengan tidak lupa berkoordinasi senantiasa dengan pasukan kawan. Sebagai pasukan yang diandalkan, maka BMR siap senantiasa di dalam waktu 1 x 24 jam digerakkan ke seluruh daerah pertanggungjawaban Indobatt dalam waktu tidak lebih dari setengah jam, jelas Perwira Force Protection saat menunjukkan gelar kesiapan BMR.

Kunjungan inspeksi kali ini diakhiri dengan jamuan makan siang bersama di ruang makan Satgas sambil bersilahturahmi satu sama lain, tukar informasi dan menerima masukan-masukan.

Wadan Sektor selain penasehat Kontingen Garuda namun juga pernah memimpin Satgas Konga 23-A/Unifil di tahun 2007.

Wadan Sektor Timur UNIFIL Kolonel Inf Surawahadi meninjau kendaraan tempur yang dimiliki BMR (Batalyon Mobile Reserve) Satgas Batalyon Mekanis Konga XXIII-D/Unifil. (Foto: detikFoto/Puspen TNI)

Perlengkapan yang ditinjau oleh Wadan Sektor Timur UNIFIL meliputi dua unit kendaraan tempur ringan, LRF, GPS, Kamera, enam buah NVG, radio komunikasi (PRC, HT UNIFIL, HT Indobatt). (Foto: detikFoto/Puspen TNI)

Wadan Sektor Timur UNIFIL Kolonel Inf Surawahadi mendapat penjelasan tentang perlengkapan-perlengkapan yang dimiliki BMR (Batalyon Mobile Reserve) Satgas Batalyon Mekanis Konga XXIII-D/Unifil. (Foto: detikFoto/Puspen TNI)


Puspen TNI/POS KOTA

Miftah, Siswa Pencipta Senpi


17 Mei 2010, Sidoarjo -- Miftah Yama Fauzan, 16, siswa kelas X SMAN I Sidoarjo meraih penghargaan Satya Lencana Wira Karya. Penghargaan itu diraihnya berkat prestasinya menciptakan senjata api (senpi) laras panjang bernama Electro Magnetic Gun-Maferix (EMG-M4). Penghargaan itu diterima bersama tiga siswa lainnya yang juga menjuarai International Confrence of Young Scientist (ICYS), di Istana Merdeka Jakarta, Selasa (11/5) lalu.

Satya Lencana Wira Karya itu langsung diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di sela puncak Peringatan Hari Pendidikan Nasional. Selain presiden, semua menteri hadir di acara tersebut. Miftah bercerita, dirinya seorang diri berangkat menuju Istana Merdeka setelah diberi tahu jika dirinya masuk dalam daftar penerima penghargaan tersebut. Senin (10/5) malam. Seorang staf Kementerian Pendidikan Nasional menghubunginya lewat ponsel mengabarkan berita tersebut.

Dalam acara tersebut, selain Miftah, ada 12 siswa yang menerima penghargaan tersebut dari presiden SBY. Diantaranya tiga siswa yang sama-sama menerima medali emas karena menjuarai ICYS, yang digelar di Sanur Bali, 12-17 April 2010 lalu. Ketiga kolega Miftah ini, yakni Andreas Widi, siswa SMA Santa Laurence Serpong Jabar, Florencia Vanya, siswa SMA Santa Laurence Serpong Bogor dan Ilham, siswa SMA Laboratorium School Jakarta. “Mereka juga meraih medali ICYS, sama seperti saya,”ungkapnya.

Penghargaan itu diraih Miftah berkat senpi ciptaannya yang meraih medali emas ICYS. Senpi laras panjang bernama Elektro Magnetic Gun-Maferix (EMG-M4) ini menyisihkan 104 peserta ICYS yang berasal dari 13 negara.

Surya

Rusia Jual Alutsista ke Brazilia dan Syria

Sistem pertahanan udara Tor-1. (Foto: Xinhua)

17 Mei 2010 -- Rusia dan Brazilia melakukan perundingan pembelian sistem pertahanan udara dikatakan seorang pejabat Rusia, Jumat (14/05) pada RIA Novosti.

Belum diketahui secara pasti jenis sistem pertahanan udara yang diminati oleh Brazilia.

