Monday, December 14, 2009

KSAD: Prajurit Harus Miliki Keunggulan Kompetitif


13 Desember 2009, Magelang -- Kepala Staf Angkatan Darat Jederal TNI George Toisutta menegaskan, prajurit TNI harus memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dalam menghadapi pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi.

Untuk mencapai sumber daya manusia dengan keunggulan tersebut, katanya di Magelang, Sabtu, diperlukan prajurit yang mempunyai militansi tinggi yaitu memiliki keunggulan moral, profesional, rela berkorban, tidak mengenal menyerah, serta senantiasa manunggal dan bersama-sama dengan rakyat.

Ia mengatakan hal tersebut pada penutupan pendidikan taruna Akademi Militer TA 2009 di Lapangan Pancasila kompleks Akmil Magelang yang diikuti 275 taruna tingkat III Sermatutar.

Menurut dia, prajurit harus senantiasa menempatkan tugas yang diembannya di atas segala-galanya karena tugas merupakan kehormatan, harga diri, dan kebanggaan.

"Semua itu harus dilakukan dengan kerelaan dan tekad pengorbanan secara total, sejalan dengan visi Angkatan Darat yang solid, profesional, tangguh, modern, berwawasan kebangsaan, serta mencintai dan dicintai rakyat," katanya.

Ia berharap kepada para taruna untuk selalu menghayati dan mengaktualisasikan nilai-nilai luhur keprajuritan yang terkandung dalam Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI secara baik dan benar.


Hal tersebut dimaksudkan agar para taruna tidak bimbang dan ragu, baik dalam penugasan di kesatuan maupun dalam mengarungi kehidupan di tengah-tengah masyarakat yang penuh dinamika.

Selain itu, katanya, perlu dipahami bahwa tentara rakyat berjuang bersama rakyat dan untuk rakyat. "Untuk itu bangun terus kemanunggalan TNI dengan rakyat karena kemanunggalan TNI dengan rakyat merupakan roh TNI Angkatan Darat," katanya.

Ia juga berharap kepada para taruna yang dalam waktu dekat akan dilantik sebagai perwira itu untuk menegakkan Kode Etik Perwira Budhi Bhakti Wira Utama, yaitu perwira yang senantiasa berbuat luhur dalam membela kebenaran dan keadilan, rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara.
"Jadilah perwira yang militan, tidak mudah mengeluh dan senantiasa tampil sebagai prajurit profesional, berdedikasi dan berdisiplin tinggi, berjiwa kesatria serta berani bertanggung jawab atas segala tindkan yang dilakukan," katanya.

Pada kesempatan tersebut KSAD memberikan penghargaan Adimakayasa dan Trisakti Wiratama kepada taruna berprestasi terbaik, yakni Amito Suryo Mutiara dan penghargaan Trisakti Wiratama kepada Indra Wiratama.

ANTARA JATENG

AU India Akan Terima 40 Su-30MKI

SU-30 MKI AU India lepas landas. (Foto: Sagar Pathak)

14 Desember 2009 – Angkatan Udara akan menerima tambahan 40 jet tempur Su-30MKI, dibawah kontrak pembelian yang ditandatangani dengan Hindustan Aeronautics Limited (HAL) pada 2007.

Su-30MK dirancang berdasarkan Su-27UB, diproduksi di Komsomolsk-on-Amur dan Irkutsk.

Dibawah perjanjian “ transfer of technology” antara HAL dan Rosoboronexport , HAL akan membeli kit teknikal dari Rusia untuk merakit pesawat di India.

HAL telah mengirimkan 3 Su-30MKI ke AU India, sedangkan pengiriman jet tempur lainnya antara 2011 hingga 2012.

Airforce-technology.com/@beritahankam

Rusia Perancis Lanjutkan Pembicaraan Pembelian Mistral

Mistral saat berkunjung ke Rusia pada bulan lalu. (Photo: AP)

14 Desember 2009 – Delegasi Rusia dan Perancis akan bertemu pada bulan ini untuk mendiskusikan kemungkinan pembelian kapal perang buatan Perancis, menurut sumber Departemen Pertahanan Rusia, Senin (14/11), diberitakan RIA Novosti.

Rusia akan mengambil keputusan akhir pembelian kapal serbu amphibi kelas Mistral dari Perancis akhir tahun 2009.

Menurut sumber Rusia tertarik membeli lebih dari sebuah kapal perang kelas Mistral.

Pembicaraan pembelian dilakukan dengan pula dengan Belanda dan Spanyol, kemungkinan pembelian kapal dengan jenis yang sama dengan Mistral.

Rusia mengharapkan dapat membangun kapal kelas Mistral kedua dan selanjutnya di galangan dalam negeri.

RIA Novosti/@beritahankam

Pangkolinlamil, `Tingkatkan Kemampuan Personel`

KRI Teluk Bone eks USS Iredell County (LST-839). (Foto: .koarmabar.mil.id)

14 Desember 2009, Jakarta -- Panglima Komando Lintas Laut Militer (Panglima Kolinlamil), Laksamana Muda TNI Slamet Yulistiyono, menegaskan tugas Kolinlamil ke depan dalam mendukung kegiatan operasi militer untuk perang maupun selain perang.

Karena itu dituntut peningkatkan kemampuan sesuai dengan perkembangan lingkungan strategis dan kesiapsiagaan satuan opersional serta meningkatkan profesionalisme personel dengan melaksnakan latihan bertingkat dan berlanjut, katanya saat apel khusus di Markas Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Laksamana Muda TNI Slamet Yulistiyono menyampaikan bahwa mengawali penugasan sebagai Panglima Kolinlamil, dalam rangka melaksanakan amanah dan kepercayaan pimpinan yang diberikan untuk mengemban tugas negara khususnya dalam bidang penyelenggaraan operasi angkutan laut militer .

Pada dasarnya, Slamet Yulistiyono, mantan kadispenal ini ingin melanjutkan kinerja Kolinlamil yang telah dibangun dan sudah membawa kemajuan tugas-tugas Kolinlamil, TNI AL dan organisasi TNI. Selanjutnya ke depan mengupayakan langkah-langkah kemajuan, minimal mempertahankan prestasi yang telah dicapai.

Oleh Karena itu, mengharapkan dukungan seluruh personel sehingga
tugas pokok Kolinlamil dapat tercapai secara optimal, paparnya.

Saat ini Kolinlamil menghadapi suatu kenyataan bahwa unsur KRI yang dimiliki sebagian besar sudah berusia tua sehingga mempengarui optimalisasi kegiatan operasi, jelasnya.

Berkenaan dengan hal tersebut, tegasnya agar seluruh personel baik satuan operasional maupun dukungan keterminalan, mampu meningkatkan kualitas dan tetap menunjukan kinerja yang baik guna menjaga serta dapat mempertahankan kemampuan alat utama Kolinlamil.

Dengan semangat pengabdian, kerja keras dan didukung dengan profesionalisme prajurit Kolinlamil, semua keterbatasan dan kendala yang ada, akan dapat diatasi.

Dispenkolinlamil/POS KOTA

Misil Dhanush Berkemampuan Nuklir Sukses Diuji Coba India

Misil Dhanush.

14 Desember 2009 -- India sukses melakukan uji penembakan rudal balistik yang mampu membawa hulu ledak nuklir dari sebuah kapal perang dari lepas pantai negara bagian Orissa, Minggu (13/12), dilaporkan media India.

Misil Dhanush dapat menjangkau sasaran hingga 350 km dengan kapasitas muat 500 kg hulu ledak konvensional atau nuklir.

Pengujian peluncuran pertama mengalami kegagalan pada April 2000 karena masalah teknis, tetapi pengujian selanjutnya dilaporkan sukses. Pengujian Dhanush terakhir dilakukan pada Maret 2007.

RIA Novosti/@beritahankam

PT. DI Segera Serahkan Helikopter Super Puma Ke TNI AU

Seorang teknisi PT Dirgantara Indonesia(PTDI) memasang salah satu komponen pada bagian hidung Helikopter Super Puma NAS 332 di hanggar PTDI,Bandung,Jawa Barat. (Foto: ANTARA/Rezza Estily/ss/hp/08)

11 Desember 2009, Jakarta -- PT Dirgantara Indonesia segera menyerahkan satu unit helikopter Super Puma pesanan TNI Angkatan Udara pada awal 2010, kata pimpinan perusahaan dirgantara itu di Jakarta, Jumat.

"Iya memang mundur dari jadwal, namun kini satu unit sudah selesai dari tiga helikopter yang harus diselesaikan dari 16 unit yang dipesan," kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso, ketika dikonfirmasi ANTARA.

Tersendatnya penyelesaian helikopter Super Puma PT DI itu karena adanya selisih kurs pada pengadaan 1998 dan 2006 serta adanya kebijakan konversi pengadaan alat utama sistem senjata dari kredit ekspor (KE) kepada rupiah murni (RPM).

Ia mengemukakan, satu unit helikopter Super Puma yang telah selesai pengerjaannya telah menjalani beberapa kali uji terbang dan hasilnya memuaskan. "Jadi, tinggal diserahkan saja kepada pemerintah dan penggunanya TNI Angkatan Udara," ujar Budi.

TNI AU dan PT DI pada 1998 menandatangani KJB 010 untuk pengadaan 16 unit Helikopter Super Pumma I NAS 332 beserta suku cadangnya. Dari jumlah itu tujuh unit helikopter telah selesai.

Sedangkan dari sembilan unit yang tersisa, tambah Budi, tiga unit telah memasuki tahap penyelesaian sedangkan sisanya akan "dikorbankan" dan dimodifikasi menjadi Super Puma II atau "Cougar", yang merupakan kerja sama antara PT DI dan Eurocopter Perancis.

Modifikasi itu, lanjut dia, karena perkembangan teknologi yang makin canggih untuk heli Super Puma. "Ini pengadaannya sudah terlalu lama, sedangkan teknologinya terus berkembang, maka kami putuskan untuk melanjutkan pengadaan Super Puma TNI AU dengan jenis yang lebih baru, dari Super Puma I menjadi Super Puma II," kata Budi.

PT DI berkerjasama dengan Eurocopter membuat komponen Helikopter Super Puma II (Cougar) seri terbaru untuk menguasai pasar helikopter khusus Angkatan Udara di kawasan Asia.

Antara

Penandatanganan MoU Tentang Revitalisasi Industri Pertahanan


11 Desember 2009, Jakarta -- Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama dengan Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar dan Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso serta Wakapolri Komjen Pol Makbul Padmanegara menandatangi Nota Kesepakatan Bersama (Memorandum of Understanding / MoU) tentang Revitalisasi Industri Pertahanan, Jum’at (11/12) di kantor Departemen Pertahanan, Jakarta. Inti dari isi kesepakatan yang ditandatangani adalah pemenuhan akan kebutuhan Alutsista TNI-Polri dengan menggunakan produk -produk yang dihasilkan oleh industri di dalam negeri.

Selain kesepakatan tersebut, juga ditandatangani Kontrak Pengadaan pesawat Udara Patroli Maritim TNI AL antara Dephan dengan PT. Dirgantara Indonesia dalam hal ini ditandatangani oleh Dirjen Sarana Pertahanan Dephan Marsdya TNI Eris Herryanto, MA dengan Dirut PT. DI Budi Susanto.