Rusia tidak keberatan menjual sistem pertahanan udara jenis apapun yang diinginkan Brazilia. Menurut Mikhail Dmitriyev pimpinan Federal Service untuk urusan Kerjasama Militer-Teknis kemungkinan Brazilia membeli sistem Tor.

Sistem pertahanan udara Tor-M1 dikembangkan oleh Almaz-Antei, yang dirancang melumat sasaran berupa pesawat terbang, rudal jelajah, bom berpandu dan pesawat tanpa awak pada ketinggian rendah hingga sedang.

Brazilia telah menerima tiga helikopter serang Mi-35M Hind E dari dua belas yang dipesan dari Rusia senilai 150 juta dolar yang ditandatangani 2008.

Syria beli alutsista Rusia

Rusia akan mengirimkan pesawat tempur, kendaraan lapis baja dan sistem pertahanan udara ke Syria diberitakan kantor berita Rusia ITAR TASS mengutip pejabat Rusia.

Mikhail Dmitriyev mengatakan Rusia menjual jet tempur MiG-29, sistem pertahanan udara jarak pendek Pantsir dan kendaraan lapis baja pada Syria.

Dmitriyev tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai jumlah dan nilai kontrak.
Israel mengkritik penjualan senjata ini dengan dalih tidak membantu kearah perdamaian di Timur Tengah.

RIA Novosti/AFP/@beritahankam

TNI Bangun Pembangkit Listrik di Pulau Terluar


17 Mei 2010, Biak -- Mabes TNI dalam tahun 2010 sedang membangun dua unit pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di pulau terluar Barasi dan Fanildo, Kabupaten Supiori, Papua.

Komandan Kodim 1708 Biak Letkol Inf Juhari S.IP di Biak, Senin mengemukakan pembangunan dua PLTS yang sedang dikerjakan di pulau terluar Supiori untuk membantu masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan listrik sebagai alat penerang rumah.

"Kami harapkan dengan program pembangunan dua PLTS di pulau terluar Barasi dan Fanildo segera rampung sehingga bisa dimanfaatkan penduduk setempat," ungkap Letkol Juhari.

Ia mengakui, wilayah pulau terluar Barasi dan Fanildo sangat terpencil yang juga berbatasan dengan Negara tetangga sehingga keberadaan pulau ini memerlukan penanganan khusus.

Perhatian pemerintah pusat terhadap keberadaan pulau terluar, menurut Dandim Letkol Juhari, sangat besar karena wilayah pulau terluar mempunyai potensi kekayaan hasil luat yang melimpah.

Selain itu, lanjut Dandim Biak, keberadaan pulau terluar di wilayah Republik Indonesia menjadi asset bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sehingga harus dijaga dan dilindungi potensi alam maupun mnasyarakatnya.

Bahkan belum lama ini, lanjut Dandim Juhari, melalui tim ekspedisi garis depan nusantara telah memasang tanda batas wilayah dan milik NKRI di pulau terluar Barasi dan Fanildo.

"Dengan adanya pemasangan batas wilayah dan lambang NKRI diharapkan kedaulatan dan keutuhan wilayah pulau terluar tetap terjaga sebagai milik bangsa dan rakyat Indonesia," ungkap Dandim Letkol Juhari.

Wilayah pulau terluar Barasi dan Fanildo berada di wilayah pemerintahan kabupaten Supiori yang dikenal memiliki kekayaan laut dan berbatasan dengan negara Republik Palau.

ANTARA News

Saturday, May 15, 2010

Indobatt Latihan Kesiapsiagaan di Lebanon


15 Mei 2010, Lebanon -- Bunyi dentuman bom yang memekakkan telinga terdengar, diikuti bunyi sirene menggema di seluruh compound Satgas Batalyon Mekanis Konga XXIII-D/Unifil (Indonesian Battalion/ Indobatt), suara perintah untuk berlindung dari pengeras suara memecah kesunyian malam Lebanon Selatan.

Serentak, seluruh Prajurit TNI Satgas Indobatt lari keluar dari korimex mencari tempat perlindungan berbentuk kubu pertahanan (shelter) dengan berpakaian lengkap loreng, membawa senjata dan ransel, siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.
Hal ini merupakan bagian dari skenario latihan yang dilaksanakan di seluruh Multinational Brigade Sector East UNIFIL, Jumat malam (14/5) untuk rencana kontinjensi, yaitu rencana gerakan penarikan mundur pasukan dari bumi Lebanon Selatan, jika keadaan makin memburuk dan tak terkendali.

Menurut Kasi Operasi Indobatt – Kapten Inf Arfan Johan, latihan ini secara intern telah lebih dahulu dilaksanakan di masing-masing Kompi Indobatt pada 12 Mei 2010 di Kompi A dan B.

Pada 13 Mei 2010 di Kompi C, D dan Bantuan, yang puncaknya adalah pada l 14 Mei 2010 di drill tempur, di seluruh batalyon yang tergabung dibawah naungan Sektor Timur UNIFIL termasuk Spain Signal Unit yang juga bermarkas di lantai 4 Mayon Indobatt turut serta dalam latihan tersebut.

Dasar dilaksanakannya kegiatan ini adalah adanya Frago Sector East tentang pelaksanaan Portaleza Plan untuk seluruh jajaran Sector East UNIFIL, yang bertujuan agar Satgas Yon Mekanis Konga XXIII-D/UNIFIL memiliki kesiapsiagaan yang tinggi dan selalu siap gerak pada situasi dan kondisi yang bersifat pendadakan.

Penentuan waktu pelaksanaan latihan kesiapsiagaan ditentukan oleh satuan atas, dalam hal ini Kasi Operasi Sektor mewakili Komandan, selanjutnya Sektor memberitahukan ke seluruh jajaran yang berada di bawah Sector East.

Setelah menerima instruksi latihan, Komandan Satgas memberikan instruksi kepada Kasi Operasi untuk memberikan perintah kepada masing-masing Kompi secara bersamaan, untuk melaksanakan latihan kesiapsiagaan di compound masing-masing sesuai dengan Protap dan ketentuan yang berlaku.

Menurut Wadan Satgas Indobatt – Letkol Mar Guslin yang meninjau langsung latihan ini dari Kompi B UN Posn 8-33 Syekh Abba Tomb, latihan ini memberikan banyak bahan evaluasi bagi pimpinan untuk mengantisipasi kejadian serupa yang menuntut kecepatan dan ketepatan pergerakan pasukan.

Dengan digelarnya latihan yang sangat berharga ini, Satgas dapat mengetahui kekurangan-kekurangan apa saja yang perlu diminimalisasi baik dari segi kesiapan personel maupun kendaraan tempur, senjata bantuan, alat komunikasi dan perhubungan serta perlengkapan di dalam shelter yang ternyata masih ditemukannya ketiadaan peta di dalam shelter maupun obat-obatan yang sudah kadaluarsa penggunaannya.

Puspen TNI

Jangan Olok-olok Indonesia, Sir!

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kiri) tengah mendengarkan paparan Presiden Direktur PT Pindad Adik A Soedarsono mengenai produk munisi kaliber besar buatan pabrik industri pertahanan dalam negeri itu di Turen, Malang, Jawa Timur, Sabtu (8/5). (Foto: KOMPAS/Wisnu Dewabrata)

15 Mei 2010 -- Dalam perjalanan menuju salah satu pabrik munisi kaliber besar atau MKB PT Pindad di Turen, Malang, Jawa Timur, kepada Presiden Direktur PT Pindad Adik A Soedarsono dan Kompas, Direktur Jenderal Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksamana Muda Gunadi bergurau ringan.

Menurut Gunadi, selama ini pemerintah biasa membeli MKB dari sejumlah produsen luar negeri. Namun, karena harganya yang mahal, ditambah alokasi anggaran negara yang juga kecil, pembelian setiap tahun selalu sedikit.

”Gara-gara mesannya selalu sedikit begitu, pihak penjual ada yang bergurau. Mereka tanya, ini kok belinya cuma segini? Sebenarnya yang membeli ini negara atau pemberontak?” ujar Gunadi tertawa miris diikuti Adik.