Selain itu, ditandatangi pula kesepakatan tentang perancangan pembangunan dan pemeliharaan kapal antara Pertamina dengan PT.PAL dalam hal ini ditandatangani oleh Dirut Pertamina Karen Agustiawan dengan Dirut PT. PAL Hars Susanto.

Penandatangan kesepakatan ini merupakan acara puncak dari rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh Dephan dalam rangka kegiatan Workshop Revitalisasi Industri Pertahanan yang masuk dalam program 100 hari Pemerintah Kabinet Bersatu ke II.

Dalam sambutannya Menhan Purnomo Yusgiatoro mengatakan, MoU tentang Revitalisasi Industri Pertahanan merupakan bentuk komitmen Dephan, TNI dan BUMN untuk menggunakan produk-produk yang dihasilkan oleh industri di dalam negeri guna memenuhi kebutuhan Alutsista TNI selama lima tahun Rencana Strategi 2009-2014 .

“Ini tidak biasa kita lakukan, karena biasanya kita melakukannya dalam satu tahun anggaran. Tetapi pada kali ini kita mempunyai komitmen, kita sampaikan kepada produsen Alutsista untuk komit selama lima tahun satu Renstra”, ungkap Menhan.

Lebih lanjut Menhan mengatakan, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh produsen dalam negeri (BUMNIS) baik dalam hal harga, pengiriman, spesifikasi, kualitas dan purna jual, tetapi Dephan dan TNI akan berkomitmen untuk menggunakan dan mengembangkan produksi dalam negeri.

Menurut menhan penggunaan pengembangan produksi dalam negeri tidak hanya akan memberikan dampak terhadap kegiatan ekonomi tetapi juga memberikan nilai tambah bagi Pembangunan nasional. “Kita menerima ini dengan segala kelebihan dan kekurangan dari industri nasional kita”, ungkap Menhan.

Selain komitmen Dephan, TNI dan BUMN dalam menggunakan produk-produk yang dihasilkan oleh industri di dalam negeri, Menhan lebih lanjut menjelaskan tentang hal penting dari hasil kegiatan lokakarya antara lain perlu dilakukan suatu penunjukan khusus dari Keppres 80 Tahun 2003 sebagai suatu kebijakan tersendiri. Kedua, terkait dengan masalah pendanaan. Dan ketiga, diusulkannya dibentuk sebuah Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP).

Menhan menambahkan, dari perjalanan selama ini paling tidak sudah ada komitmen politik dari semua pemangku kepentingan (stake holder) untuk dalam mewujudkan kepentingan industri pertahanan dan pembangunan nasional. Selanjutnya semua pemangku kepentingan diharapkan untuk tetap memegang prinsip 3K yaitu komitmen, kosistensi dan kontinuitas.

Hadir menyaksikan penandatangan MoU tersebut antara lain Kasal Laksamana Madya TNI Agus Suhartono. SE, Sekjen Dephan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Wakasad dan Wakasau serta sejumlah pejabat di lingkungan Dephan, Mabes TNI, Mabes TNI AD, Mabes TNI AL, Mabes TNI AU, Departemen Perindustrian, Kementerian Negara BUMN dan industri strategis dalam negeri.

DMC

Denzipur-8 Selesaikan Lapangan Tembak Yonif 623/BWU


14 Desember 2009, Banjarbaru -- Satuan Dentasemen Zeni Tempur-8 Kodam VI/Tpr yang berada di Desa Guntung Payung, Kota Banjarbaru. Kalimantan Selatan berhasil menyelesaikan pembangunan Lapangan Tembak Yonif 623/Bwu sesuai target awal yaitu selama sebelas bulan dari mulai pembangunan 14 Januari 2009 dan selesai pada tanggal 29 Nopember 2009. Akhir dari pembangunan Lapangan Tembak Yonif 623/Bwu tersebut diresmikan oleh Danrem 101/Ant ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Danrem tanggal 2 Desember 2009 yang disaksikan langsung oleh Pangdam VI/Tpr.

Pembangunan Lapangan Tembak oleh Denzipur-8 tersebut berdasarkan perintah lisan Pangdam VI/Tpr Mayjen Tono Suratman tanggal 11 Januari 2009 kepada Dandenzipur – 8 Dam VI/Tpr untuk membuat lapangan tembak Yonif 623/BWU dan Surat Telegram Pangdam VI/Tpr Nomor ST/630/2009 tanggal 13 Juli 2009 tentang penyelesaian pekerjaan pembuatan lapangan tembak Yonif 623/Bwu oleh Denzipur-8 Dam VI/Tpr maka dilaksanakanlah pembuatan lapangan tembak Yonif 623/BWU yang akhirnya dapat diselesaikan dalam kurun waktu sebelas bulan yaitu dimulai tanggal 14 Januari s/d 29 Nopember 2009.

Dalam pembangunan Lapangan tembak tersebut setidaknya Denzipur-8 melibatkan 14 Orang personil dari militer, 10 orang non militer dengan perincian : Perwira 2 Orang, Bintara 3 Orang, Tamtama 9 Orang, operator sipil 6 orang, Supir dump truk non militer 3 orang.

Adapun peralatan yang digunakan dalam mendukung pembangunan lapangan tembak tersebut Peralatan alat berat zeni Denzipur-8 (Excavator Daewoo 1 Unit, Dozer D 53 Komatsu 1 Unit, Greader GD 500 Komatsu 1 Unit, Dump truk Daewoo 1 Unit). Mengingat peralatan yang dimiliki oleh Denzipur-8 tidak lengkap dan pekerjaan yang cukup berat maka Denzipur-8 juga mengunakan peralatan alat berat rental (Excavator PC 200 Komatsu 1 Unit, Excavator Caterpillar 320 1 Unit, Dozer D 85 E– SS 1 Unit, Greader GD 500 Mitsubishi 1 Unit, Greader GD 125 Mitsubishi 1 Unit, Dump Truk PS 3 Unit).

Pelaksanaan pekerjaan meliputi beberapa tahap sebagai berikut yaitu tahap Clearing 1.5 H, Pembuatan Tanggul: Tanggul Utama (50mx5mx6m), Tanggul Kanan (300mx1.8x2m), Tanggul Kiri (300mx1.8x2m), Pekerjaan Galian (Memotong Ketingian, Membuat Parit/ Drainase ( 700m x 1m x 0.5m), Pekerjaan Timbunan.

Hasil yang dicapai dalam pembangunan lapangan tembak antara lain: Lapangan tembak dengan panjang 300 m dan lebar 50 m, Tanggul utama ukuran 50m x 5m x 6m dan tanggul kanan kiri ukuran 300m x 1.8m x 2m. Drainase dalam lapangan tembak sepanjang 650m x 0.75m x 0.75 m dan drainase luar lapangan tembak sepanjang 600m x 2m x 1.5m, Daerah persiapan lapangan tembak seluas 1 hektar.

Diharapkan dengan diresmikannya Lapangan Tembak Yonif 623/BWU jarak 300 meter oleh Danrem 101/Ant yang disaksikan oleh Pangdam VI/Tpr dapat memberikan manfaat untuk mengembangkan profesionalisme para prajurit dalam bidang menembak yang tidak hanya digunakan oleh Yonif 623/BWU namun dapat juga dimanfaatkan oleh para prajurit di seluruh wilayah jajaran Korem 101/Ant serta dapat digunakan latihan oleh para Atlit Perbakin Kalsel.

Denzipur-8

Pemerintah Tetap Berkomitmen Dukung Industri Pertahanan Produksi Dalam Negeri


14 Desember 2009, Bandung -– Mengingat kebutuhan akan pengunaan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) bagi Dephan, TNI dan Polri terbatas, kepada pelaku Industri Pertahanan dalam negeri dihimbau tidak perlu khawatir karena pemerintah berkomitmen akan tetap mendukung Produk dalam negeri. Market atau pasar yang bisa diberikan oleh Dephan, TNI dan Polri itu terbatas dan belum bisa memenuhi skala perekonomian dari perusahaan industri pertahanan. Namun demikian Dephan mempunyai komitmen, konsisten dan secara kontinu untuk mendukung produk dalam negeri.

Demikian disampaikan Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro ketika bertatap muka dengan para jajaran Direksi PT. Pindad, pada kunjungan kerjanya ke Industri Pertahanan, Sabtu (12/12) di PT. Pindad Bandung.

Dijelaskan menhan bahwa komitmen yang diberikan Pemerintah tersebut telah ditandai dengan adanya penandatanganan Memorium Of Understanding (MOU) antara pihak Dephan, Kementerian Negara BUMN, Panglima TNI dan Kapolri.

“Sebetulnya MOU itu sudah merefleksikan multi years project, jadi barangkali industri pertahanan bisa menindaklanjuti untuk program 2010 sampai dengan 2014, dan kebutuhan 5 tahun ini bisa menjadi peluang bisnis,” ujar menhan.

Disamping pembuatan MOU, pemerintah juga akan membuat beberapa kebijakan, diantaranya perumusan Perpres yang diikuti oleh Kepres yang memuat pengaturan yang berhubungan dengan subtansi dari pengembangan industri dalam negeri seperti, kebutuhan penggunaan alutsista, pendanaan serta perumusan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang merupakan amanat dari UU no. 3 pertahanan Negara Tahun 2002.

Ditambahkan menhan, meski program kebutuhan alutsista untuk 5 tahun kedepan telah dicanangkan pemerintah, menhan menghimbau kepada industri pertahanan untuk tetap dapat mandiri dan tidak terpaku kepada pemesanan alutsista yang dilakukan oleh Dephan, TNI dan Polri.

Melalui program Indonesia Incoorporate pemerintah dalam hal ini Dephan akan memberikan peranannya untuk ikut berupaya memasarkan produk alutsista dalam negeri kepada negara lain, sehingga BUMNIS dapat terus berkembang. “Sejauh kita bisa, kami akan ikut membantu menyampaikan dan memasarkan produk-produk pertahanan unggulan dalam negeri kepada negara-negara sahabat,” tegas menhan.

Skema Pendanaan Untuk Pengadaan Alutsista

Menhan mengakui tidak terdapat adanya kendala untuk dukungan pendanaan bagi pengadaan Alutsista bagi Dephan, TNI dan Polri. Pasalnya Pemerintah sendiri telah memiliki Rencana Strategi (Renstra) akan adanya kebutuhan alutsista beserta dukungan anggarannya selama 5 tahun kedepan.

“Kalau pendanaan untuk Dephan, TNI dan Polri tidak ada masalah, skema pendanaan itu sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah No.64 tahun 2008, nanti bentuknya itu bisa dari APBN langsung, Kredit Ekspor, ataupun pendanaan dari dalam negeri,” jelas Menhan.

Menurut menhan, selain pendanaan yang didukung dari pemerintah, pihak produsen dengan alasan yang jelas dapat menggunakan pinjaman langsung koorporasi dari pihak perbangkan, dengan jaminan ataupun obligasi yang diterbitkan oleh Departemen Keuangan. Selain itu MOU yang telah ditandatangani Menhan dan Menneg BUMN beserta Panglima TNI dan Kapolri itu juga sudah cukup baik untuk dijadikan jaminan, sehingga tidak terdapat kekhawatiran dari pihak Perbankan. “Dengan adanya MOU ini berarti sudah ada pesanan alutsista dari TNI dan Polri selama 5 tahun sehingga industri bisa melakukan permohonan modal pendaanaan kepada lembaga perbangkan,” ujar Menhan.

Pada kunjungan kerjanya di Bandung kali ini, Menhan berkesempatan untuk melihat faslitas-faslitas pembuatan produk senjata dan kendaraan tempur yang ada di PT. Pindad, proses perakitan rangka ataupun mesin pesawat dan helikopter yang ada di PT. Dirgantara Indonesia, serta fasilitas pemeliharaan pesawat Hercules di Depo Pemeliharaan 10 TNI AU.

Turut ikut dalam rombongan kunjungan kerja Menhan, Kepala Staf Angkatan Laut Laksdya TNI Agus Suhartono, Sekjen Dephan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Dirjen Ranahan Dephan, Marsekal Madya, Eris Herriyanto, MA, Kabalitbang, Prof Lilik Hendrajaya dan beberapa pejabat lainnya dari lingkungan Dephan dan TNI.

DMC

TNI Hadapi Keterbatasan Dalam Pelaksanaan Misi Perdamaian di Lapangan


11 Desember 2009, Jakarta -- Berdasarkan pengalaman TNI dibeberapa negara konflik seperti Afrika, Timur Tengah dan di negara-negara Asia lainnya, diketahui bahwa masih banyak keterbatasan dalam pelaksanaan misi perdamaian di lapangan yang memiliki tingkat kerawanan yang tinggi serta permasalahan yang kompleks dan luas.

Hal itu disampaikan Direktur Kerjasama Internasional Ditjen Strategi Pertahanan Dephan Brigjen TNI (Mar) Ir Saiful Anwar yang dalam amanatnya dibacakan oleh Kepala Subdit Misi Perdamaian Kol Makmur Supriyanto saat membuka membuka Seminar Operasi Misi Perdamaian RI- Perancis, (10/12), di kantor Ditjen Strahan Dephan, Jakarta yang diikuti oleh perwira TNI yang berasal dari tiga matra yang akan ditugaskan dalam misi perdamaian.

Dirkersin mengatakan bahwa seminar ini merupakan seminar sehari yang bertujuan untuk memberikan pembekalan kepada para calon peacekeepers maupun calon military observer yang akan diberangkatkan pada misi PBB serta perwira yang menangani langsung bidang misi pemeliharaan perdamaian. Dengan dilaksanakannya seminar ini diharapkan para peserta terutama yang akan ditugaskan dalam misi perdamaian mendapatkan kesempatan saling tukar pikiran dengan baik juga untuk mengetahui lebih banyak mengenai tugas-tugas yang berkaitan dengan misi-misi perdamaian.

Disamping itu Dephan juga berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pengiriman prajurit TNI dalam misi perdamaian sebagaimana yang telah diketahui bahwa Indonesia mendapatkan kesempatan untuk mengirimkan lebih banyak lagi prajurit TNI di masa yang akan datang.

Dirkersin melanjutkan, dengan hadirnya beberapa pembicara yang telah berpengalaman dalam penugasan PBB yang salah satunya adalah Letkol AM Putranto, mantan Dan Satgas Yon Mekanis UNIFIL Kontingen Garuda XXIII B, perwakilan ICRC dan Atase pertahanan Perancis untuk Indonesia, diharapkan para peserta seminar dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan pengetahuan tentang misi perdamaian.

Seminar serupa yang diadakan oleh Ditkersin sudah dilaksanakan setiap tahun baik itu diadakannya dengan Perancis , Amerika, dan Australia, juga mengirimkan personil untuk mengikuti seminar serupa yang diadakan di luar negeri untuk meningkatkan kemampuan dari para perwira yang akan ditugaskan sebagai military observer atau komandan kontingen.

DMC

Tiga Batalyon Resimen Kavaleri-1 Marinir Ganti Komandan


14 Desember 2009, Surabaya -- Surabaya - Tiga batalion di jajaran Resimen Kavaleri-1 Marinir kini mengalami pergantian komandan.

Pergantian itu dipimpin Komandan Resimen Kavaleri-1 Marinir Letkol Marinir Lasmono di lapangan apel Kesatrian Supraptono Semarung, Surabaya, Senin.

Dalam pergantian itu, Mayor Marinir Subagio dilantik sebagai Komandan Batalyon Kendaraan Pendarat Amfibi (Ranratfib)-1 Marinir yang baru menggantikan Letkol Marinir Abdus Samad.

Untuk selanjutnya Letkol Marinir Abdus Samad akan menempati jabatan baru sebagai Perwira Staf Operasi Menkav-1 Marinir.

Sementara itu, Mayor Marinir Herkulanus Herry Sintarto dikukuhkan sebagai Komandan Batalyon Tank Amfibi-1 Marinir, sedangkan Mayor Marinir Bagus Wiyosantoro dikukuhkan sebagai Komandan Batalyon Kendaraan Amfibi Pengangkut Arteleri (Kapa) -1 Marinir.

Dalam amanatnya, orang nomor satu di jajaran Resimen Kavaleri-1 Marinir itu mengingatkan tugas pokok Resimen Kavaleri-1 Marinir adalah membina kemampuan dan menyiapkan unsur-unsur Kavaleri Korps Marinir guna melaksanakan operasi pendaratan Amfibi, operasi pertahanan pantai, operasi tempur, dan operasi lainnya.

"Karena itu, prajurit Menjav-1 Mar hendaknya selalu meningkatkan jiwa dan sikap mental kejuangan untuk keberhasilan tugas, sekaligus meningkatkan kesiapan kendaraan tempur dan keterampilan satuan, baik teknik maupun taktik kesenjataan, sehingga menjadi prajurit kavaleri yang profesional dan handal," kata komandan asli Malang itu.

ANTARA JATIM

Latma Elang Brunesia IV/09 Ditutup

Foto bersama peserta Latihan Bersama Elang Brunesia IV/09 di Apron Hanggar Lanud Supadio, Jum’at (11/12).

14 Desember 2009, Pontianak -- Setelah 3 hari berturut-turut melaksanakan latihan bersama akhirnya Latihan antara TNI Angkatan Udara (TNI AU) dengan Tentera Udara Diraja Brunei Darussalam (TUDB) dengan sandi Latma Elang Brunesia IV/09 ditutup secara resmi oleh Pemerintah Pangkalan Tentera Udara Diraja Brunei, Letnan Kolonel Udara Lusir Bin Sian didampingi Komandan Lanud Supadio Kolonel Pnb Yadi Indrayadi pada suatu upacara militer di Apron Hanggar Lanud Supadio, Jum’at (11/12).

Dalam sambutan tertulisnya Letnan Kolonel Udara Lusir Bin Sian mengatakan Latma Elang Brunesia IV/09 yang telah dilaksanakan mempunyai arti yang sangat penting bagi kerjasama militer di kedua negara. Untuk itu Latma ini harus terus dilaksanakan oleh TNI AU dan TUDB sehingga hubungan kedua negara lebih erat dan kompak.

“Peserta latihan dari TUDB sangat berterima kasih kepada TNI AU yang telah memberikan dukungan mulai dari kedatangan peserta Latma dari TUDB sampai selesai latihan sehingga latihan ini dapat berjalan lancar dan aman ,” tambah Letkol Udara Lusir Bin Sian.

Sementara itu Danlanud Supadio Kolonel Pnb Yadi Indrayadi mengatakan banyak sekali manfaat yang dapat kita petik dari Latihan Bersama ini salah satuanya adalah adanya kesamaan pandang antara TNI AU dengan TUDB dalam upaya meningkatkan kemampuan personel di kedua negara dan saling menjaga perbatasan di masing-masing wilayah.

Disisi lain, lanjut Danlanud Latma ini menjadi suatu momen penting untuk menjalin hubungan persahabatan antara kedua Angkatan Udara, TNI AU dan TUDB yang semakin erat. Saya yakin, latihan bersama ini memberikan kesempatan berharga bagi para prajurit serta personel pendukung lainnya untuk saling bertukar pengalaman dan bertukar informasi, baik dalam konteks latihan maupun kehidupan sebagai bangsa serumpun.

“Melalui latihan bersama ini, bukan saja menjadikan kerjasama antara TNI AU dan TUDB menjadi lebih lancar, tetapi lebih dari itu juga menjadikan hubungan diplomatik pemerintah Indonesia dan Brunei Darussalam akan terjaga dengan baik,” tambah Danlanud.

Hadir pada upacara penutupan Latma Elang Brunesia IV/09 antara lain para pejabat TNI AU dan TUDB, Athan Brunei Letkol Pangiran Haji Hapiz, para Komandan Satuan di jajaran Lanud Supadio. Setelah selesai upacara tak lupa dilaksanakan foto bersama peserta latma TNI AU dan TUDB sebagai kenangan-kenangan.

PENTAK LANUD SUPADIO

Kehadiran Negara di Perbatasan Harus Diperkuat

KRI Kakap kapal patroli cepat TNI AL. (Foto: TNI AL)

14 Desember 2009, Tarakan -- Pemerintah dinilai belum serius membangun wilayah perbatasan RI-Malaysia seperti terlihat di Kalimantan Timur. Bukti kehadiran negara, baik fisik maupun informasi, amat minim. Akibatnya, orientasi politik, sosial, dan budaya warga perbatasan berkiblat ke Malaysia.

Tujuh anggota Komisi I DPR RI menegaskan hal itu setelah mengunjungi Tawau, Sabah (Malaysia), Nunukan dan Tarakan di Kalimantan Timur (Kaltim), akhir pekan lalu. Mereka adalah Hayono Isman (ketua tim), Ny Soemientarsi Muntoro, Tantowi Yahya, Fayakhun Andriadi, Muchamad Ruslan, Achmad Basarah, dan Achmad Daeng Sere.

Setelah Tawau, Sabah, Malaysia (Kompas, 11/12), rombongan mengunjungi Sebatik, pulau yang secara administratif terbagi atas wilayah RI dan Malaysia. RI menguasai bagian selatan pulau dan membaginya menjadi dua kecamatan dengan jumlah total penduduk 32.272 jiwa. Bagian utara pulau dikuasai Malaysia dan menjadikannya sebagai lahan perkebunan sawit dan tanpa penduduk yang menetap permanen.

Ragam masalah

Sebatik wilayah RI terbagi atas Kecamatan Sebatik Barat dan Sebatik. Dalam pertemuan dengan tim Komisi I, penduduk Sebatik Barat mengeluhkan ketiadaan listrik, kesulitan air bersih, dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Camat Sebatik Barat Junaidi melaporkan, tiang-tiang listrik yang dilengkapi jaringan kabel sudah dibangun sejak tahun 1991. Namun, hingga kini listrik belum nyala.

Warga menyebut tiang dan kabel itu sebagai ”tiang tali jemuran terpanjang di dunia”. Penduduk Kecamatan Sebatik sudah lama dilayani penerangan listrik sekalipun dalam sehari bisa terjadi pemadaman berkali-kali.

Komisi I heran mengapa negara lamban melayani kebutuhan dasar warga perbatasan. Listrik merupakan salah satu bentuk fisik dari kehadiran negara di perbatasan. ”Listrik tidak saja membangkitkan ekonomi kreatif warga, tetapi juga menarik investasi dan salah satu bukti kehadiran negara di sini,” kata Hayono.