Bersama rombongan Gunadi, Adik, dan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Kompas berkesempatan mengikuti acara kunjungan kerja, Sabtu (8/5) pekan lalu.

Pengadaan MKB rutin untuk memenuhi kebutuhan ketiga matra angkatan TNI. Misalnya, peluru-peluru mortir dan meriam atau munisi kaliber 105 mm dan 155 mm untuk pasukan artileri dan infanteri. Atau bom jatuh (udara ke darat) untuk jet tempur F-16 milik TNI Angkatan Udara.

Meski begitu, seiring rencana pemerintah menggenjot alokasi anggaran belanja pertahanan lima tahun ke depan, dari besaran 0,7 persen menjadi 1,2-1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, hal itu diyakini secara otomatis juga akan menggenjot besaran anggaran pembelian senjata, termasuk munisi, baik kaliber besar maupun kecil (MKB atau MKK).

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memprediksi kenaikannya signifikan, bahkan bisa meningkat sampai separuh dari total alokasi anggaran pengadaan, pemeliharaan, dan perawatan biasanya. Namun, dirasakan, jika pemerintah masih bergantung pada MKB produksi luar negeri, kenaikan tersebut dipercaya tidak akan berpengaruh banyak, mengingat harga pasar senjata internasional yang juga tinggi.

”Kalau kita pesan dari dalam negeri, harganya pasti lebih murah dan kita bisa beli banyak. Selain itu, roda perekonomian kita juga bisa lebih berputar karena industri pendukung dalam negeri lainnya juga bisa hidup. Apalagi PT Pindad ternyata selama ini mampu dan punya kapasitas menganggur (idle capacity) untuk memproduksi MKB,” ujar Sjafrie.

Adik membenarkan hal itu. Dia bahkan memastikan PT Pindad sudah memiliki dan menguasai alat serta teknologi pembuatan MKB sejak awal 1990-an. Fasilitas produksi MKB bahkan sudah didirikan di Turen sejak 1992, sementara mesin dan peralatannya sudah dibeli dari Swedia sejak 1997. Dia juga mengklaim siap jika pemerintah serius ingin memesan MKB dari PT Pindad.

Memproduksi

Selama ini, untuk jenis munisi kaliber kecil (MKK), PT Pindad mampu memproduksi dan memasok 114 juta butir berbagai kaliber MKK per tahun untuk kebutuhan TNI. Selain itu, pihaknya, menurut Adik, juga memiliki cadangan stok bahan baku amunisi sampai 2 ton yang bisa diolah menjadi munisi kaliber berapa pun sesuai pesanan. Sebagai ilustrasi, untuk membuat granat tangan, per butir hanya dibutuhkan kurang dari 30 gram mesiu saja. PT Pindad mampu membuat MKB sampai kaliber 155 mm.

”Kami ini ibarat dapur. Bapak mau pesan nasi goreng atau bubur ayam, ya, silakan pesan. Kami mampu membuatnya. Dahulu kami diminta Pak Habibie (mantan Presiden BJ Habibie) memproduksi sistem persenjataan FFAR (Forward Firing Aircraft Rocket). Alatnya sudah kami adakan, beli dari Swedia. Khusus untuk membuat MKB. Namun, sampai sekarang order munisinya enggak pernah turun,” ujar Adik.

Selain kemampuan produksi, PT Pindad, menurut Adik, sampai sekarang juga tidak bermasalah dengan dukungan finansial. Hal itu mengingat untuk pesanan yang dikerjakan selama ini, terkait kebutuhan dalam negeri atau pemerintah, PT Pindad mendapat dukungan dari pihak perbankan nasional. Sekarang tinggal menyinkronkan saja kedua hal tadi dengan dukungan kebijakan pemerintah dalam arti komitmen untuk membeli dari PT Pindad.

Klaim Adik, pernyataan Sjafrie, serta lontaran ”gurauan pahit” yang dipaparkan Gunadi sebelumnya, seharusnya bisa ”diolah” menjadi ibarat pepatah lama, ”bak gayung bersambut, kata berbalas”. Secara teknologi dan pengalaman, industri pertahanan dalam negeri, seperti PT Pindad, punya kemampuan dan bisa diandalkan. Selain itu, dukungan dan komitmen pendanaan serta kepastian daya serap pasar, dalam hal ini TNI, juga bisa dijamin. Apalagi komitmen anggaran dari pemerintah pun juga dinaikkan.

Sekarang tinggal komitmen bersama membangun dan membesarkan industri pertahanan dalam negeri. Memang tidak mudah. Namun, jauh lebih baik daripada terus bergantung pada bangsa lain, apalagi sampai diolok-olok, padahal sudah membeli dengan harga mahal. Jadi, mulai sekarang, hati-hati bicara, Sir. Kalau cuma MKB, industri kami mampu bikin sendiri.

KOMPAS

Hut Yon Zipur 10

15 Mei 2010, Pasuruan -- Sejumlah personel Batalyon Zeni Tempur 10 Devisi Infanteri 2 Kostrad melakukan penyergapan terhadap pelaku kejahatan di Kota Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (15/5). Untuk memperingati hari ulang tahun Koprs Batalyon Zeni Tempur 10 Devisi Infanteri 2 Kostrad Pasuruan melakukan atraksi keterampilan bela diri, kesenian, dan teknis penyergapan terhadap pelaku kejahatan kota. (Foto: ANTARA/Musyawir/ed/pras/10)


KVH Receives $2 Million Order for TACNAV II Military Navigation Systems


14 May 2010, MIDDLETOWN, R.I., -- KVH Industries, Inc., (Nasdaq: KVHI) announced today that it has received a $2 million order for its TACNAV(R) II tactical navigation system for use by an international customer. Shipment of this order is expected to begin in the second quarter of 2011 and conclude in early 2014.

"KVH's TACNAV II tactical navigation system is an important tool for navigation and coordination of vehicles operating in critical military situations," explains Dan Conway, KVH's vice president of business development. "The system is crucial to keeping soldiers safe and out of harm's way, serving as a resource for navigation, battle management, and even as a backup to GPS. This order reaffirms the value of KVH's TACNAV products in the international market, and adds to our steady foundation of revenue for the coming years."

The TACNAV II tactical navigation system is an easy-to-integrate, affordable solution for battle management and weapon systems. Ideal for virtually any platform, the system offers a compact design, continuous heading and pointing data output, and a flexible architecture that allows it to function as either a standalone navigation module or as the heart of an expanded, multifunctional TACNAV system. With its precision fiber optic gyro (FOG) and an optional compass sensor providing a complete backup to GPS, the TACNAV II can integrate with a host of applications, including navigation and data consolidation for Battle Management Systems (BMS).

About KVH Industries, Inc.

KVH Industries is a leading manufacturer of solutions that provide global high-speed Internet, television and voice services via satellite to mobile users at sea, on land, and in the air. KVH is also a premier manufacturer of high performance sensors and integrated inertial systems for defense and commercial guidance and stabilization applications. The company is based in Middletown, RI, with facilities in Tinley Park, IL, Kokkedal, Denmark, and Singapore.

This press release may contain certain forward-looking statements that involve risks and uncertainties. For example, the statements regarding the company's financial and product development goals for 2010 and beyond are forward-looking statements. The actual results realized by the company could differ materially from the statements made herein. Factors that might cause such differences include, but are not limited to: uneven military sales cycles; unforeseen changes in competing technologies and products; and worldwide economic variances. Additional factors are discussed in the company's most recent Form 10-Q filed with the SEC. Copies are available through the company's Investor Relations department and website, www.kvh.com. KVH does not assume any obligation to update its forward-looking statements to reflect new information or developments.

KVH

U.S. 7th Fleet Controls Tomahawk Launch from 5,000 Miles Away

Sailors aboard the Los Angeles class attack submarine USS Cheyenne (SSN 773) wave to family members as the submarine pulls into port returning from deployment in support of Operation Iraqi Freedom. Operation Iraqi Freedom is the multi-national coalition effort to liberate the Iraqi people, eliminate Iraq's weapons of mass destruction and end the regime of Saddam Hussein. (Photo: U.S. Navy/Mate Airman Benjamin D. Glass)

15 May 2010, USS CHEYENNE, At Sea (NNS) -- Los Angeles-class attack submarine USS Cheyenne (SSN-773) in conjunction with Commander, U.S. 7th Fleet and members of Naval Special Warfare Group (NSWG) 3 successfully fired a Block IV-E Tomahawk Land Attack Missile May 5.