Kata Basarah, sudah keterlaluan kalau masalah listrik terbengkalai sampai hampir 10 tahun. ”Kalau setahun dua tahun saja, mungkin masih bisa dimaklumi. Akibatnya, muncul kesan di kalangan warga pemerintah tidak peduli terhadap kebutuhan dasar warga perbatasan,” katanya.

Fasilitas pangkalan udara TNI di Tarakan, sebagai pangkalan terdepan di perbatasan, tertinggal jauh dari pangkalan angkatan udara Malaysia di Tawau, Sabah. Misalnya, landasan pacu Tarakan berukuran 2.250 x 45 m, Nunukan 900 x 23 m. Panjang landasan Tawau 2.670 x 47 dan Kinabalu 3.050 x 45 m. Panjang landasan berkaitan erat dengan kemampuan operasional pesawat patroli atau pesawat tempur.

Kapal-kapal patroli TNI AL, selain kapal perang KRI, di pantai timur Kalimantan juga terbatas. Ada satu kapal patroli mewah di Nunukan, yang ditempatkan sejak dua tahun silam tidak bisa beroperasi karena kesulitan bahan bakar. Kapal berkecepatan 40 knot per jam itu menggunakan bensin, tetapi stok bahan bakar kebanyakan solar.

Kiblat ke Malaysia

Rombongan Komisi I prihatin terhadap berbagai persoalan perbatasan. Basarah melihatnya sebagai bentuk ketidakseriusan pemerintah, pusat dan daerah, membangun perbatasan sebagai etalase bangsa. Akibatnya orientasi politik, sosial, dan budaya warga berkiblat ke Malaysia.

Misalnya, warga lebih sering dan mudah mengakses informasi, publikasi, dan penyiaran di bidang politik, ekonomi, budaya dan perkembangan dunia lain dari media Malaysia. Mereka menghafal lagu-lagu pop Melayu yang dinyanyikan artis Malaysia ketimbang artis Tanah Air.

Tantowi dan Fayakhun menambahkan, jangan salahkan warga jika mereka berkiblat ke ”seberang”. Pemerintah RI harus mengubah cara pandang membangun perbatasan serta terus memperkuat kehadiran negara di perbatasan, baik itu secara fisik (bangunan) maupun penyebaran informasi.

KOMPAS

Pindad Produksi 40 Panser Tahun 2010

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2 kanan) didampingi Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso (kanan) menaiki salah satu dari 40 Panser jenis Armoured Personal Carrier (APC) 6x6 seusai serah terima dari PT Pindad ke Departemen Pertahanan di kawasan hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Jumat (10/7). (Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf/ed/mes/09)

14 Desember 2009, Bandung -- PT Pindad rencananya akan memproduksi 40 panser pesanan Departemen Pertahanan tahun 2010. Dalam kaitan itu, keputusan Menteri Keuangan mengenai pengadaan dana sebesar Rp 360 miliar untuk panser tipe 6 x 6 tersebut diharapkan segera keluar.

Direktur Produk Manufaktur PT Pindad Tri Hardjono seusai kunjungan Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro ke PT Pindad di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (12/12), mengatakan, pihaknya tengah menunggu keputusan Menteri Keuangan (kepmenkeu) tentang pengadaan dana panser.

Menteri Keuangan Sri Mulyani, lanjutnya, telah mengarahkan stafnya agar kepmenkeu segera ditetapkan. ”Kepmenkeu diharapkan keluar awal tahun 2010. Jika terjadi hambatan dan dianggap perlu, ada kemungkinan pengadaan dana diperoleh dari pinjaman komersial perbankan,” ujar Tri.

Untuk pendanaan, Dephan berencana mempertemukan PT Pindad dengan perbankan, yakni BNI dan BRI. Pinjaman dari bank itu nantinya akan dibayar dengan dana dari Departemen Keuangan sebagaimana diajukan Dephan.

Menurut Tri, pihaknya telah melaporkan kepada Menhan mengenai pembiayaan komponen- komponen panser. ”Mesin panser, misalnya, sudah dipesan dari Perancis. Komponen lain, seperti suspensi, peralatan elektrik, dan alat komunikasi, juga sudah dipesan,” katanya.

Jika waktu yang dibutuhkan untuk penyediaan dana lebih lama, Tri khawatir biaya produksi panser akan kian besar.

Dephan memesan 150 panser. Pembuatan 93 panser di antaranya diselesaikan hingga menjelang akhir tahun ini. Artinya, masih ada 57 panser yang belum diproduksi.

Dana pembuatan 40 panser tahun 2010 sudah dibahas. Namun, anggaran untuk 17 panser sisanya belum dibicarakan. Menurut Tri, PT Pindad mengharapkan pengadaan 17 panser itu juga bisa dilakukan tahun depan.

Kunjungan Menhan ke PT Pindad kemarin untuk melihat kemajuan-kemajuan yang sebelumnya dilaporkan Direktur Utama PT Pindad Adik Avianto. Setelah datang dan berbincang sebentar dengan direksi PT Pindad, Menhan melakukan peninjauan.

Menurut Menhan, saat ini pihaknya sedang membahas pesanan alat utama sistem persenjataan baru untuk lima tahun mendatang. ”Jumlahnya belum bisa dibicarakan,” katanya.


KOMPAS

Thursday, December 10, 2009

KRI Nanggala 402 Diangkut Ke Korea Selatan


10 Desember 2009, Surabaya -- Kapal selam milik TNI Angkatan Laut bernama KRI Nanggala-402 diangkut menuju Korea Selatan. Kapal selam ini dibawa ke Negeri Gingseng itu dengan kapal Combi Dock III.

Kapal itu berangkat ke negara maju di kawasan Asia Timur itu pada Rabu (9/12/2009) untuk perbaikan lengkap atau overhaul.

Dispen Armatim/detikSurabaya

Alutsista Untuk Latihan Perang Sudah Usang


10 Desember 2009, Situbondo -- Panglima Divisi II Komando Cadangan Strategis TNI AD (Kostrad), Mayor Jenderal TNI Zahari Siregar mengemukakan bahwa alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimiliki oleh TNI Angkatan Darat (AD) sudah usang.

"Banyak alutsista yang digunakan Kostrad dalam latihan tempur saat ini sudah usang, namun masih memiliki kekuatan yang cukup besar untuk menyerang musuh," kata Mayjen TNI Zahari Siregar, usai menyaksikan latihan tempur Batalyon Infanteri (Yonif) 509 Kostrad Jember di Situbondo, Kamis.

Sebanyak 1.253 personel Kostrad melakukan uji kekuatan di pusat latihan pertempuran (Puslatpur) Marinir di Desa Karang Teko, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Latihan tempur Kostrad tersebut dihadiri oleh Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal TNI Suryo Prabowo bersama sejumlah rombongan di antaranya Kolonel Infanteri Harry Purdianto dan Kasdam V Brawijaya Brigjen TNI Bambang Suwarno.

Menurut Zahari, beberapa helikopter yang digunakan dalam latihan perang tersebut jenis Bolco buatan tahun 1977, jenis MI-17 buatan Rusia, jenis Belt 205 HA-5078 dan jenis Belt 412.

"Sebanyak enam unit helikopter diterjunkan dalam latihan perang di Puslatpur ini," paparnya.

Selain helikopter, lanjut dia, sebanyak 14 tank buatan tahun 1967 dan beberapa meriam juga disiagakan dalam latihan perang di Puslatpur Karang Teko.

"Kami menggunakan perlengkapan senjata untuk latihan perang sesuai dengan alutsista yang dimiliki oleh TNI AD, namun kami tidak tahu pasti apakah peralatan itu dianggap sudah ketinggalan zaman oleh musuh," ujarnya.

Kendati demikian, kata Zahari, TNI AD akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan alutsista yang dimiliki saat ini.

"Berbagai latihan perang digelar untuk mengetahui kekuatan alutsista yang kami miliki, namun usangnya alutsista tidak membuat semangat kami melemah. Kami siap berjuang mempertahankan NKRI dengan alutsista yang ada," katanya menegaskan.

ANTARA JATIM

Kostrad Uji Kekuatan di Puslatpur Situbondo

Beberapa personil dari Batalyon Infanteri (Yonif) 509 Kosrad Jember melakukan penyerangan terhadap musuh di Pusat Latihan Tempur (Puslapur) Marinir Karangtekok, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, Kamis (12/10). Sebanyak 1253 personil dari Batalyon Infanteri (Yonif) 509 Kosrad Jember, melakukan latihan rutin tempur serangan dalam operasi militer untuk perang. (Foto: ANTARA/Seno S./ed/nz/09)

10 Desember 2009, Situbondo -- Batalyon Infanteri (Yonif) 509 Komando Cadangan Strategis TNI AD (Kostrad) Jember bersama sejumlah tim pertempuran Kostrad, melakukan uji kekuatan di pusat latihan pertempuran (Puslatpur) Marinir di Desa Karang Teko, Kabupaten Situbondo, Kamis.

Latihan tempur Kostrad tersebut dihadiri oleh Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal TNI Suryo Prabowo bersama sejumlah rombongan di antaranya Panglima Divisi II Kostrad Mayor Jenderal TNI Zahari Siregar, Kolonel Infanteri Harry Purdianto dan Kasdam V Brawijaya Brigjen TNI Bambang Suwarno.

Panglima Divisi II Kostrad Mayor Jenderal TNI Zahari Siregar kepada sejumlah wartawan di Situbondo mengatakan, latihan tempur serangan dalam operasi militer untuk perang yang digelar di Puslatpur Marinir melibatkan sebanyak 1.253 personel yang terdiri atas batalyon infanteri, kavaleri, armed, arhanud dan zeni.

"Sebanyak enam unit helikopter dan 14 tank diterjunkan dalam latihan tempur perang di Puslatpur Marinir ini," katanya.

Sebuah hellikopter jenis Bell milik Kostrad 509 menyuplai amunisi personil yang berperang melawan musuh. (Foto: ANTARA/Seno S./ed/nz/09)

Beberapa hellikopter Kostrad 509 melakukan penyerangan udara.(Foto: ANTARA/Seno S./ed/nz/09)

Sebuah hellikopter jenis Bell milik Kostrad 509 mengevakuasi personil yang terluka saat berperang melawan musuh. (Foto: ANTARA/Seno S./ed/nz/09)

Ia menjelaskan, skenario latihan tempur tersebut yakni musuh masuk dari arah utara dengan menggunakan jalur darat dan udara, kemudian mereka bergerak menduduki kawasan Asembagus. Kostrad siap mengamankan wilayah Asembagus dengan menerjunkan enam unit helikopter dan 14 tank untuk menyerang musuh.

"Terjadi serangan darat dan udara yang diluncurkan oleh tim tempur Yonif 509 Kostrad, sehingga musuh mundur dan bisa dikalahkan. Tim tempur Kostrad menang dalam pertempuran," paparnya.

Ia mengatakan, enam unit helikopter mengelilingi area Puslatpur Marinir secara bersamaan dengan jarak yang cukup dekat, hal itu menunjukkan kemenangan Kostrad di medan peperangan.

"Latihan tempur Kostrad itu diakhiri dengan terbangnya enam unit helikopter yang berjajar mengelilingi kawasan Puslatpur," ujarnya.

Latihan tempur Kostrad yang digelar di Puslatpur Asembagus, kata dia, bertujuan untuk menguji kesiapan personel TNI AD dalam menghadapi musuh di medan pertempuran, apabila musuh masuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Kami ingin menguji kekuatan Kostrad di medan tempur dengan peralatan yang dimiliki TNI yang sudah ada," katanya menegaskan.

Selain menguji kesiapan personel Kostrad, lanjut dia, TNI AD ingin menguji sejumlah sarana dan prasarana yang sudah dimiliki TNI sejak puluhan tahun yang lalu.

Setelah melakukan latihan perang, kata Zahari, Wakil KSAD Letnan Jenderal TNI Suryo Prabowo memberikan evaluasi terhadap skenario latihan tempur Kostrad, supaya taktik perang lebih efektif dan meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan musuh.

ANTARA JATIM

Tu-95MS Bear Selesaikan Misi Patroli


10 Desember 2009 – Dua pembom strategis Rusia Tu-95MS Bear telah menyelesaikan misi patroli rutin di atas perairan netral samudera Artik dan Pasifik, ungkap juru bicara Angkatan Udara Rusia Lt. Col. Vladimir Drik, Kamis (10/11) kepada RIA Novosti.

Kedua pembom lepas landas dari pangkalan udara Ukrainka dan sukses menyelesaika misi patroli udara.



Saat patroli berlangsung pembom dikawal oleh jet tempur F-15 Eagle dan F-4 Phantom.

Presiden Vladimir Putin memerintahkan melanjutkan patroli udara pembom strategis di atas samudera Pasifik, Alantik dan Artik pada Agustus 2007.

RIA Novosti
/@beritahankam

Latihan Pemantapan Raider Yonif 200

Pangdam II/Swj Mayjen TNI Mochammad Sochib, S.E., M.B.A., sebagai Irup pada Upacara Pembukaan Latihan Pemantapan Raider Yonif 200/Raider Kodam II/Swj, Rabu, 9 Desember 2009, bertempat di Lapangan Makoyonif 200/Raider.

9 Desember 2009, Palembang -- Pangdam II/Swj Mayjen TNI Mochammad Sochib, S.E., M.B.A., dalam amanatnya mengatakan, Batalyon Infanteri 200/Raider adalah satuan kebanggaan Kodam II/Swj di samping harus mampu melaksanakan tugas sebagai Batalyon Infanteri, dituntut untuk memiliki kualitas sebagai satuan Raider yang dapat diandalkan. Kualifikasi Raider ini hendaknya terus dimantapkan oleh setiap prajurit dalam rangka mendukung tugas pokok Kodam II/Swj, untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran konvensional maupun pertempuran di daerah hutan dan kota, untuk mewujudkan kemampuan tersebut, satuan Yonif 200/Raider harus mampu memanfaatkan program latihan pemantapan Raider sebagai momentum untuk meningkatkan profesionalitas prajuritnya.

Lebih lanjut Pangdam II/Swj mengatakan; melalui latihan pemantapan ini, para peserta nantinya akan dibekali berbagai pengetahuan dan keterampilan olah keprajuritan meliputi tehnik dan taktik bertempur Infanteri, antara lain : Patroli Tempur, Raid Baswan, Penanggulangan Teror, Raid Penghancuran, Infiltrasi dan Eksfiltrasi, Pungsihpungdahmah, PJD, Survival dan Penyeberangan Basah. Oleh karena itu saya berharap agar peserta latihan dapat melaksanakan latihan ini dengan penuh semangat, manfaatkan waktu latihan ini dengan sebaik-baiknya untuk menyerap semua materi yang dilatihkan.

Hadir dalam upacara tersebut, para Asisten Kasdam II/Swj dan para Dan/Ka Balakdam II/Swj.

Pendam II/Sriwijaya

Kembali Dari Lebanon, KRI Tanjung Kambani Angkut Pasukan ke Balikpapan

KRI Tanjung Kambani-971. (Foto: koarmabar.mil.id)

10 Desember 2009, Jakarta -– KRI Tanjung Kambani-971 selesai melaksanakan operasi angkutan laut militer (anglamil ) pasukan Kontingen Garuda XXIII-C/UNIFIL Lebanon, dari kesatuan Batalyon Raider 600 Kodam VI Tanjung Pura dengan kekuatan lebih dari satu batalyon menuju Pangkalan Induk di Balikpapan, Kamis (10/12)

KRI Tanjung Kambani -971 dengan Komandan Letkol Laut (P) Bambang Irawan, dalam melaksanakan operasi angkutan laut militer dari Jakarta menuju Balikpapan mengangkut pasukan yang baru kembali dari penugasan selama lebih dari satu tahun sebagai pasukan pemelihara perdamaian di Lebanon.

Kepala Dinas Penerangan Kolinlamil, Letkol Laut (KH) Agus Cahyono, mengemukakan kegiatan operasi KRI Tanjung Kambani-971 pada akhir tahun 2009 kali ini merupakan salah satu fungsi Komando Lintas laut Militer (Kolihnlamil), sebagai kotama pembinaan Operasi yang memiliki tugas dan tanggung Jawab melaksanakan angkutan laut militer di seluruh wilayah Indonesia.

Guna mendukung tugas tersebut, Kolinlamil dalam menyiapkan unsur-unsur jajarannya berupaya meningkatkan berbagai fasilitas akomodasi yang ada di kapal perang dalam rangka mendukung moril dan semangat prajurit tetap dalam kondisi stamina tinggi selama lintas laut militer baik yang akan berangkat menuju daerah operasi maupun pasukan yang kembali ke pangkalan Induk.

KRI Tanjung Kambani -971 memiliki fasilitas akomodasi pasukan yang disiapkan mampu mengangkut pasukan sejumlah 1500 personel dengan sejumlah kendaraan operasional di deck kapal dalam rangka mendukung tugas satuan di daerah operasi..

Dalam kegiatan pelayaran tersebut kapal perang buatan Jepang dengan panjang 114,50 dan lebar 19,80 yang diawaki 104 personel mampu berlayar dengan kecepatan ekonomis sampai dengan 11 knot per jam.

Dalam kegiatan operasi ini selain sebagai angkut pasukan, kehadirannya di laut sepanjang kawasan yang menjadi route operasi diharapkan dapat memberikan dampak penangkalan terhadap berbagai bentuk pelanggaran di laut.

Selain diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi para pengguna lalu lintas laut di kawasan tersebut kepada para nelayan Indonesia maupun kapal niaga yang melaksanakan lintas laut maupun para pengguna lalu lintas laut lainnya untuk kepentingan nasional.

Dispenkolinlamil/POS KOTA

Presiden RI: Master Plan Revitalisasi Industri Pertahanan Diharapkan Selesai Dalam 100 Hari Program KIB II


10 Desember 2009, Jakarta -- Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan Ravitalisasi Industri Pertahanan merupakan salah satu prioritas dalam program kerja Kabinet Indonesia Bersatu II untuk lima tahun mendatang. Oleh karena itu, diharapkan dalam program kerja 100 hari ini telah dirumuskan sebuah master plan tentang Revitalisasi Industri Pertahanan.

“Itulah kira - kira output dari lokakarya yang saya harapkan, dan dalam 100 hari harus sudah jadi master plant, sehingga lima tahun mendatang benar - benar dapat kita hidupkan kembali industri pertahanan dalam negeri”, demikian harapan Presiden RI saat membuka Lokakarya Nasional Revitalisasi Industri Pertahanan yang diselenggarakan oleh Departemen Pertahanan, Rabu (9/12) di Istana Negara, Jakarta.

Presiden RI mengatakan, dalam rangka membangun kemampuan pertahanan negara melalui modernisasi sistem persenjataan TNI dan pendayagunaan industri pertahanan perlu dirumuskan visi dan strategi serta kebijakan yang tepat kedepan dalam lima dan sepuluh tahun mendatang.

Presiden lebih lanjut menjelaskan, pemerintah telah menetapkan delapan elemen penting dalam perumusan visi, strategi dan kebijakan tersebut antara lain, pertama pemerintah akan terus menerus membangun kekuatan pertahanan yang cukup (Minimum Essential), sehingga TNI dapat melaksanakan tugas - tugas operasional.

Kedua, pemerintah telah berketetapan untuk terus meningkatkan anggaran pertahanan dalam rangka menuju terbentuknya postur pertahanan yang disebut dengan Minimum Essential. Peningkatan anggaran pertahanan ini tentunya dikorelasikan dengan pendapatan dan APBN.

Ketiga, upaya revitaslisi industri pertahanan hendaknya sejalan dengan pembentukan postur pertahanan menuju Minimum Essential Force dengan mewadahi betul bagaimana corak ketahanan di masa depan dan perkembangan keadaan sekarang.

“Pastikan bahwa apa yang ingin dikembangkan dan diproduksi itu berorientasi pada karakter peperangan modern, cocokan pula dengan doktrin dan pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan oleh jajaran TNI dan Polri dan mengkaitkan dengan keadaan geografis di dalam negeri”, tambah Presiden.

Keempat, TNI dan Kepolisian hendaknya tidak hanya memikirkan operasi militer untuk perang, tetapi juga berorientasi pada tugas - tugas dalam operasi militer selain perang. Misalnya, Peace Keeping Mission, dan kesiapsiagaan kekuatan penanggulangan bencana alam.

Kelima, perumusan kebutuhan Alutsista hendaknya dikaitkan dengan strategi dan doktrin yang dianut. Antara satu dengan yang lain hendaknya dapat dioperasikan secara bersama. “Jangan masing - masing mengadakan, mengembangkan sendiri, begitu disatukan dalam operasi gabungan tidak bisa digunakan dengan baik”, tambah Presiden.

Pastikan bahwa ada plan integrated dan design integrated, di dalam mengembangkan semua Alutsista, perlengkapan dan peralatan itu serta mengkajinya secara matang - matang.

Keenam, pemerintah ingin semua pemimpin industri pertahanan hendaknya memahami kebijakan startegi dan rencana Dephan, TNI dan Polri. Para pemimpin dan pengelola industri pertahanan harus memahami arahnya, sehingga tidak memproduksi sesuatu yang salah dalam memenuhi pasar dalam negeri.

Ketujuh, pemerintah akan memikirkan dukungan financial agar industri pertahanan dapat berkembang. Oleh karena itu, lebih lanjut Presiden berharap melalui lokakarya ini diharapkan sudah dapat dirumuskan bagaimana skema pendanaannya .

Kedelapan, hasil dari loka karya ini hendaknya menjadi bagian dari master plan yang integrated. Melalui lokakarya ini diharapkan Dephan, Dekeu, TNI, Polri, Industri pertahanan dan semua pihak jajaran pemerintah dapat duduk bersama dalam rangka menghasilkan kesepatan bersama.

Sementara itu, Menhan RI Purnomo Yusgiantoro dalam laporannya mengatakan, pembukaan lokakarya nasional revitalisasi Industri pertahanan merupakan puncak dari serangkaian kegiatan untuk mewujudkan revitalisasi industri pertahanan. Sebelumnya, kegiatan telah dimulai dengan tiga kali Round Table Discussion untuk menyerap aspirasi yang berkembang di kalangan pemangku kepentingan (stake hoder) dan masyarakat luas.

Menhan menjelaskan, Semangat dalam mewujudkan revitasliasi industri pertahanan telah ditunjukan dari pemangku kepentingan yang terdiri dari kalangan pemerintahan sebagai penentu kebijakan TNI, Polri dan instansi terkait selaku pengguna, kalangan industrustriawan selaku produsen, BUMN industri pertahanan, kalangan perbankan dan keuangan selaku pemberi modal, lembaga litbang dan perguruan tinggi selaku pusat pengembangan Iptek.