The missile launch took place off the southern coast of California into China Lake Test Range and marks the first time a forward-deployed operational command acted as the Tomahawk strike coordinator and primary missile controller for an operational test launch.

"The Navy's ability to conduct strike operations on re-locatable targets is currently very challenging," said Master Chief Fire Controlman (SW) David Brewer, U.S. 7th Fleet Tomahawk strike coordinator. "By proving an operational commander's ability to use the Tactical Tomahawk Command and Control System's ability to receive real-time targeting coordinates and applying them to a tactical Tomahawk missile in flight will significantly improve the Navy's ability to shape the battlefield and project power from the sea, particularly, when naval surface strike is the only fires option available to the commander."

"I am proud of the work we have accomplished during this exercise," he said. "With this being the staff's first time providing real time operations in flight, the job by the entire team was exceptional. The training value gained from a live firing event has no substitute, and will absolutely improve C7F's ability to conduct actual launch operations when required.

NSWG-3 provided updated target data used by 7th Fleet to modify the missile's flight path, resulting in a destroyed target. The test launch demonstrated a complex strike capability and was a tremendous success for all involved.

"Teamwork is critical in naval fires," Brewer said. "This test launch is the ultimate use of different operational assets we provided during this exercise to achieve common goal. "

This test continues the Navy's formal government testing of the Tactical Tomahawk Weapons Systems from surface/sub-surface launch platforms.

The Tomahawk missile is ship and submarine launched and was first employed operationally during Desert Storm. Since then, the missile has been heralded for its accuracy and lethality in numerous operations. The tactical Tomahawk boasts several enhancements as demonstrated today, which increase warfighter effectiveness and responsiveness, while significantly reducing acquisition and life cycle costs.

USN

RI-Rusia Matangkan Kerja Sama Antiteror

Anggota Densus 88 berjaga di sekitar lokasi peyergapan terduga teroris di Desa Baki Pandeyan, Kecamatan Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (13/5). Densus 88 mengamankan tiga orangyang diduga teroris dan sejumlah barang bukti diantaranya, satu pucuk senjata laras panjang, satu pucuk senjata laras pendek, 10 dus peluru, cd dan kaset. (Foto: ANTARA/Hasan Sakri Ghozali/Koz/10)

15 Mei 2010, Jakarta -- Indonesia dan Rusia akan mematangkan kerja sama antiteror dengan pembentukan kelompok kerja bersama kedua negara, kata Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Ansyaad Mbai di Jakarta, Sabtu.

Ansyaad Mbai mengemukakan, kedua negara sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman tentang kerja sama kedua pihak dalam pemberantasan terorisme, pada tiga bulan silam.

"Bulan depan, kedua negara akan membentuk kelompok kerja bersama sebagai tindak lanjut nota kesepahaman yang telah disepakati. Pertemuan pertama akan dilakukan di Rusia," ungkap Ansyaad.

Indonesia telah menjalin kerja sama serupa dengan sejumlah negara. Selain negara-negara ASEAN, kerja sama antiteror juga dilakukan bersama sejumlah negara Asia Selatan seperti India, Pakistan dan beberapa negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Afghanistan dan Kuwait.

Bentuk kerja sama yang dilakukan meliputi pertukaran data dan informasi intelijen, dan langkah-langkah persuasif seperti deradikalisasi, untuk menetralisasikan paham-paham radikal yang dianut para teroris, tutur Ansyaad.

Ia mengatakan, meski telah memiliki kerja sama dengan sejumlah negara , Indonesia masih belum setara dengan negara-negara tersebut, karena sanksi hukuman yang lemah bagi teroris.

"Di negara lain, hukumannya bisa bertahun-tahun, tiba di Indonesia hanya dihukum beberapa bulan. Ini kan timpang. Sehingga kerja sama yang dijalin juga belum maksimal dan efektif," kata Ansyaad.

ANTARA News