“Kami sepakat untuk bersama sama mengawal hasil pemikiran – pemikiran yang nantinya akan dituangkan dalam suatu kebijakan dalam rangka mewujudkan revitalisasi industri pertahanan”, tambah Menhan.

Pembukaan lokakarya tersebut ditandai dengan pemukulan gong sebagai tanda peresmian lokakarya Revitalisasi Industri Nasional serta penulisan replika obor Industri Pertahanan oleh Presiden RI. Hadir mendampingi Presiden, antara lain, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menkeu Sri Mulyani, Mensesneg Sudi Silalahi, Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menkominfo Tifatul Sembiring, Menneg BUMN Mustafa Abubakar, Kepala BIN Sutanto, Panglima TNI Djoko Santoso, dan Kapolri Bambang Hendarso Danuri.

DMC

Dankomar Sematkan Brevet Trimedia dan Anti Teror Pada KASAL

Laksdya TNI Agus Suhartono (tengah) diangkat sejumlah prajurit Korps Marinir usai penyematan brevet trimedia dan anti teror di Bhumi Marinir Cilandak, Jakarta, Kamis (10/12). Brevet pasukan khusus itu diberikan sebagai bentuk penghargaan kepada KSAL yang turut peran dalam mengembangkan dan memajukan Korps Marinir TNI-AL. (Foto: ANTARA/Saptono/Spt/09)

10-Desember-2009, Jakarta -- Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI (Mar) M. Alfan Baharudin menyematkan Brevet Trimedia dan Anti Teror kepada Kasal Laksamana Madya Agus Suhartono dalam suatu upacara resmi penyematan brevet di Lapangan Tembak Kesatrian Marinir Hartono Cilandak, Kamis (10/11)

Kasal yang juga selaku irup pada upacara penyematan brevet tersebut mengatakan, Saya bangga bisa hadir di tengah-tengah segenap prajurit Korps Marinir. Sosok prajurit pilihan yang memiliki kemampuan tempur melalui tiga dimensi darat, laut dan udara. Dalam setiap penugasan operasi, Marinir tidak pernah mengecewakan dan selalu berhasil membangun citra positif di mata rakyat, sejarah juga telah membuktikan, prajurit Marinir selalu hadir di medan operasi militer dalam keadaan siap siaga, meskipun hal tersebut masih dihadapkan kepada beberapa keterbatasan.

“Bagi Prajurit Korps Marinir menjaga kehormatan bangsa dan mempertahankan keutuhan NKRI adalah harga mati. Atas dasar itu, Saya merasa bangga dan merasa terhormat bisa memimpin kalian pada upacara ini, dan lebih bangga lagi karena dianugerahi Brevet Trimedia dan Anti Teror”.

Kasal Juga menegaskan, kebanggaan, jiwa korsa dan naluri tempur merupakan nafas bagi setiap prajurit Korps Marinir dalam melaksanakan berbagai penugasan operasi. Kebanggan dan kehormatan merupakan landasan fundamental bagi profesionalisme prajurit Korps Marinir. Oleh Karena itu, harus terus dipupuk dan diwariskan dari generasi ke generasi.

KSAL Laksdya TNI Agus Suhartono dan Komadan Korps Marinir Mayjen TNI M. Alfan Baharudin (tengah) bersama sejumlah prajurit Korps Marinir usai penyematan brevet trimedia dan anti teror. (Foto: ANTARA/Saptono/Spt/09)

Sejumlah prajurit Korps Marinir dari unit Intai Amfibi melakukan pertempuran jarak ketika memperlihatkan ketrampilan mereka pada penyematan brevet trimedia dan anti teror kepada KSAL Laksdya TNI Agus Suhartono. (Foto: ANTARA/Saptono/Spt/09)

Komadan Korps Marinir Mayjen TNI M. Alfan Baharudin (kanan) mengarahakan sasaran tembak KSAL Laksdya TNI Agus Suhartono (kiri) saat mencoba senjata serbu MP5K usai penyematan brevet trimedia dan anti teror. (Foto: ANTARA/Saptono/Spt/09)

Selain penyematan brevet, dilaksanakan pagelaran seluruh kekuatan material tempur dan demonstrasi serbuan kilat dari prajurit Detasemen Jalamangkara (Denjaka) bersama Taifib, yang diawali dengan terjun tempur, tembakan sniper, penyebuan sasaran, pembebasan sandera, penghancuran sasaran serta penyelamatan sandera dengan taktik Stabo.

Brevet Trimedia merupakan penghargaan bagi Prajurit Korps Marinir yang terpilih melalui proses seleksi dan pendidikan khusus Intai Amphibi yang mampu menguasai medan pertempuran laut, darat dan udara guna mendukung operasi Amphibi, sedangkan Brevet Anti Teror merupakan kehormatan yang diterima oleh prajurit Intai Amphibi dan Komando Pasukan Katak yang telah dibekali pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan sehingga dapat mencapai standart kualifikasi perorangan dasar sebagai personel Detasemen Jalamangkara atau pasukan Anti Teror beraspek Laut.

MARINIR

Hercules Terjunkan 1000 Prajurit Linud 3 Kostrad


10 Desember 2009, Dua Pesawat C-130 A-1323 Hercules TNI AU dari Skadron Udara 31 Wing 1 Lanud Halim Perdanakusuma dengan Pilot Kapten Pnb Pandu dan Copilot Kapten Pnb Marfin dan C- 130 A- 1304 Hercules dari Skadron Udara 32 Wing 2 Lanud Abdulrachman Saleh Malang dengan Kapten Pilot Mayor Pnb Reza dan Copilot Kapten Pnb Taufik , selama tiga hari mulai hari Selasa (8/12) berada di Lanud Sultan Hasanuddin Makassar dalam rangka mendukung kegiatan terjun taktis dan terjun penyegaran serta free fall seribu prajurit Brigade Infantri Lintas Udara (Linud) 3 Kostrad Kariango Maros.

Kegiatan terjun taktis Linud 3 Kostrad yang dilaksanakan di daerah Moncongloe Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros , kurang lebih 20 Km arah timur Lanud Sultan Hasanuddin tersebut dipandu oleh 18 personel Jumping Master dari Batalyon 464 Paskhas TNI AU Wing 2 yang bermarkas di Lanud Abdulrachman Saleh Malang.

Dalam kegiatan penerjunan yang dilaksanakan di pagi hari dibagi dalam 17 sorty penerbangan, dibawah coordinator Kapten Infantri Aat Supriatna yang dilaksanakan dalam rangkaian memperingati Hari Ulang Tahun Brigif Linud 3 Kostrad ke-23 tanggal 9 Desember 2009.

PENTAK LANUD SULTAN HASANUDDIN

Latihan Perang Kodam Wirabuana dan Lantamal VI

10 Makassar 2009, Makassar -- Sejumlah pasukan Amphibi TNI AL melakukan pendaratan dengan menggunakan perahu karet saat menyerang teroris di Pantai Losari Makassar, Kamis (10/12). Simulasi ini dilakukan guna memantapkan kemampuan TNI AL dalam mempertahankan NKRI dari ancaman luar dan dalam negeri. (Foto: ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang/yu/Koz/hp/09)

10 Desember 2009 -- Latihan digelar di 20 titik melibatkan satuan Yonif 700/Raider, Yonarmed 6-76/Tamarunang, Yonkav10/Serbu, Yonzipur 8/Sakti Mandra Guna, Rai Arahuddri 141/BS, serta pasukan Marinir.

Satuan Yonif 700/Raider akan fokus pada materi operasi penghancuran dan pembebasan tawanan, sedangkan Yonkav 10/Serbu menitik-beratkan pada latihan pengamanan rute, pengamanan VVIP termasuk juga pengamanan objek vital.

Kemudian Yonarmed 6-76/Tamarunang eksis mengembangkan materi patroli dan melaksanakan stelling. Sementara, Yonzipur 8/Sakti Mandra Guna melaksanakan penjinakkan bahan peledak, pendeteksian bom, mengidentifikasi bahan peledak, serta melakukan evakuasi bahan peledak. Selanjutnya materi yang dilaksanakan oleh Rai Arhanudri 141/BS sekitar stelling Armed, operasi mobud, pengejaran, dan juga melaksanakan pertempuran kota.

Sejumlah pasukan TNI AL melakukan melakukan penyerangan terhadap teroris di Pantai Losari Makassar, Kamis (10/12). (Foto: ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang/yu/Koz/hp/09)

Sejumlah pasukan Raider TNI AD melakukan penyergapan terhadap teroris yang menyandera gedung BI Makassar, Kamis (10/12). (Foto: ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang/yu/Koz/hp/09)

Sejumlah pasukan TNI AD bersiaga saat menyerang teroris yang menyandera Pengadilan Negeri Makassar, Kamis (10/12). Simulasi ini dilakukan guna memantapkan kemampuan TNI AD dalam mempertahankan NKRI dari ancaman luar dan dalam negeri. (Foto: ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang/yu/Koz/hp/09)

Seorang pasukan TNI AD bersiaga saat menyerang teroris yang menyandera Pengadilan Negeri Makassar, Kamis (10/12). (Foto: ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang/yu/Koz/hp/09)

Batalyon armed 6-76/Tarik menurunkan meriam 76 mm, sejumlah SMR/SO. Untuk Batalyon Zipur 8/Sakti Mandra Guna dalam latihan penjinakan bahan peledak mengerahkan kendaraan unit penjinak bahan peledak (jihandak), X-Ray, hand held metal detector , stahorcopel electronic, dan PD5.

Lantamal VI melaksanakan latihan pendaratan khusus marinir di sepanjang Pantai Losari, Jalan Nusantara, pelabuhan hingga gerbang Jalan Tol

Latihan ini Lantamal VI melibatkan satu kompi minus prajurit marinir, satu kapal angkatan laut (KAL), satu patroli keamanan laut (patkamla), dan empat perahu karet.

TRIBUN TIMUR/@beritahankam

Pangdam Diganti, Latihan Kota Diundur

8 Desember 2009, Makassar -- Pasukan TNI AD melakukan penyergapan terhadap teroris saat geladi latihan perang kota di Lapangan Karebosi Makassar, Selasa (8/12). Latihan gabungan jajaran TNI AL dalam pengamanan kota tersebut akan dilaksanakan pada 9-10 Desember 2009 di beberapa titik di Makassar termasuk gedung DPR, Kejaksaan, dan Gedung BI. (Foto: ANTARA/Yusran Uccang/Koz/hp/09)

9 Desember 2009, Makassar -- Di tengah sorotan adanya latihan perang dalam kota yang digelar oleh TNI, Pangdam VII/Wirabuana, Mayjen TNI Djoko Susilo Utomo, tiba-tiba diganti. Dia akan menjadi Irjenad. Penggantinya adalah Mayjen TNI Hari Krisnomo S.IP, yang sebelumnya menjabat Aslog Kasad.

Latihan perang pun diundur sehari. Selain Pangdam VII/Wrb, ada lagi 70 perwira tinggi dan menengah TNI yang terkena mutasi, promosi dan memasuki masa pensiun. Mutasi itu sesuai Keputusan Panglima TNI Nomor : Kep/763/XI/2009, tanggal 30 November 2009, mengenai pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI.

Mereka terdiri dari 10 orang di jajaran Mabes TNI, 9 orang TNI AD, 10 orang TNI AL, 1 orang TNI AU, 1 orang di Setneg RI, 22 orang di Lemhannas RI, 16 orang di Dephan, 1 orang di Staf Khusus Presiden RI, 2 orang di jajaran Mahkamah Agung.

Dengan rincian, 27 orang mutasi antar jabatan dalam pangkat yang sama di antaranya, Mayjen TNI Anshory Tadjudin dari Asintel Panglima TNI menjadi Kabais TNI, Mayjen TNI Rasyid Qurnuen Aquary, S.IP. dari Pangdam III/Slw menjadi Asintel Panglima TNI, Mayjen TNI Djoko S Utomo dari Pangdam VII/Wrb menjadi Irjenad, Mayjen TNI Hari Krisnomo, S.IP. dari Aslog Kasad menjadi Pangdam VII/Wrb, Mayjen TNI Haryadi Soetanto dari Pangdam IV/Dip menjadi Asops Kasad, Mayjen TNI Budiman dari Sesmil Setneg RI menjadi Pangdam IV/Dip, Brigjen TNI Amril Amir, S.IP. dari Kadisjarahad menjadi Kasdam VII/Wrb.

Laksamana Pertama TNI Bambang Budianto dari Kadisminpersal menjadi Waaspers Kasal, Marsekal Pertama TNI Yiyit Prayitno dari Pa Sahli Tk. II Bid Sosbud HAM Panglima TNI menjadi Staf Khusus Panglima TNI dan Brigjen TNI Heroes DN, SE, dari Pa. Sahli Tk. II Bid Intekmil Panglima TNI menjadi Staf Khusus Panglima TNI. Kemudian, 32 orang promosi jabatan diantaranya Brigjen TNI Wibowo, S.IP. dari Kasdam VII/Wrb menjadi Aslog Kasad.

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) VII/Wirabuana, Mayor Inf Drs Rustam Effendy yang dihubungi malam tadi mengaku belum mengetahui mutasi ini. "Saya belum menerima informasi itu, besok akan dicek," katanya.

Latihan Perang Diundur

Sementara itu, Pangdam VII/Wirabuana, Mayjen TNI Djoko Susilo Utomo mengatakan bahwa latihan pertempuran kota yang seyogyanya digelar di sejumlah titik di Kota Makassar pada 9 Desember, diundur hari Kamis (10/12). Dikatakannya, sebenarnya latihan ini dilaksanakan semata program lagihan dan tidak diarahkan untuk berhadapan dan menghalangi aksi demonstrasi hari ini.

"Namun menanggapi dan menyikapi secara positif berbagai aspirasi dari berbagai pihak, maka latihan dialihkan," katanya malam tadi. Pangdam berharap aksi demonstrasi dapat berlangsung aman, tertib dan damai, dan tetap memperhatikan koridor hukum yang berlaku. "Jangan berikan kesempatan kepada oknum-oknum penyusup ataupun "penumpang gelap" yang dapat mencederai kemurnian dan tujuan mulia dari aksi demo itu sendiri," pesannya.

Fajar

Kapal BAC Cantabria Siap Diserahkan ke AL Spanyol

Kapal Bantu perbekalan AL Spanyol Buque de Aprovisionamiento de Combate (BAC) Cantabria. (Foto: Pacodime)

10 Desember 2009 -- Kapal Bantu perbekalan AL Spanyol Buque de Aprovisionamiento de Combate (BAC) Cantabria sukses menyelesaikan uji pelayaran terakhirnya dan siap diserahkan.

Uji pelayaran ditujukan untuk menguji kapal melakukan pengisian bahan bakar di laut dan memastikan sistem kapal bekerja dengan baik termasuk propulasi, komunikasi, monitor pertempuran dan elektronik.

Pada Pengujian tersebut dilakukan uji suara, getaran, radar pencarian permukaan, radar navigasi, penembakan kanon, dan jangkar.




Galangan kapal Navantia membangun kapal ini yang dapat digunakan untuk mendukung logistic sebuah satuan tempur angkatan laut serta operasi kemanusian dan lingkungan.

Panjang kapal 173,9 meter dan lebar 23 meter dengan berat 9800 ton serta mempuyai jarak operasi hingga 6000 nm.

Naval-technology.com/@beritahankam

TNI Al Harus Perkuat Pertahanan di Kepri

Lantamal IV/Tanjungpinang. (Foto TNI AL)

9 Desember 2009, Batam 9 -- Komisi I DPR RI akan mendorong pemerintah menambah kekuatan pertahanan TNI Angkatan Laut di wilayah Kepulauan Riau, serta menyediakan sarana dan prasarana termasuk meningkatkan kesejahteraan prajurit penjaga pulau-pulau di perbatasan negara.

"Laut Kepulauan Riau (Kepri) yang menjadi tanggung jawab Lantamal IV/Tanjungpinang cukup strategis karena langsung berbatasan dengan Singapura dan Malaysia, sehingga harus ada penambahan kekuatan untuk pengamanan dan pertahanan," kata ketua tim Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin di Batam, Rabu.

"Pemerintah mutlak dan harus memprioritaskan anggaran pembelian alat utama sistem senjata untuk TNI AL di Kepri, dukungan logistik dan penyediaan sarana dan prasarana bagi prajurit di pulau-pulau terluar/terdepan dengan negara lain," kata anggota Komisi I DPR RI Effendy Choirie.

Ia mengatakan sarana dan prasarana bagi prajurit di pulau-pulau terluar misalnya barak dan air bersih di Pulau Nipah, perlu disediakan pemerintah pusat.

Effendy mengatakan sudah saatnya orientasi pertahanan Indonesia sebagai negara kepulauan dan maritim terbesar di dunia pada laut untuk menjaga kedaulatan wilayah dan tindak pidana di laut, serta untuk memanfaatkan potensi ekononomi kebaharian.

Kepri satu dari 10 provinsi kepulauan dinilai spesifik karena provinsi ini menyandang nama kepulauan dan letaknya yang sangat dekat dengan Singapura dan Malaysia.

Menurut dia, bukan hanya pada aspek pertahanan, teknologi, ekonomi dan kepariwisataan di provinsi kepulauan seharusnya dibangun dengan dimensi atau aspek kebaharian.

Dalam kaitan dengan kedaulatan negara dan nilai ekonomi wilayah udara, pemerintah disarankan merundingkan kembali perjanjian yang menyebabkan Singapura mengendalikan perizinan pergerakan pesawat sipil maupun militer di Batam dan sekitarnya yang berada di wilayah Indonesia.

"Dalam satu sampai dua tahun ke depan pemerintah harus merebut kendali itu, karena tidak sesuai dengan kedaulatan wilayah udara negara," katanya.

Sebelumnya, sekitar 15 anggota Komisi I DPR RI yang membidangi luar negeri, pertahanan dan informasi itu meninjau Pulau Nipah.

Di Markas Komando Pangkalan TNI AL mereka juga mendengar paparan kondisi dan rencana TNI-AL di Kepulauan Riau dari Komandan Pangkalan Utama TNI AL IV/Tanjungpinang Marsekal Pertama Darojatim.

Pernyataan janji wakil rakyat untuk memperjuangkan di parlemen disambut Danlantamal IV/Tanjungpinang Marsekal Pertama Darojatim dengan hangat, dan ia mengharapkan terealisasi tanpa harus berlebihan, melainkan proporsional.

Bagi TNI AL, kata dia penambahan kapal dan kelengkapannya merupakan salah satu kebutuhanan prioritas, namun juga memerlukan penyediaan anggaran yang proporsional untuk bahan bakar minyak.

Di samping itu, dukungan Komisi I DPR RI bagi peningkatan kesejahteraan, penyediaan alat pemantau dan logistik serta barak di Pulau Nipah, Sekatung dan Pos TNI AL di pulau-pulau terluar/terdepan di perbatasan negara disambut gembira oleh TNI AL.

Dewasa ini, kata Darojatim, prajurit dari Mabes TNI AL dalam Satgas Pengamanan Pulau Terluar di Pulau Nipah belum dilengkapi barak yang layak, bahkan semua petugas masih mengandalkan air tadah hujan.

ANTARA News

Prajurit Harus Lebih Profesional

(Foto: Antara)

10 Desember 2009, Jakarta -- Prajurit Tentara Nasional Indonesia yang berada di komando kewilayahan harus lebih profesional sehingga mampu mengantisipasi perkembangan keadaan di wilayahnya dengan baik.

Demikian disampaikan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI George Toisutta saat menutup apel Komandan Korem dan Kodim di Mabes TNI AD, Jakarta, Rabu (9/12). Rapat itu untuk mengevaluasi pelaksanaan tugas dari komando kewilayahan.

”Target tahun 2010 peningkatan profesionalitas prajurit di komando kewilayahan,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigadir Jenderal TNI Christian Zeboa.

KSAD menegaskan, upaya peningkatan kualitas aparat harus terus dilakukan, lewat pendidikan, pelatihan, atau diskusi. Ditekankan juga perlunya sinergi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait. ”Kita utamakan peningkatan kualitas personel. Jika kualitas aparat bagus, pembinaan masyarakat bagus, dan dia tak bekerja sendiri, tetapi membantu pemda,” kata George saat pembukaan apel, Senin lalu.

George melihat, kegiatan pemberdayaan wilayah pertahanan di darat melalui pembinaan teritorial belum maksimal.

Menurut Christian, salah satu isi evaluasi adalah masih banyak sikap prajurit yang belum menyenangkan hati rakyat. ”Masih ada kejadian, seperti tabrakan dan perkelahian. Bagaimana caranya ini supaya diperbaiki,” kata Christian.

Restrukturisasi

Al Araf dari Imparsial menekankan perlunya restrukturisasi komando wilayah berkaitan dengan dinamika ancaman yang berkembang saat ini. Agenda restrukturisasi itu berkaitan dengan tugas pokok TNI, yaitu menghadapi ancaman perang dari luar. Komando teritorial yang ada saat ini masih berasal dari pertimbangan agresi militer pada zaman penjajahan serta fungsi politik TNI pada masa Orde Baru.

”Jadi, perlu dikaji kembali, apakah semua komando teritorial yang ada saat ini masih relevan,” kata Al Araf.

Komando teritorial harus dilihat dalam konteks strategi membangun kekuatan pertahanan dan gelar kekuatan TNI. Pembinaan teritorial bukan tugas TNI. Hal ini seharusnya diserahkan pada pemda.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, komando teritorial juga tidak berarti harus mengikuti struktur pemerintahan. ”Struktur komando teritorial bisa direskturisasi sehingga hanya sampai Kodam,” katanya.

KOMPAS

Wednesday, December 9, 2009

Dua Komandan Batalyon Resimen Artileri-1 Marinir Diganti


9 Desember 2009, Surabaya -- Dua komandan Batalyon Resimen Artileri-1 Marinir diganti yakni Komandan Batalyon Howitzer-1 Marinir dan Komandan Batalyon Arhanud-1 Marinir.

Upacara pergantian keduanya dipimpin Komandan Resimen Artileri-1 Marinir Kolonel Marinir R.B Heraspatty, S.E., di lapangan apel Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Selasa.

Dalam upacara itu, Komandan Batalyon Howitzer-1 Marinir diserahterimakan dari pejabat lama Letkol Mar CTO Sinaga kepada penggantinya Mayor Marinir F. Simanjorang.

Letkol Mar CTO Sinaga selanjutnya akan menempati jabatan baru sebagai Perwira Staf Operasi Menart-1 Marinir.

Sementara itu Komandan Batalyon Arhanud-1 Marinir diserahterimakan dari pejabat lama Letkol Mar Djentayu Suprihandoko kepada penggantinya Mayor Marinir Harnoko.

Letkol Mar Djentayu selanjutnya akan menjabat sebagai Perwira Staf Intelijen Menart-1 Marinir.

Kedua komandan yang baru itu, yakni Mayor Marinir F. Simanjorang dan Mayor Marinir Harnoko, merupakan lulusan Dikreg Seskoal Angkatan 47 Tahun 2009.

Dalam amanatnya, Komandan Resimen Artileri-1 Marinir Kolonel Marinir R.B Heraspatty, S.E., mengatakan Batalyon Howitzer-1 Marinir dan Batalyon Arhanud-1 Marinir mempunyai tugas pokok membina dan menyiapkan kekuatan tempur pasukan pendarat unsur-unsur Artileri Marinir.

"Penyiapan itu dilakukan untuk pelaksanaan operasi pendaratan amfibi, operasi pertahanan pantai di pulau-pulau strategis serta tugas-tugas tempur lainnya," katanya.

Dengan tugas pokok tersebut, maka kedua batalion tersebut memiliki tugas yang sangat berat, sehingga dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas, inovasi dan dedikasi yang tinggi.

"Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang dapat mentransformasikan kendala menjadi peluang dan kelemahan menjadi kekuatan, karena itu diperlukan seorang komandan yang tangguh, yang mampu membawa kesatuannya melaksanakan berbagai tugas dengan profesional dan proporsional," katanya.

ANTARA JATIM

Dua Komandan Batalyon Resimen Banpur-1 Marinir Diganti

Komandan Resimen Bantuan Tempur-1 Marinir, Kolonel Marinir Suhono (tengah) salam komando dengan Komandan Batalyon Zeni-1 Marinir yang lama, Letkol Marinir Sunaswan (kiri) dan penggantinya Mayor Marinir I.D.N Gede Rake Susilo (2 kiri), serta Komandan Batalyon Bekpal-1 Marinir yang lama Letkol Marinir Jayus (2 kanan) dan penggantinya Mayor Marinir Muchlas. (Foto: ANTARA/ Serda Mar Kuwadi/EI)

9 Desember 2009, Surabaya -- Dua komandan Batalyon Resimen Bantuan Tempur - 1 (Banpur-1) Marinir diganti yakni Komandan Batalyon Bekpal-1 Marinir dan Komandan Batalyon Zeni-1 Marinir.

Upacara pergantian keduanya dipimpin Komandan Resimen Bantuan Tempur-1 Marinir Kolonel Marinir Suhono di lapangan apel Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Rabu.

Dalam upacara itu, Mayor Marinir Muchlas dilantik sebagai Komandan Batalyon Bekpal-1 Marinir yang baru mengggantikan Letkol Marinir Jayus.

Sementara Mayor Marinir I Dewa Nyoman Gede Rake Susilo dilantik sebagai Komandan Batalyon Zeni-1 Marinir menggantikan Letkol Marinir Sunaswan.

Pejabat lama Letkol Marinir Jayus akan menempati pos baru sebagai Kadepjian di Komando Pendidikan Marinir Gunungsari Surabaya, sedangkan Letkol Marinir Sunaswan akan menempati jabatan baru sebagai Perwira Staf Operasi Menbanpur-1 Marinir.

Dalam amanatnya, orang nomor satu di jajaran Resimen Bantuan Tempur-1 Marinir itu mengatakan Batalyon Zeni dan Batalyon Bekpal-1 Marinir merupakan dua di antara enam batalion di jajaran Menbanpur-1 Marinir.

"Kedua batalion itu mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam setiap penugasan, baik penugasan operasi maupun latihan, bahkan keduanya merupakan andalan Korps Marinir dalam setiap penugasan, khususnya satgas kemanusiaan dan bencana alam," katanya.

Menurut dia, material yang ada saat ini sebagian besar usianya sudah tua, sehingga memerlukan keuletan para pengawaknya sebagai prajurit Korps Marinir yang terlatih untuk tidak menjadikan sebagai kendala dalam melaksanakan tugas.

"Jadikanlah sebagai pemacu semangat dalam mengabdikan diri kepada Korps Marinir, TNI AL, TNI, bangsa, dan negara," katanya.

Sehari sebelumnya (8/12), dua komandan Batalyon Resimen Artileri-1 Marinir juga diganti yakni Komandan Batalyon Howitzer-1 Marinir dan Komandan Batalyon Arhanud-1 Marinir.

Dalam upacara pergantian yang dipimpin Komandan Resimen Artileri-1 Marinir Kolonel Marinir R.B Heraspatty, S.E. itu, Komandan Batalyon Howitzer-1 Marinir diserahterimakan dari pejabat lama Letkol Mar CTO Sinaga kepada penggantinya Mayor Marinir F. Simanjorang.

Sementara itu Komandan Batalyon Arhanud-1 Marinir diserahterimakan dari pejabat lama Letkol Mar Djentayu Suprihandoko kepada penggantinya Mayor Marinir Harnoko.

ANTARA JATIM

Latma Elang Brunesia IV/09 Dibuka

Paban VI/Binprof Sopsau, Kolonel Penerbang Tri Budi Satriyo (kiri), dan Pemerintah Pangkalan Tentara Udara Diraja Brunei (TUDB), Letnan Kolonel Udara Lusir Bin Sian, melakukan pemeriksaan pasukan saat upacara pembukaan latihan bersama Elang Brunesia IV/09, di Pangkalan Lanud Supadio, Pontianak, Kalbar, Rabu (9/12). Latihan bersama tersebut bertujuan untuk meningkatkan soliditas dan kemampuan dalam melaksanakan Operasi Udara Bersama. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/ss/ama/09)

Tepat pukul 08.05 WIB Latihan antara TNI Angkatan Udara (TNI AU) dengan Tentera Udara Diraja Brunei Darussalam (TUDB) dengan sandi Latma Elang Brunesia IV/09 dibuka secara resmi oleh Paban VI/Binprof Sopsau Kolonel Pnb Tri Budi Satriyo yang didampingi Pemerintah Pangkalan Tentera Udara Diraja Brunei, Letnan Kolonel Udara Lusir Bin Sian pada suatu upacara militer di Apron Hanggar Lanud Supadio, Rabu (9/12).

Dalam sambutan tertulisnya Kolonel Pnb Tri Budi Satriyo mengatakan Latma Elang Brunesia IV/09 dilaksanakan dalam bentuk tutorial dan AMX dengan sasaran yang dicapai antara lain : terjalinnya kerjasama TNI AU dan TUDB dalam melaksanakan operasi udara bersama, meningkatnya kemampuan kedua angkatan/tentara udara dan terbinanya hubungan baik antar peserta latihan.

Sejumlah anggota TNI AU dan Tentara Udara Diraja Brunei (TUDB) berfoto bersama di depan pesawat Cassa 212 di apron Pangkalan Lanud Supadio, seusai upacara pembukaan latihan bersama Elang Brunesia IV/09, di Pangkalan Lanud Supadio, Pontianak, Kalbar, Rabu (9/12). (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang/ss/ama/09)

Menurutnya, Latma ini juga sebagai bentuk kerjasama latihan antara TNI AU dengan TUDB yang merupakan bagian dari hubungan bilateral kedua negara dimana latihan kali ini merupakan latihan yang ke-4. Dengan adanya Latma ini tentunya para peserta latihan diharapkan dapat melaksanakan tugas latihan dengan baik sehingga latihan ini dapat berjalan dengan lancar dan tentunya tanpa adanya accident.

Sementara itu Kolonel Pnb Hari Budianto A.n. Direktur Latihan mengatakan Latma ini dilaksanakan dari tanggal 7 s/d 12 dengan melibatkan 115 personel yang terdiri dari TNI AU 80 personel dan TUDB 35 personel. Adapun alutsista yang terlibat dari TNI AU antara lain 1 pesawat CN-235, 1 HELI NAS-332 Super Puma dan 1 tim SAR dan TIM KAM Paskhas sedangkan dari TUDB melibatkan 2 Heli Bell-212 dan 1 Tim JRT.

Hadir pada upacara pembukaan Latma Elang Brunesia IV/09 antara lain Danlanud Supadio Kolonel Pnb Yadi Indrayadi, para pejabat TNI AU dan TUDB, Athan Brunei Letkol Pangiran Haji Hapiz, para Komandan Satuan di jajaran Lanud Supadio. Sedangkan dalam Latma ini mengambil tema : Dengan Latihan Bersama Elang Brunesia IV/09, TNI AU-TUDB Bertekad Meningkatkan Soliditas Kedua Angkatan Dalam Pelaksanaan Operasi “Search and Rescue”.

PENTAK LANUD SUPADIO

Latihan Pratugas Libatkan 7 Kapal Perang

KRI Tanjung Nusanive-973.

9 Desember 2009, Jakarta -- Komando Lintas laut Militer (Kolinlamil ) menggelar latihan pratugas Angkutan laut Militer (Latpratugas Anglamil) Tahun 2009 yang dimulai 9 hingga 28 Desember 2009, dengan melibatkan pasukan sebanyak 1.314 personel, 7 unsur kapal perang jajaran Kolinlamil dan kendaraan tempur satu kompi PT 76 dari Korps Marinir (Kormar).

Latihan pratugas Anglamil 2009 yang dilaksanakan pertama kali dengan tema latihan “Dengan semangat intergritas satuan tugas operasi Angkutan Laut Militer melaksanakan operasi angkutan laut Militer dalam rangka mendukung operasi TNI” dibuka oleh kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), yang diwakili Asops Kasal, Laksamana Muda TNI Bambang Supeno di Mako Kolinlamil,Tanjung Priok Jakarta, Rabu (9/12)

Pembukaan Latpratugas Anglamil 2009 dihadiri Komandan Lantamal II Laksamana Pertama TNI Jhonny Awuy, Komandan Pasukan Marinir (Pasmar) 1, Brigjen TNI Mar I Wayan Mendra, Kaskolinlamil, Laksma TNI RM Moni Harahap dan para pejabat Teras Kolinlamil dan para
pejabat pelaku latihan Pratugas Anglamil 2009.

Dalam latihan pratugas itu akan dilaksanakan berbagai kegiatan dengan materi antara lain Prosedur penembakan senjata atas air dan senjata anti udara, Penanggulangan kebakaran dan kebocoran,komunikasi taktis, manuvra taktis embarkasi dan debarkasi serta prosedur beaching.

Sedangkan untuk kegiatan maneuver lapangan (Manlap) direncanakan di perairan laut Jawa mulai 21 s/d 24 Desember 2009 dengan melibatkan sedikitnya 7 unsur KRI jajaran Kolinlamil jenis Landing Ship Tank (LST ) KRI Teluk Amboina- 503 , Jenis Frosch KRI Teluk Manado- 537, KRI Teluk Hading-538, jenis BU yaitu KRI Tanjung Nusanive-973 , KRI Tanjung Kambani- 971 , KRI Karimata -960 dan KRI Mentawai-959.

Dispenkolinlamil